APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC

KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC

Maemunah dahulu hanyalah seorang istri berbadan tambun yang dihina dan dianggap menjijikkan oleh suaminya. Kini, ia bertransformasi menjadi Maya, seorang pemandu lagu di sofa merah karaoke. Ia terpaksa menjual senyuman demi membiayai pengobatan anaknya sekaligus memulihkan harga diri yang hancur. Namun, gemerlap dunia malam penuh jebakan. Di balik cahaya lampu, bayang-bayang masa lalu siap membongkar kembali luka lama yang belum sembuh.
Bab
Bagikan

Bab 2

Detak jantung Gia di layar monitor stabil tapi lambat. Dokter menuliskan sesuatu di clipboard.

Mae terus merapal doa lirih di antara isak. Tangannya menggenggam jari Gia erat-erat.

"Kalau sampai oksigen tidak bantu menaikkan saturasi dalam 15 menit, kita bawa ke ICU," kata dokter pelan ke salah satu perawat.

Mae mendengarnya. Dunia seperti runtuh.

"Ya Allah... jangan ambil Gia dulu... jangan... ambil aku aja... ambil nyawaku, jangan Gia... dia anakku, dia nafasku, dia segalanya buatku..."

Ruangan observasi itu mendadak jadi ruang pengadilan antara harapan dan kepasrahan.

Ruang itu senyap. Bunyi monitor berdetik seperti palu sidang yang mengetuk pelan waktu.

Gia terbaring dengan selang oksigen menutupi lubang hidung kecilnya. Matanya tak tertutup rapat, bola matanya setengah terbuka, seperti masih ingin melihat dunia, tapi tubuhnya kelelahan.

Mae menggenggam tangan mungil itu. Jemari Gia dingin, seperti dahan kecil yang kehabisan embun.

Di pipinya masih ada noda muntah yang tak sepenuhnya sempat dibersihkan perawat. Kulitnya pucat, dengan rona biru di bawah mata.

"Gia... sayang, ini Mama, Nak... Dengerin suara Mama, ya, sayang... Jangan tidur terlalu dalam. Jangan pergi dulu."

Tapi Gia hanya diam. Napasnya berat, dadanya naik-turun lambat.

"Kalau dalam lima belas menit oksigen ini nggak berhasil naikkan saturasi di atas 90, kita harus bawa dia ke ICU, Bu," ucapnya pelan. Tegas tapi tak menggertak. "Kami akan berjuang. Tapi kami butuh izin Anda... bila nanti perlu ventilator..."

Mae mengangguk cepat, gemetar. "Apa pun. Tolong. Apa pun. Selama dia masih bisa bertahan..."

Maimunah mencoba untuk menghubungi suaminya. Menyampaikan kabar darurat ini. Tapiii ...

Di luar, suara tawa terdengar samar dari sambungan telpon. Suara laki-laki. Terlalu nyaring untuk situasi sekarat. Mae meraih ponselnya, layar menunjukkan

"Mas Bas," suara Mae parau. "Anak kita, Gia, lagi kritis. Kamu bisa ke sini sekarang?"

"Heh? Mae, aku lagi nyari duit! Jangan bikin panik! Anak kita kuat, dia biasa aja 'kan biasanya juga kayak gitu."

"Mas, ini bukan kayak gitu. Ini beda. Dokter bilang bisa masuk ICU, bisa pakai ventilator! Kamu dengerin aku nggak?!"

Di seberang, suara musik semakin keras. Terdengar suara perempuan tertawa. Bastian tidak menjawab cepat.

Mae menekan tombol speaker. "Mas! Anak kamu butuh kamu! Jangan pura-pura nggak denger! Ini anak kamu, Gia!"

Tapi sambungan mati.

Mae mematung.

Tangis tak keluar. Tapi napasnya tercekat seperti tertabrak. Ia ingin menjerit, tapi mulutnya terkunci. Ia peluk Gia.

Ia cium pipinya. Ia bisikkan doa-doa dari surah yang ia hapal saat kecil, karena kini tak tahu lagi harus bicara dengan siapa, kalau bukan Tuhan.

Dokter Rendy menarik napas. "Bu, saturasinya turun ke 78. Kami akan pindahkan ke ICU sekarang."

