APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri

Selama ini aku memilih untuk terus mengalah demi menutupi segala kehancuran yang terjadi, mencoba berpura-pura bahwa segalanya masih baik-baik saja. Namun, kini batas kesabaranku telah habis dan aku memutuskan untuk menyerah pada keadaan ini. Egoku bangkit dengan kuat, menolak untuk terus tertindas. Izinkan aku pergi dan menjalani takdir dengan caraku sendiri, demi merasakan kembali kebebasan sejati sebagai manusia yang benar-benar hidup.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kenapa rasanya seperti di tampar. Semua yang diucapkan Ardi itu begitu menyinggungku. Tak mau buang waktu aku segera pulang ke rumah saat jam istirahat. Entah siapa yang memarkir motor sembarangan persis di depan rumah, siapa gerangan yang mampir. Aku mengintip lewat celah pagar, mengurungkan niat untuk masuk ke dalam. Dilra menyerahkan uang pada pria berkemeja itu. Lalu pria itu menyerahkan sobekan kecil dari bukunya. Begitu berbalik ternyata itu Pak Rudi. Bank keliling harian yang biasa meminjami Ibu-ibu sekitar rumahku, tetapi itu dulu saat di rumah yang lama. Entah kenapa dia bisa kemari. Jadi Dilra diam-diam meminjam uang tanpa sepengetahuanku?

"Dil, siapa tadi? Bank keliling ‘kan?” tanyaku. Tatapan Dilra langsung berubah tak suka.

“Untuk apa pinjam-pinjam segala, itu riba!” sentakku kala Pak Rudi, sudah memacu motornya.

“Enggak pernah dikasih uang ya pinjam,” jawabnya datar. Tidak tampak raut bersalah sama sekali, malah membalik badan dan berjalan begitu saja. Kuikuti ke mana arah langkahnya tertuju, ke arah dapur rupanya.

 “Dilra, kamu masih menghargai Mas, enggak? Butuh uang berapa sih, apa susahnya tinggal bilang sama Ibu? Kalian serumah, tahu dosa enggak sih kamu! Boleh kamu pinjam kalau kepepet, aku kerja mati-matian kalau bukan buat kamu.” Dilra yang tengah mengambil cangkir yang menggantung di mini bar mendadak meletakannya kembali. Kini dia berjalan mendekat.

“Kenapa, mau marah lagi?” Dilra hanya menatap tajam. Seperti dugaank dia marah lagi. Dadanya naik turun, menahan emosi, mata yang mulai memerah semakin menjelaskan semua itu. Kulihat tangannya mulai meremas kuat, hingga buku-buku jarinya tampak memerah.

“Aku pinjam karena butuh, salah?”

“Berapa yang kamu pinjam, seberapa besar yang bisa dia kasih?”

“Dua ratus ribu.” Sungguh tidak habis pikir. Aku sedikit terkekeh, uang sekecil itu kenapa harus meminjam.

“Hanya dua ratus ribu kamu pinjam ke Bank?”

“Kenapa kamu ketawa Mas, lucu ‘kan? Istri pemilik bengkel mobil besar, pinjam uang dua ratus ribu ke bank keliling?”

“Jangan bercanda Dil, bilang berapa hutangmu?”

“Ya sudah kalau enggak percaya, tanya ke Pak Rudi.”

“Aku kasih ibu uang 10 juta hanya untuk kebutuhan makan dan kamu malah pinjam ke Pak Rudi dua ratus ribu buat apa, masih belum cukup juga?” Aku sedikit berteriak karena dia seakan acuh, memilih meneruskan membuat kopi yang tadi, sempat tertunda.

“Itu buat ibumu bukan buatku.”

“Apa maksudmu bilang begitu, jelas itu buat kita semua.”

“Ah, berisik tahu. Ini kopi minum aja. Besok-besok enggak usah minta bikin kopi, kalau enggak mau didatangi rentenir ke rumah.”

“Dilra! Begitu caramu melayani suami?" Lagi pula sedang puasa kenapa juga malah menyuguhkan kopi, apa dia melupakannya?

“Ya terus, maunya bagaimana?”

“Dilra kamu keterlaluan, aku selama ini sabar sama kamu tapi kalau cara kamu begini ....”

