APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Istri Sah Hanya Dijadikan Pengasuh Anakmu

Ketika Istri Sah Hanya Dijadikan Pengasuh Anakmu

Dua tahun terpuruk dalam duka, Reno Adiprana mencoba menata hidup melalui mutasi kerja ke Yogyakarta. Di lereng Merapi, ia menetap di rumah Bude Ratna demi mencari ketenangan. Tak disangka, rutinitas pagi membawanya bertemu Mira Pradipta, sarjana gizi yang memilih berjualan bubur demi merawat ayahnya yang demensia. Pertemuan ini menyatukan dua jiwa yang terluka, menumbuhkan benih cinta tak terduga, dan memberi makna baru tentang arti rumah di tengah kesederhanaan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hujan pertama di awal tahun mengguyur kota Yogyakarta dengan lembut. Butirannya jatuh menimpa jendela mobil yang melaju pelan di jalanan basah. Dari balik kemudi, Reno Adiprana menatap lurus ke depan, sesekali menghela napas panjang. Aroma tanah basah menyeruak masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa kenangan yang sulit ia buang.

Sudah dua tahun berlalu sejak Rhea, istrinya, meninggal dunia dalam kecelakaan yang tidak pernah sempat ia maafkan-terutama kepada dirinya sendiri. Ia masih mengingat jelas pagi itu, saat Rhea pamit dengan tawa kecil karena terlambat pergi ke klinik tempatnya bekerja. Hanya beberapa jam setelahnya, telepon berdering, mengabarkan semuanya berakhir.

Begitu cepat. Begitu kejam.

Sejak hari itu, hidup Reno terasa seperti putaran jam yang kehilangan arah. Ia pergi bekerja, pulang, makan seadanya, lalu tidur di ranjang yang terasa terlalu luas dan dingin. Tidak ada lagi suara lembut yang menyambutnya di rumah, tidak ada lagi tawa yang memantul di dinding. Semuanya sepi.

"Pak Reno, surat mutasi sudah ditandatangani direktur," ujar rekan kerjanya suatu siang. "Mulai bulan depan, Bapak resmi pindah ke cabang Yogyakarta."

Kabar itu membuat dadanya berdebar aneh. Antara lega dan takut. Ia tahu, pindah kota berarti meninggalkan semua bayangan masa lalu di Jakarta, tapi juga berarti menghadapi kenyataan baru yang belum tentu lebih baik.

Namun setelah malam-malam panjang yang ia habiskan menatap foto Rhea di meja kerja, akhirnya ia sadar: diam di tempat yang sama hanya akan membuatnya semakin tenggelam.

Maka pagi itu, ia menyalakan mobil, menempuh perjalanan panjang menuju Yogyakarta dengan perasaan campur aduk-hampa, takut, tapi juga ada sedikit rasa ingin sembuh.

"Lha, kok kurus, Ren?"

Suara Bude Ratna terdengar hangat ketika pintu rumahnya terbuka lebar. Perempuan itu memeluk Reno erat-erat, seolah menyambut anak yang pulang dari pengembaraan panjang.

Reno tersenyum tipis. "Biasa, Bude. Makan di kantor nggak teratur."

"Alasannya itu-itu terus. Sini, masuk. Aku udah masak sayur lodeh kesukaanmu," ujarnya sambil menarik tangan Reno ke ruang makan.

Rumah Bude Ratna berdiri di sebuah desa kecil di lereng Merapi. Udara di sana jauh lebih sejuk daripada Jakarta, dengan aroma rumput dan tanah yang khas. Dari halaman belakang, gunung menjulang megah dengan kabut tipis yang menutupi puncaknya. Di kejauhan terdengar suara gamelan dari radio tetangga, berpadu dengan gemericik air yang turun dari talang bambu.

Reno menghela napas dalam-dalam. "Tenang banget, Bude."

"Ya, beginilah desa. Nggak ada macet, nggak ada gedung tinggi. Tapi juga nggak ada kesepian kalau kamu mau buka hati," ujar Bude Ratna sambil tersenyum penuh arti.

Reno hanya menatap sendoknya. "Saya belum tahu, Bude... apakah masih bisa buka hati."

Bude Ratna tidak menjawab. Ia tahu, luka Reno masih dalam. Tak perlu dipaksa sembuh.

Hari-hari pertama di Jogja terasa canggung. Kantor cabang tempat Reno bekerja jauh lebih kecil, suasananya santai, tapi ia masih membawa kebiasaan kota besar-cepat, tegas, kaku.

Teman-teman barunya ramah, tapi ia tetap menjaga jarak. Setiap sore ia pulang ke desa, menembus jalan menanjak yang sepi, hanya ditemani suara jangkrik.

