APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Magnet Cinta Sang Penguasa

Magnet Cinta Sang Penguasa

Evelyn adalah desainer berbakat yang kesulitan mewujudkan mimpinya karena modal terbatas. Saat pameran di New York, ia bertemu Alexander, miliarder ambisius yang menawarkan bantuan karier. Di balik sosoknya yang kaku, Alexander ternyata humoris dan penyayang hingga membuat Evelyn jatuh hati. Meski cinta mereka bersemi, perbedaan status dan rasa iri dari pihak luar mulai mengancam. Kini, keduanya harus berjuang mempertahankan hubungan dari badai rintangan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alexander menatap wanita itu dengan marah. "Dia yang memulainya!"

Wanita itu menggeleng. "Tidak, Alexander. Kau yang memulai. Dan kau yang harus berhenti."

Evelyn menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Dia tahu bahwa situasi ini bisa menjadi lebih buruk jika tidak segera dikendalikan. "Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat Anda marah," katanya dengan suara lebih tenang. "tetapi tidak ada alasan untuk mempermalukan seseorang seperti itu."

Alexander masih terlihat marah, tetapi dia tampaknya mulai menyadari bahwa tindakannya telah diperhatikan oleh banyak orang. "Aku tidak peduli," katanya akhirnya, dengan suara yang lebih rendah tetapi masih penuh amarah. "Kau seharusnya lebih hati-hati."

Evelyn mengangguk, meskipun hatinya masih berdegup kencang. "Mungkin begitu. tetapi mengapa kita tidak mencoba untuk menikmati malam ini tanpa membuat keributan lebih lanjut?"

Kerumunan mulai bubar perlahan, meskipun masih ada beberapa orang yang tetap menonton dengan penuh minat. Wanita tua itu, yang ternyata adalah ibu Alexander, menatap Evelyn dengan mata penuh penghargaan. "Terima kasih, Nona...?"

"Evelyn. ," jawabnya dengan sopan.

Alexander mendengus, tetapi tidak mengatakan apa-apalagi. Dia mengambil saputangan dari saku jasnya dan mulai mengelap wajahnya yang basah oleh anggur.

Evelyn tersenyum lemah. "Terima kasih. Saya hanya berharap kita semua bisa menikmati malam ini."

Elizabeth mengangguk. "Tentu saja, Evelyn. Mengapa kamu tidak ikut dengan saya ke ruangan sebelah untuk membersihkan diri? Saya yakin kita bisa menemukan sesuatu yang kering untukmu."

Evelyn menerima tawaran itu dengan lega. Dia berjalan mengikuti Elizabeth, meninggalkan Alexander yang masih berdiri dengan wajah masam. Di dalam ruangan sebelah, Elizabeth memberikan handuk dan air kepada Evelyn untuk membersihkan diri.

"Saya minta maaf atas apa yang terjadi tadi," kata Elizabeth saat Evelyn mengeringkan rambutnya. "Alexander memang punya temperamen yang sulit."

Evelyn tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Saya sudah mengalaminya sekarang."

Elizabeth tertawa kecil. "Ya, saya bisa melihat itu. Tetapi jangan biarkan hal ini merusak malam indahmu. Pameran ini adalah salah satu yang terbaik tahun ini."

Evelyn mengangguk. "Saya setuju."

Setelah membersihkan diri sebaik mungkin, Evelyn kembali ke pameran bersama Elizabeth.

Amarah Alexander terhadap Evelyn tidak mereda, malah makin membara. Dia merasa harga dirinya telah terinjak-injak oleh wanita yang menurutnya sangat sombong. Di sekelilingnya, beberapa anak buahnya berdiri siap menunggu perintah.

Alexander mengambil segepok uang dari tasnya dan melemparkannya di meja. "Dengar," katanya dengan suara penuh kebencian, "aku ingin tidur dengan wanita sombong itu malam ini. Berikan uang ini padanya, dia tidak akan pernah bisa menolak uang sebanyak ini."

Anak buahnya, seorang pria bertubuh besar bernama Tony, mengangguk dan mengambil uang tersebut. "Baik, Tuan Alexander. Saya akan segera menemui wanita itu."

Sementara itu, Evelyn sedang menikmati minuman, berbicara dengan beberapa teman yang baru dikenalnya. Dia mencoba melupakan insiden yang memalukan itu.

Tony mendekati Evelyn dengan langkah mantap. "Nona Evelyn?" panggilnya dengan nada serius.

Evelyn menoleh, melihat pria yang tampak mencurigakan itu. "Ya? Ada apa?" tanyanya sedikit waspada.

