APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Keputusan Takdir

Keputusan Takdir

Sallyana mengira cintanya akan berakhir indah, namun Veen justru memaksanya pergi hingga hatinya hancur. Saat ia mulai berhasil merelakan dan melupakan luka lama, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam status yang sangat berbeda. Akankah Sallyana jatuh hati lagi pada Veen setelah perpisahan pahit itu? Ataukah ia akan memilih pemuda lain yang hadir saat ia mencoba bangkit? Takdir memegang kunci atas akhir kisah pencarian kebahagiaan sejati ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

-Sebab sempurna tidak harus selalu berhasil dalam semua hal." Veen Darendra Mahardika. -

Di dalam Mansion megah bernuansa putih berisi suasana mencekam. Di ruang tamu, Sella, ibu dari Sally tengah memarahi putrinya karena menjadi juara tiga di kelas.

"Mama, Sally akan belajar lebih keras lagi besok," kepala kecilnya merunduk. Tidak berani menatap langsung pada wajah marah Sella.

"Itu yang selalu kamu ucapkan sama Mama! Lihat Aruna, dia tidak pernah ikut les apapun tapi bisa menjadi juara satu! Semua nilainya sempurna dan bagus. Tapi kamu, Mama udah buang banyak uang untuk les kamu. Dan hanya ini yang Mama dapat?! Juara 3?!" Matanya memerah karena marah. Arjuna, ayah dari Sally hanya duduk di sofa. Melihat istrinya memarahi putri semata wayang. Sekalipun tidak ada niatan untuk melerai.

"Kalau kamu nggak dapet juara 1 tahun depan, jangan harap kamu bisa keluar dari kamar selama sebulan. Madam Kian!"

"Ya, Nyonya."

"Pukul dia menggunakan rotan dua puluh kali, jangan beri dia makan sampai besok pagi. Biar Sally tau apa kesalahan dia karena tidak mendapat nilai yang paling sempurna, sebagai putri Amaranggana. Kamu hanya bisa mempermalukan Mama dan Papa!"

"Mama...." mata bulatnya berair. Siap menangis di bawah kaki kedua orang tuanya jika saja Madam Kian tidak membawa tubuh kecilnya ke gudang dekat halaman belakang.

Dibawa secara paksa, Sally hanya bisa diam. Pasrah dan membenci dirinya sendiri karena lahir di keluarga penuh aturan ini. Sesampainya di gudang, punggungnya di sentak ke bawah hingga tubuhnya berjongkok.

Slash!

"Nona Muda, harap menghitung. Jika tidak, maka saya tidak akan berhenti sebelum anda mau menghitung," kata Madam Kian. Wajahnya tanpa ekspresi. Memecut punggung kecil di bawahnya menggunakan rotan.

Tangan Sally terkepal, tidak perduli jika bajunya lusuh atau robek dan berdarah. Madam Kian tetap akan memecut sesuai perintah Sella. Bibir kecilnya bergetar keras bersamaan mengucapkan hitungan pada setiap pecutan.

Akhirnya 20 pecutan sudah lunas. Sally ambruk di lantai, seragam putihnya kusut pada bagian depan, dan bagian belakang mengalami robek. Warna putih bersih terkontaminasi warna coklat lusuh dan merah darah.

Matanya terpejam mendengar suara pintu tertutup. Menyisakan dirinya sendirian di tempat gelap tanpa cahaya. Mengeluarkan air mata tanpa suara. Kerongkongan miliknya terasa kering karena berteriak terlalu keras.

Tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Pagi tadi dia tidak sempat sarapan, di sekolah juga dia tidak sempat membeli makanan ringan di kantin. Tubuhnya melengkung seperti lintah yang terkena taburan garam.

"Veen...." Tidak ada sahutan. Hanya kesunyian disana sebagai teman. Melengkapi rasa sakit dan penderitaan.

Kenapa orang tuanya tidak pernah memuji dirinya? Teman-temannya yang mendapat rangking lima di kelas sudah membuat orang tua mereka bahagia, hingga mendapatkan hadiah.

Sally mendapatkan juara tiga. Namun kenapa Sella justru menyuruh Madam Kian untuk memecut punggungnya menggunakan rotan. Dimana kesalahannya?