Hingga suatu pagi, rutinitasnya berubah.

Ia sedang mampir ke pasar desa untuk membeli sarapan sebelum berangkat kerja. Pasar itu kecil, penuh warna. Penjual sayur duduk bersila di atas tikar, aroma tempe goreng dan daun pisang bercampur di udara. Di sudut pasar, ia melihat seorang perempuan muda mengaduk sesuatu di panci besar di atas kompor kecil.

Wajah perempuan itu teduh. Rambutnya digelung sederhana, pipinya sedikit merah karena panas uap. Ada ketenangan dalam setiap geraknya.

"Bubur bayi, Mas? Baru matang," katanya ramah begitu Reno mendekat.

Reno menatap gerobak sederhana yang tertulis 'Bubur Sehat Mira'. "Iya, Mbak. Saya beli satu."

"Untuk bayi siapa?" tanya perempuan itu sambil menyiapkan mangkuk kecil.

Reno terdiam sejenak. Pertanyaan sederhana itu tiba-tiba menohok. Ia menunduk, lalu tersenyum pahit. "Nggak ada bayi. Buat saya aja."

Perempuan itu tersenyum malu, matanya menunduk. "Maaf, Mas. Saya kira-ya, soalnya kebanyakan yang beli ibu-ibu muda."

"Tidak apa," jawab Reno singkat.

Setelah menyerahkan uang dan menerima bubur hangat dalam wadah kertas, Reno sempat melirik papan kecil di sisi gerobak: 'Dibuat dengan hati, tanpa pengawet.'

Ia tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu membuatnya berhenti sejenak sebelum pergi.

Sejak hari itu, Reno jadi pelanggan tetap. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kota, ia selalu mampir membeli semangkuk bubur. Kadang rasa labu, kadang bayam, kadang kacang hijau. Semuanya terasa sederhana, tapi menenangkan.

"Mas Reno kerja di mana?" tanya Mira Pradipta, nama perempuan itu, suatu pagi ketika mereka sudah mulai cukup akrab.

"Di kantor cabang perusahaan konstruksi, di kota," jawab Reno sambil menunggu buburnya dikemas. "Saya nglaju tiap hari."

"Wah, jauh banget, ya. Nggak capek?"

"Kalau di jalan banyak yang bisa dilihat, capeknya malah hilang," ujarnya sambil menatap wajah Mira. Ia tidak tahu kenapa, tapi setiap melihat senyum gadis itu, perasaannya sedikit hangat.

Mungkin karena sudah lama tak ada yang membuatnya merasa hidup.

"Kalau Mbak Mira sendiri, kenapa jualan bubur bayi? Latar belakangnya kan kayaknya... nggak biasa."

Mira tersenyum kecil, tapi matanya sedikit sayu. "Saya dulu kuliah di jurusan gizi, Mas. Tapi setelah lulus, Bapak saya sakit. Demensia. Kadang lupa waktu, kadang lupa saya ini siapa. Jadi saya harus di rumah terus buat ngawasin."

Reno menatapnya, diam. "Maaf, saya-nggak tahu."

"Nggak apa. Saya sudah terbiasa," ujar Mira lembut. "Awalnya saya bingung gimana tetap bisa dapat penghasilan tanpa ninggalin rumah. Akhirnya saya bikin bubur bayi homemade. Dari situ malah banyak pelanggan."

"Hebat," kata Reno tulus. "Bisa kuat kayak gitu."

Mira hanya tersenyum. "Kadang harus kuat karena nggak ada pilihan lain."

Kata-kata itu menghantam Reno tanpa peringatan. Karena entah kenapa, ia merasa sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Hari berganti minggu. Interaksi kecil mereka menjadi rutinitas yang tak pernah Reno sadari ia butuhkan. Kadang mereka berbincang sebentar soal cuaca, kadang tentang bahan makanan, kadang sekadar saling sapa singkat. Tapi setiap pertemuan, selalu meninggalkan rasa hangat yang bertahan hingga malam.

Bude Ratna tentu menyadarinya.

"Ren, kamu akhir-akhir ini sering senyum sendiri, lho," ujarnya suatu malam sambil menata lauk di meja makan.

"Ah, masa, Bude?"

"Ya masa aku nggak tahu? Dulu kamu makan aja diam. Sekarang tiap malam kok kayak nunggu pesan WhatsApp."

Reno tertawa kecil, mencoba mengalihkan. "Namanya juga adaptasi tempat baru."

Bude Ratna menatapnya curiga. "Adaptasi sama siapa, hayo?"

