APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Cinta Pertama Berujung Penderitaan

Ketika Cinta Pertama Berujung Penderitaan

Laila terjerumus dalam pergaulan bebas yang menghancurkan masa depannya. Gadis polos ini harus menanggung beban berat saat terpaksa melahirkan buah hatinya sendirian di sebuah gedung tua yang tidak layak. Kini, hidupnya dipenuhi penyesalan dan perjuangan keras melawan stigma buruk masyarakat. Sebagai ibu muda, Laila berupaya keras melindungi anaknya sambil mencari cara untuk menyembuhkan luka batin. Mampukah ia bangkit dari masa kelam dan meraih kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 2

Laila terbangun, atau lebih tepatnya, tersentak dari tidur singkatnya, saat cahaya pagi pertama mulai menyusup lewat celah-celah di atap gedung. Kepalanya terasa berat, dan seluruh badannya seperti habis dilindas truk. Rasanya sakit sekali, sakit yang menusuk sampai ke tulang. Ia melirik ke dadanya. Arka. Putra kecilnya masih ada di sana, tidur nyenyak, mulutnya sedikit terbuka, tangannya mengepal di dekat pipi Laila. Momen damai itu hanya bertahan sepersekian detik.

Ketakutan langsung menghantamnya.

Pagi. Artinya sebentar lagi orang-orang akan mulai beraktivitas. Mungkin ada pekerja konstruksi yang datang mengecek bangunan, atau mungkin saja petugas keamanan patroli. Kalau sampai ada yang menemukan ia dan bayinya di sini, skenarionya hanya ada dua: Laila ditangkap karena dianggap membuang anak (meski ia melahirkannya sendiri), atau anaknya diambil paksa. Keduanya sama-sama mengerikan. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Arka adalah satu-satunya miliknya.

"Kita harus pergi, Nak," bisik Laila, suaranya serak. Ia mencoba menggerakkan kakinya. Rasa perih luar biasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya. Ia menggigit bibir, menahan erangan. Luka-luka itu masih basah, kotor, dan ia hanya punya selembar kain yang tidak layak untuk membersihkannya.

Ia meletakkan Arka perlahan di atas tumpukan kain kering seadanya. Arka menggeliat sedikit, tapi tidak bangun. Laila mengambil kesempatan itu untuk mencoba membersihkan diri secepat mungkin. Ia menggunakan sisa air minum terakhirnya-hanya beberapa teguk-untuk membasuh tangannya. Ia tahu ini sia-sia, tempat ini kotor sekali, tapi setidaknya ia mencoba.

Masalah terbesar sekarang adalah logistik. Bagaimana cara membawa bayi ini turun dari lantai tiga tanpa terlihat? Dan ia tidak punya tas bayi, gendongan, atau apapun yang pantas. Ia hanya punya ransel lusuh yang isinya cuma pakaian kotor dan beberapa lembar uang receh.

Laila mencari akal. Ia merobek bagian lengan dari satu-satunya jaket tebal yang ia punya. Jaket itu sudah kusam, tapi bahannya cukup kuat. Dengan tangan yang masih gemetar dan nyeri, ia mulai mengikat potongan kain itu menjadi simpul-simpul darurat. Ia membuat semacam kantong gendongan dadakan. Jaket itu berfungsi ganda: sebagai gendongan untuk mengamankan Arka, dan sebagai penutup, agar tidak ada yang bisa melihat bayinya secara langsung.

Setiap gerakan, entah membungkuk, mengikat, atau bahkan hanya bernapas dalam-dalam, terasa seperti jarum yang menusuk. Ia merasa mual, lemas, dan pandangannya sering berkunang-kunang. Ia kehilangan banyak darah, ia tahu itu. Tapi adrenalin dan ketakutan mengalahkannya.

Setelah beberapa menit perjuangan yang terasa seperti jam, Arka akhirnya terbungkus aman di dada Laila. Wajahnya yang mungil terlindungi di balik lipatan jaket. Arka mulai rewel sedikit, mungkin lapar, tapi Laila hanya bisa menenangkannya dengan sentuhan dan bisikan. "Tahan sebentar ya, Sayang. Kita harus keluar dari sini."

Ia mengambil ranselnya. Rasanya ringan, terlalu ringan. Mengingat semua yang ia tinggalkan di gedung itu-sisa-sisa persalinan yang kotor, pecahan kaca, bau darah-rasa bersalah menusuknya. Ia tidak bisa membersihkan semuanya. Ia hanya bisa berharap tempatnya cukup tersembunyi. Ini bukti keberadaan mereka. Bukti bahwa Laila ada di sini, dan ia harus menghilang sebelum bukti itu ditemukan.

Laila memosisikan dirinya di dekat tangga darurat. Tangga ini adalah kerangka besi terbuka, curam, dan berkarat. Ini adalah cara tercepat turun, tapi juga yang paling berbahaya. Tergelincir sedikit saja, semuanya selesai. Ia akan jatuh, dan bayinya... ia tidak berani memikirkannya.

