APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel LELAKI "LAIN" SELAIN SUAMIKU

LELAKI "LAIN" SELAIN SUAMIKU

Perselingkuhan suami mungkin terdengar lumrah, namun apa jadinya jika pengkhianatan itu melibatkan dua kepribadian yang berbeda? Sosok Mas Puji kini tampak terbagi menjadi dua identitas yang identik namun berlawanan. Di tengah kebingungan yang melanda, sang istri harus mencari tahu mana sosok suami yang asli dan mana yang palsu. Misteri ini menyelimuti rumah tangga mereka, menciptakan teka-teki rumit tentang siapa sebenarnya pria yang ia nikahi selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dua hari nginap di rumah ibu. Mas Puji tak menyusulku. Apakah ia benar-benar tak perduli lagi padaku?. Atau dia masih marah atas sikapku dalam menyambut kepulangannya ke rumah dua hari lalu? Entahlah. Yang jelas, masih ingin rasanya tinggal lebih lama lagi di rumah ibu, andai saja  Revan tak datang pagi tadi.

" Ayahmu ada di rumah, Van?" Tanyaku pada anak lelakiku itu.

" Semenjak pergi dua hari lalu, ayah tak pulang, Bu. Revan aja sendirian di rumah."

Mendengar pernyataan Revan itu, hatiku bagai disengat kalajengking. Terperanjat kaget, namun kekagetan itu tak kuperlihatkan pada anak lelakiku itu. Rasa penasaran dan curiga semakin membuncah dalam hati.

 Bergegas masuk kamar. Meraih gawai dan memencet nomor inisial "suamiku". Sengaja bukan nama Mas Puji kucatat di kontak HP-ku, melainkan inisial yang bernuansa kemesraan, "Suamiku."

Terhubung.

Seseorang mengangkatnya di seberang sana. "Mas Puji" desisku membatin. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin dan tidak gugup dalam berbicara, meski dalam dada ini ribuan kalimat pedas yang siap kulisankan.

" Maaf Mas, sekarang aku di rumah ibu," kataku pelan.

" Sejak kapan?"

" Dua hari yang lalu."

" Kok gak ijin?"

" Karena HP mas gak aktif," ada nada keterkejutan dalam kalimatnya.

" O, iya..iya..aku lupa. Charger-nya habis jadi HP ku mati sendiri," jawab mas Puji seperti kelabakan.

Memang sengaja aku tak melakukan video call. Aku tak mau menampakkan raut sedih di hadapan suami, apalagi memperlihatkan kelopak mataku yang bengkak lantaran terlalu lama menangis.

Setelah sekian tahun hidup bersama tanpa rasa curiga sedikitpun di antara kami. Tapi hari ini, tiba-tiba saja aku ingin mengetes sejauh mana kejujuran mas Puji setelah kutahu selama dua hari di rumah ibu, ia sendiri tak menginap di rumah, begitu info Revan padaku.

" O, ya Mas. Tadi malam mas Puji tidur di mana?"

Mas Puji menjawab  pertanyaanku dengan cepat dan enteng.

" Ya di rumah lah."

Leg!

Hatiku kaget. Deteksi pertama atas kejujurannya, ternyata dia berbohong. Bergemuruh dan bergejolak darah dalam dada ini, tapi berusaha kutahan sekuat mungkin agar tidak meledak. Baiklah, penyelidikan dan investigasi akan berlanjut. Sebentar lagi pencuri itu akan ketangkap basah.

" Sekarang Mas ada di mana?" Tanyaku basa-basi.

" Ya di kantorlah, kan masih jam kerja," jawabnya santai.

" O ya kapan pulang?"

Pertanyaan basa-basimu semakin menguatkan kecurigaanku. Entah mengapa aku semakin antusias, bersemangat menyelami lebih dalam, siapa sesungguhnya lelaki ini yang kepada siapa anakku memanggil bapak. Begitu bodohkah aku hingga puluhan tahun hidup bersamanya namun tak mengenal karakternya dengan baik?

" Kalau Mas Puji mengijinkan, aku ingin lebih lama lagi di rumah ibu," biar kau puas melaksanakan keinginanmu. " Lagian si Revan juga kan sudah libur sekolah," kataku memberi alasan logis.

" Tidak apa-apa. Kalau kau ingin lebih lama di rumah ibu gak pa-pa, yang penting kau baik-baik aja di sana ya? Jangan sakiti hati ibu."

