APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kendra dan Lukanya

Kendra dan Lukanya

Kendra dikenal sebagai pemuda bengis yang tidak segan bertindak kasar pada siapa pun. Di sisi lain, ada Lea, gadis cantik dan lugu yang pantang menyerah mengejar cintanya meski terus ditolak mentah-mentah oleh Kendra. Walau Kendra menegaskan tak akan pernah membalas perasaannya, Lea tetap bertahan demi menumbuhkan benih cinta di hati cowok itu. Namun, saat Kendra akhirnya menyadari perasaannya pada Lea, ia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa waktunya hampir habis.
Bab
Bagikan

Bab 2

Lea berjalan dengan riang menuju kelasnya, matanya terkunci pada temannya Angel. Teman kelasnya yang selalu membuatnya kesal, tengah berciuman dengan seorang pria di dekat kamar mandi.

"Ya Allah maafin Lea, mata Lea ternodai!" ucapnya lirih, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan namun jari-jarinya terbuka mengintip perbuatan kotor mereka.

"Kayaknya kalau Lea Vidio bagus deh. Nanti kalau Angel macam-macam sama Lea, Lea bisa laporin!" ucapnya senang merasa idenya tersebut sangat brilian.

Dengan langkah hati-hati, Lea membuka ponselnya dan mengarahkan kamera itu pada mereka berdua yang masih asyik dengan kegiatannya tanpa sadar dengan Lea yang fokus merekam kegiatan mereka.

Lea tertawa kecil, segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan segera berlari sebelum Angel si nenek lampir itu melihatnya.

"Jijik banget sih, ih mereka bener-bener nodai mata Lea! kesel banget." Lea terus berduel sepanjang jalan, merutuki mereka berdua yang tidak tahu tempat.

"WOI, LEAK!" Lea berbalik menatap Kendra yang menatapnya kesal, Lea tersenyum dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan wajah tersipu malu.

"Kenapa, Ken? Ken kangen ya sama Lea!" godanya, dia menjawil dagu Ken pelan membuat lelaki itu bergidik.

"Jijik banget gue kangen sama cewek kayak lo! Nih, kerjain tugas gue. Lo udah janji mau kerjain tugas gue kan sebagai ganti rugi!" Kendra memberikan buku itu pada Lea.

"Ih, banyak banget sih! Lea kan cuma bilang satu tugas ini kenapa ada lima. Ken curang ih!" dumelnya.

"Ck, cerewet banget sih lo! tinggal kerjain aja apa susahnya sih. Ribet banget jadi cewek!" Lea mengerucutkan bibirnya sebal.

"Ck, ciriwit bingit sih li! tinggil kirjiin iji ipi sisihnyi sih. Ribit bingit jidi ciwik!" Lea menirukan ucapan Kendra dengan wajah kesal.

"Situ enak tinggal ngomong aja, aku yang kerjain capek lah! Lea nggak mau tahu, Lea nggak mau kerjain tugas Ken semua. Lea cuma kerjain satu aja!" Lea mengembalikan buku itu pada Kendra.

"Ck. Mulai berani lo sama gue!" ucap Kendra, dia melotot tajam ke arah Lea, gadis itu tak takut balik melototi Kendra dengan kesal.

"Emang sejak kapan Lea takut sama Ken! dasar! muka aja sangar tapi kolor si kembar botak, huuu!" ledek Lea dengan tertawa, Kendra segera membekap mulut gadis itu, suaranya yang keras membuat beberapa orang melihat ke arahnya.

"Mau gue cium lo, hah!" bisik Kendra tajam, mendengar kata cium membuat Lea melotot tiba-tiba dia teringat pada Angel yang dia rekam saat tengah berciuman dengan lelaki.

"Nggak mau!" Lea menutup bibirnya sendiri, mendorong Kendra agar menjauh darinya, dia melotot garang.

"Ken, jangan macem-macem ya! mau Lea laporin ke Kak Agam. Biar Ken masuk BK!" tantangnya.

