APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel La Tahzan, Miss Lemot

La Tahzan, Miss Lemot

Vinessa adalah gadis cantik nan ceria yang harus menelan pahitnya kenyataan hidup. Meski memiliki hati yang baik, kehadirannya tak pernah diharapkan dan selalu dipandang rendah oleh orang-orang di sekitarnya. Alih-alih menaruh dendam atas segala perlakuan buruk keluarganya, ia justru menerima hinaan tersebut dengan lapang dada sebagai bagian dari nasibnya. Simaklah perjuangan menyentuh hati Vinessa dalam menghadapi kerasnya dunia yang tidak memihaknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tamparan yang begitu keras, membuat tubuhnya tersungkur ke lantai. Namun, sebelumnya dahi gadis itu juga membentur ujung kursi meja makan. Bi Iis dan Pak Imat yang melihat itu langsung berteriak, sedangkan Ines hanya bisa menangis tanpa suara sambil memegang pipinya yang memerah. Melihat hal itu, Bi Iis langsung menghampiri Ines dan memeluknya.

"Ampun, Bu. Jangan sakiti Non Ines, Bu," pinta Bi Iis yang sudah menangis tersedu-sedu melihat nona mudanya yang kesakitan akibat tamparan keras dari sang nyonya.

"Menyingkir, Bi Iis! Anak sialan ini harus diberi pelajaran!" teriak wanita yang dipanggil nyonya oleh Bi Iis.

Wanita itu bernama Mayang, bunda dari Ines. Tidak tahu kenapa tiba-tiba Mayang datang dari belakang, lalu menampar gadis yang berada di pelukan Bi Iis tanpa sebab.

Mayang menarik tubuh Bi Iis agar melepaskan pelukannya dari tubuh Ines. Setelah berhasil, wanita itu langsung menjambak rambut Ines yang masih menangis.

"Sakit, Bun hiks... ampun, Bun hiks... Ines salah apa, Bun, hiks...." Ines memegang tangan Mayang yang masih menjambak rambut gadis itu. Rasanya rambut Ines seakan terlepas dari kepala.

"Bun, sakit, Bun hiks...," rintih Ines.

Mayang melepaskan jambakannya, lalu menghempaskan kepala Ines sehingga membentur lantai.

"Kamu ke mana tadi, hah?!" tanya Mayang dengan berteriak marah.

Ines menghapus air matanya, lalu menjawab, "Ines kira sekarang hari kamis, ternyata minggu. Makanya Ines mau pergi ke kampus, tapi pas di jalan ketemu Abang. Dia ngasih tahu Ines, terus ajak Ines ke kantornya, Bun."

"Arka yang bertemu kamu, atau kamu sengaja datang ke kantor dia?! Saya tahu, kamu pasti yang datang ke sana buat ngadu kan?! Jawab!" teriak Mayang, membuat Ines terlonjak kaget.

Hal yang paling ditakuti oleh Ines sejak kecil adalah kemarahan Mayang. Wanita itu tidak akan segan-segan menampar, menjambak, bahkan memukul Ines. Padahal saat itu Ines baru berumur dua tahun, tetapi dia tidak merasa kasihan maupun iba pada anak sekecil itu. Ines tidak mengetahui mengapa bundanya sangat membenci gadis itu, bahkan akan sangat marah pada kesalahan kecil yang dilakukannya.

"Sumpah, Bun. Ines ke sana diajak Abang, bukan sengaja. Ines nggak pernah mengadu sama Abang, Bun," sahut Ines.

"Bohong! Kamu kira saya percaya sama kamu?! Saya lebih percaya pada keponakan saya, dibandingkan kamu yang hanya orang asing?!" Mayang menjentul-jentulkan kepala Ines yang kembali menangis saat mendengar bundanya mengatakan bahwa dia adalah orang asing.

"Ines nggak bohong, Bun. Abang yang ajak Ines, dan aku juga nggak ngomong apa-apa sama Abang," pungkas Ines dengan lirih.

"Alah, saya nggak percaya! Sebagai hukumannya, kerjakan semua pekerjaan rumah. Dan kamu nggak dapat makan hari ini!" sinis Mayang dengan penuh penekanan.

"Tapi, Bun-"

"Saya nggak menerima penolakan! Awas kamu ngadu sama Arka atau suami saya!" Mayang berjalan meninggalkan Ines.