Bajingan! Umpatku dalam hati. Pandai sekali kau bermain kata-kata. Memang kuakui, pertama aku kecantol dengan mas Puji karena kepandaiannya mengolah kata-kata. Kalimat-kalimatnya sungguh manis bermadu, membuat perempuan yang menjadi target tembakannya klepak-klepek. Itulah yang menghipnotisku, tentunya sesuai kriteriaku, dia juga tampan. Hingga tak butuh lama berpikir saat dia melamarku, aku langsung mengiyakan.

Boro-boro beri nasehat agar tak menyakiti hati ibu. Apa yang kau lakukan dua hari lalu dengan menamparku, bukankah itu hakekatnya menyakiti hati ibu juga? Ingat mas, aku ini darah dagingnya ibu. Jika ada yang menyakitiku, maka otomatis ibu pun ikut tersakiti. Aku mencebik mendengar kata-katanya yang terdengar klise.

Tanpa pikir lebih lama lagi, aku pamit sama ibu untuk pulang ke rumah.

" Loh, katanya masih mau nginap lebih lama lagi. Tapi kok tiba-tiba malah mau pulang." Kata ibu dengan maksud mencegahku.

" Kasihan si Revan, dia baru aja datang, tapi kamu malah mau pergi,"  lanjut ibu lagi.

Aku tersenyum menanggapi keberatan ibu. Maklum, seorang ibu memang akan selalu seperti itu. Kangen pada anak, ingin bercengkerama lebih lama melepas kerinduan, saling berbagi cerita suka maupun duka. Apalagi persoalan serius yang dihadapinya saat ini tergolong sulit untuk menemukan solusi jalan keluarnya.

" Revan kan sudah besar, Bu. Apalagi sekarang ia sudah di rumah nenek. Dia lebih senang diasuh oleh nenek ketimbang ibunya sendiri," kataku memberi alasan kepulanganku secara mendadak. Padahal bukan itu sesungguhnya alasan logis aku berkeinginan pulang secepatnya. Ibu hanya mengangguk meloloskan keinginanku untuk pulang.

Aku segera turun dari taksi online yang mengantarku pulang. Pertama kusambangi dapur. Bersih, tak ada tanda-tanda ada aktifitas memasak selama kutinggal. Padahal, aku tahu Mas Puji hobby memasak. Dan kalau sudah memasak, peralatan dapur dibiarkan menggeletak begitu saja. Tidak akan beres peralatan dapur yang berantakan itu, jika bukan aku yang turun tangan. 

Hmnn....meresahkan..!

Aku bergeser ke arah kamar. Kubuka pintu kamar. Kembali mataku terbelalak. Ranjang dan peralatannya bersih, tak ada sama sekali tanda-tanda habis ditiduri orang selama aku pergi ke rumah ibu. Tes kejujuran kedua, terbukti mas Puji berbohong. Jadi selama dua hari kutinggal, dia tidak tidur di rumah ini! Lalu dia tidur di mana?Hatiku makin panas terbakar.

Aku sabar menunggu dia pulang. Biasanya jam kerja usai itu jam empat dan setengah lima, ia akan tiba di rumah jika memang dia berniat pulang. Benar saja, jarum jam menunjukkan kurang lima belas menit jam lima sore, suara motornya sudah kudengar mamasuki halaman rumah.

Ia nampak kaget melihatku sudah ada di rumah.

" Loh kok sudah pulang. Katanya mau nginap lebih lama di rumah ibu," katanya yang tak mampu menyembunyikan kegugupannya.

Aku diam saja tak menggubris kalimatnya yang ditujukan padaku. Kuikuti dia masuk kamar. Tak kubiarkan dia mengganti bajunya terlebih dahulu, sebelum kuketahui apa yang ingin kukorek darinya. Pelan-pelan kutuntun ia duduk di pinggir ranjang.

" Mas, aku tahu kau berbohong. Aku mohon kejujuranmu. Kau nginap di mana semalam. Dan kemana saja semenjak menghilang dua hari," pelupuk mataku mulai panas dan memerah.

" Aku tidak apa-apa Mas. Asal kau mau berkata jujur," sudut mataku mulai basah.

 Mas Puji masih duduk terdiam sembari memainkan jari-jemarinya bagai anak gadis yang sedang dilamar. Seperti ada beban berat yang menindih dada lelaki itu. Ia memandangiku lurus-lurus.

