APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kekasihku Menikahi Saudaraku Disaat Aku Lumpuh

Kekasihku Menikahi Saudaraku Disaat Aku Lumpuh

Pasca kecelakaan tragis, Arjuna harus menghadapi kenyataan pahit saat ia lumpuh. Dunianya hancur ketika Kirana, tunangannya, justru memilih menikah dengan adiknya, Bima. Di tengah perebutan takhta CEO oleh adik-adiknya, mental Arjuna kian terpuruk karena terapi fisik yang sulit. Demi memulihkan sang putra, ibunya menjodohkan Arjuna dengan Mentari. Gadis unik yang ceria namun matre ini hadir membawa harapan baru di tengah pengkhianatan dan keputusasaan Arjuna.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kembalinya Arjuna ke Dirgantara Tower seperti kembalinya singa ke sarangnya. Aura dominasinya segera mengisi setiap sudut kantor, menyingkirkan ketidakpastian yang sempat disebarkan oleh Bima dan Indra. Rapat-rapat menjadi lebih terstruktur, keputusan diambil dengan cepat, dan proyek-proyek yang sempat mandek kembali berjalan lancar. Arjuna, yang kini memimpin dari kursi rodanya, membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati tidak ditentukan oleh langkah kakinya, melainkan oleh ketajaman pikirannya dan kekuatan tekadnya.

Namun, di balik semua kesibukan dan keberhasilan profesionalnya, perjuangan pribadi Arjuna tetap berlanjut. Terapi fisiknya menjadi semakin intens, menuntut lebih banyak stamina dan mental yang kuat. Fisioterapisnya, Pak Hadi, adalah seorang yang sabar namun tegas. Setiap sesi, Arjuna harus menahan rasa sakit dan kelelahan, memaksakan otot-ototnya yang lemah untuk bergerak.

"Satu lagi, Pak Arjuna! Sedikit lagi!" suara Pak Hadi menyemangati, saat Arjuna berusaha mengangkat kakinya setinggi mungkin dari matras. Keringat membasahi pelipisnya, napasnya tersengal.

Di sudut ruangan, Mentari selalu ada. Ia tidak selalu berbicara, kadang hanya duduk tenang sambil merajut atau membaca. Namun, kehadirannya saja sudah cukup. Ada kalanya ia akan melontarkan lelucon receh yang membuat Arjuna terkekeh, atau menyanyikan lagu-lagu motivasi dengan suaranya yang khas.

"Ayo, Pak! Semangat! Nanti kalau sudah bisa jalan lagi, saya traktir bakso keliling!" seru Mentari suatu sore, saat Arjuna terlihat kelelahan.

Arjuna mendengus, "Bakso keliling? Kamu bercanda?"

"Serius! Itu bakso terenak sedunia, Pak! Dijamin nyesel kalau nggak nyoba," balas Mentari dengan mata berbinar.

Meskipun terlihat sepele, janji bakso keliling itu entah mengapa menjadi salah satu motivasi tersembunyi bagi Arjuna. Ia membayangkan dirinya berjalan lagi, bisa merasakan sensasi melangkah di trotoar, dan makan bakso keliling bersama Mentari.

Selain terapi fisik, Arjuna juga menghadapi terapi emosional yang tak kalah berat. Bayangan Kirana dan Bima masih sering menghantuinya, terutama di malam hari. Rasa sakit hati dan pengkhianatan itu belum sepenuhnya sirna. Ia tahu ia harus memaafkan, bukan demi mereka, tetapi demi dirinya sendiri. Namun, itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Mentari seringkali menjadi sandaran emosionalnya. Ia tidak memberikan saran yang muluk-muluk, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. "Orang jahat itu rugi sendiri, Pak. Karma itu ada," kata Mentari suatu malam, saat Arjuna bercerita tentang betapa ia masih membenci Bima. "Yang penting kamu fokus sama kebahagiaanmu sendiri."