“Mas mau apa, kenapa sih mas cerewet banget. Aku butuh uang buat beli kopi gula, siapa yang minum? Kamu juga ‘kan? Masih mending anakmu minum ASI, jadi enggak perlu repot-repot keluar biaya.”

“Sekali pun Dion minum susu formula aku masih mampu!”

“Oh, ya? Kalau hanya masalah gula kopi hutang ke Pak Rudi, bagian mana yang kamu sebut mampu, Mas? Sudahlah aku mau nyapu.”

Plakk!!

“Cukup Dilra, kamu keterlaluan!” Kali ini aku kalap lagi, tak sengaja menamparnya. Untuk pertama kalinya juga aku melakukan ini, tapi kurasa ini setimpal untuk istri yang selalu melawan. Dilra tampak mengusap pipinya yang memerah, matanya menatapku nanar tapi tak lama dia mengusap air mata yang mengalir dengan cukup kasar. Setelahnya, seolah tak terjadi apa-apa Dilra malah meraih sapu. Aku berpikir dia akan melawanku tapi malah menyapu lantai. Aku jadi merasa bersalah.

“Dil, Mas minta maaf.”

“Hmm.” Dilra tidak mau melihat ke arahku sama sekali, pandangannya ke lantai masih fokus dengan sapu di genggamannya.

“Dil.” Kali ini aku menahan lengannya, lalu menangkupkan kedua tanganku di wajah wanita itu. Ada jejak merah berbentuk telapak tangan di sana, tapi seakan dia tak merasa tersakati sama sekali.

“Sakit, Dil?” Aku mengusap pipinya pelan, perlahan sapu di genggamannya terlepas, kini kami saling menatap.

“Maaf, Mas kelepasan, pasti sakit. Biar dikompres pakai es ya.” Mata Dilra terlihat berembun, tapi lagi-lagi dia tak mau membuka suara. Tangannya malah menggenggam kedua tanganku.

“Lepas!!!” ketusnya, sungguh membuatku terkejut bukan main. Setelahnya langsung menghempas tanganku dengan kasar. Sekarang malah pergi ke kamar, membiarkan sapu tergeletak begitu saja. Aku berniat menghampiri, tapi begitu mengetuk pintu dia seperti sengaja tak ingin ditemui. Pintunya dikunci dari dalam. Aku menyerah sudah diketuk berkali-kali, tetap tak mau keluar. Dia menulikan diri meski seharusnya merasa terganggu. Sempat terdengar jeritan bayi Dion, karena terkejut dengan suaraku, tapi Dilra masih kukuh tak mau membuka pintu.

Aku memutuskan tak kembali ke bengkel, menunggu sampai Dilra mau keluar kamar. Ternyata rumah sepi sekali saat siang hari, Ibu dan Mia entah pergi ke mana dari siang sampai sore belum juga pulang, hingga pukul empat. Aku dengar suara pintu di buka, ada Ibu dan Mia di balik sana. Mereka tampak riang dengan beberapa tas belanja berisi pakaian dan camilan. Aku memperhatikan dari lantai dua. Sampai sekarang mereka belum sadar akan kehadiranku.

Jam menunjukkan pukul 4.30 sudah setengah jam aku memperhatikan mereka dari dalam sini. Sesekali tawa mereka terdengar riang, tanpa sadar membuatku tersenyum. Akhirnya aku bisa membuatmu bahagia Bu. Saat itu juga Dilra keluar dari kamar. Dia melewati begitu saja, seolah aku ini tak tampak baginya.

“Dil.”

“Aku mau masak Mas, jangan ikuti aku!” Ya sudahlah aku menyerah. Aku turun ke bawah tak lama setelah Dilra berada di dapur.

“Eh kami kok udah ada di rumah Lang?” Ibuku tampak gugup menyadari kehadiranku. Dia tampak gelisah memasukkan asal barang belanjaannya ke dalam tas.

“Enggal usah disembunyikan, aku sudah liat semuanya.” Seketika Ibu tertunduk, mungkin merasa bersalah.

“Enggak apa-apa Bu, Galang senang kalau bisa bikin Ibu bahagia.”

“Benar enggak apa-apa, Lang?”

“Ya, Bu.” Ibu malah menangis haru. Dia selalu begitu begitupun Mia yang malah mengikuti Ibunya. Sementara di dapur Dilra seolah tak peduli sama sekali. Dia tetap asyik bergulat dengan sayur mayur dan alat masaknya.