Meski hal seperti ini sudah banyak dia dapatkan, tetap saja, mentalnya sama dengan gadis kecil berumur 13 tahun. Masih memerlukan kasih sayang dan dukungan penuh dari orang tua. Bukan hanya harta.

Pintu gudang berderit, membuat Sally menoleh ke arah pintu. Mata redupnya kembali bercahaya melihat sosok yang muncul dari balik pintu.

"Hai, ssstt diam. Jangan berisik."

Sally mengangguk menurut.

Veen mengunci lagi pintu gudang dari dalam, menenteng bekal makanan yang di masak Vira, ibunya.

"Seragam kamu!" Veen panik. Darah mengotori hampir keseluruhan seragam bagian belakang Sally. Beberapa menetes di lantai.

"Nggak papa, Sally kuat kok." Senyuman manisnya mengembang seolah tidak pernah terjadi aksi kekerasan pada dirinya. "Veen bawa apa? Sally laper, hehe."

"Mama masakin nasi goreng kesukaan kamu, tadi aku mau lewat pintu depan tapi takut masuk karena Tante Sella lagi marah-marah sama kamu. Jadi aku lewat pintu belakang yang sepi, minta kunci gudang cadangan ke tukang sapu kebun. Madam Kian nyambuknya keras nggak? Sakit banget, ya?"

"Enggak kok, Sally baik-baik aja. Besok juga sembuh, Sally di hukum karena nggak bisa bahagiain Mama, Papa. Sally buat mereka kecewa dan menyia-nyiakan uang mereka." Kedua tangannya merapikan seragam bagian depan, "Maaf ya, Sally kotor. Mana nasi gorengnya? Mau Sally makan. Nanti sampein makasih ya, buat Mama Vira."

"Ini, mau aku bawain obat dari rumah?" Veen menyodorkan kotak bekal berisi nasi goreng dengan sendoknya sekalian. "Biar lukanya nggak parah, anak gadis nggak baik punya luka parut."

Tidak menanggapi ucapan Veen serius, dia lebih memilih fokus pada nasi goreng. Memakannya dengan lahap. Setelah makan mereka berbicara sebentar.

"Nilai kamu gimana, Veen?"

Veen menggaruk kepalanya, "Alhamdulillah, rata-rata, hehe. Jadi bisa naik kelas. Kalau Sally?"

"Sally dapat juara 3."

"Wah! Bagus!"

Sejak kecil, Sally adalah sosok gadis pintar bagi Veen. Kelas mereka juga berbeda karena kepandaian di antara keduanya memiliki kesenjangan cukup jauh. Sally di kelas 7-A sedangkan dia di kelas 7-F.

"Cuma Veen yang bilang nilai Sally bagus, Mama bilang nilai aku belum sempurna. Jadi di hukum biar nantinya Sally lebih tekun belajar dan dapat juara satu ngalahin Aruna."

"Sal, kamu tau apa arti sempurna?"

"Tau dong," kuncir kuda miliknya bergoyang, "Sempurna harus bisa mendapatkan hasil tertinggi dalam semua aspek. Iya, kan?"

"Salah."

"Kok salah?" Wajah cantiknya tertekuk. "Kalau salah, jadi yang bener apa dong?"

Veen menutup bekal makanan kosong, nasi goreng sudah habis di lahap Sally dalam waktu singkat. Dia menepuk pundak sahabatnya, "Sempurna bisa di dapat bukan hanya dengan meraih hasil tertinggi dalam semua aspek dan berhasil dalam segala hal. Sempurna bisa di dapat dari diri kita sendiri, hargai dan syukuri semua yang telah di beri kepada kita. Disaat itu, kamu akan merasakan sebuah kesempurnaan di dalam diri kamu."

Sally masih diam. Mencerna semua kalimat yang di lontarkan Veen. Arti sempurna ini berbeda dari ajaran Madam Kian. Hal pertama yang wajib tertanam dalam diri Sally kecil, harus sempurna, menjadi unggul dalam segala hal.

"Kalau gitu, Sally harus bersyukur, ya?"

"Iya, nilai itu hasil kerja kamu. Hasil belajar kamu sendiri. Berapapun dan apapun hasilnya. Nilai itu milik kamu. Kalau kamu bersyukur, hati kamu akan puas dengan nilai kamu saat ini. Jangan terlalu memaksa diri mengejar kesempurnaan di mata orang lain, cukup menjadi sempurna untuk diri kamu sendiri dan di mata Allah. Mama selalu bilang begitu, jadi kamu nggak boleh terlalu memaksa diri. Sally juga perlu istirahat."