Di kantor, kabar tentang kesembuhan dan kebangkitan Arjuna menyebar dengan cepat. Dewi, sang ibu, adalah orang yang paling bahagia. Ia melihat putranya kembali menjadi Arjuna yang dulu, bahkan mungkin lebih kuat dan bijaksana. Ia sering mendapati Arjuna dan Mentari bercanda di ruang kerja, atau melihat Mentari membawakan bekal makan siang untuk Arjuna. Ada secercah harapan lain yang mulai tumbuh di hati Dewi: harapan agar Arjuna menemukan kebahagiaan sejati.

Namun, tidak semua orang senang dengan kebangkitan Arjuna. Bima dan Indra, meskipun kini harus tunduk di bawah kepemimpinan Arjuna, jelas-jelas masih menyimpan dendam. Mereka seringkali terlihat berbisik-bisik di sudut kantor, tatapan mata mereka dipenuhi kemarahan dan kekecewaan. Mereka merasa semua usaha mereka untuk merebut takhta telah sia-sia.

Suatu siang, Bima datang ke ruangan Arjuna. Wajahnya tegang. "Kak, saya mau bicara empat mata."

Arjuna menatap adiknya dingin. "Silakan."

"Apa yang Kakak lakukan itu tidak adil," ujar Bima, suaranya sedikit bergetar. "Saya dan Indra sudah berusaha mengurus perusahaan. Kakak tiba-tiba datang dan mengambil alih semuanya."

"Mengambil alih?" Arjuna tertawa sinis. "Sejak kapan perusahaan ini jadi milik kalian? Kalian tahu betul kalian tidak sanggup mengurusnya. Proyek Bali hampir hancur di tanganmu, Bima. Dan jangan lupakan, kau menikahi wanita yang seharusnya menjadi istriku, adikku."

Wajah Bima memerah. "Kirana memilih saya, Kak. Itu bukan salah saya."

"Pilihan yang sangat tepat saat aku lumpuh, bukan?" sindir Arjuna. "Kalian berdua terlalu picik. Terlalu sibuk memikirkan harta, sampai lupa arti keluarga dan loyalitas."

Bima terdiam. Ia tahu ia tidak bisa melawan. Aura Arjuna terlalu kuat. "Saya hanya ingin pengakuan, Kak. Saya ingin setara dengan Kakak."

"Pengakuan didapat dari kerja keras dan integritas, Bima, bukan dari pengkhianatan," tegas Arjuna. "Sekarang, jika tidak ada hal penting yang berkaitan dengan pekerjaan, silakan kembali ke mejamu."

Bima mengepalkan tangannya, lalu berbalik dan keluar dari ruangan Arjuna dengan langkah terburu-buru. Arjuna menghela napas. Hubungan dengan kedua adiknya tampaknya akan sulit diperbaiki.

Seiring waktu berlalu, kehidupan Arjuna mulai menunjukkan kemajuan signifikan. Secara fisik, ia mulai bisa berdiri dengan bantuan alat. Langkah-langkah kecil, gemetar, namun itu adalah sebuah kemajuan besar. Setiap kali ia berhasil melangkah satu inci lebih jauh, Mentari akan bersorak gembira, seolah ia baru saja memenangkan medali emas Olimpiade.

"Yeay! Satu langkah lagi, Pak! Bentar lagi lari maraton!" seru Mentari suatu pagi, saat Arjuna berhasil berdiri selama lima menit tanpa bantuan.

Arjuna tersenyum tipis. "Jangan berlebihan."

"Ih, beneran kok! Nanti kalau sudah bisa lari, kita lari pagi keliling kompleks!" timpal Mentari, matanya berbinar.

Di sisi lain, Arjuna juga semakin menyadari perasaannya terhadap Mentari. Awalnya, ia hanya menganggap Mentari sebagai penolong, sosok yang menghiburnya. Namun, perlahan, ada perasaan lain yang tumbuh. Perasaan nyaman, tenang, bahkan... ketertarikan. Mentari bukan wanita yang sempurna dalam pandangan masyarakat. Ia lugas, blak-blakan, dan kadang terlihat cuek. Tapi ia memiliki hati yang murni, semangat yang membara, dan kebaikan yang tulus. Ia tidak pernah menuntut apa-apa dari Arjuna, kecuali agar Arjuna bangkit.

