APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KhaRisma

KhaRisma

Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Risma terus mengayuh sepatu rodanya hingga dia berhenti di sebuah kafe yang tampak ramai pengunjung. Lalu Risma masuk ke dalam kafe dan mencari orang yang akan dia temui hari itu.

Manik mata Risma menangkap seseorang dengan baju warna kuning dengan bawahan jeans biru. Dia duduk di pojokan dekat meja Barista.

"Untung gue tepat waktu dan tidak terlambat," cicit Risma sambil mengatur napasnya pelan.

Risma melepas sepatu rodanya sebelum masuk ke dalam kafe, lalu dia melangkah mendekati wanita berbaju kuning tersebut.

"Bu Nila," sapa Risma. Wanita berbaju kuning itu mengangkat kepalanya dan menatap Risma.

"Aku kira kau tidak akan datang," balas wanita tersebut, "Duduklah!"

Risma meraih kursi dan menariknya ke belakang, lalu dia mendudukkan dirinya di sana.

"Telat semenit, mungkin kau tidak akan menemukanku dan akan aku menawarkannya pada orang lain," kata wanita yang bernama Nilawati dengan tegas.

"Ja-jangan begitu, Bu. Tadi ada suatu hal yang terjadi." Risma beralasan.

"Jadi?"

Nilawati memastikan kembali ucapan Risma. Wanita itu menatap gadis yang sedang duduk di depannya. Gadis cantik dengan rambut panjang sebahu itu membalas menatap Nilawati.

"Aku akan mengambilnya," ucap Risma meyakinkan.

"Baiklah," ucap Nilawati. Wanita paruh baya itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci, lalu menaruhnya di atas meja berdekatan dengan gelas Quick Berry miliknya. "Ini kuncinya." Nilawati memberi kode pada Risma.

"Hanya satu?" Risma merasa heran, "Biasanya ada beberapa kunci untuk cadangan," imbuhnya.

Nilawati menghela napas mendengarkan celotehan Risma.

"Kau bisa menduplikat kuncinya sendiri, tapi jika kau tidak mau aku tidak masalah. Jika hanya karena kunci dipermasalahkan dan kau membatalkannya, oke ... aku akan menawarkannya pada orang lain. Masih banyak kok yang mengantri di belakangmu."

"Eh, ja-jangan Bu. Oke, aku ambil ini." Risma segera meraih kunci yang tergeletak di atas meja sebelum wanita paruh baya itu berubah pikiran dan mengambilnya. "Aku ambil dan ini uangnya." Risma menyodorkan sebuah amplop putih.

"Bagus!" sahut Nilawati tersenyum puas dan menerima amplop putih dari Risma.

Nilawati membuka amplop tersebut, menghitung uang yang ada di dalam. Dia pun menganggukkan kepalanya.

"Deal!" Nilawati mengulurkan tangannya sebagai tanda transaksi telah berhasil. Risma membalas menatap wajah Nilawati, lalu tatapannya turun ke bawah.

"Terima kasih." Risma membalas uluran tangan wanita tersebut.

"Semoga betah, ya. Senang berbisnis denganmu, Ris." Nilawati beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Risma.

Gadis cantik dan tomboi itu masih duduk terdiam menatap kunci yang ada di dalam genggamannya, lalu dia melihat sisa uang yang ada di dalam amplop. Risma menghela napas menatap lembaran uang yang ada di dalam amplop.

"Hanya tersisa ini," keluh Risma, "Gue tidak mungkin pulang ke rumah. Apa kata Mama dan Papa. Ini sudah keputusan gue." Risma merenung sesaat. Memasukkan amplop kembali ke dalam tasnya, kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kafe.

Risma duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon yang rindang. Menunduk dan mulai sibuk memakai sepatu rodanya. Kembali dia menghela napas, mengangkat kepalanya ke atas menatap langit siang yang begitu cukup terik.

"Seminggu lagi. Ah, kenapa gue jadi merasa frustrasi seperti ini," lirihnya pelan. Risma menggelengkan kepalanya, "Tidak-tidak ... gue tidak boleh mengeluh. Tidak ada kata mengeluh di dalam kamus gue."

