APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Larisa

Larisa

Pasca kecelakaan maut merenggut orang tuanya, Larisa diasuh oleh kerabat lama mereka. Meski tumbuh di lingkungan penuh kasih, ia harus menghadapi sikap dingin dari putra keluarga tersebut yang sering mengabaikannya. Takdir mengejutkan memaksa Larisa terikat dalam pernikahan dengan pria kaku itu. Mampukah Larisa bertahan dan menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang penuh jarak? Ikuti perjuangan Larisa menghadapi dinamika tak terduga bersama suami barunya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Membenci Larisa bukan berarti Revan begitu menyukai Julia. Tidak sedikit yang tahu mengenai hubungan bagai salju itu terjalin. Hampir dua tahun mereka berpacaran, tapi tidak terlihat ada kemesraan sedikit pun. Seberapa kekeh Julia merayu, lebih banyak dibalas acuhan dari Revan.

Lalu apa yang mereka lakukan selama dua tahun ini? Boleh dijawab, mereka sebatas pergi bersama, makan, ngobrol atau apa pun itu selain bermesraan.

"Aku sudah bilang kan, dia itu gay!" seloroh Talia dengan sangat yakin.

Saat itu juga Julya melempar sedotan yang semula berada di dalam gelas. Air yang berada di dalam sedotan pun terciprat mengenai baju Talia.

"Apaan sih!" serunya kesal. "Bajuku kan jadi kotor." Ia mendesis sambil menepuk-nepuk bajunya.

"Aku lagi kesal, kamu jangan nambahin, dong!" sahut Julia.

Talia menjulingkan mata jengah kemudian mendaratkan dua tangan di atas meja. Dia memandangi wajah masam Julia sambil menggeleng pelan dan berdecak-decak lirih.

"Aku kan sudah bilang, putus saja dari dia. Dia itu pria bongkahan es. Terlalu menyebalkan," seloroh Talia lagi. "Aku heran kenapa kamu bisa betah sama dia?"

Julia mengacuhkan tatapan mata Talia yang aneh itu. Lalu Julia menghela napas dan meneguk habis minumannya hingga gelas sampai terbalik membuat wajahnya mendongak ke atas.

Setelahnya, Julia bersendawa cukup keras lalu meletakkan gelasnya di atas meja. Dia tidak lagi peduli tatapan beberapa pengunjung meski Talia sudah berkedip dan menendang kakinya untuk menegurnya.

"Aku pergi dulu," kata Julia. "Aku sebaiknya menemui Revan lagi." Julia mencangklong tas dan melenggak pergi.

Orang yang hendak Julia temui, saat ini sedang berada di rumah. Tepatnya dia baru saja sampai karena hari ini pekerjaan kantor cukup menyita waktu.

"Kamu mau makan malam sama apa?" tanya Larisa.

Revan melempar baju kotornya ke dalam keranjang pakaian di dekat pintu menuju kamar mandi. "Aku sudah makan," katanya.

Larisa masih berdiri di tempat sambil memilin-milin jemarinya. Dia seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk bicara pada sang suami menyangkut apa yang selama ini mengganjal di hatinya.

Saat Revan berbalik, ia hanya mendengkus lirih dan menjulingkan mata. Saking bencinya dengan Larisa, berdekatan pun sepertinya tidak sudi.

"Aku mau bicara," kata Larisa lirih.

Revan lantas menoleh sekilas, tapi kemudian buang muka dan duduk di atas ranjang.

Larisa sudah tidak tahan lagi jika terus berdiam dengan dipenuhi rasa penasaran seperti ini. Puluhan tahun hidup bersama keluarga ini dan sedikit pun Larisa tidak tahu mengenai hal apa yang ada dalam kehidupan Revan.

"Kamu kenapa nggak pernah mengajakku bicara?" tanya Larisa gugup.

Revan menyeringai hingga ujung bibirnya terangkat. Ekspresi itu sungguh terlihat begitu mengerikan.

"Selama aku tinggal di sini, kamu bahkan nggak pernah sedikit pun bicara sama aku. Dan sampai kita menikah pun kamu masih tetap acuh padaku."

Revan terdiam hingga terlihat mulutnya sedikit bergerak seperti menahan rasa kesal. Berikutnya ia mendesis lalu berdiri dan menghampiri Larisa.

