APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Maaf, Kami Pernah Berzina

Maaf, Kami Pernah Berzina

Demi tanggung jawab sebagai kakak angkat, aku terpaksa menikahi Niken yang hamil oleh adikku, Nara. Hal ini terjadi karena Nara telah terikat pernikahan paksa dengan Nada. Konflik memuncak saat aku diminta melakukan perbuatan nista dengan Nada agar dia mengandung, sebab Nara bersumpah tak akan menyentuh istrinya demi kesetiaan pada Niken. Di tengah dilema moral ini, sanggupkah aku merusak kehormatan Nada yang merupakan wanita baik-baik?
Bab
Bagikan

Bab 3

PADA suatu siang menjelang sore, aku harus ke rumah sakit untuk mengantar istriku, sementara adikku sudah lebih di sana, menunggu kami selagi masih mengantre, terlihat sangat siap untuk menemani istriku periksa ke dokter kandungan. Lepas meninggalkan beranda rumah sakit, tiba-tiba aku teringat sesuatu, sebuah momen singkat pada malam pernikahanku, istriku pernah tersenyum manis kepadaku hanya sebagai salam pembuka sebelum berkata, "Kak, terima kasih, ya ... sekarang anakku bisa terus berdekatan dengan ayahnya."

Langit berubah mendung seketika, entah karena apa sehingga bisa tersinggung sedemikian rupa. Hujan mulai turun dengan deras. Laksana kejutan tidak terduga di tengah sepinya hari. Di saat-saat aku sedang fokus menyetir, kedua telingaku dapat mendengar suara gemericik air setiap mendarat di atas permukaan bertekstur keras dan manik mataku bisa melihat sejumlah jejak air di kaca depan.

Di sebuah halte serba merah, sesosok wanita dengan muka sudah tidak asing di kepalaku terlihat sedang berteduh di antara belasan manusia bernasib malang seperti dirinya, bahkan sampai memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan. Lantas, tanpa menunggu lama, aku segera bertindak untuk menepikan mobilku sebelum bergegas turun dan menembus lontaran anak panah berwujud cair dari atas awan dengan maksud untuk menghampiri adik iparku.

"Nad, kenapa masih di sini?" tanyaku setelah aku sudah tiba di depan tempat adik iparku tengah berdiri. "Kau tidak membawa jas hujan?"

Sepertinya, adik iparku masih tertegun dengan kehadiranku. Buktinya, sudah detik demi detik berlalu, adik iparku baru bisa menjawab pertanyaanku dengan tatapan kaku terarah kepadaku. "Bukan, Kak."

Dirasa adik iparku terlalu lamban dalam merespons, hanya dalam jeda waktu sebentar aku sudah bertanya lagi, "Terus?"

Ha? Adik iparku tidak sudi untuk menghormatiku? Aku tidak mengerti, mengapa adik iparku sampai harus menunduk untuk menghindari sinar mataku. Bukankah akan dinilai tidak sopan kalau setiap bertukar kata kita tidak berkanan untuk menatap lawan bicara kita? Baiklah, anggaplah seolah-olah aku tidak pernah mempermasalahkan sehingga tidak ada alasan untukku menegurnya.

"Motorku tidak bisa dinyalakan," jawab adik iparku, akhinya, selepas waktu berhargaku sudah cukup tersita. "Mm, kau pulang bersamaku saja, ya," usulku kemudian, tangan kananku sempat terangkat untuk menggaruk salah satu pelipisku, takut apabila sampai ditolak mentah-mentah.

Melihat adik iparku mencengkeram kain baju di daerah kedua sikunya, sebelum wanita itu memperoleh keputusan, bibirku cepat-cepat kubuka untuk mengimbuhkan, "Nanti, aku akan menyuruh orang bengkel untuk mengambil motormu dan memperbaikinya."

"Sudah sore," ucapku lagi untuk meyakinkan hingga membuat adik iparku seperti tidak memiliki opsi lain.

Jujur, hatiku lebih berbunga-bunga ketika berada dalam satu mobil dengan adik iparku, daripada dengan istriku beberapa waktu lalu. Entah mengapa, rasa-rasanya kedamaian dan ketentraman senantiasa terpelihara dengan baik untuk menyenangkan diriku. Di dalam mobil, ketika aku hendak menyalakan mesin, secara tidak sengaja ekor mata kiriku malah mendapati adik tiriku sedang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Aku segera berinisiatif dengan melepaskan jasku untuk kusodorkan ke arahnya. "Pakailah," kataku, "aku tahu, kau kedinginan."

"Mm, terima kaksih, Kak," sahut adik iparku, tampak kikuk selagi menerima jasku dengan ragu-ragu, seakan-akan sudah dapat menebak kalau aku akan bersikeras memaksa andaikan memperoleh penolakan.

