APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KEMBALI DALAM SENJA

KEMBALI DALAM SENJA

Kehidupan rumah tangga yang dijalani tanpa landasan cinta membuat sang istri terjebak dalam rasa sakit yang mendalam. Meski ia mencoba bertahan dan bersikap hormat, Mas Fairuz justru bersikap dingin serta tidak peduli. Pertanyaan tulus darinya hanya dibalas dengan kata-kata kasar yang menusuk hati, menegaskan bahwa komitmen mereka hanyalah beban tanpa kebahagiaan. Di tengah sikap abai sang suami, ia harus berjuang menghadapi kenyataan pahit dalam kesendirian yang menyesakkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jam 05:00 saya turun ke bawah ingin bantu-bantu pekerjaan di dapur. Aku melihat sekeliling sepi.

"Bukannya sekarang sudah pagi, tapi keluarga di sini tidak ada yang keluar untuk melakukan kegiatan pagi." Gumamku dalam hati sambil melangkah ke dapur menghampiri Bik Ijah.

"Bi. Ada yang bisa saya bantu?" Seraya menghampirinya.

"Tidak usah Non. Ini sudah pekerjaan Bibik, Non Zahwa olah raga pagi saja biar tambah sehat" sambil tersenyum. Aku tersenyum juga mendengar perkataan Bibik

"Bik. Mama dan yang lainnya kenapa masih belum keluar?" Tanyaku.

"Non. Tuan dan Nyonya akan turun jika sudah jam tujuh, Non Lidia dan Den Fairuz akan turun jika sudah waktunya sarapan"

"Pagi-pagi begini biasanya apa yang dilakukan Bik?"

"Biasanya keluarga ini sibuk dengan aktifitas pribadi Non, jadi selama Bibik kerja di sini tidak pernah melihat ada yang olah raga pagi atau baca koran seperti orang kebanyakan"

"Ya sudah Bik. Zahwa tinggal dulu. Nanti jika Bibik butuh bantuan Zahwa jangan sungkan-sungkan. Zahwa siap membantu"

"Iya Non terima kasih"

Bik Ijah kembali lagi dengan kegiatan masak-memasaknya. Lihat dari caranya memasak Bik Ijah tidak akan kalah jika di bandingkan dengan Chef, lincah dan tangkas serta raut wajahnya terpancar Bik Ijah sangat fokus. Aku pun tersenyum dan pergi ke halaman belakang.

"Pagi yang sangat indah" batinku

Memang keindahan di sini tidak seperti keindahan di kampung atau Desa tempat nenek dan kakek ku hidup.

Di sana nuansa alami dari alam masih sangat terjaga dengan asri, tapi jika sudah di kota malah banyak polusi di mana-mana. Rasa kehidupan kebersamaan tidak sekental di Desa.

Memang benar adanya pepatah "Hidup di Kota tebalkan dompet. Hidup di Desa tebalkan telinga" aku tidak memungkiri itu. Jika di kota serba beli dari bahan yang terkecil sampai barang besar sekali pun.

Tidak bisa dipungkiri juga, hidup di kotq itu nafsi-nafsi (sendiri-sendiri), keluarga pun jarang bersilaturahmi, semuanya sibuk dengan kerjaannya sendiri. Pukul tujuh sudah tidak ada di rumah, pulangnya sore, bahkan malam masih baru pulang.

____

Suasana pagi memang sangat indah ditambah kicauan burung dan kembalinya energi baru. Usai sholat shubuh setelah tadarrusan biasanya bantu-bantu ibu di dapur, tapi di sini semua pekerjaan rumah ditangani Bik Ijah dan Pak Ramlan. Mereka berdua memang tangguh. Rumah besar seperti ini mereka bisa mengatasi pekerjaan rumah. Aku lihat sekeliling dan menarik nafas dalam-dalam.

Perempuan sepertiku mungkin akan takjud dengan bagusnya rumah ini, tapi rasa takjudku mulai hilang karena sikap Mas Fairuz yang mengabaikanku, mengabaikan malam pertama yang harus di lakukan oleh sepasang pengantin.

"Non. Ayo sarapan. Semua lagi menunggu di meja makan"

"Oh. Ia Bik. Terima kasih" sahutku.

Aku berjalan ke meja makan dan sudah mendapati semua keluarga sudah duduk di sana. Aku canggung dan malu, tapi jika terus canggung aku akan lapar nantinya.