Keduanya saling bercerita, bertukar lelucon mengalihkan rasa sakit akibat luka berdarah milik Sally menjadi tidak berarti. Hari ini, dia mendapatkan ilmu baru lagi. Kesempurnaanmu lahir dari bagaimana caramu menghargai dan mencintai diri sendiri. Tidak perlu iri dengan orang lain, karena kamu istimewa. Tentu saja dengan caramu sendiri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Memaafkanmu
9.1
Alea diadopsi oleh pasangan konglomerat, Reynald dan Marina, sejak kecil. Namun di usia dewasa, ketenangan rumah mereka terusik saat Reynald mulai menaruh perasaan terlarang pada putri angkatnya itu. Di tengah ketidaktahuan Marina yang fokus pada terapinya, Alea merasa tertekan oleh obsesi sang ayah. Segalanya berubah saat rekaman rahasia mengungkap skandal yang mengancam keutuhan keluarga mereka. Haruskah Alea bicara atau tetap diam demi membalas budi?
Sampul Novel Birahi Kadang Tak Ada Logika
9.3
Kisah ini ditujukan bagi pembaca dewasa yang mampu menggunakan logika secara mendalam. Dalam dinamika asmara, cinta dan birahi sering kali muncul melampaui nalar manusia. Mengapa fenomena ini terjadi? Ikuti narasi ini hingga tuntas agar Anda tidak melewatkan pemahaman baru mengenai logika birahi yang terus berkembang. Jangan sampai menyesal karena berhenti di tengah jalan, sebab setiap babnya menawarkan sudut pandang penting agar Anda tidak menjadi pembaca yang merugi.
Sampul Novel Dokter Tampan dan Pasien
8.9
Han Jang Woo dikenal sebagai dokter berbakat yang memikat di rumah sakitnya. Di sisi lain, Kim Ae Jin adalah pasien yang selalu kabur saat pemeriksaan payudara karena merasa sangat malu di hadapan Jang Woo. Namun, di balik interaksi canggung tersebut, tersimpan sejarah kelam yang tidak diketahui orang lain. Rahasia masa lalu mereka mulai terkuak, mengungkap bahwa hubungan keduanya jauh lebih rumit dan mendalam daripada sekadar pertemuan antara dokter dan pasien.
Sampul Novel DURI DALAM DAGING
8.0
Sembilan tahun Tanti memendam luka batin dari malam Valentine kelam hingga ia bertemu kembali dengan Javier Berto. Meski cinta dan benci bergejolak, Tanti memilih menjauh. Namun, Javier justru menyimpan dendam membara, menganggap Tanti sebagai duri yang menghancurkan asmaranya dulu. Saat ia berniat membalas rasa sakitnya, kebenaran tak terduga mulai terkuak. Kembalinya sang mantan kekasih pun membongkar rahasia lama yang memutarbalikkan segalanya bagi Javier.
Sampul Novel Kehancuran Yang Direncanakan
8.9
Nayla hancur saat memergoki tunangannya berselingkuh dengan sepupunya sendiri. Di hari yang sama, orang tuanya tewas dibunuh secara keji. Sebagai saksi kunci yang kini diburu, ia melarikan diri hingga nyaris tertabrak mobil milik pria asing bernama Reza. Demi bertahan hidup, Nayla menyembunyikan identitas aslinya dari Reza saat berlindung bersamanya. Namun, ia tak menyadari bahwa pria penolongnya itu juga menyimpan rahasia gelap yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu
8.9
Dunia Savi hancur saat Jaka, rockstar yang ia puja sejak remaja, mengkhianati janji manisnya. Di sebuah bar Senopati, Savi mendengar rencana kejam Jaka untuk menyingkirkannya dengan sandiwara tunangan palsu. Tak hanya dihina sebagai pengganggu, Savi bahkan dibiarkan terluka fisik demi wanita lain. Muak dengan kekejaman dan rasa malu di depan umum, Savi memutuskan untuk bangkit. Ia memutus semua akses komunikasi dan memulai hidup baru di Florence tanpa bayang masa lalu.