APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Suami Mulai Bosan

Ketika Suami Mulai Bosan

Cinta sejati tak selamanya stabil. Ada kalanya perasaan begitu membuncah, namun rasa jenuh sering kali datang mengikis gairah hingga ke titik terendah. Di tengah dilema antara bertahan atau melangkah pergi, perjuangan menjaga kehangatan hubungan menjadi ujian berat. Melalui doa dan upaya memupuk kembali rasa yang kian pudar, dua insan ini berharap Tuhan turun tangan menyatukan hati mereka kembali sebelum semuanya benar-benar berakhir dalam perpisahan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rasa penasaranku semakin menjadi. Ketika pandanganku beralih ke tempat tidur. Gegas aku berjalan mendekat. Rupanya tidak cukup sampai situ Nisa juga menaburi seprei dengan kelopak bunga mawar. Di tengah-tengah dia bentuk sedemikian rupa hingga terlihat seperti hati lalu di tengahnya ada sebuah kue ulang tahun. Seketika jantungku mendadak sakit ketika membaca kotak dari kue itu bertuliskan Lavanda Cake. Mungkinkah Nisa ada di sana? Dia mendengar semuanya? Aku mengatakan hal buruk tentangnya. Sekarang lihatlah yang di lakukan. Aku yang bahkan lupa dengan hari ulang tahun sendiri, tapi dia mau susah payah mendekor kamar kami hingga tampak begitu indah. Di tengah rasa bersalah yang terus menjalar ke lubuk hati terdengar suara pintu terbuka.

“Selamat ulang tahun, Sayang.” Dia berkata dengan mata nanar. Perempuan yang beberapa jam yang lalu telah kubuka aibnya di depan teman-temanku lalu kami menertawakannya tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sekarang bagaimana bisa dia tengah tersenyum manis, dengan segala persiapan yang cukup merepotkan. Aku merasa begitu tidak tahu diri.

“Abang tahu bagian paling menyakitkan dari kehilangan?” tanya Nisa, sekaligus memulai pembicaraan di antar kami.

“Apa?” 

“Dilupakan, meski kenyataannya ragaku selalu disisimu. Dulu kita enggak saling mengenal hingga seiring berjalannya waktu. Aku jadi segalanya buat Abang tapi kemudian rasa itu mulai memudar. Hingga datang hari ini. Ketika hadirku tidak lagi berarti dan bukan lagi jadi prioritasmu. Meski enggak pernah mengungkapkannya secara langsung. Aku tahu hatimu telah lama berpaling. Entah di bagian mana namaku tersimpan atau jangan-jangan sekarang sudah terhapus seutuhnya?" Tidak menyangka dia akan mengatakan kalimat itu. Bukan salahnya lagi juga bukan salahku. Entah salah siapa yang jelas kami tidak bisa menolak ketika rasa bosan itu mulai menyapa. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Mengakuinya atau tidak semua itu berawal dariku. Sengaja menabur api ke dalam rumah tanggaku sendiri. Kejenuhan ini membuatku lupa akan arti cinta sesungguhnya.

“Maafkan Abang, Dik.” Aku berjalan mendekatinya sembari berusaha memeluk tubuh mungil yang berbalut daster kumal yang menjadi gaya khasnya ketika di rumah. Mengabaikan bau pesing yang sekali lagi menyeruak masuk mengganggu Indra penciuman. Aku tetap merengkuhnya, membenamkan tubuh itu ke dalam dada. Untuk beberapa saat, kami larut dalam suasana yang entah. Sampai akhirnya dia berusaha melepaskan diri.

“Kalau aku maafkan. Maukah Abang, menautkan hati padaku lagi seperti semula?” tanya Nisa seraya menahan tanganku yang hendak memeluknya kembali.

“Dik.”

Aku tidak mau kalah, tetapi lagi-lagi Nisa menahan sekuat tenaga hingga tanganku tidak kuasa memeluknya.

“Aku tahu pasti enggak mungkin ‘kan?”

Aku terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa.

“Benar kata Abang aku ini istri yang membosankan dan seleraku itu kampungan, kuno! Sampai anak-anak pun ikut kelihatan kampungan.”

“Siapa yang berani mengatakan seperti itu, Dik?” Mataku kian lekat menatapnya tapi dia malah tertunduk. Aku bisa tahu ada kesedihan yang mendalam di sana. Nisa bersandar pada dinding, sedang tangannya mengepal kuat. Seperti berusaha menahan emosi yang sebentar lagi mungkin akan meledak.

“Abang sendiri yang bilang tadi sore, di depan semua teman-teman.”