"Eh... Menantu Mama sudah bangun. Mama pikir belum bangun lelah karena aktifitas malam"

"Ma..." Fairuz memanggil dengan nada larangan. Aku terdiam dan masih berdiri.

"Sini. Duduk di sebelah suamimu, dan suguhi apa yang dia pinta" seraya menepuk sandaran meja kursi.

"Pagi Ma, Pa"

"Kok hanya Papa sama Mama?" Tanya Papa sambil mengambil menu makanan.

"Hah. Em pagi semua?" Sapaku kaku.

"Pagi Kak" jawab Lidia.

"Sapa suamimu dulu baru setelah itu yang lainnya ya?"

"Iya Ma"

"Pagi Mas"

Tak ada jawaban dari Mas Fairuz. Aku tidak ambil pusing dengan sikapnya yang penting Zahwa akan melakukan tugas sebagai seorang istri kepadanya. Aku mengambil menu makanan untuknya dan Mas Fairuz masih diam tidak mengatakan sepatah kata pun.

Aku masih bisa menahan diri waktu salah satu menu makanan yang ku ambilkan buatnya dikembalikan hanya menyisakan satu menu. Aku menarik nafas sepelan mungkin kuatkan hati.

"Kuatkan hatimu Zahwa" lirih batinku.

"Bismillah" batinku menenangkan diri dan berusaha tersenyum kepada lainnya.

Aku memperhatikan mereka satu persatu. Mama yang selalu sigap jika Papa menginginkan menu yang yang lain. Mama sangat perhatian kepada Papa. Apa karena ini mereka sudah 35 tahun bersama penuh dengan keharmonisan.

Papa manja dihadapan Mama. Apa-apa yang diinginkan, harus Mama yang melakukan bukan tangan orang lain yang melayaninya, tidak ada pengaruhnya jika orang lain melayani kebutuhan Papa, akan tetapi Mama adalah prioritas utama yang Papa selalu inginkan. Papa tidak pernah mengesampingkan Mama dalam segala urusannya, karena di lihat dari cara interaksi kedua mertuaku ternyata memiliki peran penting dalam diri keduanya.

Lidia paling cerewet di meja makan. Banyak yang dibicarakan, apa lagi menu pagi tidak sesuai dengan keinginannya. Ada-ada saja cerita yang menjadi topik hariannya. Setiap cerita memiliki temanya tersendiri.

Beda dengan Ma Fairuz ia lebih banyak diam. Meminta menu makanan yang diinginkan. Jika sudah selesai cepat pergi tanpa berkomentar apa pun.

Mama dan Papa biasa selalu ada momen romantis diantara keduanya. Sebenarnya aku iri melihat kedua mertuaku, tapi mau gimana lagi, memenangkan hati Mas Fairuz saja butuh kerja keras apa lagi main romantis-romantisan.

"Ah... keluarga ini memang unik juga." Batinku sambil tersenyum.

Mama memang pantas buat contoh. Mama selalu perhatian kepada Papa dan itu harus Zahwa contoh agar selalu perhatian kepada suami.

"Mas Fairuz" aku menahan langkah kakinya yang beranjak pergi ke kantor. Mas Fairuz menoleh namun raut wajahnya tidak secerah pertama kali aku melihatnya ia berangkat ke kantor.

"Tunggu Mas. Makan siang nanti Zahwa akan antar ke Kantor." Suaraku tertahan.

"Tidak perlu." Suara ketusnya pun keluar.

Mas Fairuz pergi meninggalkan ku yang masih ingin mengatakan satu hal lagi, tapi dia sudah keburu pergi. Aku hanya memandangnya dari belakang, yang membuatku tambah tidak mengerti kenapa Mas Fairuz melarangku membantu menyiapkan keperluan kantornya.

"Zahwa jangan diambil hati ya Nak. Fairuz sifatnya sudah seperti itu, tapi jika nanti sudah terbiasa Fairuz tidak akan bersikap seperti itu." perkataan Mama menenangkan diriku meskipun masih banyak pertanyaan yang tidak bisa ku jawab.

Pertama kali aku datang ke rumah besar ini dan pas melihat Mas Fairuz mau berangkat dengan raut wajah yang segar, sumringah serta tatapannya yang tajam membuatku selalu tersenyum padanya.

Pada akhirnya Pak Hamili Kakek Mas Fairuz memberi wasiat kepada keluarga besarnya bahwa Mas Fairuz harus menikah dengan putri Pak Hasan yaitu Zahwa Malikan Nufus.

