APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu

Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu

Hati Sarah hancur ketika Dimas, suaminya, justru lebih peduli pada Citra daripada dirinya yang tengah mengandung. Di tengah masa sulit itu, sang sahabat mulai menunjukkan ambisi licik untuk merebut posisi Sarah. Kini, Sarah berdiri di persimpangan jalan yang menyakitkan. Haruskah ia tetap bertahan dalam pernikahan yang retak demi calon bayinya, atau memilih pergi demi menjaga harga diri serta kedamaian hidupnya? Inilah perjuangan batin seorang istri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suara pintu kamar tertutup pelan, tapi menggema di kepala Dimas seperti ledakan. Ia terduduk di sofa, tubuhnya lemas, pandangannya kosong menatap lantai marmer dingin.

Hening.

Kecuali detak jam dinding dan suara isak pelan dari kamar.

Di dalam kamar, Sarah memeluk bantal gulingnya erat-erat. Air matanya membasahi sarung bantal. Ia mencoba menahan isak, takut Dimas mendengarnya, tapi emosi yang selama ini ia bendung akhirnya jebol. Tangisnya pecah.

Hamil bukan perkara mudah. Sendiri, apalagi. Sejak awal trimester kedua, Sarah mulai merasa Dimas menjauh. Dulu, Dimas rajin menemaninya kontrol kandungan, memijat punggungnya saat ia merasa sakit, memasak makanan sehat, bahkan memijat kakinya sebelum tidur. Tapi sekarang... kehangatan itu lenyap.

Semuanya berubah sejak Citra datang kembali dari luar kota.

**

Citra adalah sahabat Sarah sejak SMA. Mereka berbagi banyak hal-rahasia, kesedihan, impian, bahkan Dimas. Namun, dulu Sarah pikir, Citra tak pernah tertarik pada Dimas. Mereka bertiga akrab seperti keluarga. Tapi ternyata, keakraban itu menjelma menjadi racun yang perlahan merusak segalanya.

Flashback tiga bulan lalu masih membekas kuat.

"Sar, boleh nggak aku nginep di sini beberapa hari? Aku baru pindah kerja ke Jakarta dan belum dapet kos."

Citra muncul di depan pintu apartemen dengan senyum manis dan koper besar. Sarah senang, tentu saja. Ia bahkan memeluk Citra sambil tertawa. "Akhirnya! Aku kangen banget sama kamu! Masuk, Cit! Jangan jadi tamu. Rumah ini rumah kamu juga."

Dimas juga tersenyum menyambut, memberi pelukan singkat. Tapi di situlah awal semuanya berubah.

Malam-malam selanjutnya, Sarah sering bangun karena melihat Dimas tidak di tempat tidur. Saat ia mencari, suaminya sedang duduk di ruang tengah, ngobrol dengan Citra sambil tertawa pelan.

"Kami cuma ngobrol soal kerjaan dan teman lama, Sar. Kamu jangan suuzon terus."

Sarah mencoba percaya.

Tapi kepercayaan itu perlahan terkikis.

**

Pagi ini, setelah malam penuh tangis, Sarah memberanikan diri bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan sederhana-telur rebus, bubur oatmeal, dan teh hangat. Bukan karena ingin menyenangkan hati Dimas. Tapi karena bayinya membutuhkan nutrisi.

"Sar..." suara berat Dimas terdengar dari belakang.

Sarah diam. Tak menoleh. Ia fokus pada piring di depannya.

"Maaf soal semalam... Aku-aku bingung harus bagaimana. Aku nggak mau kehilangan kamu, tapi-"

"Tapi kamu juga nggak mau melepaskan Citra." Potong Sarah datar. Ia menoleh pelan, wajahnya lelah. "Kamu udah bilang itu. Jadi gak usah diulang."

Dimas menghela napas. "Dia nggak punya siapa-siapa. Ayahnya baru meninggal. Kamu tahu dia depresi. Aku cuma pengen bantu."

Sarah berdiri. "Kalau kamu mau bantu, bantu dari jarak yang sehat. Kamu suami orang, Mas. Dan dia tahu itu. Tapi dia tetap cari perhatian kamu. Itu bukan sekadar 'teman'."

"Kamu terlalu cepat menilai. Kamu gak tahu apa-apa soal Citra."

"Justru aku tahu terlalu banyak, Mas. Aku tahu dia sering pakai parfumku. Aku tahu dia pernah ngintip isi kamar kita. Aku tahu dia mulai ikut gaya bicaraku depan kamu. Kamu pikir aku gak sadar?"