Segeralah dia mengayuh sepatu rodanya menembus kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Tentunya dengan memperhitungkan keselamatan dirinya sendiri juga orang-orang di sekitar jalan.

💓💓

Berbicara tentang masalah hidup, tidak akan pernah ada hentinya. Manusia hidup di dunia tidak lepas dari masalah. Dalam kehidupan, masalah selalu datang silih berganti. Satu selesai, pasti akan datang masalah baru. Kita semua sejatinya manusia biasa. Kita bisa merasa senang, bisa juga berduka. Dalam hidup ini, kita juga bisa mengalami kebahagiaan atau penderitaan. Masalah dan kesulitan dalam hidup, sejatinya dialami semua manusia. Dengan jenis dan kadar yang berbeda, setiap orang pastinya punya masalahnya masing-masing.

Masalah adalah keadaan ketika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Ya, hidup adalah kenyataan. Kenyataan adalah hidup. Hidup adalah kenyataan yang dipenuhi dengan banyak masalah. Masalah adalah pelangi yang mewarnai kehidupan kita semua. Hidup tanpa masalah adalah mustahil. Masalah akan selalu ada di manapun, kapanpun, dan besar ataupun kecil. Hidup tanpa masalah bagaikan sayur tanpa garam, karena sejatinya manusia hidup selalu berdampingan dengan masalah, dengan adanya masalah kita bisa menikmati manis asamnya kehidupan ini.

Begitu pun dengan Kharis. Pemuda berwajah tampan itu sedang terbelit masalah. Bukan masalah utang, tapi ini adalah masalah keluarga yang harus dia terima dan dia hadapi pada usianya yang baru menginjak remaja.

Kharis yang masih menumpang di tempat kos si Bagus, merasa sangat tersiksa. Baik lahir atau pun batin, tapi Kharis selalu bersabar dan terus bersabar, karena dia tidak tahu akan pergi ke mana jika dia harus pergi.

"Gus, lu kenapa jadi orang jorok sekali sih?" teriak Kharis yang merasa tidak nyaman melihat kamar kos yang dia tempati bersama dengan Bagus berantakan dan baunya sangat tidak enak. Baju-baju kotor yang berserakan di mana-mana, bahkan celana dalam banyak yang berceceran.

"Nanti gue akan merapikannya, kok," tutur Bagus santai.

"Ah, lu hanya ngomong doang. Yang ada gue juga yang merapikan dan membereskan kamar ini," rutuk Kharis.

"Tenang saja, nanti pasti gue rapikan," timpal Bagus yang masih dengan santainya bermain game.

"Baju kotor ya langsung dicuci, bukan malah disimpan seperti ini," teriak Kharis.

"Lu ini ya, lama-lama gue empet lihat lu," sindir Bagus.

"Kamar-kamar gue, jadi suka-suka gue dong. Lagi pula lu punya rumah kenapa tidak pulang saja sih?" imbuh Bagus.

Kata-kata Bagus benar-benar langsung menusuk hari Kharis.

"What? Sejak gue numpang di kamar lu ini, sudah dua puluh kali lu menyuruh gue pulang ke rumah. Lu ngusir gue?" bela Kharis. "Lagi pula gue juga ikut bayar kos ini." Sekali lagi Kharis membela haknya.

"Kalau lu memang merasa, ya sudah sana pulang."

"Iya, nanti gue bakal cari apartemen."

"Alhamdulillah ...." Bagus mengurut dada, dari raut wajahnya terlihat sangat lega mendengar pengakuan dari Kharis.

"Bagus!" teriak Kharis dengan nada panjang dan melempar pakaian kotor ke muka Bagus.

"Apa? Kenapa? Kalau lu tidak terima, sana pulang ke rumah. Lu punya rumah kenapa pakai acara kabur segala," sindir Bagus.

"Masalah buat lu?" balas Kharis.

"Sudah sana pulang. Lebih enak itu tinggal di rumah sendiri," celetuk Bagus.