Tony mengeluarkan segepok uang dari tasnya dan meletakkannya di depan Evelyn. "Tuan Alexander mengirim saya. Dia ingin Anda menerima uang ini dan menemaninya malam ini."

Evelyn memandang uang itu dengan jijik. "Jadi, dia pikir saya bisa dibeli?" tanyanya dengan nada dingin.

"Ya, itu yang dia katakan," jawab Tony tanpa ragu.

Evelyn berdiri, menatap Tony dengan mata penuh kemarahan. "Katakan pada Alexander bahwa tidak semua orang bisa dibeli dengan uang," katanya sebelum melempar uang itu ke lantai di depan para tamu yang terkejut.

Tony mengumpulkan uang tersebut dengan cepat dan kembali ke Alexander. "Tuan, dia menolak dan melempar uangnya," lapor Tony dengan cemas.

Alexander mendengus marah. "Apa? Wanita itu benar-benar tidak tahu tempatnya!" katanya dengan suara keras. "Baiklah, jika dia ingin bermain keras, kita akan bermain keras."

Dia berdiri dan memberi perintah tegas pada anak buah lainnya. "Aku ingin kau menyelidiki segala hal tentang Evelyn. Cari tahu apa pun yang bisa kita gunakan untuk menjatuhkannya."

Anak buahnya, seorang pria bernama Mike, mengangguk. "Baik, Tuan. Kami akan mulai sekarang."

***

Evelyn berjalan menggerutu, merasa marah dan terluka atas tindakan Alexander yang menawarkan uang padanya untuk tidur dengannya. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat dengan beban penghinaan yang dia rasakan. Harga dirinya terasa diinjak-injak, dan itu membuatnya makin kesal.

"Bagaimana mungkin dia berpikir aku akan menerima tawaran menjijikkan itu?" gumam Evelyn kepada dirinya sendiri. "Apa dia pikir semua wanita bisa dibeli dengan uang?"

Tanpa dia sadari, Evelyn menabrak tubuh Alexander yang baru saja keluar dari toilet. Kemeja Alexander masih kotor, noda wine yang dia tuangkan ke arah Evelyn tampak jelas di sana.

"Hei, kau tidak hanya suka menginjak kaki seseorang, tetapi juga hobi untuk menabrak tubuh seseorang," ejek Alexander dengan senyum sinis di wajahnya.

"Kau pria yang tidak tahu malu," balas Evelyn dengan suara bergetar karena marah. "Aku telah meminta maaf, tetapi kau menuangkan wine kepadaku. Ketika aku membalasmu, apakah harga dirimu sangat terluka hingga harus menawarku uang untuk tidur denganmu?!"

Alexander tertawa kecil. "Oh, jadi kau merasa tersinggung, Evelyn? Aku hanya bercanda."

"Bercanda? Menawari seorang wanita uang untuk tidur denganmu itu bukan candaan. Itu penghinaan!"

Alexander mendekatkan tubuhnya pada Evelyn. Dia bisa merasakan panas tubuhnya dan napasnya yang berat. "Apa yang kau lakukan?" tanya Evelyn kaget, matanya melebar karena terkejut.

"Jika kau tidak mau tidur denganku, bagaimana dengan sebuah ciuman?" kata Alexander sambil mendekatkan bibirnya pada Evelyn yang tubuhnya sudah mentok pada dinding.

Evelyn merasa terperangkap, jantungnya berdetak kencang. "Jangan main-main denganku, Alexander," bisiknya dengan nada bergetar.

"Aku serius, Evelyn. Kau tahu, ada sesuatu tentangmu yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu," jawab Alexander, suaranya lembut namun penuh dengan niat.

Evelyn mencoba menghindar, tetapi tidak ada tempat untuk melarikan diri. "Kau pria yang sangat menyebalkan. mengapa tidak kau pergi saja dan tinggalkan aku sendiri?"

Alexander tersenyum dan menatap matanya dalam-dalam. "Karena aku tidak bisa, Evelyn. Ada sesuatu antara kita yang tidak bisa aku abaikan."

"Ini semua hanya permainan bagimu, bukan?" kata Evelyn dengan suara yang mulai serak. "Kau menikmati melihatku tersiksa."

"Bukan permainan, Evelyn. Aku hanya ingin tahu apakah kau merasakan hal yang sama."

"Tentang apa?" tanya Evelyn, meskipun dia tahu jawaban yang akan datang.

"Ketertarikan ini," jawab Alexander dengan yakin. "Ketegangan ini. Setiap kali kita bertemu, ada api yang tidak bisa kita padamkan."