Ines menatap punggung Mayang yang menjauh dan menghilang. Ines kembali menangis, lalu beberapa saat kemudian gadis itu menghapus air matanya dan mengulas senyum. Ines langsung beranjak mengerjakan hukuman yang diberikan oleh Mayang.

Ines yakin, suatu saat Bunda bakal baik sama Ines, batin Ines.

***

Ines mengembuskan napas kasar, lalu mulai mengerjakan apa yang diperintahkan oleh bundanya, Mayang. Pertama, gadis itu mulai menyapu seluruh lantai ruangan, lalu mengepelnya. Setelah selesai, dia mengelap barang-barang yang ada di ruang keluarga, kemudian mencuci piring, dan memasak makanan. Pekerjaannya baru selesai pada pukul 17.10 WIB.

Matanya membelalak ketika menatap jam yang terpajang di dinding dapur, membuat gadis itu tergesa-gesa menata makanan di meja makan. Setelah semuanya selesai, Ines langsung bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan yang terasa lengket.

"Lengket banget, nih, badan," gumam Ines, "mandi jangan ya. Mandi, ah," lanjutnya.

Sebelum beranjak ke kamar mandi. Ines melangkah ke depan cermin terlebih dulu, menatap pantulan dirinya. Tidak ada yang dilakukannya, hanya mengulas senyum tulus.

"Tetap senyum, Nes, siapa tahu mereka balas senyum kamu. Tapi, kalau suatu saat kamu lelah buat tersenyum, minta Allah untuk peluk kamu dan hilangin senyum ini," gumamnya.

Tanpa terasa air mata mengalir dari pipi gadis cantik itu. Dengan cepat, dia menghapus air matanya. Ines langsung beranjak ke kamar mandi.

Setengah jam kemudian, Ines baru keluar dari kamar mandi menjalani ritual di sore hari. Sambil menunggu azan Magrib berkumandang, gadis itu membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan ponselnya.

Pintu kamarnya diketuk berkali-kali, membuat Ines menghampirinya dan membuka pintu itu. "Ayah, ada apa?" tanya Ines dengan lembut.

"Ayah mau susul kamu. Ayo, makan bersama," ajak pria paruh baya yang dipanggil ayah oleh Ines.

Gadis itu menggelengkan kepala, lalu menyahut, "Nggak usah, Yah. Ines di kamar aja, deh. Makasih, Ayah."

Pria itu mengangkat tangannya, lalu mengelus kepala Ines. Dia tersenyum lembut menatap putri bungsunya.

"Takut sama Bunda, hm? Kalau itu alasan kamu, tenang aja. Kan ada ayah, Sayang." Pria itu merangkul bahu Ines dan mengajaknya ke ruang makan.

Ayah Ines bernama Argiantara Zidni Erick. Dia merupakan adik kandung Dirgantara Erick, ayah dari Crystal.

"Tapi-"

"Nggak ada tapi-tapian, Nak. Jangan takut, ada ayah juga abang. Bunda nggak bakal ngapa-ngapain kamu. Percaya sama ayah, oke," ujar ayah Ines, membuat gadis itu mengulas senyum dan menganggukkan kepala.

Sesampainya di ruang makan, ayah Ines langsung meminta putri bungsunya itu duduk di kursi samping kanannya. Sedangkan Mayang berada di kursi samping kiri ayah Ines, membuat keduanya saling berhadapan.

"Mas, kenapa kamu ajak dia makan," ujar Mayang pada suamianya, ayah Ines.

"Dia anak aku, Mayang, kalau kamu lupa. Dia lahir dari rahim istriku, yaitu kamu," sahut Argi.

Mayang menatap suaminya. "Nggak, dia bukan anak kita! Dia anak pria brengsek itu! Dia bukan anak aku! Aku nggak sudi mengakui anak bajingan itu!" teriak Mayang.

Wanita itu tersulut emosi saat suaminya mengatakan bahwa Ines adalah anak mereka, tetapi Mayang tidak terima. Karena ucapan sang suami, membuat dia kembali terbayang masa kelam itu. Argi menghampiri Mayang yang berteriak sambil menangis. Ines terkejut melihat reaksi sang bunda, hanya karena ayahnya mengatakan kalau Ines adalah putri mereka. Dan apa maksud bunda yang mengatakan bahwa dirinya putri pria bajingan itu?

"Dia bukan anak aku! Aku nggak pernah menginginkan dia jadi anak aku! Pergi kamu anak sialan, pergi dari sini! Pergi dari rumah ini!" jerit Mayang sambil menyiramkan air yang ada di gelas ke wajah Ines.

