APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KIRANI SI WANITA MALAM

KIRANI SI WANITA MALAM

Kirani adalah sosok istri muda yang terjebak dalam dilema kehidupan yang sangat pahit. Demi menanggung beban finansial dan mencukupi seluruh kebutuhan hidup keluarga suaminya, ia terpaksa mengambil jalan gelap sebagai wanita malam. Kisah ini menyoroti pengorbanan batin dan perjuangan berat Kirani saat ia harus menjalani profesi tersebut di tengah status pernikahannya. Sebuah narasi modern tentang cinta, tekanan ekonomi, dan rahasia kelam di balik kehidupan rumah tangga.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mas Feri?" Bola mata Hani membulat sempurna saat melihat Feri, lelaki yang sangat dicintainya datang. Antusias dia hendak memeluk Feri, tapi lelaki itu dengan cepat menghindar.

Hani tertegun, dia menatap Feri dengan tatapan yang tajam, dia merasa heran.

"Mas? Kenapa?" Hani protes atas penolakan Feri.

"Saya nggak nyangka ternyata ini sifat aslimu, bar-bar dan kejam!" sahut Feri sambil  meletakkan sebuah kantong plastik di atas meja makan.

"Mas jangan salah paham, kami memang biasa bercanda ...,"

"Cukup Hani, saya sudah melihat dan mendengar semuanya, mungkin dengan cara ini Tuhan menunjukkan bahwa kamu bukan jodoh saya!" Feri memotong kalimat Hani.

"Mak-maksudmu apa Mas?" tanya Hani dengan suara keras.

"Saya nggak mau punya keluarga yang nggak punya hati dan nggak berperi kemanusiaan, jadi rencana untuk melamarmu saya batalkan, kita putus!" ucap Feri dengan tegas, sambil mengibaskan tangannya yang hendak dipegang Hani.

"Jangan begitu Nak Feri, kamu nggak bisa memutuskan sebelah pihak, kita rundingkan baik-baik!" Bu Uli ikut bicara, dia tak mau Hani gagal menjadi istri Feri yang kaya raya itu.

"Nggak ada yang perlu dirundingkan lagi Bu, keputusan saya sudah bulat!" tegas Feri sambil menghindari Hani yang dari tadi berusaha mendekatinya.

 Mata Feri berputar menatap wajah seisi keluarga itu satu-persatu, dan ketika pandangannya tepat ke arah Kirani, perasaan kasihan dan iba melihat keadaannya yang tak berdaya.

Feri melangkah mendekati Kirani, niatnya hanya ingin menolong karena rasa kemanusiaan.

"Jangan ikut campur urusan keluargaku!" hardik Davin  sambil menyentak tangan Feri dengan kasar.

Feri mundur selangkah dari hadapan Davin yang sedang naik pitam, lelaki yang rencananya ingin melamar Hani itu menatap Davin dengan tatapan sengit, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena dia merasa tak berhak untuk ikut campur dalam keluarga itu.

"Memang bukan urusan saya, tapi perbuatan kalian ini bisa saya laporkan!" ancam Feri mendorong tubuh Hani yang dari tadi berusaha memeluknya dengan tangis dan rengekan manjanya.

"Ha ha ha! Mau lapor? Silakan!" tantang Davin dengan angkuhnya.

Mata Feri tak kuasa lagi menatap keadaan Kirani yang tak berdaya, dalam hatinya bertekat untuk menolongnya, tapi di sisi lain dia tak mau dituduh mencampuri rumah tangga orang.

"Mbak Kirani! Mbak harus lawan orang-orang biadab ini, jangan hanya pasrah!" seru Feri sebelum pergi meninggalkan keluarga itu.

Feri datang secara tiba-tiba karena kebetulan lewat dan sengaja membelikan martabak telur, makanan kesukaan Bu Uli.

"Jadi karena perempuan sial itu Mas Feri minta putus dari aku?" jerit Hani sambil menghalangi langkah Feri yang hampir sampai ke mobilnya.

"Semua karena sikapmu, nggak usah menyalahkan orang lain, berkacalah!" jawab Feri dengan datar sambil menarik tubuh Hani agar menjauh dari mobilnya.

"Nggak, aku nggak mau putus!" teriak Hani sambil menggedor-gedor pintu mobil Feri, dan Feri yang sudah berada di belakang kemudinya tak menghiraukan mantan tunangannya itu.

"Maaaas Feriii!" Hani menjerit histeris ketika mobil hitam milik Feri mulai bergerak perlahan meninggalkannya.

Para tetangga yang mendengar jeritan Hani keluar dari rumahnya masing-masing, mereka mendekati Hani yang duduk bersimpuh di depan pintu pagar rumahnya sambil menangis meraung-raung.

"Ada apa Mbak?" tanya Rini, tetangga sebelah rumahnya.

