APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kenangan Obsidian

Kenangan Obsidian

Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu berselimut kabut, seolah Pegunungan Rusak bernapas dalam diam, menyembunyikan rahasia di antara tebing-tebing. Asha terbangun kaget, masih merasa seolah-olah dia bermimpi api berbicara, abu menangisi nama-nama yang terlupakan.

Kael tidak berada di ranjangnya.

Dia langsung duduk, mencari-cari di antara bayangan. Para pengungsi masih tidur, dan hanya beberapa siluet yang berjalan di antara tempat perlindungan batu yang menjadi tempat berlindung mereka. Aroma tanah lembap dan abu melayang di udara. Dia melangkah keluar tanpa mengenakan sepatu sepenuhnya, merasakan dingin yang menusuk menggigit kakinya.

Dia menemukannya beberapa meter dari tepi tebing, punggungnya menghadap jurang. Kepala Kael tertunduk, lengannya yang membatu menjuntai seperti cabang pohon yang mati. Itu lebih dari sekadar kerak obsidian: sekarang mencapai bahunya, dengan urat-urat abu-abu memanjang di leher dan tulang selangkanya. Kulitnya tampak mengkristal, menjadi bagian dari lingkungan yang lembap.

Asha mendekat dengan tenang. Dia tidak ingin membuatnya takut, tetapi dia juga tidak ingin berpura-pura semuanya baik-baik saja. Beban napasnya sendiri terasa sakit di dadanya. "Aku belum tidur," gumam Kael sebelum berbicara. Asha menelan ludah. ​​"Apakah keadaannya makin buruk?" Kael mengangkat tangan kirinya-yang masih manusia-dan mengangguk. Ketika dia menoleh padanya, Asha melihat garis tipis dan keras di pipinya, seperti bekas luka yang membeku di tengah transformasi. "Aku tidak bisa menggerakkan jari-jariku tadi malam," katanya, sambil menatap lengan kanannya. "Aku merasa seperti mereka bukan milikku. Seperti... seperti mereka bukan bagian dariku lagi!" "Jangan katakan itu," Asha segera membalas, terlalu cepat, terlalu patah. "Itu benar." Keheningan menyelimuti mereka seperti lempengan batu. Hanya bisikan angin di kejauhan dan gemuruh sesekali dari batu lepas yang memecah keheningan. Asha merasakan sedikit ketidakberdayaan. Dia telah memegang kehidupan di tangannya, menghidupkan kembali kenangan yang mati, menyalakan simpul-simpul dengan apinya... tetapi dia tidak tahu bagaimana cara menyimpannya. Dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan apa yang Kael hilangkan.

"Lirien percaya hati abu yang kau bawa itu terhubung denganmu," kata Kael, seolah membaca pikirannya. "Selama kau menyimpannya, transformasiku akan lebih lambat. Tetapi itu tidak akan berhenti."

"Kita belum tahu itu," jawab Asha, suaranya lebih tegas daripada yang dirasakannya.

Kael tidak menjawab. Dia hanya menatapnya dengan mata yang masih manusiawi, tetapi semakin jauh. Asha teringat saat pertama kali melihatnya, di koridor kuil, ketika dia menjadi sipirnya dan dia menjadi tahanan dengan lidah tersembunyi. Begitu banyak yang telah terjadi sejak saat itu, tetapi tetap saja mereka ada: sama, tetapi tidak lagi.

"Apakah itu sakit?" tanyanya, nyaris berbisik.

Kael menggelengkan kepalanya.

"Itu bukan rasa sakit. Itu adalah ketiadaan."

Kata itu membuat darahnya dingin.

Dia mengulurkan tangan kirinya ke arah Asha, dan Asha langsung menerimanya. Sentuhannya masih hangat, masih dirinya. Asha berpegangan erat pada kemanusiaan itu seperti seseorang yang memegang kenangan yang tidak ingin dilepaskannya.

"Kami tidak akan membiarkanmu tersesat," katanya tegas. "Kami akan menemukan pecahan-pecahannya, kami akan mengaktifkan kembali simpul-simpulnya. Pasti ada sesuatu dalam semua ini yang masuk akal."