Suatu sore, saat Mentari sedang mengajari Arjuna cara membuat simpul tali untuk proyek kerajinan anak-anak panti, tangan mereka bersentuhan. Ada percikan kecil, yang membuat jantung Arjuna berdegup lebih kencang. Mentari menarik tangannya cepat, pipinya sedikit memerah.

"Maaf, Pak," gumam Mentari.

Arjuna hanya terdiam, tatapan matanya tertuju pada Mentari. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia menyadari, perasaan ini berbeda dengan perasaannya pada Kirana. Dengan Kirana, ada gairah dan obsesi. Dengan Mentari, ada ketenangan, kehangatan, dan rasa damai.

Namun, keraguan tetap ada. Bagaimana bisa ia, seorang CEO dari keluarga terpandang, yang baru saja dicampakkan karena lumpuh, jatuh cinta pada seorang gadis panti asuhan yang "barbar" dan "mata duitan"? Apakah ini hanya rasa syukur atau sesuatu yang lebih dalam?

Tantangan lain datang dari luar. Meskipun Dirgantara Group kembali stabil, ada pesaing lama yang melihat peluang dalam kelemahan Arjuna. Naga Corporation, sebuah perusahaan raksasa yang dipimpin oleh Bram, musuh bebuyutan Arjuna, mulai melancarkan serangan. Mereka berusaha mencuri proyek-proyek vital, membajak karyawan kunci, dan menyebarkan rumor negatif tentang Dirgantara Group.

Bram, seorang pria licik dan ambisius, selalu iri pada kesuksesan Arjuna. Ketika mendengar Arjuna lumpuh, ia merasa inilah kesempatannya untuk menghancurkan Dirgantara Group. Namun, ia terkejut dengan kebangkitan Arjuna yang begitu cepat.

"Bajingan itu masih punya taring," gerutu Bram di ruang kerjanya, sambil melemparkan koran yang memuat berita tentang pemulihan Dirgantara Group. "Aku tidak akan membiarkannya menang."

Arjuna menyadari serangan ini. Ia mengadakan rapat darurat dengan para direktur kepercayaannya. "Bram tidak akan berhenti sampai ia melihat Dirgantara Group hancur. Kita harus lebih sigap," kata Arjuna, matanya menyala penuh strategi.

Pertempuran bisnis pun dimulai. Arjuna menghabiskan lebih banyak waktu di kantor, memimpin strategi pertahanan dan serangan balasan. Ia kembali ke mode "singa" yang ditakuti para pesaingnya. Ia tidak hanya mempertahankan perusahaan, tetapi juga melancarkan serangan balik yang cerdas, membuat Naga Corporation kewalahan.

Dalam hiruk pikuk perang bisnis ini, Mentari tetap menjadi penyeimbang. Ia tidak mengerti seluk beluk bisnis, tetapi ia tahu bagaimana meredakan ketegangan Arjuna. Ia akan membawakan cemilan favorit Arjuna, atau sekadar bercerita tentang hal-hal lucu yang terjadi di panti, membuat Arjuna sejenak melupakan tekanan pekerjaannya.

"Kamu terlalu tegang, Pak," ujar Mentari suatu malam, saat Arjuna terlihat sangat lelah setelah seharian penuh rapat. "Ayo, saya pijitin pundaknya."

Arjuna terkejut. "Tidak perlu..."

"Tidak apa-apa! Pijitan saya ampuh kok, dijamin pegal-pegalnya hilang!" Mentari tidak menunggu jawaban Arjuna. Ia mulai memijat pundak Arjuna dengan tangannya yang kecil namun kuat. Awalnya, Arjuna merasa canggung, namun perlahan ia menikmati pijatan itu. Ketegangan di pundaknya sedikit mereda.

"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Arjuna pelan.