Seorang perawat sudah menyiapkan ranjang dorong. Mae harus melepaskan pelukannya. Tapi tangan Gia masih menggenggam ujung bajunya. Lemas, tapi ada.

"Dia sadar, Dok... Lihat, dia sadar... Dia takut ditinggal!" teriak Mae, separuh gila.

"Kita nggak akan tinggalin dia, Bu. Tapi kita harus cepat."

Lampu di langit-langit menyala dingin. Ruang observasi yang tadinya sunyi berubah menjadi panggung transisi: dari harapan ke kepasrahan.

Dan Mae? Ia berjalan sambil menggenggam tangan putrinya yang mungil, menuju pintu ICU... di mana kemungkinan hidup dan mati berjabat tangan

---

Udara di sekitar lorong itu terasa lebih dingin. Bukan karena AC yang menggila, tapi karena ada banyak nyawa yang digantungkan di balik pintu-pintu sunyi. Pintu ICU terbuka otomatis, seperti menyambut nasib yang belum tentu berpihak.

Gia dibawa masuk di atas ranjang dorong dengan selimut tipis menutupi tubuh kecilnya.

Di sisi kanan, infus bergoyang pelan. Di sisi kiri, monitor portable berbunyi pendek, detak yang lambat dan berat. Dua perawat sigap menyambut, seorang dokter muda langsung menanyakan kronologis ke dokter jaga, dan satu orang lagi mengambil oksigen cadangan.

"Bahagia, 7 tahun, Down Syndrom. Saturasi drop, gagal naik meski pakai oksigen ruangan. Terindikasi infeksi paru berat. Duga pneumonia berat. Tindak lanjut antibiotik IV dan cek labor asap," suara dokter itu tenang tapi cepat, seperti peluru perintah di medan perang.

Mae masih berdiri di ambang pintu. Tak ada yang menyuruhnya keluar, tapi dia tahu tempatnya bukan lagi di sana. Ada kaca pembatas yang memisahkan. Antara ibu dan anak. Antara cinta dan logika kedokteran.

Ia melangkah mundur perlahan, keluar dari zona steril.

Langkahnya goyah, lalu terduduk di bangku besi dekat ruang tunggu ICU. Masjid kecil di pojok rumah sakit seolah memanggil.

Sunyi. Tak ada satu pun suara manusia di dalam, hanya suara air keran wudhu yang menetes dan azan dari ponsel orang entah siapa yang ditinggal charging di dekat dispenser.

Mae melangkah masuk.

Di dalam masjid, ia sujud. Ia berdoa. Tak ada doa panjang seperti ustaz-ustaz yang ia dengar di YouTube. Hanya kalimat-kalimat sederhana yang keluar dari hatinya yang remuk:

"Ya Allah...

Kalau Engkau mau cabut semua bahagiaku, ambillah. Tapi jangan anakku.

Kalau aku harus tidur di jalan, jualan cendol, kerja di tempat paling hina pun, aku mau. Tapi jangan bawa dia ya Allah. Jangan ambil Gia dari aku."

Air matanya jatuh tanpa henti. Mukena rumah sakit basah, pipinya sembap, suara isaknya menggema tipis.

Dua puluh menit kemudian.

Seorang dokter pria berdiri di dekat pintu masjid. Mae menoleh, matanya merah.

"Bu?"

Ia bangkit buru-buru, menyeka wajah.

"Gimana, Dok?"

"Kami sudah berikan oksigen tekanan tinggi dan antibiotik, hasil lab awal menunjukkan infeksi bakteri cukup ganas.

Kami curiga pneumonia berat. Kemungkinan komplikasi jantungnya juga terpicu. Ini memang kasus kompleks karena kondisi dasar anak ibu."

Mae terdiam. Kata-kata dokter itu seperti peluru tajam: komplikasi... pneumonia... kondisi dasar...

"Kalau boleh jujur, kami harus observasi ketat 24-72 jam ke depan. Dan ini, bukan biaya kecil. Saya paham ini berat, tapi kami butuh persetujuan untuk rawat intensif dan tindakan lanjutan," ujar sang dokter, pelan dan manusiawi, tidak menggurui.

