APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kenapa Kalian Membuang Ibu?

Kenapa Kalian Membuang Ibu?

Minah awalnya hidup tenang dalam asuhan Eliza dan Agung. Namun, situasi berubah drastis saat putri bungsunya itu harus pergi merantau. Minah terpaksa pindah ke rumah Edo, putra sulungnya. Di sanalah penderitaan bermula akibat perlakuan buruk sang menantu yang kejam. Masa tua Minah berakhir tragis di sebuah panti jompo. Ia akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian yang memilukan, tanpa kehadiran satu pun anak kandung di sisi tempat tidurnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Mas, tolong bawa ibu ke rumahmu dong. Aku capek kalo begini terus ...." keluh Eliza di sambungan telepon pada Edo, Mas-nya yang tinggal beda kota dengannya.

Eliza sudah memikirkan hal ini sejak awal. Walau sebenarnya ia tidak ingin melewatkan bakti pada sang ibu, tapi ia tidak sanggup lagi menjalaninya. Tubuhnya benar-benar remuk. Lelah tidak hanya menerpa raganya, tapi juga membelit hati dengannya sangat erat.

Bagi Eliza, wajar saja jika ia meminta Edo untuk menjaga sang ibu. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari orang tuanya, Edo cukup sukses dengan hidupnya sekarang. Sejak menikah dengan anak tunggal bos tempatnya menjadi karyawan dulu, hidupnya nyaris berubah seratus delapan puluh derajat. Ia awalnya hanya ditugasi untuk mengurus perusahaan milik sang mertua. Akan tetapi, setelah mertuanya berpulang, otomatis perusahaan itu menjadi tanggung jawab Edo sepenuhnya.

Eliza hanya mendengar helaan napas panjang dari Edo. Beberapa saat menunggu, ia tidak kunjung mendapat jawaban.

"Mas ...." panggil Eliza lagi.

"Mas kerja, El. Gimana bisa Mas ngurus ibu?" elak Edo.

Eliza memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja sakit. Semua itu karena jawaban Edo yang tidak masuk akal. Semua orang tahu, kalau Edo memang bekerja. Seorang pekerja kantoran yang selalu sibuk. Akan tetapi, bukankah ia mempunyai istri? Rasanya wajar saja, seorang menantu perempuan mengurus mertuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Kalaupun sang istri tidak sanggup melakukan semua itu, mereka adalah orang kaya. Tidak akan mengurangi hartanya sedikitpun. Jika sedikit saja disisihkan untuk menyewa seorang pembantu, untuk mengurus ibu.

"Tapi, Mas. Gak mungkin juga semua ini dibebankan sama aku seorang. Meski tidak bekerja, tapi aku punya dua balita yang supee aktif. Aku benar-benar kewalahan mengurus ibu, Mas." Lagi-lagi Eliza berusaha membujuk. Ia masih berharap, Edo memikirkan lagi semuanya.

"Kamu coba hubungi Mbak Eva deh. Mana tahu, ia mau bawa ibu ikut dengannya. Anak-anaknya udah pada besar. Pasti gak masalah baginya untuk ngurus ibu." Hening beberapa saat. "Udah ya, El. Mas lagi sibuk nih!" Sambungan telepon dimatikan begitu saja.

Eliza membanting ponselnya ke arah ranjang dengan kasar. Ia benar-benar stres dua hari ini. Ibunya, Minah, yang memang sudah nyaris lumpuh, hari ini menguras emosi Eliza. Sejak pagi, ia bolak-balik minta diantar ke kamar mandi. Alasannya sakit perut. Padahal belum beberapa detik sampai di kamar mandi, ia minta ke kamar lagi. Begitu seterusnya, sampai berulangkali.

Jika Eliza bersuara keras sedikit karena kesal, ia akan menangis tersedu-sedu lalu akan mogok makan. Apapun yang disediakan Eliza di meja kecil samping ranjangnya, tidak akan disentuh. Lalu, ujung-ujungnya, ia akan mengeluhkan sakit perut.

Kalau saja, tugas Eliza hanya mengurus ibunya, mungkin ia bisa berupaya lebih sabar. Akan tetapi, dengan mengurus dua balita super aktif, seluruh tenaga Eliza benar-benar terkuras. Rasanya ia sudah tidak memiliki kemampuan lagi. Sementara, jika dipikir-pikir, ibunya itu bukanlah tanggung jawabnya seorang. Masih ada dua saudara, yang memiliki kewajiban yang sama.

Eliza merasa keadaan ini tidak adil untuknya.

---

"Kan hanya kamu yang dapat warisan dari ibu, ya kamu lah yang ngurus ibu," ujar Eva waktu pertama kali Minah divonis stroke.

"Warisan apa maksud Mbak? Rumah ini?"