Dimas terdiam. Kali ini ia tak bisa membantah.

"Aku akan ke rumah Mama minggu ini. Aku butuh waktu mikir. Jangan hubungi aku dulu."

Sarah mengambil tasnya, lalu pelan-pelan membuka pintu apartemen.

"Kamu mau ninggalin rumah ini?"

"Ini bukan rumah, Mas. Ini tempat pertarungan. Dan aku capek."

**

Mobil taksi online membawanya ke kawasan Bekasi, tempat ibunya tinggal. Sepanjang jalan, Sarah diam menatap ke luar jendela. Jakarta yang ramai mendadak terasa asing. Ia menahan perasaan perih yang berkecamuk, mencoba tenang demi bayinya.

Setibanya di rumah, Bu Rini menyambut dengan pelukan hangat.

"Kamu kurusan, Nak. Ada apa? Dimas gimana? Kok gak bareng?"

Sarah hanya memeluk ibunya erat, lalu menangis lagi.

**

Malamnya, setelah makan malam sederhana, Sarah duduk di teras. Tangannya mengusap pelan perutnya yang semakin besar.

"Nak, kamu tahu Ibu gak akan pernah ikut campur rumah tangga kamu. Tapi kalau kamu udah kayak gini, Ibu tahu kamu pasti udah gak kuat."

"Aku capek, Bu... capek berusaha sendiri. Aku pikir pernikahan itu saling. Tapi ternyata enggak."

Bu Rini menatap langit, lalu berkata pelan, "Kadang perempuan harus memilih bukan antara bertahan atau pergi. Tapi antara mencintai orang lain atau mencintai dirinya sendiri lebih dulu."

Kalimat itu menusuk hati Sarah. Benar. Selama ini ia selalu menomorsatukan Dimas. Bahkan saat Dimas mulai berubah, ia tetap berusaha menjaga. Tapi apa gunanya kalau dirinya sendiri terus terluka?

**

Hari-hari di rumah ibunya membuat Sarah sedikit tenang. Ia mulai menulis jurnal kehamilan lagi, memotret perutnya, bahkan rutin berjalan pagi.

Namun, di balik semua itu, Dimas tetap mencoba menghubungi. Puluhan pesan dan panggilan tak pernah ia balas. Sampai satu pesan dari Citra muncul:

"Sarah... aku mohon maaf. Aku gak pernah niat merebut Dimas darimu. Tapi aku gak bisa bohong... aku jatuh cinta. Maaf. Aku akan pergi dari hidup kalian."

Sarah membaca pesan itu sambil gemetar. Tangannya mengepal.

Cinta?

Sejak kapan rasa cinta bisa membenarkan penghianatan?

Belum sempat ia membalas, telepon dari nomor tak dikenal masuk. Sarah ragu mengangkat, tapi akhirnya ditekan juga.

"Halo?"

"Ini aku, Citra... maaf aku ganggu. Aku... aku udah di bandara. Aku mau pindah ke Bali. Aku gak tahan lagi. Aku tahu aku salah, dan aku harap kamu dan Dimas bisa bahagia tanpa aku."

Sarah terdiam.

"Kamu tahu kamu salah, tapi kamu tetap terus mendekat ke suami orang? Di mana logikanya, Cit?"

"Aku... aku cuma kesepian, Sar. Aku butuh seseorang. Dan Dimas ada di sana. Dia baik, dia dengar aku... aku gak pernah niat..."

"Tapi kamu tetap lakukan, Cit. Sahabat gak menusuk dari depan dan belakang sekaligus."

Suara Citra terdengar sesenggukan.

"Aku minta maaf. Tapi aku juga mencintainya..."

Klik.

Sarah menutup telepon. Tangannya dingin, tapi matanya tajam.

Cinta seharusnya bukan alasan untuk menyakiti orang lain.

**

Minggu ketiga di rumah ibunya, Dimas datang. Ia berdiri di depan pagar, menenteng koper dan wajah lelah.

"Aku udah gak komunikasi sama Citra. Dia udah pergi. Aku salah, Sar. Aku sadar. Aku bodoh karena gak jaga kamu dan bayi kita. Tapi aku mau berubah. Kalau kamu masih mau terima aku..."

Sarah berdiri di ambang pintu. Ia tak langsung menjawab.

"Aku gak tahu bisa percaya lagi atau tidak. Luka ini dalam, Mas. Aku gak bisa cuma denger kata 'maaf' dan tiba-tiba sembuh."