Evelyn merasakan panas di pipinya. "Kau salah. Apa yang kau sebut ketertarikan hanyalah ilusi. Kau hanya pria sombong yang berpikir semua orang bisa kau miliki."

Alexander menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sombong, Evelyn. Aku hanya jujur. Dan kejujuran itu memberitahuku bahwa ada sesuatu di antara kita."

"Tidak ada yang seperti itu," Evelyn berusaha menepis pikiran yang mulai tumbuh di dalam dirinya. "Lepaskan aku."

Alexander tidak bergerak. "Katakan kepadaku, Evelyn. Jika aku mencium mu sekarang, apakah kau akan menghentikanku?"

Evelyn terdiam, jantungnya berdegup kencang. Alexander makin mendekat, dan dia bisa merasakan panas tubuhnya. "Jangan coba-coba," bisiknya lagi, namun kali ini dengan lebih sedikit keyakinan.

"Aku hanya ingin satu ciuman, Evelyn. Hanya satu," Alexander berkata, suaranya hampir seperti bisikan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A-PD170
8.1
Winnie harus menelan pil pahit saat Jako membatalkan pertunangan mereka di depan umum, tepat ketika keluarganya jatuh miskin. Terdesak oleh keadaan, ia nekat mengaku tengah mengandung anak Dion, paman Jako yang sangat berpengaruh. Tak disangka, Dion justru menerima klaim tersebut dan mengajaknya bekerja sama. Dimulailah pernikahan kontrak yang penuh dengan intrik, perhitungan matang, serta kesalahpahaman rumit yang menjerat perasaan mereka berdua.
Sampul Novel Gairah Liar Setelah Menikah
9.6
Kebahagiaan milyarder ini memuncak setelah menikahi akhwat impiannya. Namun, baru seminggu membina rumah tangga, sang istri mulai kewalahan menghadapi gairah suaminya yang tak terbendung. Sang suami terus meminta jatah di berbagai situasi, mulai dari ruang tamu hingga saat istrinya memasak di dapur. Meski sempat menolak karena sedang sibuk, sang istri akhirnya menyerah pada desakan suaminya. Keperkasaan sang suami yang luar biasa membuatnya lemas tak berdaya.
Sampul Novel Istri Dadakan Tuan Kejam
8.9
Kehilangan calon istri dalam kecelakaan tragis mengubah pria ini menjadi sosok kejam yang penuh dendam. Ia bertekad menghancurkan orang yang dianggap bertanggung jawab atas kematian kekasihnya. Demi membalas sakit hatinya, ia menikahi seorang wanita sebagai bagian dari rencana penghancuran. Namun, di tengah misi balas dendam tersebut, hatinya justru goyah. Kedekatan dengan istri barunya mulai menyentuh sisi kemanusiaan yang selama ini ia kunci rapat.
Sampul Novel Keturunan Rahasia
8.5
Akibat jebakan licik pamannya, Rajendra Antariksa melakukan kesalahan fatal terhadap Amara Lucia Haidar di masa lalu. Setelah sepuluh tahun hidup dalam penyesalan mendalam, pewaris Antariksa Group ini terkejut saat mengetahui Amara mengalami trauma berat dan telah melahirkan putranya secara rahasia. Namun, upaya Rajendra untuk menebus dosa tidaklah mudah. Ia justru menghadapi penolakan keras dari Amara, orang tuanya, bahkan anak kandung yang baru diketahuinya itu.
Sampul Novel Menikahi Pria Lumpuh
9.3
Kehidupan Gea Athena hancur seketika saat dikhianati oleh suaminya sendiri. Tanpa belas kasihan, ia dijual seharga tiga miliar rupiah kepada seorang pria yang menderita kelumpuhan. Tragedi memilukan ini memaksa Gea memasuki babak baru yang gelap dalam hidupnya. Terjebak dalam kesepakatan bisnis yang kejam, ia kini harus menghadapi takdir bersama sosok asing yang menjadi pemilik barunya. Sebuah kisah romansa modern tentang pengkhianatan dan perjuangan.
Sampul Novel Menjadi Istri Musuhku
9.8
Selena Grant, putri bangsawan Kota Seaview yang ambisius, tiba-tiba terbangun tanpa ingatan tentang tiga tahun terakhir hidupnya. Ia terkejut mendapati dirinya telah menikah dan rela merendahkan martabat demi mengejar cinta pria yang justru membencinya. Meski bukti pesan putus asa memenuhi ponselnya, Selena yang asli takkan membiarkan siapa pun menghinanya. Kini, ia bertekad membalas perlakuan buruk suaminya dan merebut kembali harga dirinya yang sempat hilang.