" Benar, kau ingin aku berterus terang?" Tanyanya penuh penekanan.

Aku hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan agar ia menyatakan kejujuran hatinya.

" Sebenarnya, aku sangat mencintaimu, Ratih!" Ungkapnya lirih.

Kata-katanya semakin membuatku sesak nafas.

" Aku sudah menikah lagi!"

Leg!

Jantungku berdegup kencang mendengar kalimat terakhirnya.

                                 *****

Terimakasih sudah mau mampir di cerita ini..

Nantikan lanjutan kisahnya yang makin seru..!

Kalau berkenan, silahkan comment, rate, share and subscribe...🙏🙏

💚💚

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Pemberhentian Terakhir
9.4
Rana adalah mahasiswi yatim piatu yang berjuang kuliah melalui jalur beasiswa. Kesehariannya hanya terbagi antara belajar dan bekerja hingga ia bertemu Reva, sahabat pertamanya. Namun, ketenangan hidupnya mulai terusik saat Reno muncul dan sosok dari masa lalu kembali hadir. Hubungan mereka kian rumit ketika Dito masuk ke dalam lingkaran pertemanan tersebut. Kini, Rana harus menghadapi konflik perasaan yang melibatkan keempat orang terdekatnya itu.
Sampul Novel Dilema Cinta Penuh Nikmat
9.8
Endah melepaskan segalanya demi momen intim bersama Aslan, pria yang ia puja. Meski berstatus calon istri orang lain, ia memilih menyerahkan diri pada hasrat yang meluap. Di dalam kamar, cumbuan intens Aslan membawanya pada puncak kenikmatan yang tak tertahankan. Meski Endah minim pengalaman, gairahnya tetap membara saat menyentuh kejantanan Aslan. Di tengah rintihan dan rasa sakit yang muncul, ia tetap pasrah mengikuti ritual cinta ini demi menuntaskan dahaganya.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu
9.5
Sakti nekat menikahi Anjani, gadis yatim piatu, meski ditentang keluarganya. Namun, ia terpaksa menjalani pernikahan kedua dengan Mala demi mendapatkan donor jantung bagi kakeknya. Di bawah ancaman sang ayah yang mengincar keselamatan Anjani, Sakti terjebak dalam poligami rahasia. Setahun berselang, kebohongan ini terungkap oleh Anjani. Kini, Sakti harus menghadapi kehancuran rumah tangganya di tengah konflik status sosial dan pengkhianatan yang menyakitkan.
Sampul Novel Istri Cadangan
9.8
Nadia hancur saat memergoki suaminya, Reza, bermesraan dengan Karina di kamar tamu rumah mereka sendiri. Alih-alih menyesal, Karina dengan angkuh mengklaim cinta Reza, sementara Reza justru meminta izin untuk menikahinya. Meski dikhianati secara keji, Nadia menolak untuk hancur dan menyerah. Dengan tekad yang membara, ia bangkit menghadapi penghinaan itu dan bersumpah akan membalas rasa sakit hati serta pengkhianatan mereka dengan tuntas.
Sampul Novel Ketika Dunia Hancur, Ia Memilih Wanita Lain
8.9
Dunia Calla hancur saat putrinya kritis di ICU. Di tengah kesendiriannya menggenggam tangan si kecil yang kian dingin, suaminya, Ares, justru menghilang. Ares lebih memilih menjemput cinta pertamanya, Lyanna, yang baru kembali. Saat napas sang buah hati berakhir, Calla meratap dalam sunyi sementara Ares asyik berpesta dan berdansa memeluk Lyanna. Tanpa sadar, kebahagiaan semu itu harus dibayar mahal dengan kehilangan keluarga dan kepercayaan Calla selamanya.
Sampul Novel Pembantu Kaya Tuan Tampan
8.1
Glenn murka karena Lala gagal menyajikan kopi dan justru memaksanya meminum segelas susu hangat. Meski awalnya menolak karena merasa bukan bayi, sang tuan tampan tak berdaya saat pembantunya itu bersikap tegas mengikuti instruksi Bi Narti. Kejadian konyol ini menjadi awal perubahan sikap Glenn yang dikenal sombong. Akankah ketegasan Lala mampu meluluhkan hati majikannya? Ikuti kisah unik hubungan mereka dalam novel romansa yang penuh warna ini.