APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love a Sweet Psycho

Love a Sweet Psycho

Hun dikenal sebagai pria rupawan bak pangeran dongeng, namun aku sama sekali tak tertarik padanya. Kehidupan tenangku terusik saat pria berdarah dingin ini mulai terobsesi mengejarku. Ia bertindak ekstrem demi melindungiku, mulai dari membunuh ular hingga nyaris mencekik orang yang menggangguku. Aku benci menjadi pusat perhatian dalam drama gila ini. Mengapa Tuhan mengubah hidup mediokerku menjadi pelik karena campur tangan cowok psikopat ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Silahkan perkenalkan dirimu,” titah bu guru seraya memberi jarak pada si laki-laki itu, membiarkan dia menjadi pusat perhatian sejenak.

Lalu ia mulai membuka tudungnya, menampakkkan juga wajah yang sedari tadi tampak samar. Mata itu langsung menatap acak seluruh murid yang menampilkan raut takjub, lantas terakhir sendiri, ia menatap cukup lama murid yang duduk paling belakang sana, di ujung, satu-satunya yang tak memiliki teman sebangku, Arin.

“Perkenalkan, namaku Tehun,” bukanya dengan senyum pertama yang ia ciptakan sejak ia berdiri di tempatnya.

Semua murid langsung berseru heboh mendengar perkenalan itu, karena suara selembut kapasnya, juga wajah tampan yang tak main-main. Seperti seorang artis, kulitnya bersih sekali, ia tinggi, memiliki bahu lebar, dan tak tertinggal fitur wajah yang sangat mendukung—alis yang tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, proporsi bibir yang pas, serta garis rahang yang tajam, sungguh macam tak ada celanya.

Suasana kelas langsung saja berubah menjadi gaduh. Seorang laki-laki yang memiliki ketampanan luar biasa sedang berdiri di depan kepala mata mereka, dan seterusnya akan menjadi teman sekelas bersama. Apalagi kaum hawa, mereka agaknya seperti bertemu seorang idol di dunia nyata. Sampai akhirnya bu guru mencoba memberi instruksi agar mereka lebih tenang, karena keadaan yang terlalu ricuh.

“Nama lengkapku Choi Taehoon, kalian bisa memanggilku Tehun lebih mudahnya, atau Hun saja juga boleh. Dan seperti namaku, aku dilahirkan di Korea Selatan, dan pindah saat berusia sepuluh tahun, yang berarti aku sudah menghabiskan hampir separuh umurku di Indonesia. Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik,” ujarnya dengan senyum yang menawan, serta membungkukkan diri singkat.

Semuanya langsung kembali ribut begitu mendengar kalimat dengan nada super ramah yang berasal dari mulut Hun. Itu menjadi nilai plus yang makin menambah kesan sempurna di benak semua murid yang berada di kelas itu, super tampan dan baik hati, tak ada yang bisa mengalahkan pesona seseorang dengan kedua hal itu.

Arin ikut tersenyum tipis melihatnya, dan bertepuk tangan kecil, meski merasa tidak begitu peduli, karena sudah terlalu biasa untuk hidup sendiri selama di sekolah, tak memiliki teman, membuat ia sering menahan diri untuk berekspetasi di lingkup sekolah. Ia lebih bisa mengekspresikan diri saat berada di rumah, dengan kedai jus kecilnya.

“Baiklah Tehun, kau bisa duduk di kursi yang kosong, di belakang sana, bersama Arin,” ucap bu guru yang segera mendapat anggukan hormat dari Hun.

Lantas dia berjalan ke bangku di pojok sana, sedang orang yang akan menjadi teman sebangkunya itu memejamkan mata pelan, diam-diam merasa tak suka dengan kehadiran Hun yang tentu akan merebut tempat tasnya, yang memang selalu ia letakkan di kursi kosong sebelahnya itu. Belum lagi semua mata tertuju pada si Tehun, cepat atau lambat Arin mungkin bisa terkena imbasnya, terlebih jika Tehun bersikap baik padanya, yang bernotabene seorang anak yang tak memiliki teman sepertinya, ia pasti juga akan diperhatikan oleh orang-orang, dan ia tak menyukai hal seperti itu, perhatian berlebih.

Tapi Hun duduk dengan tenang setelahnya, hanya menyapa Arin singkat dibumbui senyum, lantas mulai mengeluarkan buku dan peralatan tulisnya. Arin menghela napas lega. Semoga saja dia akan seperti ini sampai akhir, tak terlalu memperdulikan eksistensi Arin, karena gadis itu sudah nyaman dengan peran yang ia jalani sekarang, menjadi orang yang sangat biasa, tanpa perlu memperagakan dialog di atas panggung.

