APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

Tujuh tahun aku mengabdi pada Galih hingga mengubur karier hukumku demi mimpinya. Namun, ia justru mengabaikanku demi Davina, bahkan lupa bahwa aku alergi seafood saat aku sakit. Muak dengan 52 pembatalan rencana masa depan, aku pergi dan bangkit sebagai pengacara sukses. Saat Galih bersujud memohon di depan kantorku, aku menolaknya mentah-mentah. Kini, giliran aku menghancurkan harga dirinya dan berkuasa penuh atas hidupku sendiri tanpa bayangannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Amira Suwito POV:

"Pulanglah, Nak." Suara ibu terdengar sangat lembut di telepon, tapi mataku bisa merasakan kekhawatiran yang mendalam di baliknya. "Rumahmu di Yogya, Amira. Biar kamu tidak sendirian lagi." Kata-kata itu menusuk, mengingatkanku pada kesendirian yang kurasakan di Jakarta.

Aku terdiam, memegang ponsel erat-erat. Jari-jariku mengusap bibir cangkir teh yang sudah dingin. Haruskah? Haruskah aku kembali? Keraguan memenuhi benakku, seperti kabut tebal yang menghalangi pandangan. Jakarta adalah kota impian, tapi kini terasa seperti sangkar yang menyesakkan.

Orang-orang mengenalku sebagai Amira Suwito, seorang koki berbakat yang meninggalkan karier cemerlangnya untuk mendukung pacarnya. Tapi di kampung halaman, aku lebih dikenal sebagai cucu Nenek Suwito, pewaris warung gudeg legendaris di Yogyakarta. Rahasia yang kusimpan rapat, bahkan dari Galih.

Nenek selalu bilang, "Dapur bukan hanya tempat memasak, Mir. Dapur adalah hatimu." Aku selalu percaya itu. Dulu, aku bermimpi membuat nama sendiri di dunia kuliner, bukan hanya sebagai koki, tapi sebagai pemilik restoran yang sukses. Namun, mimpi itu terkubur dalam-dalam demi mimpi Galih.

Faktanya, aku adalah seorang pengacara. Lulusan terbaik dari fakultas hukum, yang seharusnya bekerja di kantor firma hukum internasional, seperti orang tuaku. Tapi aku mencintai memasak. Aku mencintai suasana dapur. Dan aku mencintai Galih.

Selama bertahun-tahun, Galih dan aku adalah pasangan idaman di mata banyak orang. Koki berbakat dan fotografer fesyen yang ambisius. Kami adalah inspirasi bagi banyak orang, simbol cinta yang saling mendukung. Mereka tidak tahu betapa rapuhnya kami di balik layar.

Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan pahit itu membanjiri. Setiap janji yang diucapkan, setiap pengorbanan yang kubuat, setiap kali Davina muncul di antara kami. Aku sudah lelah. Lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Lelah menjadi prioritas kedua, atau bahkan ketiga.

"Baik, Bu," kataku akhirnya, suaraku masih serak tapi kini dipenuhi tekad. "Aku akan pulang." Keputusan itu terasa seperti beban berat yang terangkat dari pundakku. Aku akan kembali ke rumah, ke tempat di mana aku menemukan diriku dulu.

Senyum lega terukir di wajah Ibu. Ia menghela napas panjang, seolah bertahun-tahun kekhawatiran akhirnya terlepas. Ayah mengambil alih telepon, suaranya lebih tegas. "Bagus, Nak. Itu keputusan terbaik. Kami akan selalu ada untukmu." Aku mendengar kelegaan di suaranya.

"Kami tidak akan membiarkanmu menderita lagi, Amira," janji Ayah, suaranya bergetar. "Tidak akan lagi." Kata-kata itu menghangatkan hatiku yang beku, mengingatkanku bahwa ada tempat di mana aku selalu dicintai tanpa syarat. Sebuah tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri.

Aku mematikan telepon dan menatap sekeliling apartemen. Sunyi. Hampa. Bayangan Galih, tawa kami, janji-janji yang pernah terucap, seolah menghilang ditelan kegelapan. Hanya aku dan kesunyian ini.

Ponselku berdering. Notifikasi Instagram. Davina mengunggah foto. Dia dan Galih. Berpelukan erat di sebuah kafe. Caption-nya: "Terima kasih untuk selalu ada di saat aku rapuh. Kamu memang pahlawanku, @GalihPalgunadi." Tanganku gemetar. Seluruh tubuhku terasa dingin.

Bukan hanya itu. Ada komentar dari teman Davina: "Kalian berdua serasi banget! Kapan resmi?" Davina membalasnya dengan emotikon malu-malu dan hati. Mataku terasa panas. Mereka tidak peduli dengan perasaanku. Tidak peduli dengan keberadaanku.

Aku merasa mual. Perutku bergejolak, seolah ingin memuntahkan semua kepahitan yang kutelan selama ini. Kepala berdenyut semakin hebat. Aku menutup mata, mencoba mengusir gambar itu dari benakku, tapi percuma.

