APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kemarau Kapan Berlalu?

Kemarau Kapan Berlalu?

Sam Rahardja nekat menjadi kurir narkoba demi biaya sekolah keponakannya, meski upahnya dipotong oleh Galih. Saat Galih memutuskan berhenti, Sam terdesak masalah finansial. Di tengah kebuntuan, sosok misterius bernama Sena muncul mengancam akan melaporkan masa lalu ilegal Sam ke polisi. Terpojok demi masa depan Renaldi, Sam terpaksa menerima tawaran kerja dari Sena. Namun, ia justru terjebak dalam penyesalan mendalam karena pekerjaan tersebut adalah menjual diri.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Belanja udah. Sekarang kita ke barbershop."

Mata Renaldi membelalak. "Ngapain, sih, Sam?" protesnya. Semalam, Sam hanya bilang kalau sepulang mendaftar, mereka hanya akan mampir ke toko alat tulis dan langsung pulang, sama sekali tidak ada agenda ke barbershop.

"Ck. Lo enggak nyadar tadi calon guru lo ilfeel lihat rambut lo?"

Tanpa memedulikan reaksi keponakannya, Sam langsung menarik tangan Renaldi menuju Ayoedi Barbershop yang letaknya tidak jauh dari toko alat tulis yang baru saja mereka kunjungi.

"Di, gue ke konter sebentar, mau beli pulsa."

Renaldi mengangguk. Wangi apel dari pengharum ruangan langsung menyambutnya begitu ia masuk. Ayoedi Barbershop terlihat rapi. Alat pangkas rambut ditata di atas meja panjang. Banyak pelanggan tidak mengakibatkan para barber meletakkan alat tersebut acak-acakan. Mereka sepertinya dituntut untuk melakukan segalanya dengan teratur. Tak lama kemudian, seorang gadis mungil keluar sebelum pemuda ber-hoodie abu itu mencari kursi.

"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu, Kak?" sapa gadis itu ramah.

Renaldi meneliti sejenak penampilan sang gadis. Dia tampak menarik dengan rambut panjang yang diikat tinggi. Kulit wajahnya sehalus kulit bayi, bibir tipisnya terlihat penuh dan merona dengan sapuan lisptik warna merah muda, sangat serasi dengan kulitnya yang putih. Renaldi tersenyum. Gadis ini jelmaan nyata dari khayalan-khayalan penulis novel romansa.

"Kak?"

Renaldi mengerjap. "Ya? Eh ... anu mau pangkas rambut aja, Mbak."

"Silakan duduk, Kak."

Pemuda itu pun duduk menghadap cermin besar. Matanya mengamati sang gadis yang mengambil kain lebar di meja dari cermin, lantas mengamati beberapa karyawan di sekitarnya. Hanya gadis mungil itu satu-satunya karyawan perempuan yang ia lihat di sini.

Gadis berambut lurus tadi memakaikan kain untuk menghalau potongan rambut masuk ke baju atau leher Renaldi. "Mau model yang gimana, Kak?" tanyanya.

Renaldi terdiam sebentar, mengamati kertas berisi foto model rambut berbeda yang tertempel di dinding. Lalu, ia menunjuk gaya undercut. "Yang ini aja."

"Oke."

Saat sang gadis hendak menyemprotkan water spray ke rambut ikal Renaldi, Renaldi bertanya, "Lo—Mbak yang mau motong rambut saya?"

Gadis beralis tipis itu tersenyum. "Gue-lo enggak pa-pa, kok," jawabnya. "Kakak takut hasilnya enggak sesuai?"

Renaldi menyunggingkan senyum kikuk.

"Tenang aja, kalau hasilnya enggak memuaskan, Kakak enggak perlu bayar."

"Oke."

Dengan begitu, dimulailah ritual pemangkasan rambut. Sembari mengamati wajah manis di cermin, Renaldi memantapkan diri. Semalam, setelah Sam membujuknya, ia merenung. Di sekolah barunya, ia harus lebih berani, lebih mudah mencari teman, dan lebih berprestasi. Ia harus bangkit dari masa lalu dan membuktikan bahwa anak haram ini bisa memiliki prestasi gemilang. Sam benar, di masa depan, ia harus sukses. Jadi, Sam tidak perlu menjadi kurir narkoba lagi.

Dulu, awal-awal Sam bekerja dengan Galih, ia hanya bilang kalau dia bekerja mengantar barang. Renaldi yang waktu itu masih SMP kelas satu, tidak berpikir aneh-aneh soal Sam yang sering pulang dini hari dan tidur di siang hari. Namun, suatu malam, ia iseng membaca pesan Galih, akhirnya Renaldi tahu bahwa selama ini pamannya melakukan pekerjaan haram.

Renaldi sempat marah dan tidak mau mengajak Sam berbicara. Karena tidak tahan mendiamkan terlalu lama, di hari ketiga, Renaldi mengajak Sam berbicara dan membolehkan Sam menjadi kurir dengan syarat Sam tidak mengonsumsi obat-obatan itu.