Tidak ada obrolan berikutnya. Bibir kami sama-sama terkunci dengan rapat. Aku sedang tidak memiliki topik untuk diramaikan, sementara adik iparku ... kapan pernah terbuka kepadaku? Bukankah dirinya baru akan mengungkapkan sesudah ditanya terlebih dahulu?

Tiba di rumah, kami berpapasan dengan ibuku ketika memasuki rumah karena ibuku sedang berjalan dari arah dapur, mungkin akan ke lantai dua. "Eh, kok ... kalian bisa barengan begini?" tanya ibuku, tidak lama setelah adik iparku sedikit membungkuk dan meraih tangan kanan ibuku dengan daerah punggung ditempelkan sekilas ke salah satu pipinya.

"Motor Nada mogok, Bu," jawabku, tidak ada kesempatan untuk adik iparku untuk menegaskan ulang karena ibuku terlihat mencari-cari sesuatu sebelum bertanya, "Di mana istrimu?"

"Ha?" Tidak sampai berselang lama, aku kelabakan seketika, tidak kepikiran kalau akan disambut dengan pertanyaan demikian. Lepas menginstruksikan otak untuk berputar, bibirku baru terasa ringan untuk tergerak dalam rangka menyampaikan alibiku. "Mm, aku terpaksa menitipkan istriku di restoran karena ... aku harus segera merampungkan pekerjaanku, sementara istriku sedang menginginkan masakan salah satu koki di sana," kataku, terdengar kurang lancar.

Dahi ibuku berkerut samar. Tampaknya, gara-gara aku malah meninggalkan istriku di restoran dengan begitu teganya. Apa mau dikata, adikku dan kekasihnya apabila sudah berduaan di luar tentu akan kelayapan ke mana-mana, sampai tidak mengenal waktu lagi.

"Lalu," ucap ibuku menggantung, masih dengan kening berkerut dan tatapan heran diarahkan kepadaku, hingga akhirnya ibuku bertanya, "Istrimu akan pulang bersama adikmu?"

Garis senyum di wajahku berfungsi dengan baik sebagai bentuk usahaku dalam menutupi kebohonganku. "Begitulah, Bu," jawabku dengan tangan kanan nyaris terangkat untuk menggaruk kepala belakangku.

Dari manik mataku, kepala ibuku terlihat terayun pelan ke arah kiri dan kanan sebanyak dua kali selagi bergumam, "Ada-ada saja."

Dalam hitungan singkat, aku segera memilih untuk cepat-cepat kabur dengan menjadikan mandi sebagai alasan termudah untukku, daripada nanti malah ditanya lebih detail. Ibuku bisa curiga kalau bibirku sampai terbuka untuk memberikan jawaban asal-asalan. Bukankah kalau aku terasa berada di hadapan ibuku sama artinya dengan bunuh diri?

***

Ketika aku sedang berusaha menyelesaikan desainku di ruang baca, adikku tiba-tiba datang menghampiri, lalu memerhatikan hasil kerjaku sejenak dengan kedua tangan dilipat di depan dada dan pandangan menilai. Tentu saja, rasa percaya diri tidak akan kubuat dominan karena kehadiran adikku bukan hanya sebatas mau mengomentari kerjaanku, melainkan untuk suatu tujuan tertentu.

"Bagaimana?" Apa kau sudah membuat keputusan?" tanya adikku tidak lama kemudian dengan wajah diangkat dan sorot mata mengarah kepadaku. Pedihnya, pertanyaan barusan semata-mata hanya untuk menagih jawabanku atas permintaan adikku sebelumnya, persis seperti dugaanku.

Aktivitasku terhenti setelah fokusku sudah sepenuhnya terbagi. Helaan napasku terdengar untuk mengiringi gerakan kedua telapak tanganku pada waktu akan menumpu di atas permukaan meja. "Aku tidak bisa, Nara," ucapku dengan berat hati.

Dari ekspresi wajahku terbaru, segalanya sudah terwakilkan dengan sangat jelas. "Dia terlalu baik untuk disakiti," imbuhku tidak sampai berselang lama.

"Tapi, Kak. Ibu terus menuntutku," rengek adikku. Dia terlihat kecewa, tidak tahu harus bagaimana lagi untuk merayuku, "bisa-bisa ... kami dipaksa bercerai dan merusak hubungan kerja sama antara kedua belah keluarga."

Bukan rahasia pribadi, adikku diharuskan memikul beban berupa meneruskan bisnis keluarga. Jika terjadi sesuatu, maka adikku bisa sangat merasa bersalah. Mungkin, kalau hanya sebatas bisnis pribadi, adikku tidak akan sampai dirundung perasaan gelisah tanpa ampun. "Berikan aku waktu tambahan," kataku kemudian, entah mengapa seulas semyuman tipis tiba-tiba dikembangkan adikku.

"Terima kasih, Kak. Aku selalu bisa mengandalkanmu," sahut adikku dengan tangan kanan terangkat untuk menepuk pundak kiriku sebanyak dua kali.