"Gue gak takut, sini gue cium dulu baru gue masuk BK." Kendra berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum menyeramkan, wajahnya terlihat seperti om-om pedofil.

"IH GAK MAU!" Lea segera berlari dari Kedra dengan wajah ketakutan, beda dengan Kendra yang malah tertawa puas mendengarnya. "Dasar bocil!"

*****

Elsa menatap jengah ke arah Lea yang tengah bermain ponsel sedari tadi, tanpa menghiraukan dirinya yang ada di sampingnya.

"Lea! udah napa sih, lo nggak ada attitude banget dah main hape mulu. Kalau ada temen itu, hape taruh dulu! nggak sopan tau."

Lea mengerucutkan bibirnya kesal, menatap ke arah Elsa. "Bentar ih! kan Lea lagi mandiin barbie, kasihan Barbie ya belum mandi dari kemarin. Kan bau!" ucapnya kesal.

Elsa menghela nafas panjang ternyata sedari tadi, Lea asyik sendiri bermain dengan barbienya?

"Gue tuh heran sama lo, Le. Lo itu  sebenarnya anak SMA apa anak TK! gak habis pikir gue sama jalan otak lo yang cetak!"

"Elsa rabun ya? udah tahu Lea pakai baju SMA. Itu artinya Lea udah SMA kalau Lea pakai baju TK itu artinya Lea masih TK. Gitu aja gak tau! Elsa tuh yang Tk!" Elsa mengeram kesal, kenapa bocah ini selalu membuatnya kesal.

"Dahlah mental breakdown gue ladenin lo. Bisa-bisa sakit mental gue!" Elsa segera pergi dari hadapan Lea yang acuh, dia tengah fokus dengan barbienya.

"Lea." Gadis itu mendongak saat mendengar suara berat memanggilnya, dia tersenyum saat melihat lelaki itu duduk di hadapannya.

"Iya, kak. Kenapa?" Seperti biasa gadis yang selalu ceria itu, tersenyum menatap ramah pada kakak kelasnya yang bernama Agam sekaligus kakak kelas yang menjabat sebagai ketua OSIS.

"Entar sore, lo sibuk gak?" tanyanya, Lea terdiam sebentar berpikir sejenak.

"Em, enggak sih kak. Emang kenapa?" Agam tersenyum senang mendengar jawaban Lea.

"Ikut gue ke gramedia, cari buku buat persiapan ujian. Mau kan? entar gue beliin novel." Dengan cepat Lea mengangguk, lumayan kan dapat novel gratis.

"Ma---"

"Nggak! entar sore dia pergi sama gue." Mereka berdua menoleh pada Kendra yang tiba-tiba ada di belakang Agam.

"Eng--"

"Iya. Lo lupa sama janji lo!" Kendra melototinya membuat Lea kesal, memang dia janji apa.

"Bener, Le?" tanya Agam.

"Maaf, kak. Lain kali aja ya!" ucap Lea tak enak, Agam mengangguk meski dia sedikit kecewa.

"Yaudah gak papa, gimana kalau besok? lo besok gak sibuk kan? besok juga hari libur." Lea mengangguk namun lagi-lagi Kendra menyelanya.

"Besok dia juga ada acara sama gue. Udah lo ke gramedia sendiri kan bisa! gak usah manja. Gak usah ganggu Lea lagi, udah sana keluar lo! kelas lo bukan di sini!" ketus Kendra.

"Ck, kelas lo juga bukan di sini." Agam menatapnya kesal, mereka berdua sedari dulu memang tidak pernah akrab selalu ada saja yang mereka ributkan.

"Bacot!" Kendra menarik Agam dan mengusirnya keluar menatap laki-laki itu tajam. "Gak usah deketin Lea lagi!"

Kendra menutup pintu kelas itu dengan kasar, kembali ke arah Lea yang mengerucutkan bibirnya kesal.

"Emang Lea punya janji sama, Ken? Lea nggak pernah janji apa-apa sama, Ken! ngeselin banget sih, Lea jadi nggak dapat novel gratis." Lea berdumel kesal.