Mae mematung. Dunia di sekelilingnya seperti menyorot satu titik: angka rupiah yang tak tahu harus dicari dari mana.

"Berapa, Dok?"

"Untuk tiga hari awal bisa sekitar delapan sampai sepuluh juta. Tindakan bisa menambah lagi."

Mae mengangguk lemas. Tangan gemetar, ponsel dikeluarkan dari saku. Mencoba menghubungi suaminya lagi.

Sambungan tersambung.

Masih terdengar suara musik dan tawa ramai terdengar dari seberang.

"Halo?"

"Mas... Gia di ICU. Saturasinya drop. Aku butuh uang buat rawat dia... tolong..." suara Mae bergetar.

"Jangan nelpon sekarang. Aku lagi sibuk meeting."

"Anak kamu sekarat, Mas. Kamu bilang jangan nelpon?"

"Ya Allah, jangan lebay, Mae. Udah! Stop nelpon aku!"

Tuutttt-

Sambungan mati.

Mae menatap layar ponsel. Tangannya mengepal. Napasnya naik-turun.

Ia bangkit berdiri, menatap jendela ICU dari luar. Gia masih di dalam. Tubuh kecilnya terbaring di tengah kabel, jarum, dan mesin.

Dan di sanalah, ruang ICU itu bukan lagi sekadar ruang perawatan.

Itu ruang pengadilan, antara cinta seorang ibu melawan semesta yang tak ramah.

Mae menghela napas dalam, lalu berkata pada dirinya sendiri,

"Aku akan cari uang itu. Meski harus jadi apa pun. Asal Gia hidup."

Ketika dokter itu pergi, ponselnya berdering. Nama Eci muncul di layar.

"Kamu di rumah sakit mana? Gimana keadaan Gia? Kerjaan aku udah selesai. Aku mau mampir situ. Kamu udah makan belum?"

Mae tidak sempat menjawab semuanya. Hanya gumaman pendek, "ICU, Rumah Sakit Ananda."

Tak sampai tiga puluh menit kemudian, Eci sudah datang. Napasnya ngos-ngosan. Ia menerobos pintu IGD, lalu lorong ICU, dan saat melihat Mae duduk lemas di bangku luar ruangan, ia langsung berlari dan memeluknya.

"Mae!" serunya.

Pelukannya hangat. Sederhana. Tapi membuat tangis Mae pecah lebih parah.

"Mae, tenang... tenang dulu, ya. Mana suami kamu? Mana mertua kamu?"

Mae menggeleng lemah, matanya merah, "Nggak ada yang datang. Mereka semua jahat. Aku sendiri, Ci. Sendiri..."

Eci menarik napas panjang, lalu mendekap Mae lebih erat.

"Sekarang kamu gak sendiri, dengerin aku. Ada aku di sini. Ada Allah juga. Kamu gak sendiri."

Eci lalu berdiri dan mengintip ke balik kaca ICU. Wajah Gia tertutup masker oksigen, dadanya naik turun pelan seperti mengejar napas yang tak kunjung bisa didapat.

Tangannya mengepal.

"Anak sekecil itu..."

Mae mencengkeram lengan Eci.

"Ci... aku mau minta tolong banget."

"Apa, Mae?."

"Carikan aku kerja, ya?"

Eci menatapnya bingung. "Kerja? Kamu tahu aku kerja di karaoke."

"Iya... maksud aku di tempat itu. Gak apa-apa, Ci."

"Kamu serius?"

Mae mengangguk, wajahnya hancur tapi matanya tajam.

"Serius. Udah dua bulan ini jualan aku gak pernah laku. Aku gak punya modal lagi. Sekarang dokter bilang dia bisa butuh banyak uang buat pengobatan lanjutan. Aku... aku gak bisa cuma duduk diem."

Eci menatapnya dengan wajah antara kagum dan pilu.

"Kalau kamu kerja, Gia gimana?"

"Nanti aku coba konsultasi ke dokter. Mungkin dia bisa rawat inap lama. Ruangan ICU kan memang nggak boleh ditunggui terus. Aku bisa datang siang. Aku kerja malam. Aku masih bisa jenguk. Asal dia hidup, Ci... asal dia hidup. Aku masih ingin berjuang..."