Galih tidak akan pulang malam ini. Aku tahu itu. Sudah berapa kali ini terjadi? Terlalu sering untuk diingat. Dia selalu punya alasan, selalu punya Davina. Aku terlalu mengenalnya.

Satu-satunya hal yang bisa kusesali adalah, mengapa aku tidak pernah melihat ini sebelumnya? Mengapa aku membiarkan diriku terluka sejauh ini? Beruntung, kami belum menikah. Beruntung, belum ada ikatan hukum yang mengikatku pada pria tak setia itu.

Aku bangkit. Melangkah ke meja kerjaku, mengambil pulpen dan selembar kertas. Aku akan mengosongkan meja kerjaku besok. Aku akan menulis surat pengunduran diri. Semua yang kumiliki di sini tidak lagi penting.

Keesokan harinya, di kantor Galih, langkahku terasa berat. Aku memegang amplop berisi surat pengunduran diriku. Tiba-tiba, sebuah suara familiar memanggil. "Amira!" Galih. Dia berbalik, senyumnya cerah.

Senyum itu... Senyum yang dulu begitu kucintai kini terasa menjijikkan. Aku melihatnya. Noda lipstik merah muda yang samar di kerah kemejanya. Aroma parfum Davina yang khas. Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya lagi.

"Davina bilang kamu minta aku jangan deket-deket dia lagi ya?" tanya Galih, nada suaranya terdengar jengkel. "Kenapa kamu kekanakan begitu, Mir? Dia hanya butuh bantuanku." Wajahnya menunjukkan kekesalan, bukan permintaan maaf.

Aku menatap matanya. Mata yang dulu selalu memancarkan cinta kini hanya memperlihatkan kebingungan dan kemarahan. Dia bahkan tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu apa yang telah dia lakukan padaku. Atau mungkin, dia memang tidak peduli.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balada Sang Pemuas
9.3
Dibalik kepatuhan pada norma dan tata susila, Andre dan Nadia menyimpan rahasia tentang fantasi seksual yang liar. Kehidupan pernikahan mereka menjadi panggung eksplorasi imajinasi yang selama ini terbelenggu oleh aturan sosial. Kisah ini mengungkap sisi terdalam manusia saat mencoba membebaskan hasrat terpendam tanpa melanggar batasan moral. Sebuah perjalanan intim tentang bagaimana seseorang mengejar kepuasan sejati dan mewujudkan dambaannya yang paling personal.
Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Hidup Danny Laksana hancur setelah dikhianati kekasih dan kehilangan orang tuanya dalam tragedi memilukan. Di tengah luka mendalam, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa dirinya adalah ahli waris konglomerat terkaya. Demi menuntaskan dendam pada sang mantan dan mengungkap misteri kematian orang tuanya, Danny memutuskan untuk menikah. Namun, ia tidak menyadari bahwa dalang kriminal yang ia cari selama ini berada sangat dekat di lingkup sekitarnya.
Sampul Novel Hasrat Terlarang Janda Tujuh Kali
9.3
Sarboah kembali menjanda untuk ketujuh kalinya, membuat sang ayah lelah menjadi wali nikahnya. Di balik kegagalan itu, Sarboah berjuang mengendalikan hasrat biologisnya yang meluap-luap. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Adrian, seorang pria yang menderita impotensi dan sangat ingin sembuh. Sebuah insiden tak terduga memaksa mereka untuk terikat dalam pernikahan. Mampukah rumah tangga unik ini bertahan di tengah perbedaan kondisi fisik mereka?
Sampul Novel Istriku Sibuk, Hatiku Kosong
8.2
Kehidupan rumah tangga Damien kini terasa hampa. Sejak naik jabatan, Nadine Larasati jarang pulang dan terus menolak permintaan Damien karena alasan kelelahan bekerja. Dengan penghasilan lebih rendah, Damien pun terpaksa menjadi bapak rumah tangga sepenuhnya. Namun, kecurigaan muncul saat Nadine tiba-tiba membawa seorang asisten rumah tangga muda ke rumah mereka. Kedatangan gadis misterius itu membawa firasat buruk yang membuat hati Damien kian sesak dan gelisah.
Sampul Novel KEKASIH HALALKU
9.3
Seorang wanita muda yang terbiasa hidup manja sebagai putri pengusaha kaya harus menghadapi garis takdir yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia terpaksa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya untuk menjadi seorang istri muda. Menikah dengan pria yang memiliki perbedaan usia sangat jauh membuat dunianya berubah drastis. Kini, ia harus berjuang menjalani peran barunya dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia harapkan terjadi di hidupnya.
Sampul Novel KETIKA CINTA BERTASBIH
9.3
Meski ikhtiar telah maksimal, takdir tetap menjadi penentu akhir sebuah hubungan. Kisah ini menyoroti dilema cinta beda keyakinan antara dua insan yang mustahil bersatu dalam ibadah. Sebagai hamba Allah, ia tak mungkin menjadikan seseorang yang berbeda iman sebagai imamnya. Namun, rasa cinta yang telanjur mengakar kuat membuatnya sulit untuk melepaskan. Akankah perasaan ini berujung di pelaminan, atau ia harus mengikhlaskan perpisahan demi prinsipnya?