Ruang keluarga memang sengaja dirancang mengarah langsung ke semua tempat. Dilra yang mengusulkan katanya biar mudah mengontrol anak-anak kami dari sini, awalnya Ibu juga menolak tapi alasan Dilra cukup masuk akal kali itu. Dilra dan Ibu hampir selalu beda pendapat sejak dulu bahkan sampai sekarang. Seringnya Dilra mengalah, katanya cuma ingin hidup dengan tenang dan damai. Itu dulu kalau sekarang kutanya kenapa dia mau mengalah, maka dia akan berkata, malas ribet. Dia telah berubah, aku hampir kehilangan sosok Dilra yang lembut.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balada Cinta Cassanova Impoten
7.9
Bramono adalah casanova angkuh yang hobi berganti pasangan cantik. Namun, hidupnya hancur saat mantan kekasih menjebaknya hingga ia meniduri Mala, gadis sederhana yang sangat ia benci. Bukannya menyesal, Bramono justru menghina Mala hingga gadis itu pergi membawa luka. Tak lama, Bramono mendadak impoten dan kehilangan gairah. Satu-satunya kunci kesembuhan adalah kembali pada Mala. Mampukah ia menemukan Mala yang dulu ia zolimi demi memulihkan kejantanannya?
Sampul Novel Benih Sang Kakak Ipar
9.7
Pernikahan Aura dengan Gavin membawanya masuk ke lingkaran obsesi keluarga Mahendra. Atas desakan ekonomi, Gavin mengajak Aura tinggal di rumah sang kakak, Adrian Mahendra, seorang pengusaha dingin yang berkuasa. Tanpa diduga, Adrian menyimpan hasrat gelap terhadap istri adiknya tersebut. Dengan karisma dan kekuasaannya, Adrian memanipulasi keadaan hingga Aura terjepit antara kesetiaan pada suami dan godaan sang kakak ipar yang terus menjeratnya.
Sampul Novel Gigolo
8.2
Frans, mahasiswa kedokteran cerdas, terpaksa berhenti kuliah demi menghidupi dua adiknya setelah orang tua mereka wafat. Ia bekerja sebagai penyanyi sebelum akhirnya direkrut oleh Mamih Mega menjadi pria penghibur. Petualangannya berpindah pelukan wanita pun dimulai hingga ia bertemu Fira, gadis yang menyewa jasanya demi melepas kesucian. Meski keduanya saling jatuh cinta, kerumitan muncul saat Frans justru berakhir menikahi wanita lain bernama Anjani.
Sampul Novel Hasrat Liar Sang PILOT
9.6
Kapten Adrian adalah pilot tampan berusia 35 tahun yang telah memiliki satu anak. Di tengah kesibukan dunia penerbangan, ia dikelilingi banyak pramugari cantik yang memicu ambisi liarnya. Didorong oleh hawa nafsu, Adrian berusaha menyalurkan hasrat terpendamnya kepada rekan-rekan kerjanya di maskapai. Namun, apakah Dewi selaku istrinya akan tinggal diam melihat pengkhianatan ini? Ikuti lika-liku kehidupan rumah tangga mereka yang penuh gejolak panas.
Sampul Novel Istri Manis Tuan Jicko
9.8
Demi menuruti ambisi ibunda yang mendambakan cucu tanpa harus terikat pernikahan, Jicko menolak perjodohan dan memilih jalan pintas. Ia menawarkan sebuah kesepakatan khusus kepada Ameera untuk mengandung buah hatinya. Jicko yakin kontrak ini akan menguntungkan kedua belah pihak tanpa ada komitmen emosional. Namun, rencana yang semula tampak sederhana ini berubah menjadi pelik saat realitas hubungan mereka ternyata jauh lebih rumit dari dugaan.
Sampul Novel Istri Penguasa Tak Terlihat
8.5
Hidup Roxelle Clementia Evelyn berubah total saat Hendrik Ou Gang mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris Ou Gang Grup. Setelah bertahun-tahun menderita akibat kemiskinan dan penghinaan, wanita Asia-Amerika ini ternyata cucu yang selama ini dikira telah tiada. Kehadirannya memicu ketegangan besar bagi Margarita dan Donna yang selama ini berkuasa. Mampukah Roxelle memimpin perusahaan finansial raksasa di Kota Luo dan menghadapi intrik keluarga tersebut?