Eci memeluknya lagi, kali ini lebih erat.

"Oke. Aku bantu. Tapi kamu gak sendirian. Jangan pikul ini semua sendiri, Mae."

Mae mengangguk sambil terisak.

"Aku akan cari uang itu meski harus jadi apapun, Ci. Asal dia hidup..."

Dan lorong rumah sakit malam itu tetap sunyi, tapi dada Mae sudah penuh dengan suara: suara tekad, suara doa, suara cinta paling liar dari seorang ibu yang akan berjalan ke api sekalipun, asal putrinya masih bisa bertahan.

----

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel FINDING MOM
9.1
Demi menemukan ibu kandungnya, seorang gadis nekat merantau ke luar negeri sebagai buruh migran. Di sana, ia bertemu beberapa pria yang jatuh hati padanya, namun tak disangka salah satu dari mereka adalah kekasih sang ibu. Sementara itu, ibunya telah lama melupakan keluarga demi hidup bebas. Takdir mempertemukan mereka tepat saat sang gadis dilamar oleh pria masa lalu ibunya. Konflik batin pun memuncak dalam pencarian jati diri dan cinta ini.
Sampul Novel IntroGirl & EkstroBoy
8.6
Kehidupan tenang Meira di SMA mendadak terusik oleh kehadiran Deon, cowok tengil yang kerap mengganggunya. Meski awalnya sering berselisih, Meira mulai melihat sisi lain Deon yang perlahan mewarnai harinya dan menjadi penyemangat utama. Begitu pun sebaliknya, Meira berhasil meluluhkan hati Deon Arkayuda. Namun, saat perasaan makin dalam, semesta menghadirkan skenario tak terduga. Walau raga tak lagi bersama, cinta abadi mereka membuktikan bahwa perbedaan justru saling melengkapi.
Sampul Novel Istri Pelunas Hutang Mafia
8.0
Demi melunasi utang pamannya, Aurora terjebak dalam pernikahan paksa dengan mafia kejam, Lucian Moretti. Tak disangka, Lucian ternyata sudah lama mencintainya secara rahasia. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, rahasia masa lalu muncul mengguncang hubungan mereka. Di tengah ancaman musuh yang mengintai, Aurora justru menyembunyikan penyakit mematikan yang mengancam nyawanya. Kini Lucian harus berjuang melawan maut demi menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Sampul Novel Kekasih lima langkah
9.7
Zahrana Bilqis tumbuh dalam kasih sayang penuh meski ayahnya memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Kedamaian keluarga mereka terusik oleh mantan istri sang ayah yang berusaha memicu kebencian. Di tengah konflik ini, Zahra jatuh hati pada tetangga depan rumah yang juga rekan kerja ayahnya. Namun, sang bunda menentang keras hubungan tersebut. Rahasia kelam apa dari masa lalu sang ayah yang membuat cinta Zahra terhalang restu ibunya sendiri?
Sampul Novel Senja Berkawan Derita
8.7
Senja Kumala lahir dari tragedi memilukan yang membuat sang ibu membencinya. Meski telah dewasa dan menikah, ia justru terjebak menjadi istri kedua yang hanya dianggap sebagai alat reproduksi. Di tengah penderitaan, ia bertemu pria dingin yang tidak percaya cinta. Kehadiran Senja perlahan meluluhkan hati pria itu hingga benih asmara tumbuh. Namun, sebuah rahasia besar muncul dan mengancam hubungan mereka. Sanggupkah keduanya bertahan saat kenyataan pahit mulai menghancurkan segalanya?
Sampul Novel SHEILA, GAIRAH LIAR BERSELIMUT DENDAM
8.6
Demi biaya pengobatan ibunya, Sheila Damaris terjebak dalam pilihan sulit: penjara atau menyerahkan kehormatannya pada Revian, bosnya yang angkuh. Sheila menuntut pernikahan sebagai syarat, namun status istri kontrak justru menjadi awal penderitaan. Saat identitas mantan kekasih Sheila terungkap, Revian berubah menjadi kejam dan menjadikannya sekadar pemuas nafsu. Mampukah Sheila bertahan dan membalas dendam atas segala perlakuan buruk sang direktur?