Mentari berhenti memijat, menatap Arjuna. "Melakukan apa?"

"Semua ini. Menemaniku, menyemangatiku, mengurusku," jelas Arjuna.

Mentari tersenyum. "Emang kenapa? Kan aku dibayar."

Arjuna tahu Mentari hanya bercanda. Bayaran yang Dewi berikan padanya tidak sepadan dengan semua yang Mentari lakukan.

"Lebih dari itu," kata Arjuna.

Mentari menghela napas, tatapan matanya menjadi lebih lembut. "Aku... aku suka melihatmu bersemangat lagi, Pak. Kamu itu orang baik, cuma lagi apes aja. Aku nggak tega lihat kamu murung terus." Ia kemudian melanjutkan, "Lagipula, aku juga belajar banyak darimu. Kamu kan CEO hebat. Siapa tahu nanti aku bisa jadi CEO panti asuhan yang sukses." Ia terkekeh.

Mendengar itu, hati Arjuna menghangat. Ia tahu Mentari tulus. Ia tahu bahwa meskipun Mentari selalu berbicara tentang uang, hatinya jauh lebih kaya daripada kebanyakan orang kaya yang ia kenal.

Suatu hari, setelah sesi terapi yang melelahkan, Pak Hadi memberikan kabar gembira. "Pak Arjuna, progres Anda sangat baik. Jika terus begini, dalam beberapa bulan ke depan, Anda mungkin bisa mencoba berjalan dengan kruk, dan kemudian, dengan tongkat."

Arjuna menatap Pak Hadi, matanya berbinar. "Benarkah, Pak?"

"Benar, Pak. Asal Anda terus disiplin dan semangat."

Mendengar kabar itu, Mentari langsung memeluk Arjuna erat. "Yeay! Pak Arjuna mau jalan lagi! Nanti kita lari maraton!"

Pelukan Mentari yang tiba-tiba membuat Arjuna sedikit terkejut, namun ia tidak menolak. Ia merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sebuah pelukan tulus yang jauh lebih berarti dari sekadar ucapan selamat.

"Jadi, kapan saya bisa menagih bakso keliling?" tanya Arjuna, mencoba menahan senyum.

Mentari melepaskan pelukannya, matanya berbinar. "Sebentar lagi, Pak! Kita latihan terus! Bakso keliling menanti!"

Kabar baik itu menyebar ke seluruh rumah. Dewi menangis haru. Ini adalah keajaiban yang ia nantikan. Ia tahu, kehadiran Mentari adalah kunci dari semua ini.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada kekhawatiran lain yang muncul di benak Arjuna. Jika ia sudah bisa berjalan lagi, dan sudah kembali sepenuhnya ke puncak kekuasaan, apakah Mentari masih akan tetap di sisinya? Apakah ia akan kehilangan Mentari, sosok yang kini menjadi cahaya dalam hidupnya?

Ia tahu, Mentari memiliki impiannya sendiri. Impian untuk membuka toko jahit, untuk menjadi sukses dengan caranya sendiri. Apakah ia berhak menahan Mentari? Atau apakah ia harus merelakan Mentari pergi demi mengejar impiannya?

Pertanyaan itu terus mengganjal di benak Arjuna. Ia tahu, ia harus menghadapi perasaannya sendiri terhadap Mentari. Ini bukan lagi tentang rasa syukur. Ini adalah perasaan yang lebih dalam, perasaan yang mengancam untuk mengubah seluruh hidupnya lagi, kali ini bukan karena kecelakaan, melainkan karena cinta.

Malam itu, Arjuna tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, dengan susah payah menggerakkan kursi rodanya menuju balkon kamarnya. Langit malam bertabur bintang, indah dan menenangkan. Ia memejamkan mata, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia teringat janji Mentari tentang bakso keliling, tentang lari maraton. Ia ingin merasakan semua itu bersamanya.