"Ck, gue beliin! lo mau berapa emang. Segramedia lo beli gue bayar!" kesal Ken, Lea berbinar mendengarnya.

"Serius? oke. Nanti pulang sekolah Ken beliin Lea novel segramedia ya!" ucapnya binar, Ken menatapnya datar.

"Bangkrut gue!"

"Ih, Ken udah janji. Nggak boleh ingkar! beliin Lea segramedia." Lea menatapnya kesal.

"Hm. Asal ginjal sama jantung lo kasih ke gue dulu, biar gue jual!" Lea mengerjab pelan, membuat Kendra gemas dia yakin jika gadis itu akan bertanya hal aneh kepadanya.

"Emang laku? kalau dijual dapat berapa? terus ambilnya gimana? kalau diambil Lea masih hidup nggak?" ucapnya beruntun.

"Lakulah, laku keras malahan. Kalau lo jual gue yakin langsung kaya dadakan lo! lo pingin tau caranya gimana? perut lo di sobek terus gue yang ambil jantung sama ginjal lo, gimana lo mau gak?"

"T-terus, Lea masih hidup gak?" ucapnya kembali, wajahnya menatap takut ke arah Kendra.

"YA MATILAH DONGO!"

*****

Lea tersenyum senang, melihat banyak buku yang dia bawa. Kendra tidak ingkar, dia membelikan banyak novel untuk Lea meski tidak segramedia.

"Nyengir lo!" kesal Kendra.

Lea tertawa kecil menatap ke arah Kendra dengan senang. "Makasih, Ken!" ucapnya tulus, senyum manis terbit di wajahnya.

"Hm." Kendra tidak kesal dengan uangnya yang keluar banyak dia hanya kesal karena Lea yang memilih buku itu lama, hampir tiga jam! gila kan.

"Ken, mau itu!" Lea menunjuk penjual eskrim di pinggir jalan. Wajahnya nampak binar, sebenarnya bisa saja dia beli sendiri tapi sialnya uang jajan Lea ketinggalan.

"Hm." Mereka berdua berjalan menghampiri penjual eskrim itu, membelikan dua varian rasa eskrim untuk Lea. Cokelat dan vanila.

Mereka berdua duduk di bangku taman, Ken fokus pada ponselnya sedangkan Lea fokus pada eskrimnya. Hanya Lea yang beli tidak untuk Ken.

"Ken, kenapa gak beli? uang Ken habis ya buat beliin Lea banyak buku?" tanyanya, gadis itu menatapnya polos dengan mata yang mengerjab lucu.

"Duit gue banyak!" balas Kendra sombong, dia mengusap kepala Lea gemas.

"Habisin! setelah ini ikut gue ke rumah, tugas gue numpuk lo harus kerjain!" Lea melongo mendengarnya.

"Gak mau!" tolaknya cepat.

"Lea capek. Mau pulang, mau tidur! Ken kerjain sendiri dong tugasnya masa suruh Lea. Terus apa gunanya Ken sekolah!" omelnya.

"CK, lo kan udah janji gue udah nepetin janji gue buat beliin lo buku masa lo gak nepetin janji lo buat ngerjain tugas gue. Gak adil lo ah, kesel gue!"

"Ih. Gak gitu, besok aja. Lea capek tau! besok aja Lea ke rumah Ken, eh enggak Lea nggak boleh sama mama ke rumah cowok, Ken aja yang ke rumah Lea. Ya!"

"Hm." Ken kembali fokus pada ponselnya. Lea menawarinya eskrim, Ken hanya menatapnya kilas.

"Ih, Ken marah ya sama Lea?" ucapnya sedih, matanya mengerjab pelan. Ken menghela nafas panjang.

"Gue gak marah!"

"Boong, Ken marah kan sama Lea." Lea menatapnya berkaca, tangannya menggoyangkan lengan Kendra pelan.