"Mungkin. Tapi kau harus mempersiapkan diri," katanya lembut. "Kalau-kalau saat itu tiba. Kalau-kalau aku berhenti menjadi diriku sendiri."

Asha mengatupkan bibirnya, menahan jawaban yang terbakar di tenggorokannya. Dia tidak menginginkan janji kematian. Tidak sekarang. Tidak saat mereka masih menghirup udara yang sama.

Mereka kembali bersama ke tempat perlindungan, tempat Lirien sudah bangun, menelusuri garis-garis di batu dengan pigmen alami. Melihat mereka, Asha berdiri, menilai Kael dengan tatapan yang tidak simpatik, tetapi praktis.

"Seberapa jauh dia pergi hari ini?"

"Bahu dan leher," kata Asha terus terang.

Lirien mengangguk. Ini bukan kejutan. Hanya konfirmasi dari hal yang tak terelakkan.

"Kita akan membutuhkan Anak-anak Api yang Rusak. Pengetahuan mereka tentang ingatan mineral mungkin berguna. Ada catatan kuno tentang obsidian yang masih hidup. Mungkin itu pernah digunakan oleh para Penjaga sebagai pengekangan... atau hukuman."

"Maksudmu mereka melakukannya dengan sengaja?" tanya Asha, merasakan kemarahan yang mendidih di dalam dirinya.

"Aku belum tahu. Tapi jika pecahan itu terhubung denganmu, dan Kael melindunginya, dia mungkin menyerap sebagian apinya. Seolah menyalurkan apa yang tidak dapat kau pegang sepenuhnya."

Kael tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya duduk di dekat api, menatap ke angkasa. Asha memperhatikan bahwa dia tidak menyentuh apa pun dengan lengannya yang membatu, seolah takut menghancurkan apa yang masih rapuh.

"Ada celah baru di dekat Lembah Kebisingan," kata Lirien setelah jeda. "Wanita tua itu mengatakan itu mungkin gerbang menuju ingatan yang tersegel. Mungkin itu menyimpan lebih banyak jawaban... atau peringatan."

"Kita akan pergi," kata Asha sebelum Kael bisa berbicara.

"Asha..." gumamnya.

"Tidak. Kami tidak akan tinggal di sini menunggu. Jika ada sesuatu di celah itu, sesuatu yang memberi tahu kami cara membantumu, maka kami akan pergi."

Lirien mengangguk. Keputusan telah dibuat.

Malam itu, Kael akhirnya tertidur, lengannya berubah menjadi batu saat beristirahat di pangkuannya. Asha mengamatinya dalam diam, bara api menyinari wajahnya dengan cahaya yang berkedip-kedip. Batu itu tampak bergerak lebih cepat di malam hari, saat tubuhnya menyerah pada keheningan. Seolah menunggu kecerobohan untuk mengklaim lebih banyak wilayah.

Asha meninggalkan tenda. Lirien sedang duduk di atas batu, mengamati bintang-bintang, menggambar dengan sepotong arang di peta yang terbentang.

"Dan jika kita tidak sampai di sana tepat waktu?" Asha bertanya terus terang.

"Maka kau akan melakukan apa yang seharusnya kau lakukan," jawab Lirien tanpa menatapnya. "Dan dia akan memenuhi tujuannya."

"Dan apa tujuannya? Menjadi patung?"

"Menjadi wadah. Sebuah relik hidup. Sesuatu yang sangat ditakuti oleh para Penjaga sehingga mereka mencoba menguburnya. Kael lebih dari sekadar daging. Dia adalah kenangan. Dan kau adalah api."

Asha mengepalkan tinjunya. Dia ingin berteriak padanya, mengguncangnya, tetapi dia tahu Lirien tidak berbicara dengan kejam, tetapi dari sudut pandang yang lebih luas, lebih dingin, dan lebih kuno.

"Bagaimana jika aku tidak ingin menjadi api?"

"Maka kamu harus memutuskan kapan harus membakar... dan kapan harus melawan."