***

Namun, tentu saja tak semudah itu. Tiba-tiba setelah keluar sebentar saat jam istirahat berdentang, Hun kembali ke kelas tak lama kemudian dan membawakan beberapa camilan untuk Arin, sebagai perayaan kecil teman sebangku katanya. Arin sebenarnya tak apa, dibelikan jajan seperti itu, tapi yang tak ia suka adalah teman-teman yang kini menatapnya.

Dan menyadari suasana sekitar, Hun tersenyum, lantas mengangkat tangannya yang membawa satu kresek besar.

“Kalian juga kebagian, kok, teman-teman,” serunya yang membuat orang di ruang kelas itu segera heboh dan berlarian menggerumbuli Tehun.

“Terimakasih ya, Hun,” pekik salah seorang siswa kegirangan.

“Semoga kita bisa menjadi teman baik, ya,” ujar Tehun lagi dengan senyum cerahnya.

Dan seperti biasa, beberapa murid yang bergerombol mengajak dia berbincang ria, yang tentu ditanggapi oleh jawaban yang renyah dari pria dengan senyum secerah matahari itu. Hun beberapa kali juga tampak sedikit menyeret Arin ke dalam topik, dan hanya ditanggapi seadanya oleh gadis mungil itu, merasa tak nyaman dengan gerumbulan di bangkunya.

Dan secara bertahap, akhirnya gerumbulan itu perlahan bubar juga, menyisakan dua insan yang salah satunya kini menghela napas lega itu, seperti lepas dari cekikan saja rasanya, langsung merasa damai, bebas.

“Kau tak suka orang ramai-ramai?” tanya Hun kemudian. Arin yang tak terbiasa dengan suara seseorang saat di sekolah, apalagi di kelasnya, di sampingnya tepat, terjengat kaget. Ia lantas menoleh ke arah kiri, ke sumber suara yang membuat ia kaget barusan.

“Tak begitu nyaman,” jawab Arin seadanya lagi, tak mau susah-susah terlihat baik karena citra teman lingkungan sekolah sudah terlampau buruk di matanya. Jika ada yang baik padanya, perlahan pasti akan menjauhinya juga, karena ia yang memang tak punya teman, pasti orang itu takut jika dia perlahan akan dijauhi seperti dia. Dari itu, dia tak pernah berekspetasi sedikit pun dengan seseorang yang berada di lingkup sekolah, semuanya sama saja, tak terkecuali dengan si murid baru ini.

“Kau mau aku juga bersikap seperti itu pada mereka?” tanya Hun lagi, yang segera membuat alis Arin mengkerut, tak bisa menebak arah pertanyaan si Hun.

“Terserah kau,” jawabnya mencoba tak peduli, meski merasa sangat aneh. Arin mencoblos satu susu kotak pemberian Hun tadi, dan meminumnya pelan. Pas sekali, ia suka rasa cokelat. Diam-diam ia menikmati bagaimana rasa susu itu di mulutnya, seperti biasa, rasa cokelat tak pernah mengecewakan baginya.

“Jadi kau ingin aku bersikap seperti yang aku lakukan tadi saja?” tanya Hun, lagi-lagi, dan membuat Arin yang sempat membuang pandangannya ke jendela itu terkaget, lagi juga. Masih sangat tak terbiasa dengan suara seorang manusia yang mengajaknya bicara di ruang kelas ini.

“Kenapa bertanya padaku? Itu terserah padamu. Ya kalau baik, kau harus baik pada mereka, kalau jahat, kau harus jahat juga,” ujar Arin kemudian, benar-benar tak mengerti jalan pikir pria super tampan di sampingnya ini.

“Begitu ya. Tapi … mengapa begitu?”

Arin yang hampir menyeruput susu serta membuang pandangannya lagi, akhirnya menghentikan kegiatannya. Dia meletakkan susu kotak itu ke meja, dan menatap serius pada Hun selama beberapa belas sekon, sedikit merasa emosional dengan pertanyaan yang dilayangkan pria itu barusan.

“Kadang mereka perlu pelajaran, agar tahu bagaimana rasanya dijahati,” jawab Arin dengan mata yang berkilat, bercampur luka.

Arin tampak terdiam sebentar, hanya menatap lama netra hitam itu, sempat tenggelam di dalamnya, karena teringat yang lalu-lalu, yang masih perih begitu dikenang. Sampai akhirnya ia memaksa dirinya untuk menghentikan kontak dari mata yang entah mengapa sangat teduh itu, dan membuatnya terhanyut. Ia berusaha menyadarkan dirinya.

“Lupakan. Kau tak perlu melakukannya. Aku menjadi menyedihkan seperti ini karena melakukan tindakan yang kusebut barusan,” ujarnya lagi, seraya meraih susu kotak itu, menyeruputnya dengan tak ingin berpikir panjang pada ucapannya sendiri.