"Kakak kuliah atau udah kerja?" tanya si gadis barber, membuat kenangan Renaldi buyar.

"Gue masih SMA," sahut Renaldi. Seharusnya ia sudah lulus tahun ini, tapi karena setahun lalu Galih menjadi buronan dan mengakibatkan Sam tidak bekerja, ia memilih putus sekolah.

"Kakak kelihatan udah ... dewasa," ujar sang gadis seraya memotong tipis rambut di atas telinga Renaldi.

"Kalau lo SMP kelas berapa?"

Terdengar tawa kencang dari karyawan laki-laki di sebelah sang gadis yang menekuk bibirnya ke dalam. Sementara Renaldi menatap mereka bingung.

"Andin udah SMA kelas tiga, Mas," ucap karyawan yang tertawa tadi. "Emang bantet dia. Enggak bisa tumbuh lagi."

Oh, jadi namanya Andin.

"Faktanya orang pendek bisa awet muda, Bang." Andin membela diri tidak terima. "Buktinya Kakak ini ngira aku masih SMP."

Renaldi tersenyum. Baru kali ini, melihat orang kesal terasa menyenangkan.

"Andin, Yoga, jangan ngobrol terus, nanti guntingnya motong telinga bukan motong rambut."

"Maaf, Bu," ucap kedua karyawan di belakang Renaldi pada wanita dewasa yang baru datang.

Renaldi mengamati wanita bertubuh ramping mendelat ke arahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Rok span di atas lutut dan kemeja licin berwarna ungu serta heels tinggi yang wanita itu kenakan menjelaskan bahwa dia bukan pelangggan tetap. Wanita yang dipanggil "Bu" oleh sua orang di belakangnya terus berjalan mendekat. Ia seperti memastikan sesuatu hingga ketika wanita itu berdiri di belakang Renaldi, ada binar bahagia bercampur haru di mata besarnya. Renaldi balik mengamati ekspresi aneh tersebut lewat cermin. Ketika tatapan mereka beradu, bibir berpoles gincu merah itu tersenyum lembut, sedangkan otak Renaldi mulai memikirkan bagaimana hidung dan bibir wanita itu begitu mirip dengannya?

"Halo," sapa wanita cantik tersebut, "Kamu pelanggan baru, ya?"

Renaldi mengerjap, gugup. Dalam hati ia berharap semoga wanita yang kini berdiri di sampingnya tidak menangkap bahwa sejak tadi Renaldi lupa berkedip. Ia baru akan menyahut, gadis di belakangnya sudah lebih dulu berkata.

"Ini Bu Ayudi, pemilik barbershop ini. Cantik, kan?"

Bu Ayudi tersenyum ramah. Sementara Renaldi tersenyum kaku. Fakta bahwa nama ibunya dan wanita ini sama cukup membuatnya tersentak.

'Tidak mungkin. Ini pasti kebetulan,' sangkal Renaldi dalam hati. 'Bisa saja mereka memiliki nama belakang yang berbeda.'

"Andin, kasih kakak ini pelayanan memuaskan," ucap Ayudi, tanpa mengalihkan mata bulat indahnya pada Renaldi. "Pelanggan baru harus dikasih pelayanan ekstra biar jadi pelanggan tetap."

"Siap, Bu! Saya jamin kakak ini cakepnya plus-plus."

***

Yang Sam tuju bukan konter Hp seperti ucapannya tadi pada Renaldi, melainkan sebuah kedai kopi yang tersembunyi di antara kios-kios yang berjajar di tepi jalan. Sms dari nomor asing yang sama terus membombardirnya pesan aneh. Awalnya, ia menganggap sms itu salah kirim, tapi tidak ada salah kirim yang tahu seluk beluknya, bahkan tahu tentang Renaldi.

Nomor ini jelas bukan orang asing. Sam yakin itu. Ia sempat berpikir Galihlah yang ada di balik pesan beruntun ini. Namun, sekali lagi, Sam tidak pernah menceritakan perihal kehidupannya di masa lalu, apalagi sampai membawa nama orang tuanya. Oleh karena rasa penasaran yang tinggi, Sam memilih membalas pesan asing tersebut. Anehnya, pesannya dibalas ajakan bertemu di kedai kopi.

Maka, di sinilah Sam duduk ditemani segelas white coffee menunggu seseorang itu. Ia hanya berharap, sebelum chat Renaldi datang menanyakannya, orang itu sudah datang. Bolak-balik lelaki kurus itu mengecek alamat kedai yang dikirim. Tidak salah, tapi rasanya lama sekali.

Baru hendak memanggil nomor asing itu, seorang laki-laki berpakaian rapi dengan rambut klimis datang menghampiri Sam. Bibir tebalnya merekah sinis, sedang sepasang mata gelapnya memandang Sam remeh. Sam hafal mati tatapan jenis itu.

"Long time no see, Rahardja," ucap lelaki itu usai mendaratkan bokong teposnya di seberang Sam.