"Jangan marah, Lea minta maaf. Lea janji kok bakal nepatin janji Lea, tapi besok ya. Lea capek sekarang!" Ken mengganguk, tanyanya mengusap kepala Lea pelan.

"Iya, Leak!"

Lea tersenyum dia kembali menawari Ken eskrim. "Kalau gak marah coba makan, manis kok! Nggak pahit nggak asin juga!"

"Bego lo kumat! Mana ada eskrim asin." Kendra berdecak kesal. Lea terkekeh pelan, Ken memakan eskrim itu sedikit menatap Lea yang tersenyum ke arahnya.

"Manis kan?" tanyanya.

"Hm."

"Kok hm doang?" Lea kurang puas dengan jawaban Kendra. Dia terdiam kala Kendra menatapnya dalam dan tangan lelaki itu mengusap pelan bibirnya.

Ken mengecup jarinya yang terdapat sisa eskrim Lea. "Manis!" ucapnya dengan senyum miring.

"KEN!" Lea menutup wajahnya malu, wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cacat Sebagai Penebus Jasa
8.5
Bagi sang anak, dilahirkan ke dunia dianggap sebagai beban utang yang harus dibayar kepada ibunya. Demi menebus segala jasa tersebut, ia rela mengorbankan raga hingga mengalami kecacatan fisik yang permanen. Pengorbanan tragis ini dilakukan hanya demi satu tujuan, yaitu menyentuh nurani sang ibu agar mau memberikan pengampunan tulus. Sebuah kisah pengabdian menyakitkan yang menguji batas antara bakti dan penderitaan dalam hubungan keluarga.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Foreman I Love You
8.3
Ghina mengalami pengkhianatan pahit di pabrik tempatnya bekerja. Namun, kejadian itu justru membawanya bertemu Arie, sang foreman. Untuk membalas rasa sakit hati pada sang mantan, Ghina nekat menikahi Arie secara rahasia. Kini mereka harus bersembunyi demi mematuhi aturan perusahaan. Akankah pernikahan ini bertahan saat rahasia terungkap? Ghina pun dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap bekerja atau pindah demi mendukung karier suaminya.
Sampul Novel Jangan Mencintaiku, Paman!
9.7
Demi menghindari mertua yang kejam, Ayu mencari perlindungan di rumah pamannya, Hideki. Namun, sebuah insiden fatal di bawah selimut yang sama menghancurkan segalanya. Kini pernikahan mereka hancur, dan Ayu diusir tanpa sempat menemui suaminya. Meski merasa hina, Ayu terpaksa tinggal bersama Hideki yang kini bersikap dingin, tak lagi lembut seperti saat merawatnya sejak kecil. Rahasia apa yang Hideki sembunyikan? Akankah Ayu memilih kembali atau terjebak cinta terlarang?
Sampul Novel Nafsu Liar Putra Mafia
9.3
Melanjutkan kisah dari Wanita Pemuas di Ranjang, narasi ini menyoroti generasi penerus dari keluarga mafia besar, Hansen dan Maxwell. Fokus utama terletak pada upaya mereka dalam mengelola takhta bisnis ilegal peninggalan orang tua sambil menghadapi lika-liku romansa yang rumit. Pembaca akan diajak mengikuti perjalanan emosional putra-putra mafia ini dalam menentukan pilihan hati dan mencari pasangan hidup yang tepat di tengah dunia yang keras.
Sampul Novel Pewaris Alpha, Hati yang Tak Ku-inginkan
8.4
Bima dan Keisha tampak seperti pasangan sempurna di Jakarta, namun pernikahan mereka rapuh akibat isu genetik. Demi pewaris, Bima membawa Rania sebagai ibu pengganti. Namun, Bima justru jatuh hati dan mengabaikan istrinya demi wanita itu. Keisha hancur saat tahu suaminya merencanakan pernikahan rahasia di vila impiannya. Sadar cintanya dikhianati oleh kebohongan besar, Keisha berpura-pura tenang sambil diam-diam menyiapkan rencana untuk menghilang selamanya.