“Kau suka rasa cokelat?” tanya Hun lagi, membuat Arin merasa jengah. Bertanya tanpa lelah, dan tak memiliki bobot, tak memiliki arah yang pasti, tak bisa Arin raba maksudnya.

“Iya, aku suka,” jawab Arin pada akhirnya, menyerah dengan keadaan. Ia sepertinya harus membiasakan diri dengan Tehun yang seperti ini. Entah bagaimana ke depannya nanti.

“Ah, benar, kau tampak tak bisa menahan untuk berhenti meminumnya,” ucap Hun kemudian seraya tersenyum, membuat Arin tercengang, merasa malu karena seseorang menyadari kebiasaannya yang biasanya tak dipedulikan sama sekali oleh orang lain.

“Oh iya, apakah itu tadi berarti mereka pernah bersikap jahat kepadamu?” tanya Hun lagi, yang membuat Arin melupakan rasa malunya. Sedikit tertegun, karena ingatan buruk kembali datang. Lagi pula kenapa Hun masih membahasnya lagi? Arin kira tadi sudah rampung.

“Hm. Beberapa. Sudahlah, jangan bahas yang beginian, kenapa kau bertanya-tanya seperti ini?” gerutu Arin akhirnya, dan merasa merinding saat melihat satu titik yang sangat dingin di mata itu, seperti bukan Hun yang ia kenal barusan.

“Berarti aku juga harus jahat pada mereka, yang menjahatimu.”

~To be continued~

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan
9.3
Liora Avanira, seorang anak angkat, terpaksa menggantikan kakaknya dalam perjodohan dengan Komandan Rayan Elvard yang dingin. Rayan memilih Liora bukan karena cinta, melainkan demi misi rahasia. Namun, pernikahan atas perintah atasan ini berubah menjadi obsesi berbahaya saat Rayan terpikat pada sikap dingin Liora. Di tengah kebencian dan ancaman musuh masa lalu yang mengincar nyawanya, Liora harus bergantung pada pria yang menjadi sumber penderitaannya tersebut.
Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun di Jakarta, Clarissa berjuang menjaga diri saat bekerja di dunia malam. Namun, misinya terancam sejak Arga hadir sebagai pelanggan tetap yang obsesif. Meski Clarissa benci laki-laki dan berusaha menjauh, kekuasaan Arga membuatnya sulit lepas. Arga harus berjuang keras menaklukkan hati Clarissa sambil menghadapi penolakan saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa menyerah pada pria yang kini terus menguntit hidupnya itu?
Sampul Novel Dominasi Yang Disengaja
8.1
Tiga tahun membina rumah tangga, Dahlia Nicholson memilih untuk menceraikan suaminya, Dustin Rhys. Bagi Dahlia yang kini berada di puncak kesuksesan, Dustin hanyalah beban yang tidak berguna dalam hidupnya. Namun, di balik sikap angkuhnya, ia tidak menyadari sebuah kenyataan pahit. Segala pencapaian luar biasa dan kekayaan yang ia miliki saat ini sebenarnya hanyalah hasil dari campur tangan serta dukungan rahasia sang suami yang selama ini ia remehkan.
Sampul Novel Cinta, Pengkhianatan dan Dendam: Godaan Mantan Istri yang Tak Tertahankan
8.0
Dikhianati hingga menjadi pembunuh, Maria menceraikan James dan pergi membawa dendam. Enam tahun berselang, ia kembali bersama rival mantan suaminya dengan identitas baru yang tangguh. Meski bekerja sama dengan James hanya demi membalas sakit hatinya, Maria tidak menyadari bahwa ia justru masuk ke dalam jebakan pria itu. Di tengah pergolakan antara gairah dan niat balas dendam, mereka terjebak dalam permainan perasaan yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Damian Verano, bos mafia tangguh, nyaris tewas setelah dikhianati dalam perebutan wilayah. Terhanyut di sungai selama tiga hari, ia ditemukan oleh Alira, gadis desa berusia delapan belas tahun yang sangat sederhana. Meski Damian masih terbayang sosok Sierra, pesona polos Alira justru memicu getaran cinta yang tak terduga di hatinya. Akankah sang penguasa dunia bawah tanah yang kejam mampu bersatu dengan gadis dusun yang buta akan masa lalunya yang kelam?
Sampul Novel Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
9.4
Pesta ulang tahun Thania berubah menjadi petaka saat ia diculik dan menyaksikan kedua orang tuanya dihabisi. Kini, ia terperangkap sebagai tawanan pemuas nafsu seorang bos mafia yang sangat sadis. Di tengah penderitaannya, Thania harus memutar otak untuk menaklukkan hati pria kejam tersebut. Akankah ia berhasil memikat sang mafia agar membantunya mengungkap konspirasi besar di balik kehancuran keluarganya, atau justru terjebak selamanya?