Aku tidak percaya jika bisa bersanding dengan pria yang aku sukai, tapi pernikahanku tidak seindah yang ku bayangkan. Aku harus belajar dan belajar mau di bawa kemana tujuan dari pernikahan ini.

Semuanya menjadi teka-teki yang tak terbantahkan, dan aku selalu berharap suatu hari nanti aku bisa membawa hubungan ini sebagaimana mestinya.

Dear Zahwa Malikan Nufus

🤗 Hai Shobat Nq bagaimana kabar kalian semua? Semoga sehat semua dan selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin💖

Yuk kita lanjut ke bab berikutnya semoga lebih kreatif. Aamiin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AIR MATA PERNIKAHAN
8.8
Bella terperangkap dalam duka saat Bara, suaminya, berselingkuh dengan Arum. Meski ingin bercerai, kondisi mertuanya yang sakit keras memaksa Bella bertahan demi pengabdian tulus. Di tengah penderitaan batin, ia didiagnosis mengidap kanker mematikan saat sedang mengandung buah hatinya. Kini, Bella harus berjuang melawan penyakit dan pengkhianatan suaminya yang kian terang-terangan. Akankah ia terus bertahan dalam pernikahan penuh air mata demi anak dan mertuanya?
Sampul Novel Aku Menyerah, Memilih Pergi
9.8
Naira mengabdikan hidupnya sebagai istri dan ibu tiri yang tulus bagi Danang dan putranya, Arka. Namun, pengorbanannya selama bertahun-tahun hanya dibalas dengan sikap dingin dan penghinaan. Puncaknya, saat nyawa Naira terancam dalam sebuah serangan keji, suami dan anak tirinya justru mengabaikan permintaannya untuk ditolong. Merasa dikhianati di titik terendahnya, Naira akhirnya memilih bangkit dan meninggalkan keluarga yang tak pernah menghargainya tersebut.
Sampul Novel Dibuang suami kere dinikahi Dokter Tajir
8.0
Silvia hancur setelah dikhianati suaminya yang berselingkuh. Di tengah luka itu, ia bertemu Dokter Dana akibat sebuah insiden kecil. Saat benih cinta mulai tumbuh, ayah Silvia yang hilang sepuluh tahun kembali sebagai konglomerat dan menjodohkannya dengan pria lain demi balas budi. Kini Silvia terjepit antara cintanya pada Dana atau takdir pilihan ayahnya. Sementara itu, sang mantan suami mulai menyesal melihat Silvia kini menjadi wanita terhormat.
Sampul Novel Dive In You
9.2
Maryam dan Alaska terjebak dalam dilema cinta beda agama yang menguras emosi. Meski perasaan mereka begitu kuat, perbedaan iman menjadi penghalang besar yang menyesakkan dada. Saat dipaksa menuruti perjodohan pilihan orang tua masing-masing, mereka mencoba patuh pada takdir. Namun, simbol keyakinan mereka tak mampu menghapus rasa yang tetap hidup. Di tengah konflik batin dan kepatuhan, mungkinkah ada jalan bagi cinta mereka untuk bersatu kembali?
Sampul Novel Hancur Karena Cinta yang Berkhianat
9.5
Tiga tahun menikah, Aluna siap membangun keluarga saat kariernya di puncak. Namun, kejutan kehamilan yang ia bawa justru berujung pilu. Di kantor, ia mendapati Raka bersama wanita lain dan seorang anak kecil. Tanpa rasa bersalah, Raka justru meminta cerai dengan dingin. Aluna hancur melihat suaminya lebih memilih anak orang lain. Akankah Raka menyesal saat menyadari bahwa ia telah membuang darah dagingnya sendiri demi mereka yang tak sedarah?
Sampul Novel NAJIS JADI MADUMU, MAS!
9.3
Kehidupan pengantin baru yang seharusnya indah justru terasa hambar bagi sang istri. Suaminya jarang pulang, mengabaikan kewajiban batin, dan hanya memberi uang belanja sangat minim. Rasa curiga yang menumpuk mendorongnya untuk melakukan penyelidikan mandiri demi mengungkap kebenaran di balik sikap dingin pasangannya. Tak disangka, sebuah rahasia besar yang sangat menyakitkan akhirnya terungkap. Ternyata, selama ini suaminya menyembunyikan sisi lain yang tak terduga.