“Tadi sore? Jadi Adik ada di situ?” Melihatnya begitu hancur mendadak sekelebat bayangan Fredi dan Haris yang tertawa di Cafe tadi sore melintas tanpa dapat kucegah. Tawa mereka yang nyaring itu. Kenapa justru membuat rasa bersalah kian menjalar ke dalam dada?

“Aku sama anak-anak ada di belakang, melihat saat kami jadi bahan lelucon teman-teman Abang.”

Nisa menatap lekat, tidak ada lagi tangisan hanya badannya yang sedikit bergetar.

“Kenapa enggak bilang? Kita mungkin bisa pulang sama-sama.”

“Enggak usah pura-pura, kami sudah dengar semuanya kok tadinya kami mau buat pesta kejutan ulang tahun. Kebetulan di sana ada banyak kue kesukaan Abang. Niatnya mau beli beberapa potong untuk dibawa pulang tetapi, di sana malah melihat orang yang begitu kami hormati menjadikan kami bahan tertawaan,” ujarnya  sedikit tercekat. Tatapannya yang memilukan seakan menghipnotisku hingga ikut larut dalam kesakitan yang ia rasakan.

“Harusnya bilang. Abang enggak tahu kalau Adik ada di sana.”

“Untuk apa? Kalau dengan kehadiranku cuma bikin malu.”

“Enggak seperti itu, Dik.”

Aku berusaha meraih tangan Nisa menggenggamnya erat supaya membuatnya percaya padaku.

“Abang mau menikah lagi?” tanya Nisa.

“Kamu mengizinkannya?” Nisa refleks merenggangkan tanganku. Namun, aku tetap mengeratkannya kembali.

“Kasih kesempatan Abang sekali saja.”

Aku meletakkan tangannya di depan dadaku. Nisa menatap Nanar, bibirnya mulai bergetar.

“Untuk apa?” tanyanya lirih hampir saja tidak terdengar.

“Izinkan aku menikahi Santi Dik.” Bulir bening yang sedari tadi dia tahan akhirnya mengalir tanpa dapat dicegah. Tidak ada jawaban hanya air matanya yang seakan bicara. Aku tahu bukan hal mudah baginya memberikan izin untuk menikah lagi tapi rasa ini tidak mampu lagi dicegah. Bukankah aku hanya laki-laki normal yang butuh asupan. Hidupku berantakan karena pikiran yang tak karuan. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya hampa bagai mati rasa. Aku bukan tak mencintainya tapi Nisa bahkan dia tak lagi mampu menyediakannya untukku.

“Aku enggak mengizinkannya, Bang.”

“Kenapa? Bukannya Adik sendiri yang bilang dari pada melakukan sesuatu yang diharamkan Tuhan akan lebih baik menghalalkannya.”

“Kalimat itu Abang ucapkan sebelum memintaku untuk jadi istri dan sekarang kenapa mengatakannya lagi sebelum melamar perempuan lain?”

“Dik, Abang enggak bisa menahannya kali ini. Takut nantinya terjerumus dalam dosa. Bukannya Adik pernah bilang tidak akan pernah menentang poligami.”

Aku masih ingat dengan jelas dahulu saat kami sering diskusi tentang poligami hal itulah yang Nisa katakan. Bisa kurasakan dari tangannya yang masih dalam genggaman. Tubuh Nisa bergetar hebat. Apakah ini terlalu menyakitkan?

“Aku enggak pernah menentangnya bukan berarti aku harus mengamalkan sunah itu? Aku belum siap. Selamanya aku tidak akan siap.” Nisa mengentakkan tangannya cukup keras membuatnya terlepas dariku.

“Tapi Dik ....”

“Ini demi anak. Kamu yang meminta untuk punya banyak keturunan tapi kamu malah mau menikah lagi hanya karena syahwatmu tak tuntas. Ini hanya soal waktu. Tidak bisakah kamu menunggu sebentar lagi?”

Nafasku tercekat semua yang dia katakan benar. Aku telah memilih seseorang untuk masuk ke dalam rumah tanggaku hanya karena alasan nafsu yang tak tersampaikan. Apa bedanya aku dengan pria brengsek.

“Kamu tidak mengerti bagaimana laki-laki, Nisa.”

Sudah tiga bulan dia tak kunjung memberi hakku. Aku mencoba mengerti kalau dia belum suci tapi ini sudah terlalu lama. Apakah melahirkan membuatnya trauma? Kurasa tak mungkin bukankah dia baik-baik saja saat melahirkan putri kembar kami sebelumnya.

“Aku enggak pernah memintamu mengerti perasaan perempuan, tapi yang kamu minta sama saja merenggut kebahagiaan hidupku,” kata Nisa. Kali ini bahunya ikut naik turun seolah larut dalam emosi.