Setelah menikah dengan Agung, suaminya, Eliza memang tidak pernah pindah dari rumah Minah. Minah sendiri yang memintanya untuk tetap tinggal bersama. Saat ini, Minah masih sehat. Ia kuat, dan bahkan masih aktif berjualan sarapan pagi di depan rumahnya. Usaha yang sudah ia geluti bertahun-tahun, untuk menghidupi anak-anaknya setelah suaminya meninggal.

Eliza menurut. Lagipula, ia tidak tega meninggalkan ibunya tinggal sendiri. Beliau pasti akan kesepian.

Begitulah yang ada dalam pikiran Eliza. Akaj tetapi, bukan berarti dia enak-enak saja menerima harta satu-satunya yang dianggap warisan oleh Eva. Rumah tua milik orang tuanya itu, sudah rusak di sana ini. Eliza dan Agung pun, sudah mengeluarkan banyak uang untuk merenovasi.

"Ya, begitulah ...."

"Jika memang begitu yang kalian inginkan, baiklah," jawab Eliza, sembari menatap dua saudara yang ada di hadapannya. Keduanya sama saja. Hanya menampilkan wajah yang datar, tanpa ekspresi rasa bersalah sedikitpun.

---

Sudah tiga tahun berlalu, sejak peristiwa itu. Hanya Eliza yang selalu sabar mengurus Minah. Kedua kakaknya, tidak pernah berinisiatif untuk menggantikan tugas Eliza. Semua beban yang berat itu, hanya terbeban di pundak Eliza seorang. Bahkan, ketika anak keduanya lahir, tidak sedikitpun mengubah keadaan. Edo dan Eva tetap bertahan pada keadaan yang membuat mereka nyaman. Tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana Eliza menjalani beratnya hidup.

Yang mereka berikan hanyalah berbentuk uang, untuk keperluan sang ibu. Membeli diapers, susu, hingga vitamin dan obat-obatan. Itupun tidak rutin. Terkadang, jika tidak diingatkan, Edo dan Eva akan lalai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BAYAR dengan Tubuhmu
9.6
Celina terpuruk dalam kehancuran setelah dikhianati oleh tunangannya sendiri. Tak hanya difitnah, ia bahkan dijadikan jaminan hutang demi melindungi saudara laki-lakinya. Kini, ia terpaksa menyerahkan dirinya kepada Mikhael, seorang pria berkuasa yang dingin. Namun, saat Celina datang dengan wajah sembab penuh duka, Mikhael justru mencemooh kondisinya yang menyedihkan. Di tengah tekanan keji ini, Celina harus bertahan melayani pria yang terang-terangan menghinanya.
Sampul Novel Be Your Pet
9.2
Demi membiayai pengobatan sang ibu di rumah sakit, Erick yang berusia dua puluh tahun terpaksa mengambil keputusan drastis. Ia setuju menjadi 'peliharaan' bagi Jason, seorang pria penyuka sesama jenis dengan kecenderungan BDSM yang sangat dominan. Kehidupan Erick pun berubah drastis saat ia terjebak dalam dinamika penuh kekerasan, kata-kata kasar, dan penghinaan. Mampukah Erick bertahan dalam hubungan ekstrem yang penuh dengan konten dewasa ini demi sosok ibunya?
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Ajeng Kirei Aswari dijual ayahnya ke tempat prostitusi saat berusia 18 tahun. Selama sepuluh tahun, ia menjalin hubungan dengan Reynold Bill Timur, CEO sukses yang menjadi tumpuan hidupnya. Namun, keluarga Bill menentang status Ajeng dan menjodohkan Bill dengan wanita sederajat. Tak mampu menolak, Bill tetap membawa Ajeng ke dalam skandal di tengah pernikahannya. Mampukah Ajeng bertahan bersama Bill meski harus menyakiti perasaan wanita lain yang tak bersalah?
Sampul Novel Hasrat Liar Sang Ustadzah
9.7
Kehidupan seorang pemuda berubah drastis setelah menyaksikan rahasia di balik hijab syar'i Ustadzah Ika. Pemandangan tak terduga saat sang guru melepas pakaiannya meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan. Meski telah memiliki anak, kecantikan fisik Ustadzah Ika tetap mempesona dan memicu kekaguman yang berlebihan. Kini, bayangan tubuh molek sang ustadzah terus menghantui pikiran dan mengganggu tidur malamnya, menciptakan hasrat yang semakin liar setiap hari.
Sampul Novel Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi
9.6
Bianca adalah sosok istri idaman yang sangat manja dan penuh kasih, membuat Adrian merasa sangat dicintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat sebuah pesan misterius membongkar pengkhianatan Adrian. Alih-alih mengamuk, Bianca justru memilih membalas dengan keheningan yang dingin tanpa peringatan sama sekali. Adrian pun terperangkap dalam kebingungan mendalam, hingga ia akhirnya tersadar bahwa kehilangan cinta secara perlahan jauh lebih menyiksa.