"Aku ngerti... tapi aku akan tunggu. Aku akan buktikan. Tiap hari, tiap detik. Aku akan tebus semuanya. Asal kamu izinkan aku mulai dari awal."

Hening menggantung di antara mereka.

Sarah menatap mata suaminya, mencari jejak kebohongan atau kejujuran. Ia tak menemukan jawaban pasti. Tapi satu hal yang ia tahu, dia tak bisa terburu-buru mengampuni, tapi juga tak ingin membiarkan luka itu menelan hidupnya.

"Kalau kamu serius... kamu bisa mulai dengan temani aku kontrol kandungan besok. Tapi jangan bilang apapun dulu. Aku belum siap."

Dimas mengangguk.

"Apa pun. Aku akan lakukan."

**

Di ruang tunggu klinik kehamilan, untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Sarah dan Dimas duduk berdampingan. Tak ada kata manis, tak ada pelukan. Hanya keheningan yang hangat, dan tatapan Dimas yang terus tertuju pada layar monitor saat suara detak jantung bayinya menggema.

Sarah menoleh, melihat mata Dimas berkaca-kaca.

"Itu... anak kita, ya?" bisiknya lirih.

Sarah tak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya, hatinya sedikit lebih ringan.

**

Namun, apakah luka akan benar-benar sembuh?

Atau cinta hanyalah tambalan yang cepat lepas saat badai datang kembali?

Sarah belum tahu. Tapi ia akan berjalan perlahan. Untuk dirinya. Untuk bayinya.

Dan untuk kehidupan yang masih panjang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder
9.7
Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun lamanya Liam Hanza hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan diperlakukan bak budak oleh mertuanya. Semua penghinaan itu ia telan demi sang istri, Yolanda Liandra. Namun, kesetiaannya hancur saat ia memergoki Yolanda berselingkuh. Kecewa dan terluka, Liam akhirnya membongkar identitas aslinya sebagai pewaris tunggal kekayaan ribuan triliun. Kini, keluarga Liandra bersujud memohon ampun, tetapi Liam siap membalas dendam dengan segala kekuasaannya.
Sampul Novel Dia Mengendalikan Dunia
9.3
Grace, miliarder yang lama disembunyikan pemerintah, akhirnya menemukan kasih sayang di keluarga Holden. Meski dituduh penipu, identitas aslinya sebagai profesor jenius, bos perusahaan besar, dan peretas andal perlahan terungkap. Di tengah kesuksesannya yang mengguncang dunia, Colton sang taipan misterius datang menagih komitmen masa depan. Dengan tawaran pulau mewah untuk setiap keturunan, Colton bertekad mengikat Grace dalam romansa yang tak terelakkan.
Sampul Novel Gairah Liar Ayah Mertua
9.7
Kejadian tak terduga muncul saat aku menyadari reaksi fisik ayah mertuaku di balik sarungnya. Meski merasa gugup, aku justru diam saat ia menarik tanganku untuk menyentuh bagian pribadinya. Tak ada penolakan dariku meski tindakannya sangat berani. Aku terkejut merasakan ukurannya yang jauh lebih besar dibanding milik suamiku. Situasi kian memanas ketika ia memintaku masuk ke dalam sarungnya, membiarkanku menyentuh langsung fantasi yang selama ini terpendam.
Sampul Novel Jovanca Sang Penggoda
7.9
Jovanca adalah wanita cantik yang hidup keras sebagai yatim piatu. Demi bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi, ia bekerja serabutan hingga merasa jenuh. Keadaan ini mendorongnya memanfaatkan pesonanya untuk menggoda pria demi kesenangan. Namun, permainan itu justru menjadi bumerang saat ia dikejar banyak pria beristri. Di tengah kekacauan tersebut, hati Jovanca justru tertambat pada lelaki lain. Terjebak dalam intrik cinta, mampukah ia menemukan kebahagiaan?
Sampul Novel Kisah Sang Penguasa
9.4
Demi menyelamatkan ekonomi keluarga Vegas dan membalas budi Dimitri, Fugaku rela menikahi Vior dari klan Diningrat. Namun, pernikahan itu hanyalah jebakan kejam Vior untuk mencuri rahasia bisnis keluarganya. Di hari bahagia tersebut, Fugaku justru disiksa, diracun, hingga dibuang ke laut. Secara ajaib ia selamat dan bangkit menjadi bagian dari pasukan elite Celestial di Kota Kastiya. Kini, sang penyintas misterius ini memulai babak baru dalam hidupnya.