“Abang bisa adil, kalaupun kamu tak mau ....”

“Abang mau bilang laki-laki tidak perlu izin istri untuk berpoligami? Lain kali tidak perlu minta izinku. Lakukan saja semaumu! Sesuai hukum yang kamu tahu.”

“Dik.”

“Enggak usah panggil Adik lagi Bang! Sekarang bagimu aku cuma orang asing ‘kan? Yang pendapatnya tidak perlu dihiraukan lagi.”

Tiba-tiba kilatan cahaya sejenak menerangi seisi ruangan, lalu tidak lama suara petir menggelegar tepat di saat Nisa selesai bicara. Aku sedikit tersentak, sedangkan Nisa tidak bergeming sedikit pun. Untuk menenangkan diri dari keterkejutan. Kuhembuskan nafas perlahan berkali-kali sembari memberi jeda untuk kami mendinginkan hati dan kepala yang mulai tersulut emosi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Dua Pilihan
8.2
Sabrina percaya jodoh adalah rahasia Tuhan. Selama ini, ia konsisten melangitkan satu nama dalam doanya, berharap pria itu menjadi pendamping hidupnya. Namun, harapan itu pupus saat sang ayah menjodohkannya dengan Agam, pria asing yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Terjebak dalam pernikahan tanpa dasar cinta, Sabrina kini berada di persimpangan jalan. Sanggupkah ia menghapus bayang masa lalu dan membuka hatinya untuk mencintai Agam dengan tulus?
Sampul Novel Api Cemburu Ladyboy
7.9
Apa jadinya saat Diandra, gadis tomboy pecinta motor, dipaksa bertunangan dengan Handoko? Di balik kekayaannya, Handoko menyimpan obsesi unik untuk tampil anggun menyerupai ibunya. Meski ia berniat berubah, kehadiran Diandra justru memicu konflik besar yang mengancam hubungan mereka hingga di ambang kehancuran. Di tengah gejolak emosi dan rintangan yang ada, mampukah benih cinta yang mulai tumbuh menyatukan dua kepribadian yang sangat bertolak belakang ini?
Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Billionaire
7.9
Demi membiayai pengobatan sang adik, Krystal terpaksa meminta bantuan finansial kepada Kaivan Bastian Mahendra. Namun, dukungan dana dari sang miliarder tidaklah cuma-cuma. Krystal harus membayar mahal dengan kesediaannya menjadi istri kedua pria tersebut. Terjebak dalam pernikahan yang rumit dan penuh tekanan, mampukah Krystal bertahan menjalani kehidupan barunya? Sebuah kisah tentang pengorbanan dan cinta yang terbelenggu oleh sebuah syarat berat.
Sampul Novel Crazy In Love
8.2
Pria ini nyaris sempurna dengan paras rupawan layaknya idola Korea, tatapan tajam, dan kecerdasan luar biasa meski ia pemalas. Tubuh atletisnya selalu sukses memikat hati para wanita. Namun, ia memiliki satu rahasia yang memalukan: namanya, Jamaluddin. Rasa kesalnya memuncak saat seorang gadis berani menertawakan nama itu dengan keras di depan umum. Kini, ia bertekad untuk membalas dendam dan menghancurkan gadis yang telah mempermalukan harga dirinya tersebut.
Sampul Novel Do Not Love Me
9.4
Hari pertama Kayla Prawijaya di sekolah baru menjadi kacau sejak bertemu Mexsi Megantara, murid pindahan asal Singapura. Hubungan mereka diawali kebencian karena Kayla tak mengerti alasan Mexsi begitu memusuhinya. Namun, fakta mengejutkan terungkap bahwa mendiang kakak Mexsi adalah cinta pertama Kayla. Rasa benci itu berubah jadi cinta saat Mexsi mengetahui Kayla mengidap kanker darah. Mampukah Mexsi tetap bertahan mendampingi Kayla di tengah ujian pilu ini?
Sampul Novel Gairah Suamiku (Jangan Salahkan Aku Selingkuh)
8.4
Ayana tidak habis pikir mengapa Dindar, suaminya, kerap bersikap kasar dan ringan tangan hanya karena masalah sepele. Setiap kali Ayana tidak sengaja mendesah saat mereka berhubungan intim, Dindar akan langsung naik pitam dan menyakitinya secara fisik. Ayana merasa perlakuan tersebut sangat tidak wajar bagi pasangan suami istri. Namun, di balik keanehan gairah dan sikap temperamental suaminya itu, ternyata Dindar menyimpan sebuah rahasia besar yang tersembunyi.