Reno hanya menggeleng sambil tersenyum malu. Ia tahu Bude Ratna terlalu peka untuk dibohongi.

Suatu sore, hujan turun deras ketika Reno pulang dari kantor. Jalanan desa licin, kabut turun cepat. Di tikungan dekat pasar, ia melihat gerobak bubur Mira sudah ditutup, tapi lampu di warung kecil sebelah rumahnya masih menyala.

Tanpa pikir panjang, Reno menepi. Ia melihat Mira tengah memindahkan bahan-bahan dari gerobak ke dapur. Baju dan rambutnya sudah basah kuyup.

"Mbak Mira!" panggil Reno dari depan pagar bambu.

Mira menoleh, sedikit kaget. "Mas Reno? Kok bisa lewat sini?"

"Lihat gerobakmu masih di luar, saya kira butuh bantuan."

Mira tertawa kecil, suaranya tenggelam dalam hujan. "Masih sempat aja nolongin di tengah badai begini."

Reno nyengir. "Ya, siapa tahu Mbak Mira nggak punya payung."

"Punya, tapi payung saya juga bocor," jawabnya sambil menunjukkan payung lusuh yang sudah miring di satu sisi.

Akhirnya Reno memutuskan membantu memindahkan gerobak ke tempat teduh. Hujan makin deras, tapi entah kenapa suasana itu terasa hangat. Setelah semuanya selesai, Mira menyodorkan segelas teh hangat kepadanya.

"Terima kasih, Mas. Kalau nggak dibantu, bubur besok bisa gagal jual."

Reno menerima teh itu, uapnya mengepul tipis. "Sama-sama. Saya juga butuh alasan buat berhenti kerja terus."

Mira tersenyum samar. "Berhenti kerja terus maksudnya?"

"Kadang saya kerja cuma buat nggak merasa kosong. Tapi kalau berhenti, ya... kosong itu datang lagi."

Mira menatapnya lama, tak berkata apa-apa. Di bawah gemericik hujan dan aroma teh, dua orang itu hanya diam-tapi diam yang tidak lagi canggung.

Malam itu, di rumah, Reno tidak bisa tidur. Ia memandangi foto Rhea di meja kerja-foto yang selalu ia bawa ke mana pun.

"Rhea..." bisiknya lirih. "Aku nggak tahu apakah ini salah, tapi aku mulai merasa... ada kehidupan lagi."

Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Tapi kali ini, bukan karena kehilangan. Melainkan karena ia tahu, mungkin sudah waktunya berhenti menyalahkan diri sendiri.

Keesokan harinya, Reno kembali ke pasar. Namun gerobak bubur Mira kosong. Hanya tertulis papan kecil: 'Libur dulu, Bapak sedang kambuh.'

Hatinya berdebar. Entah kenapa, ia merasa cemas luar biasa. Tanpa berpikir, ia mencari alamat yang tertera di papan itu, menapaki jalan kecil menuju rumah kayu sederhana di pinggir sungai.

Dari jauh, ia melihat Mira sedang duduk di teras, menenangkan seorang pria tua yang menatap kosong ke arah pepohonan.

"Bapak, ini Mira... anak Bapak," ucapnya lembut. Tapi pria itu hanya tersenyum bingung.

Reno berdiri di pagar, tak berani masuk. Tapi Mira melihatnya, lalu tersenyum lemah. "Mas Reno..."

"Maaf, saya cuma mau lihat kabar."

Mira bangkit, menghampirinya. "Bapak lagi lupa lagi. Tadi sempat marah-marah, nyari ibu yang udah nggak ada."

Reno menatap mata Mira yang lelah. "Kalau butuh apa-apa, kabari saya, ya."

Mira mengangguk pelan. "Terima kasih. Tapi ini cuma sementara, nanti juga tenang lagi."

Reno tahu, kata "sementara" itu seringkali berarti "selamanya". Tapi ia tidak ingin menyinggung lebih jauh.

Minggu-minggu berikutnya, mereka semakin dekat. Reno sering membantu mengantar bahan ke pasar, kadang menemaninya menyiapkan adonan bubur saat pagi buta.

Dan entah bagaimana, di antara uap panci dan tawa kecil, luka lama perlahan sembuh.

Suatu pagi, saat matahari baru muncul di balik kabut Merapi, Mira berkata, "Mas tahu nggak, kenapa saya jualan bubur bayi?"

Reno tersenyum. "Sudah, karena Bapak."

"Sebagian, iya," jawab Mira lembut. "Tapi juga karena saya ingin belajar sabar. Bubur itu butuh waktu. Nggak bisa terburu-buru. Sama seperti hidup."