"Ines, masuk kamar, Nak!" tegas Argi.

Ines yang sadar diri, langsung beranjak dari duduknya. Padahal sedari pagi dia belum makan apa pun, maka dari itu dia menurut pada sang ayah yang mengajaknya untuk makan malam. Namun, kejadian tadi membuat Ines ketakutan.

"Ines lapar, tapi nggak ada makanan di tas. Biasanya ada roti. Aduh, mana nggak punya uang buat belinya. Apa Ines ke rumah Fernan aja, ya, pinjem uang," gumam Ines.

"Ya udah, deh, Ines ke rumah Fernan aja."

Baru saja Ines akan melangkahkan kaki keluar rumah, tiba-tiba suara seseorang menghentikannya.

"Mau ke mana kamu?" tanya seseorang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menantu, Bukan Pembantu
9.2
Fera berhasil dipersunting Reza, pria dari keluarga terpandang, karena kekuatan cinta mereka yang begitu besar. Namun, kebahagiaan pernikahan itu segera sirna saat realitas pahit mulai menghantam Fera. Kehidupannya berubah total dan ia harus menghadapi tekanan berat dari keluarga sang suami. Mampukah Fera bertahan menjalani perannya sebagai menantu di tengah cobaan yang terus menguji ketabahannya, ataukah ia akan menyerah pada nasib barunya tersebut?
Sampul Novel Breaking Bad: Menikah dengan Iblis
7.8
Kebodohanku berujung fatal saat aku menikahi pria yang ternyata berhati iblis. Di tengah kondisi fisik yang kian melemah, aku mulai curiga bahwa suamiku sendiri sedang meracuniku secara perlahan. Kejanggalan terus muncul, mulai dari pelayan yang memata-matai hingga keraguan bahwa anakku adalah darah dagingku sendiri. Terjebak dalam penjara rumah tangga ini, aku bersumpah akan mengungkap semua rahasia gelapnya dan membalas dendam meski harus bertaruh nyawa.
Sampul Novel FWB Between Love and Lust
8.9
Lima tahun di Milan tak cukup bagi Satria untuk menghapus bayang-bayang Syera dari ingatannya. Sekembalinya ke tanah air, setiap sudut kota justru memicu kenangan pahit yang menghambatnya melangkah maju. Namun, segalanya berubah setelah malam pernikahan Bima. Satria terjerat dalam gairah semalam dengan wanita asing yang memikat. Terjebak dalam hubungan tanpa status, dia malah jatuh hati terlalu dalam pada sosok misterius yang kini memenuhi hidupnya.
Sampul Novel ISTRI KESAYANGAN PRESDIR
8.3
Pasca dikhianati suaminya, Jessica melarikan diri ke klub malam demi mencari pelampiasan. Namun, ia justru nyaris dilecehkan hingga harus meminta pertolongan pada seorang pria asing untuk membawanya pergi. Tanpa diduga, malam itu berakhir dengan keduanya berbagi ranjang yang sama. Akankah Jessica menyesali keputusan impulsifnya, atau justru ia akan terus terjerat dalam hubungan tak terduga dengan penyelamatnya? Simak kelanjutan kisah rumit mereka.
Sampul Novel Jerat Cinta Tuan Mafia Salvatore
8.4
Felix Salvatore dilingkupi dendam membara terhadap Veronica Reager, putri musuh yang ia tuduh sebagai penyebab kematian ibunya. Felix memberikan pilihan kejam pada Veronica: menikah dengannya atau menghadapi maut. Namun, niat menyiksa sang istri perlahan goyah saat benih cinta mulai tumbuh di tengah konflik. Akankah Felix tersadar bahwa ada kesalahpahaman besar di balik tragedi masa lalunya sebelum dendam menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Keputusasaan Di Balik Pernikahan
7.9
Jerald Lucas dikenal sebagai CEO dingin yang sangat memuja istrinya, Clara Rernald. Namun, citra itu hancur saat Jerald terjebak skandal perselingkuhan akibat pengaruh racun di hari ulang tahun pernikahan ketujuh mereka. Meski Jerald bersujud memohon ampun dan berjanji setia, hati Clara telah hancur melihat bukti pengkhianatan di kamar mereka. Usaha penebusan dosa Jerald sia-sia karena sebuah foto misterius akhirnya memicu Clara untuk pergi selamanya.