Sam mendengkus tidak peduli. Yang ia butuhkan adalah penjelasan lelaki ini mengenai sifat isengnya. Sungguh, Sam tidak suka ada orang asing yang tahu banyak tentangnya, apalagi Renaldi.

"Siapa lo?"

"Coba lo liat wajah gue. Siapa tahu lo kenal."

Jawaban itu membuat emosi Sam naik. Namun, ia berusaha menahannya sebisa mungkin. "Jangan buang-buang waktu," ucapnya ketus.

Lelaki itu tertawa. "Pengangguran macam lo enggak akan rugi di sini seharian, Sam. Paling cuma duit lo yang habis." Ia menyeret kursi, lantas duduk di seberang Sam. "Gue ke sini dengan niat baik. Lo butuh kerjaan, 'kan?"

"Gue enggak butuh!" tukas Sam. "Gue cuma mau tahu sejauh mana lo tahu soal gue dan Renaldi?"

"Gue tahu semuanya, Sam. Tentang kematian Pram, Ayudia, bahkan kebakaran rumah megah nan mewah kalian itu. Karena itu gue nawarin lo pekerjaan."

"Udah gue bilang—"

"Lo enggak butuh," sela si klimis. "Tapi alasan lo mau nemuin gue karena lo juga mau gue tutup mulut soal Renaldi, kan? Tentang Prambudi yang bunuh diri gara-gara korupsi—"

"Lo enggak ada hubungan apa pun jadi gue enggak peduli."

"Yakin?" Mata tajam si lelaki mengerling. "Soalnya, kalau lo enggak kerja, Renaldi enggak bakal bisa kuliah dan ... wait, Gravika bukan sekolah dengan biaya murah, Rahardja. Lo tahu itu, 'kan?"

Lelaki ini benar. Baru mendaftar saja, Sam sudah harus mengeluarkan lima juta.

"Apa pekerjaannya?"

Dengan senyum kemenangan, si lelaki mengeluarkan ponsel mewahnya. "Liat ini baik-baik, karena ini pekerjaan lo selanjutnya."

**

Kebumen, 31 Oktober 2021

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkitnya Sang Menantu Benalu
8.7
Selama tiga tahun, Stefan hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan dianggap benalu oleh keluarga Lionny. Pasca kecelakaan yang memicu amnesia, posisinya kian terpuruk hingga ia nyaris gila. Putus asa, ia mencoba mengakhiri hidup dengan menelan ratusan butir obat sekaligus. Namun, keajaiban terjadi; alih-alih tewas overdosis, ingatan Stefan justru pulih sepenuhnya. Inilah titik balik sang menantu sampah untuk bangkit dan menunjukkan jati diri aslinya.
Sampul Novel Bodyguard I'm In Love
9.7
Jhon Christy terobsesi pada Aleta Louison sejak pandangan pertama. Seiring waktu, perasaan tersebut berkembang menjadi obsesi yang kelam. Demi mendekati sang pujaan hati, Jhon rela melepas hidup mewahnya dan bertolak ke Rusia untuk menjadi seorang bodyguard. Ambisi terbesarnya hanyalah terus mendampingi Aleta. Jhon bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri gadis itu dan membimbingnya kembali menjadi sosok wanita yang normal sepenuhnya.
Sampul Novel Comeback With You
8.1
Terjebak utang dan perdagangan manusia di Nepal sejak SMP, Laluna bertransformasi menjadi kriminal tangguh demi bertahan hidup. Sepuluh tahun berlalu, gadis asal desa kecil di Indonesia ini memilih menjadi pencuri alih-alih pelacur untuk membiayai keluarga dan menyelamatkan teman-temannya. Takdir mempertemukannya dengan tentara Indonesia yang menyamar dalam misi penyelamatan budak. Bersama, mereka berjuang melawan sindikat kejam demi pulang ke tanah air.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Sampul Novel Husband billionare
8.3
Arkhana Jason, bos besar Grup Jason, hilang ingatan usai upaya pembunuhan oleh pamannya, Wira. Ia diselamatkan Nina di desa dan mereka pun menikah. Saat ingatannya pulih, Arkha menyamar demi membongkar kejahatan Wira, termasuk nasib orang tuanya. Setelah membalas dendam dan bersatu kembali dengan keluarganya, Arkha mendapati rumah Nina hancur akibat ulah istri Wira. Ia segera menyelamatkan Nina, mengungkap identitas aslinya sebagai miliarder, lalu memboyong mereka ke kota.
Sampul Novel Iblis Suci
9.1
Limdong tumbuh dalam kesendirian setelah orang tuanya tewas demi publik. Ia dikucilkan karena kekuatan dahsyat di tubuhnya sering meledak tanpa kendali, membuat siapapun tak berdaya melawannya. Demi mencari perhatian yang tak pernah ia dapatkan, Limdong sering bertingkah jahil, namun hal itu justru membuatnya kian dijauhi. Di tengah pengasingan sosial tersebut, ia memendam ambisi besar untuk menjadi Raja. Mampukah sosok yang dianggap aneh ini meraih mimpinya?