Ia mulai melangkah. Satu langkah. Ia menumpukan seluruh berat tubuhnya pada sisi tangga yang paling kokoh. Kakinya gemetar hebat, bukan hanya karena kelelahan tapi karena ketakutan. Ia harus membungkuk sedikit, membuat langkahnya pendek-pendek.

Di lantai dua, ada area terbuka yang langsung menghadap ke jalanan sepi. Laila merapat ke dinding, menahan napas. Ia bisa mendengar suara knalpot motor yang lewat sesekali. Jantungnya berdebar-debar liar. Ia merasa seperti seorang buronan, padahal ia hanya seorang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya. Paranoia mulai menguasainya. Setiap bayangan yang bergerak, setiap suara burung, terasa seperti langkah kaki yang mendekat.

"Pelan-pelan," gumamnya pada dirinya sendiri.

Tangga berikutnya lebih sulit. Ada bagian yang berlubang, hanya menyisakan kerangka besi tipis. Laila harus berpegangan pada balok beton di sebelahnya. Rasanya seperti mendaki gunung, padahal ia hanya turun dua lantai. Ia ingat betapa lincahnya ia dulu, melompat-lompat di antara bebatuan saat mendaki gunung bersama teman-teman sekolahnya. Sekarang, tubuhnya adalah penghalang terbesar. Lemah, sakit, dan tak berdaya.

Sampai di lantai dasar. Di sini, kegelapan masih mendominasi karena bangunan lain menghalangi matahari. Udara jauh lebih dingin, menusuk kulitnya yang masih berkeringat. Laila bersembunyi di balik tumpukan karung semen, menunggu. Ia harus memastikan area keluar aman.

Ia melihat ke arah gerbang proyek. Gerbang besi tinggi yang harus ia panjat. Memanjat. Dalam kondisinya sekarang? Itu mustahil.

Laila mulai merangkak, mencari celah. Ia ingat ada lubang kecil di pagar kawat di sisi belakang gedung, yang biasanya digunakan para gelandangan untuk keluar masuk. Perutnya harus bergeser di atas tanah kotor. Rasa perih di lukanya kembali menjadi-jadi, tapi ia harus tahan. Bayinya tidak boleh tahu betapa menderitanya ibunya saat ini.

Ia sampai di lubang itu. Lubangnya sempit. Laila harus memiringkan badannya dan mendorong ranselnya terlebih dahulu. Ia merasakan kain gendongan Arka tersangkut. Panik. Ia menarik perlahan, berdoa agar jahitan daruratnya tidak lepas. Akhirnya, dengan desahan lega, ia berhasil keluar, tubuhnya tergeletak di rumput liar di balik pagar.

Ia berhasil. Laila dan Arka kini berada di luar.

Dunia luar terasa asing. Udara pagi yang lembap dan dingin menusuk paru-parunya. Gedung kosong itu kini ada di belakangnya, sebuah monumen bisu yang menyimpan rahasia kelahirannya.

Laila memaksakan diri bangkit. Ia berjalan merayap di pinggir jalan yang belum ramai, sebisa mungkin tetap berada di bawah bayangan pohon atau tiang listrik. Ia berjalan tanpa tujuan, hanya tahu satu hal: ia harus sejauh mungkin dari gedung itu, dari area yang bisa menghubungkannya dengan masa lalunya.

Di kejauhan, ia melihat deretan ruko yang masih tutup. Di depan salah satu ruko, ada trotoar lebar dengan beberapa pot tanaman besar. Itu tempat yang lebih baik. Ada atap yang bisa sedikit melindunginya dari embun pagi, dan pot tanaman bisa sedikit menyembunyikannya dari pandangan orang yang mulai lalu lalang.

Laila berjalan, atau lebih tepatnya, menyeret dirinya ke sana. Lima puluh meter terasa seperti lima kilometer.

Tepat saat ia tiba di depan ruko, kakinya tak mampu lagi menahan beban. Ia ambruk, terduduk di pinggiran trotoar, bersandar pada tembok dingin. Ia terengah-engah, mencium aroma rambut Arka yang kini terbangun dan mulai merengek pelan.

Laila membuka sedikit lipatan jaketnya dan menatap Arka. Bayi itu tampak kedinginan, bibirnya pucat. Insting Laila sebagai ibu membawanya pada satu tindakan: menyusui.

Ia tidak yakin apakah ia bisa. Ia belum pernah melakukannya, dan tubuhnya baru saja melewati trauma besar. Dengan tangan gemetar, ia mencoba memosisikan Arka. Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan kehangatan dan keajaiban saat Arka mulai menyusu. Mata Laila terpejam.