"Bukan urusan kalian, pergi! Pergi!" Hani berteriak sambil mengusir orang-orang yang berada di dekatnya.

"Huuuu, orang mau ditolong malah ngamuk, gila kali ya, ayo kita bubar!" seru Bu Irah, wanita paruh baya yang terkenal pedas bicaranya.

Hani bergegas masuk ke rumah, dengan nafas memburu dia menghampiri Kirani yang masih bergeming dari tempatnya.

"Sialan kamu!" Hani memukul Kirani membabi buta.

Plak!

Plak!

Bu Uli yang baru datang dari kamar mandi ikut menampar wajah menantunya. Sakit hati karena tak mendapatkan uang dan  kini ditambah lagi Feri memutuskan hubungannya dengan Hani.

"Sudah Bu ... Mbak!" ucap Davin sambil menarik tangan Hani yang hendak memukul Kirani dengan seterika.

"Jangan larang aku Vin, aku mau perempuan sial ini mati, gara-gara dia Mas Feri ...,"

"Jangan Mbak, kalau dia mati aku jadi duda dong, dan nggak ada yang ngasih uang kita lagi!" Davin memotong ucapan Hani dan merebut seterika yang dipegang kakaknya lalu melemparkannya ke kolong meja.

Hani mendengus kesal, ditendangnya tubuh Kirani dengan kasar, setelah itu bergegas pergi ke kamarnya sambil menghentak-hentakkan kakinya.

"Vin, ada dapat sesuatu?" Bu Uli bertanya, sesaat setelah Hani pergi.

"Ada dong, ini!" ucap Davin sambil menunjukkan seutas kalung panjang.

Bu Uli membeliakkan matanya saat melihat kalung yang dipegang anak lelakinya itu. Begitu juga dengan Kirani, dia terkejut saat melihat kalung yang selama ini disembunyikan kini berada dalam genggaman suaminya.

 Dalam kesakitan hati dan badannya, otak Kirani berputar keras mencari cara untuk merebut kalung itu, karena kalung itu satu-satunya harta peninggalan ibunya yang pergi waktu dia masih bayi.

Dengan antusias dan senyum sumringah Bu Uli merebut kalung tersebut.

"Jangan Bu, besok aku jual dulu, uangnya kita bagi-bagi, ha ha ha!"

"Halah, ibu cuma mau pegang sebentar!" Bu Uli memaksa Davin untuk melepaskannya.

"Dengan kalung ini ibu besok bisa bayar arisan, jadi nggak malu sama Bu Darsih yang sok kaya itu," ucap Bu Uli sambil mengamati kalung itu dengan takzub.

"Ternyata kamu berani menyembunyikan ini, hah!" ucap Davin sambil mendorong tubuh Kirani.

Kirani hanya diam dan menundukkan kepalanya. Bu Uli mencibir dan tersenyum senang saat melihat Kirani kesakitan.

Davin dan Bu Uli tertawa kegirangan, mereka membayangkan uang yang akan didapat dari hasil menjual kalung tersebut. Tanpa disadari, Bu Uli meletakkan kalung tersebut di meja, sementara dia menuang minuman ke dalam gelas.

 Berbinar cerah mata Kirani, apa lagi Davin mengeluh sakit perut sesaat setelah menyerahkan kalung kepada ibunya. Dengan sisa tenaga yang ada, Kirani bangkit dan menyambar kalung tersebut.

"Heh, maling ... maling ...!"

"Davin ... Vin ..., kalungku, tolong Vin!" Bu Uli menjerit histeris memanggil Davin yang sedang membuang hajatnya di kamar mandi.

"Ada apa Bu? Kenapa teriak-teriak?" tanya Hani panik dan bingung saat melihat Bu Uli mondar-mandir di depan pintu seperti orang kebingungan.

"Daviiiiinnn!" Bu Uli menjerit kencang, mengabaikan Hani yang bertanya dari tadi.

"Apa sih Bu?" Davin tergopoh-gopoh menghampiri ibunya yang tampak panik.

"Kalungnya Vin ... kalungnya diambil istrimu!" sahut Bu Uli sambil menunjuk-nunjuk pintu depan.

"Ha? Ibu gimana sih? Susah payah aku dapat itu!" Davin membentak ibunya dengan keras.

"Kejar Vin!" teriak Bu Uli lagi.

"Vin, kalung apa sih?" tanya Hani yang dari tadi bingung melihat tingkah ibunya.

Davin tak menjawab pertanyaan Hani, bergegas dia berlari keluar mengejar Kirani. Tak perduli rintik hujan dan gelap, Davin mencari Kirani di sekitar perumahan.

 Di dalam kontainer sampah besar dekat perumahan, tubuh Kirani meringkuk karena kedinginan, bau busuk dan gigitan nyamuk tak dihiraukannya, yang dia pikirkan hanya keselamatan, karena untuk berlari rasanya tak sanggup mengingat badannya lemas dan sakit akibat pukulan dan tamparan yang diterimanya tadi.