Rasanya ingin mundur atau lari saja, tapi sialnya Larisa tetap mematung seperti ada sesuatu yang membuat kedua kakinya begitu berat untuk digerakkan. Dan langkah itu semakin mendekat, Larisa akhirnya hanya bisa membisu sambil mencengkeram ujung bajunya kuat-kuat.

Kini, Revan sudah berdiri tepat di hadapan Larisa sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Kamu tahu aku benci kamu, lalu kenapa kamu mau jadi istriku?"

Larisa menelan ludah susah payah. "Bukan aku mau, aku hanya nggak enak sama papa dan mama. Aku harus patuh sama mereka."

Revan memutar bola mata jengah lalu mendur kemudian duduk di bibir ranjang. Dia tidak bicara apa pun saat ini, yang ia lakukan sebatas mengamati Larisa dari ujung kaki hingga kepala.

Tidak ada yang kurang dari Larisa. Revan mengakui bahwa Larisa sangat sempurna. Tubuhnya indah dan sesuai kriteria para pria pastinya. Pernah sekali, Revan tidak sengaja melihat Larisa tanpa busana saat mandi. Meski hanya bagian belakang, tak bisa dipungkiri kalau tubuh itu sangat menggoda. Sayangnya meski begitu kagum, Revan masih bisa menahan diri karena rasa benci yang amat dalam.

"Dengar ...." Revan kembali bicara. "Aku masih bisa diam, tapi aku hanya khawatir jika tiba-tiba aku bisa lebih menyakiti kamu."

Kening Larisa berkerut. Dia menatap Revan dengan tatapan bingung. Pria itu seperti bicara dengan penuh teka-teki di dalamnya.

"Aku nggak tahu kenapa kaku begitu membenci aku, tapi ... apa nggak bisa kita coba perbaiki hubungan ini?"

Tiba-tiba Revan menepuk dipan ranjang cukup keras sampai membuat Larisa terlonjak kaget. Dua tangan yang semula mencengkeram ujung baju, kini beralih saling mengepal di depan dada.

"Kamu mau buat aku marah?" Revan sudah mendongak, tetapi tidak berdiri. "Aku sudah menahannya selama ini supaya nggak sampai emosi seperti sekarang."

Larisa masih belum paham. Pembicaraan ini, membuat ia harus menebak-nebak kesalahannya sampai-sampai membuat Revan marah.

"Kalau kamu terus bicara, aku bisa saja menampar kamu!" Kali ini tatapan itu semakin tajam dan jari telunjuk mengeras ke arah Larisa.

Larisa tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini. Begitu Revan sudah pergi meninggalkan kamar, saat itu juga Larisa ambruk tersungkur di atas lantai dan menangis.

"Kenapa kamu?" tanya Tamara saat Revan sampai di ruang tengah. Kebetulan saat itu Tamara sedang duduk menonton tv di sana.

Revan enggan duduk dan dia membelok ke arah dapur. Karena penasaran, Tamara sampai memutar badan menunggu putranya itu muncul lagi.

Setelah beberapa menit berlalu, Revan muncul sambil membawa minuman kaleng. Dia menjatuhkan diri di sofa lalu meneguk minuman itu langsung habis tak bersisa.

"Larisa lagi?" tanya Tamara lirih.

Revan meletakkan kaleng kosong di atas meja kaca cukup keras. Cengkeramannya yang kuat, sampai membuat kaleng itu terlihat sedikit penyok. Itu menandakan kalau Revan sedang marah.

"Plis, Re, kamu jangan begini terus," lirih Tamara. "Larisa sudah sepuluh tahun tinggal di sini. Apa kamu nggak ada niatan untuk berubah? Pernikahan kalian bahkan sudah berlangsung satu tahun lebih. Hal ini pasti menyiksa Larisa."

"Aku nggak peduli," acuh Revan. Dia menyugar kasar rambutnya ke belakang lalu bersandar pada dinding sofa. "Sampai kapan pun aku nggak akan memaafkan dia."

"Jangan gitu, Re." Tamara mengusap lengan Revan. "Larisa nggak tahu apa-apa. Dan kejadian itu sudah sangat lama. Dan juga ... nggak ada unsur kesengajaan. Semua karena kecelakaan semata."