Saat Arka menyusu, ada rasa lega yang luar biasa. Ia berhasil melindungi anaknya, ia berhasil memberinya kehidupan dan kini ia berhasil memberinya makanan. Namun, rasa lega itu segera disusul oleh kesadaran yang menusuk: ia adalah seorang tunawisma, seorang ibu muda yang ditinggalkan, dan bayinya lahir dari aib, kini mereka duduk di trotoar yang dingin.

Sebuah sepeda motor lewat, pengendaranya melirik sekilas, tanpa peduli. Bagi mereka, Laila hanyalah sampah kota. Ini konflik barunya: menjadi tidak terlihat, menjadi asing, menjadi bagian dari keterasingan yang dipilih masyarakat.

Laila memeluk Arka erat. Ia menangis tanpa suara, air matanya menetes di kepala Arka. Ia harus bertahan. Untuk Arka. Ia harus mencari tempat yang aman. Ia harus mencari pekerjaan yang tidak menghakiminya. Ia harus mencari kehidupan yang layak.

"Arka," bisiknya, sambil menatap wajah putranya. "Aku janji. Aku janji, kita akan dapat kebahagiaan itu. Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan."

Matahari kini mulai meninggi, menerangi jalanan. Laila harus segera bergerak lagi, mencari tempat persembunyian yang lebih terjamin sebelum ruko-ruko itu buka. Ia harus menyembunyikan diri dari dunia yang siap menghakiminya kapan saja, sambil membawa harapan kecil yang menggeliat di dadanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 30 Days Lover
8.0
Rayhan selalu membatasi hubungan asmaranya hanya selama tiga puluh hari akibat trauma masa lalu yang membuatnya takut akan komitmen mendalam. Namun, rutinitas tersebut goyah saat ia bertemu Alda, sosok wanita sempurna yang memenuhi segala kriterianya. Kini, Rayhan berada di persimpangan jalan yang sulit. Ia harus memilih antara tetap bersembunyi di balik aturannya atau memberanikan diri menghadapi rasa takut demi mengejar cinta sejatinya bersama Alda.
Sampul Novel After Marriage
9.5
Menikahi pria pujaan sejak masa SMA mulanya dianggap sebagai anugerah terbesar bagi Denisa. Namun, realita kehidupan rumah tangga yang ia jalani ternyata jauh dari kebahagiaan indah layaknya negeri dongeng. Kehadiran bayang-bayang masa lalu yang kelam terus merusak keharmonisan hubungan mereka. Kini, Denisa harus memilih untuk terus berjuang mempertahankan cintanya atau justru menyerah menghadapi badai yang tak kunjung usai dalam pernikahannya.
Sampul Novel Antara Sahabat dan Cinta
9.5
Rania, Ray, dan Gia telah menjalin ikatan sahabat sejati selama lima tahun sejak SMP. Kini, saat mereka menginjak kelas tiga SMK, dinamika hubungan ketiganya mulai diuji oleh perasaan yang terpendam. Banyak yang percaya persahabatan antara pria dan wanita mustahil tanpa bumbu cinta. Di tengah tawa dan air mata masa sekolah, mereka terjebak antara keberanian menyatakan rasa atau diam demi menjaga keutuhan geng. Akankah cinta merusak segalanya?
Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Claritta Indriana, model populer, terjerat dalam pernikahan rumit dengan pewaris Andromeda Group, Aslan Teryeka. Meski mengaku cinta, Aslan memperlakukan Claritta semena-mena dan bersikap posesif, bahkan tega berselingkuh dengan sekretarisnya. Di tengah pengkhianatan dan kebencian Aslan yang membara, Claritta terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia bertahan sebagai boneka dalam hubungan hancur ini, atau memilih menghilang selamanya demi meraih kebebasan?
Sampul Novel Dimanjakan oleh Suami Misterius
9.7
Demi warisan ibunya, Erina harus menikahi seorang programmer tampan yang sederhana. Namun, rahasia masa lalu mulai terkuak setelah tiga tahun ia kehilangan dua dari bayi kembarnya. Meski tak pernah bersama pria lain, Erina tiba-tiba hamil dan menemukan fakta bahwa anak-anaknya yang lain ternyata masih hidup. Siapakah sosok suami misteriusnya ini sebenarnya? Mengapa pria miskin itu sangat mirip dengan miliarder yang sering muncul di layar televisi?
Sampul Novel Garis Cinta
8.2
Diza sontak melayangkan protes saat merasakan perlakuan kasar dari kekasihnya. Menanggapi keluhan tersebut, Rayden segera meminta maaf dengan nada lembut. Pria itu berjanji akan melanjutkan interaksi mereka secara lebih perlahan dan berhati-hati. Sembari menenangkan suasana, Rayden mulai melonggarkan dasi yang telah melilit lehernya selama berjam-jam demi memberikan kenyamanan lebih bagi mereka berdua dalam momen intim yang penuh dengan ketegangan romantis tersebut.