"Aaarrgghhh ... sialan ... ke  mana perempuan sial itu lari?" Davin memaki-maki, tanpa sadar kakinya menendang kontainer sampah yang ada di dekatnya.

Kirani yang berada di dalamnya terkejut, jantungnya berdegup kencang, dalam hatinya berdoa sebisanya agar selamat dari kejaran Davin.

"Viiin, gimana, ketemu nggak?" Bu Uli tergopoh - gopoh menghampiri Davin.

 "Nggak! Semua gara- gara ibu! Aarrggh!" jawab Davin kesal sambil memukul kontainer itu lagi.

"Nggak mungkin istrimu itu bisa lari jauh, badannya pasti nggak kuat, ibu yakin dia masih berada di sekitar sini!" ucap Bu Uli serius.

Davin termenung sejenak saat mendengar ucapan Bu Uli.

"Memang benar Bu, ayo kita cari! Mungkin dia lari ke arah komplek belakang sana!"

"Vin, mungkin nggak istrimu itu masuk dalam bak sampah ini?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berlian yang Tersamarkan
9.3
Dahulu pewaris manja, Evelyn jatuh miskin setelah dijebak putri asli dan diusir orang tua angkatnya. Namun, ia bangkit dengan mengungkap identitas rahasianya sebagai peretas, desainer, dan dokter jenius. Saat orang tua angkatnya menuntut hartanya, Evelyn menolak dengan tegas. Ia pun mencemooh mantan tunangannya yang memohon kembali. Di tengah kemenangannya, seorang pria berkuasa datang melamar, menawarkan masa depan baru yang tak terduga bagi sang berlian.
Sampul Novel Biarkan Aku Pergi, Suami CEO-ku yang Sombong
9.1
Menikah demi menyelamatkan bisnis keluarga, Averie memberikan segalanya untuk Brayden meski sang suami mencintai wanita lain. Saat Brayden meraih puncak kejayaan di Grup Fowler, Averie justru kehilangan bayinya dan nyaris tewas di lautan. Trauma mendalam membuatnya menuntut cerai demi memulai lembaran baru. Namun, Brayden yang kini didera penyesalan justru menolak melepaskannya. Ia bersikeras bahwa takdir telah mengikat mereka untuk tetap bersama selamanya.
Sampul Novel Hypersex Of CEO (Penjerat Cinta & Gairah)
8.6
Permainan Truth Or Dare yang awalnya iseng justru menjerat Thea dalam gairah membara bersama Alvaro. Berawal dari satu kecupan panas, sang CEO justru membelenggu Thea dalam dunia BDSM yang penuh kenikmatan. Status Thea pun berubah menjadi istri pura-pura untuk menutupi obsesi Alvaro. Namun, di balik hubungan fisik yang intens dan penuh dominasi tersebut, benih cinta yang nyata mulai tumbuh. Mampukah mereka menghadapi perasaan yang kian besar di balik ikatan palsu ini?
Sampul Novel Keturunan Rahasia
8.5
Akibat jebakan licik pamannya, Rajendra Antariksa melakukan kesalahan fatal terhadap Amara Lucia Haidar di masa lalu. Setelah sepuluh tahun hidup dalam penyesalan mendalam, pewaris Antariksa Group ini terkejut saat mengetahui Amara mengalami trauma berat dan telah melahirkan putranya secara rahasia. Namun, upaya Rajendra untuk menebus dosa tidaklah mudah. Ia justru menghadapi penolakan keras dari Amara, orang tuanya, bahkan anak kandung yang baru diketahuinya itu.
Sampul Novel Makmum Kedua Suamiku Sahabat Baik ku
8.4
Hati Aisyah hancur saat suaminya meminta izin untuk menikahi sahabat baiknya sendiri. Meski terluka, ia memilih bertahan dan mengizinkan poligami tersebut demi keutuhan rumah tangga. Namun, kehidupan barunya justru penuh penderitaan karena sang imam bersikap dingin dan enggan memberikan kasih sayang padanya. Di tengah perlakuan kasar dan kata-kata menyakitkan, Aisyah harus menguji kesabarannya. Sanggupkah ia tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak adil ini?
Sampul Novel MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT
8.0
Sebulan pasca menikah, Rio justru berkhianat dengan menikahi siri Marta, sahabatku sendiri. Aku dianggap pajangan tak berarti di rumah kami, hingga suatu malam Rio merenggut paksa kehormatanku demi mengganti rugi mahar yang ia beri. Hancur karena dijadikan tumbal pernikahan tanpa cinta, aku mengadu pada orang tua namun tak mendapat pembelaan. Akhirnya, aku memilih pergi menjauh dan menghapus jejak demi menyembuhkan luka batin yang teramat perih ini.