"Aku nggak peduli, Ma!" Revan terduduk lalu mengibas tangan hingga Tamara bergeser. "Aku sungguh nggak peduli dan rasa benci aku malah semakin bertambah kalau dia terus berada di dekat aku."

Revan menggeram lalu berdiri dengan cepat membuat suara cukup keras saat kakinya menapak di atas lantai. Tamara yang tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk Revan, hanya menghela napas dan memejamkan mata sesaat.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Api Dendam di Masa Lalu
8.9
Ditinggalkan mati dalam mobil yang terbakar oleh Arifin, suamiku sendiri, demi menyelamatkan selingkuhannya adalah akhir hidupku yang tragis. Ternyata, insiden itu merupakan pembunuhan berencana untuk merebut warisanku. Kini, aku terbangun kembali di masa kuliah dengan ingatan utuh. Melihat wajah Arifin yang tampak polos, aku menyadari busuknya niat pria itu. Takdir memberiku kesempatan kedua untuk membalas dendam dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.
Sampul Novel CINTA SANG JANDA
9.4
Pasca bercerai, Rahma berjuang keras demi menghidupi buah hati tercintanya melalui berbagai pekerjaan halal. Sebuah kecelakaan tak terduga mempertemukannya dengan Rian, pria tampan yang kemudian menjadi sosok pelindung bagi hidupnya. Meski tumbuh rasa nyaman, tembok perbedaan status sosial dan keyakinan menghalangi restu keluarga. Kini, mereka harus menghadapi tantangan berat dari nenek Rian demi mempertahankan cinta. Mampukah keduanya melewati ujian sulit tersebut?
Sampul Novel Cinta yang Hilang
7.9
Seorang orang tua tunggal yang masih menyimpan luka masa lalu secara tak terduga menemukan cinta baru melalui sebuah pertemuan singkat. Namun, saat kebahagiaan mulai menyapa, segalanya hancur seketika akibat kekhilafan yang ia lakukan sendiri. Kasih sayang yang sempat mekar kini sirna, meninggalkannya dalam kepedihan mendalam dan bayang-bayang kenangan yang sulit ia lupakan. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cintanya telah pergi menjauh.
Sampul Novel Direklamasi oleh Pewaris Mafia
8.8
Lima tahun menikah, Nora Yates hancur saat memergoki Stefan Gordon berselingkuh dengan Izabella. Stefan mengakui pernikahannya hanyalah balas dendam kejam demi membuat Nora menderita. Di tengah depresi akibat pengkhianatan itu, Nora memutuskan berhenti menjadi ibu rumah tangga yang lemah. Dunia telah lupa bahwa sebelum sakit, dia adalah peretas legendaris yang ditakuti. Kini, sang peretas bangkit kembali untuk bergabung dengan perusahaan lama dan menuntut keadilan.
Sampul Novel Kecanduan Manis: Istri Manja Tuan Wahid
9.4
Kehidupan Rossa hancur setelah hamil akibat cinta satu malam dengan orang asing. Di tengah kemelut itu, ia terpaksa menikahi tunangan masa kecilnya demi kesepakatan bisnis. Meski awalnya dingin, Rossa perlahan menyerahkan hatinya. Namun saat akan melahirkan, ia justru menerima surat cerai yang menghancurkan jiwanya. Setelah memilih pergi, takdir kembali mempertemukan mereka. Sang suami mengaku sangat mencintainya, tapi akankah Rossa bersedia membuka hatinya lagi?
Sampul Novel Mamaku yang Cantik dan Pengagum Misteriusnya
8.0
Pasca dikhianati dan dijebak dalam cinta satu malam, Alisa kembali ke kotanya membawa anak kembar. Ia bekerja di bawah Marvin, CEO brilian yang ternyata menjalani kehidupan ganda sebagai Primus untuk menyembunyikan jati dirinya. Takdir menjadi rumit saat Alisa menyadari Primus adalah pria dari masa lalunya. Kini ia terjepit di antara dua identitas pria yang sama. Akankah rahasia Marvin terbongkar? Bagaimana reaksi sang CEO saat tahu ia sudah memiliki dua anak?