Angin membawa serta bisikan gemuruh yang jauh. Sebuah retakan yang terbuka, mungkin. Atau simpul yang terbangun.

Asha menatap langit. Bintang-bintang tidak lagi tampak acuh tak acuh. Mereka terbakar dengan janji yang sama yang dipegangnya di telapak tangannya: pecahan abu, masih hangat, masih hidup. Masih menunggu untuk menjadi utuh.

Dia tahu Kael sedang berubah. Waktu itu hampir habis. Tetapi dia juga tahu bahwa setiap langkah menuju retakan itu adalah langkah menuju sesuatu yang lebih dalam dari batu. Sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkannya.

Atau kehilangan keduanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Pekerjaan Rahasiaku Dan Cintanya
8.8
Meri terpaksa melakoni profesi pembunuh bayaran demi uang karena sulit mencari kerja. Mike adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kelam ini. Meski Meri mencintai sahabatnya itu, ia memilih memendam rasa demi menjaga pertemanan, apalagi Mike sudah memiliki kekasih seorang model cantik. Namun, pertemuan tak terduga dengan seorang dokter tampan di rumah sakit mulai menggoyahkan hatinya. Siapakah sebenarnya belahan jiwa yang ditakdirkan untuk Meri?
Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Akibat kesalahpahaman fatal, Eudora terperangkap dalam penderitaan sebagai tawanan Legolas yang haus akan balas dendam. Kehidupannya hancur dalam siksaan hingga ia merasa maut lebih baik daripada bertahan hidup. Namun, kebenaran akhirnya terkuak bahwa Eudora adalah sosok penyelamat nyawa Legolas di masa lalu. Kini, rasa benci dan kekecewaan mendalam menyelimuti hati Eudora. Akankah cinta bersemi kembali atau mereka justru terjebak menjadi musuh abadi?
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Letnan Imam mengutamakan tugas negara, namun pengkhianatan Serda Resti menghancurkan janji suci mereka. Meski Resti telah menjadi milik orang lain, bayangannya tetap ada. Pasca kecelakaan, Imam menemukan cinta baru pada Dokter Utami. Namun, penugasan ke Lampung mempertemukannya dengan Lita, pelajar yang mirip Resti. Saat kesetiaannya diuji, Utami memilih berpisah sementara Lita sudah memiliki kekasih. Siapakah yang akhirnya akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel Hidden Tea
8.2
Saat menghadiri pesta di Negeri Suwarna, Putri Mahkota Manggalya menerima kabar duka atas wafatnya sang ayah. Karena takhta tak boleh kosong, Pangeran Rahagi yang berusia sepuluh tahun pun naik takhta menggantikannya. Sang Putri yang terpukul memilih mengasingkan diri demi menenangkan jiwa. Namun, di bawah kuasa raja muda yang baru, Manggalya justru berubah menjadi kerajaan agresif yang terus memperluas wilayah kekuasaannya secara membabi buta.
Sampul Novel Kekayaanku, Keluarga Benalunya
9.0
Sebagai dokter bedah saraf berpenghasilan miliaran, aku menghidupi suami kapten tentaraku dan keluarganya yang parasit. Usai melunasi utang 75 miliar mereka, aku mengatur liburan mewah ke Monako. Namun, suamiku justru memberikan kursi jet pribadiku kepada mantan kekasihnya, Dahlia, dan membuangku ke penerbangan komersial berbahaya. Saat mereka bersekongkol menghinaku, aku menyaksikan pengkhianatan di ranjangku sendiri. Kini, saatnya membalas dendam dengan menghanguskan segalanya.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso menyaksikan cucunya, Mawar, tewas mengenaskan setelah difitnah dan dikejar warga Ledokombo hingga jatuh ke tebing. Dendam membara menyelimuti hatinya karena gadis bermata merah itu dibunuh secara keji. Demi membalas sakit hatinya, ia membangkitkan Nyai Larapati, sosok iblis kuno yang telah lama tertidur. Raga Mawar yang sudah mati dipaksa bangkit kembali untuk menuntaskan kesumat berdarah tanpa ampun terhadap para penduduk desa tersebut.