Dirasa urusan denganku telah beres, adikku segera pamit untuk keluar dari ruang baca duluan, sementara aku malah memutuskan untuk rapi-rapi sebentar sebelum mengayunkan kedua kakiku menuju kamar dalam rangka mengistirahatkan badan.

Lepas balik badan sesudah menutup pintu kamarku, tiba-tiba ponsel di tangan kiriku bergetar. Aku bergegas memeriksa dengan menunduk dan manik mata terarahkan ke layar setelah ponselku berada dalam genggaman kedua tanganku. Ada satu pesan dari adikku melalui sebuah aplikasi percakapan berlogo telepon warna hijau.

Aku sudah mencampurkan obat ke dalam minuman istriku.

Deg.

Aku tentu sengaja mendongak untuk menatap sesosok perempuan berpakaian serba tertutup di atas kasur selaku objek pikirku sekarang. Di sana, adik iparku sedang menggeliat aneh, seperti tidak nyaman karena kepanasan. Ah, tidak perlu dipertanyakan terus, aku sudah sangat paham sebabnya. Tapi, haruskah aku menunaikan tugasku sekarang? Terlebih lagi, situasi bisa dikatakan teramat menguntungkan sehingga nanti aku tidak usah kerepotan andaikan memperoleh perlawanan.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Liar Sang Mantan
8.2
Kejadian tak terduga menimpaku saat kakek melakukan tindakan nekat di dalam kamar. Di bawah ancaman agar tidak membangunkan adik, aku terjebak dalam situasi yang membingungkan sekaligus menggelisahkan. Sentuhan dan bisikannya membuatku kehilangan kendali hingga tubuhku terasa lemas tak berdaya. Saat kakek melancarkan aksinya lebih jauh dengan melucuti pakaianku, tiba-tiba lampu kamar menyala. Sebuah rahasia besar terancam terbongkar dalam keheningan malam itu.
Sampul Novel IDOL
8.6
IDOL
Raelyn Agatha menjalani hidup pahit, berpindah dari satu rumah kerabat ke rumah lainnya demi bertahan hidup. Di tengah keputusasaan untuk melarikan diri dari nasibnya, ia bertemu Min Ho, idol populer yang membawa keceriaan baru. Namun, kebahagiaan mereka terancam oleh kebencian publik dan penolakan keras dari orang-orang di sekitar sang bintang. Mampukah Raelyn mempertahankan cinta dan perasaannya meski seluruh dunia menentang hubungan mereka?
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
8.3
Hilda terpukul saat suaminya, Marsel, meminta untuk menjual rumah warisan orang tuanya demi investasi. Baru setahun menikah, Hilda tak menyangka Marsel begitu pragmatis hingga tega ingin melenyapkan satu-satunya memori fisiknya terhadap mendiang orang tua. Meski Marsel berdalih demi masa depan, Hilda tetap teguh mempertahankan aset tak ternilai tersebut. Konflik ini memicu keretakan besar, membuat Hilda mempertanyakan kembali sosok pria yang ia cintai.
Sampul Novel Obsesi Cinta Sang Pemain Wanita
8.5
Terjebak dalam ancaman Jonathan yang kejam, Devanda memilih nekat demi menghindari takdir kematian yang berulang. Ia memutuskan menikahi Andriyan, sepupu Jonathan yang dikenal sebagai playboy, dengan harapan pernikahan mereka mudah berakhir. Namun, sikap dingin Devanda justru memicu obsesi mendalam pada Andriyan. Di tengah kejaran Jonathan yang ingin merebutnya kembali, Devanda harus bertahan menghadapi dua pria berbahaya demi meraih kebahagiaan sejati.
Sampul Novel Pemuas Birahi Setengah Baya
9.5
Anisa terjebak dalam pusaran gairah yang tak terduga saat ia mengenal dunia para pria matang. Di balik usia mereka, tersimpan pengalaman dan maskulinitas liar yang membangkitkan sensasi baru bagi Anisa. Melalui setiap sentuhan dan godaan penuh misteri, ia menemukan sisi lain dari nafsu yang lebih mendalam. Terpesona oleh stamina dan daya pikat pria setengah baya, Anisa pun menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk menjadi pemuas birahi dalam hubungan yang panas ini.
Sampul Novel Sang Pewaris Pesantren
8.0
Mafayzah awalnya adalah sosok wanita impian yang bertahta di hati Gus Iqbal. Namun, jalinan asmara mereka hancur seketika saat pengkhianatan Mafayzah terungkap, meninggalkan luka mendalam yang membuat Gus Iqbal menutup diri dari cinta. Di tengah masa sulit itu, hadir sosok Neng Lia yang membawa keteduhan. Melalui sikapnya yang tulus serta ketaatan yang luar biasa, Neng Lia perlahan mampu meluluhkan kekakuan hati sang pewaris pesantren tersebut.