"Nah ini--lebih enak rumah sendiri kan? Terus kenapa lu sewa kamar kos?" Kharis bertanya balik pada Bagus.

"Suka-suka gue dong. Gue kan nyewa kos, tidak seperti lu yang kabur dari rumah."

"Lu itu sebenarnya sahabat gue bukan sih? Kenapa suka sekali cari perkara sama gue?" Kharis melempar pakaian kotor lagi ke arah muka Bagus.

Begitulah hari-hari Kharis dan Bagus yang tinggal satu kamar di sebuah kost elite.

Bagus adalah teman sekaligus sahabat dekat Kharis. Keributan bagi mereka berdua sudah hal biasa.

Mereka berdua juga satu sekolah. Tidak heran setiap ribut pasti akan kembali akur seperti semula. Dua sahabat yang benar-benar seperti anjing dan kucing. Layaknya Tom and Jerry yang selalu bermain kejar-kejaran.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Be My Husband
8.1
Bagi Kiran Naomi Tanaka, misi hidupnya hanyalah satu: menjadikan Evan Davaro Saga sebagai suaminya. Sejak pertemuan pertama mereka, Kiran bertekad menaklukkan hati pria dingin yang merupakan anak sahabat ayahnya itu. Namun, Evan yang gila kerja terus bersikap acuh, bahkan menyuruh Kiran fokus belajar matematika daripada membicarakan pernikahan. Di tengah perbedaan usia yang kontras, mampukah kegigihan Kiran meluluhkan Evan, ataukah ia hanya akan berakhir patah hati?
Sampul Novel Forbidden of Love
9.4
Kehidupan pernikahan Aulia Sarah bersama suaminya yang perkasa awalnya terasa sempurna hingga hadirnya tetangga baru memicu sisi liarnya. Meski telah memiliki tiga anak, gairah Lia justru semakin memuncak setelah mengenal Manoj dan Scott. Scott sendiri jatuh hati sejak awal dan rela bersembunyi dari keluarganya demi mengejar Lia. Di tengah perselingkuhan dan nafsu yang membara, Lia harus menghadapi pilihan sulit antara kesetiaan atau mengikuti obsesi terlarangnya.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel GRUP JANDA DAN DUDA BERSATU
9.7
Nabila, Moy, dan Elice kembali terhubung setelah sama-sama menyandang status janda. Moy, yang mengelola grup kencan buta, mencoba membujuk kedua sahabatnya untuk bergabung. Meski awalnya Nabila yang pemalu dan Elice yang cerdas menolak keras, kegigihan Moy berhasil memaksa mereka mencoba peruntungan cinta dengan para duda. Akankah pencarian ini membawa mereka pada jodoh sejati, atau justru memicu konflik persahabatan saat hati jatuh pada pria yang salah?
Sampul Novel Hamil Saat Bercerai
8.3
Lima tahun membina rumah tangga, Tiara harus menelan pil pahit saat Bayu menceraikannya demi wanita lain. Alasan utamanya adalah keinginan Bayu untuk segera mendapatkan keturunan. Namun, sebuah fakta mengejutkan terungkap saat Tiara kembali ke rumah orang tuanya; ia ternyata sedang mengandung anak Bayu. Kini Tiara terjebak dalam dilema besar: akankah ia memberi tahu mantan suaminya, atau tetap bungkam setelah dikhianati begitu saja?
Sampul Novel Introvert Japanesegirl
9.8
Yoshida Yui, gadis blasteran Jepang-Indonesia yang pendiam, menarik perhatian di sekolah elit Jakarta karena poni panjangnya yang menutupi mata. Penampilannya yang misterius membuat Andre, sang ketua kelas populer, merasa penasaran. Namun, ketertarikan Andre memicu kecemburuan Rara, sahabatnya yang judes. Konflik semakin rumit saat Takeru Ryota, teman masa kecil Yui dari luar negeri, datang ke Indonesia demi mengejar cintanya. Persaingan pun pecah di antara mereka.