"Apakah mungkin?" bisiknya pada angin malam. Apakah mungkin ia, seorang pria yang pernah hancur lebur, bisa menemukan kebahagiaan sejati dengan seorang wanita yang sangat berbeda dari dunianya? Pertanyaan itu belum terjawab, namun satu hal yang pasti, jejak kaki yang dirindukan Arjuna, kini mulai terasa semakin dekat, dan di setiap jejak itu, ada bayangan Mentari yang selalu menemaninya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 100 Hari Menikah Dengan Si BOS
9.7
Xavi Alonso bukan hanya taipan bisnis yang tak terkalahkan, tapi juga sosok dingin yang menjebak wanita incarannya dalam pernikahan. Saat sang istri merasa tertipu dan menuntut cerai karena perilaku dominannya, Xavi justru memberikan segalanya. Seluruh harta, perusahaan, hingga dirinya sendiri ia serahkan demi memanjakan sang istri. Di balik kemegahan hartanya, sang penguasa angkuh ini ternyata adalah iblis yang tak punya batas dalam mencintai pasangannya.
Sampul Novel BABY CEO 21+
8.6
Vanya terjebak dalam pusaran gairah saat Ares menciumnya dengan intens hingga ia sulit bernapas. Meski Vanya mengerang gelisah, Ares terus mengeksplorasi tubuhnya dengan sentuhan lembut dan kecupan yang membakar sensasi di area sensitifnya. Di tengah pergulatan hasrat yang menyiksa, Vanya terus memanggil nama Ares seolah memohon sesuatu yang lebih. Namun, Ares justru memintanya untuk tidak terburu-buru, membiarkan ketegangan romansa dewasa ini semakin memuncak.
Sampul Novel Ex-Husband Or Mr. Ceo
9.4
Pasca kegagalan rumah tangganya, Leira bertekad bangkit demi masa depan sang putra. Ia memutuskan kembali ke Chicago untuk mengejar karier di sebuah perusahaan penerbitan. Namun, situasi menjadi rumit saat ia harus bekerja di tempat yang sama dengan mantan suaminya. Di sisi lain, Leira terjebak dalam kesalahpahaman dengan sang CEO. Akankah ia mampu menjaga hatinya tetap tegar, atau justru menemukan cinta yang baru di tengah konflik ini?
Sampul Novel Hamil dengan Mantan Bosku
8.9
Tiga tahun Cynthia menjadi sekretaris sekaligus pendamping setia Juan, namun ia dibuang saat sang bos memilih menikahi wanita lain. Di tengah pelarian, Cynthia harus menghadapi kehamilan dan keserakahan ibunya hingga hidupnya hancur. Lima tahun berlalu, ia kembali sebagai sosok baru yang lebih kuat. Sementara itu, Juan yang selama ini tenggelam dalam penyesalan dan kekacauan, kini memohon agar Cynthia mau kembali ke pelukannya.
Sampul Novel Istri Di Atas Kertas Sang CEO
8.1
Demi kesembuhan ibunya, Shania yang baru berusia 19 tahun terpaksa menjadi istri kontrak Steven, seorang CEO perusahaan limbah kimia yang dingin. Steven sebenarnya enggan berurusan dengan wanita, namun ia tak kuasa menolak tuntutan adiknya. Ia pun menawarkan satu miliar rupiah kepada Shania dengan syarat sang gadis bersedia diperbudak melalui perjanjian tertulis. Kini, Shania harus bertahan menghadapi berbagai taktik kejam Steven dalam pernikahan formalitas mereka.
Sampul Novel Jay and her Odd Daddy
8.9
Jayashri alias Chai terjepit di antara himpitan ekonomi dan prinsip ibunya untuk tidak menjual harga diri. Di titik terendah saat ingin mengakhiri hidup, seorang pria asing menyelamatkannya dan menawarkan posisi sugar baby. Meski awalnya menolak keras, takdir mempertemukan mereka kembali. Sang pria menawarkan kontrak kerja sama tanpa pelecehan yang saling menguntungkan. Kini Chai bimbang, haruskah ia berpegang pada prinsip atau menyerah pada realita?