Reno memandangi wajahnya lama. Ada cahaya lembut di mata Mira, yang membuat hatinya bergetar pelan.

Ia tersenyum tipis. "Mungkin, saya juga sedang belajar hal yang sama."

Malam itu, di halaman rumah, Reno menatap langit Merapi yang dipenuhi bintang. Suara serangga bersahutan. Dari jendela dapur, Bude Ratna muncul membawa dua cangkir teh.

"Cantik, ya?" katanya pelan.

"Iya, Bude. Tenang sekali."

Bude Ratna duduk di sebelahnya. "Kadang Tuhan nggak kasih kita orang yang kita mau, tapi orang yang kita butuh. Kamu ngerti maksudku, kan?"

Reno menatap cangkir tehnya. Uapnya berputar seperti napas hangat kehidupan. "Mungkin, Bude. Mungkin saya mulai mengerti."

Di kejauhan, cahaya dari dapur rumah Mira masih menyala.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Reno tersenyum bukan karena kenangan masa lalu-melainkan karena masa depan yang perlahan tampak mungkin.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Batas Kesabaran Seorang Wanita
8.9
Sera merasa jengah dengan Darren yang tiba-tiba terobsesi setelah rahasia insiden hotel tiga tahun lalu terkuak. Namun, upaya Darren tampak terlambat karena kehadiran Alvin, pria yang dahulu menolong Sera di masa sulit. Kehangatan Alvin mulai meluluhkan hati Sera, memberikan rasa aman dan cinta tulus yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Kini Sera harus memilih: memaafkan Darren yang penuh penyesalan atau melangkah maju bersama Alvin yang mencintainya sepenuh hati.
Sampul Novel Diary Naya
9.1
Bagi banyak orang, makna cinta bersifat subjektif dan beragam, sebagaimana kutipan Marianne Williamson yang menyebutnya sebagai inti eksistensi manusia. Namun, dalam sudut pandangku, definisi sejati dari perasaan ini bukanlah tentang memiliki. Kisah ini mengeksplorasi arti pengorbanan terdalam, di mana mencintai berarti memiliki ketulusan untuk melepaskan sosok yang paling berharga agar ia mampu menemukan kebahagiaan sejatinya sendiri.
Sampul Novel Dilema Hati
8.3
Leonard Mahendra, pria mapan berusia 38 tahun, terbiasa hidup sendiri hingga Evelyn hadir. Putri sahabatnya itu menumpang tinggal karena ayahnya bertugas di luar negeri. Sifat Evelyn yang ceria mengubah rutinitas Leonard menjadi lebih berwarna. Namun, rasa peduli Leonard perlahan berubah menjadi cinta terlarang. Evelyn pun terjebak dilema karena menyukai teman ayahnya. Rahasia ini menjadi ancaman besar saat ayah Evelyn kembali dan mengetahui semuanya.
Sampul Novel Hati Lunara
8.4
Hati Lunara mengeksplorasi spektrum kasih sayang antara orang tua, saudara, hingga sahabat. Fokus pada Lunara Ustman, gadis ini terjebak dalam cinta segitiga unik yang penuh pengorbanan tulus. Di tengah kerinduan mendalam pada ayah bundanya dan berbagai rintangan hidup yang menyakitkan, Luna memilih mengalir mengikuti takdir Tuhan. Ia berjuang menemukan kebahagiaan sejati dan ketenangan setelah badai, meyakini bahwa setiap rahasia peristiwa akan berujung indah.
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, koki ternama, mendadak jadi buronan setelah masakannya tak sengaja menewaskan perdana menteri. Saat pelarian, jiwanya berpindah ke tubuh seorang wanita yang tenggelam di lokasi berbeda. Dalam raga barunya, Max justru jatuh cinta pada Wulan, sahabat dari Nadia. Begitu berhasil kembali ke tubuh aslinya, Max bertekad mencari dan menikahi Wulan. Namun, meyakinkan wanita itu bukanlah perkara mudah. Akankah cinta sang koki berakhir manis?
Sampul Novel Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka
8.3
Haura Ghania Eftikhar, mantan tentara bayaran, luluh oleh kesabaran Sean Wijaya, seorang CEO karismatik. Demi cinta, Haura rela beralih profesi menjadi CEO demi menutupi masa lalunya. Namun, pernikahan bahagia mereka hancur saat Haura memergoki pengkhianatan Sean dengan wanita lain. Saat Sean memohon kesempatan kedua dalam penyesalan, muncul seorang remaja tampan yang menawarkan kasih sayang tulus namun obsesif, menambah kerumitan di tengah luka hati Haura yang mendalam.