APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Makin Tua Makin Binal

Makin Tua Makin Binal

Kisah romansa modern ini secara khusus dihadirkan bagi pembaca yang sudah menginjak usia matang dan dewasa. Alur ceritanya mengeksplorasi sisi kehidupan yang lebih berani dan mendalam, sesuai dengan pengalaman hidup mereka yang telah lama melewati masa muda. Dengan narasi yang jujur dan blak-blakan, buku ini menyuguhkan dinamika hubungan yang penuh gairah serta intensitas emosional yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh audiens yang telah dewasa.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi berikutnya, suasana rumah Bu Intan sudah sedikit lebih sibuk dari biasanya. Bi Koni terlihat mondar-mandir ke dapur, lalu ke halaman depan, seperti menyembunyikan sesuatu.

"Ibu, pagi ini saya masak yang ringan-ringan aja ya... perut ibu kan kemarin udah disayangin sama bubur si Ganteng tuh," celetuknya sambil mengedip.

Bu Intan yang sedang menyiram anggrek di teras hanya menoleh dengan alis terangkat. "Bi... kamu jangan mulai lagi, deh..."

Tapi belum sempat selesai, suara roda gerobak berbunyi di kejauhan. Krek...krek...kreeek...

Dan betul saja. Gerobak bubur Mang Karna berhenti... tepat di seberang pagar rumah Bu Intan.

Namun kali ini, bukan Mang Karna yang mendorong gerobak.

"Hendra?" gumam Bu Intan, nyaris tak percaya.

Hendra yang mengenakan kaos putih polos dan celana jeans hitam itu sedang membuka tudung gerobak, mempersiapkan mangkuk, dan memotong seledri dengan cekatan.

Tampak Bi Koni menyembul dari balik dapur dengan wajah pura-pura polos. "Ibu, kemarin saya bilang ke Hendra, 'Gerobaknya pindah ke sini aja, lebih deket, lebih adem... lebih... ya gitu deh.'"

"Bi Koni... astaghfirullah..." Bu Intan menahan senyum, wajahnya mulai memanas.

Tapi terlambat. Hendra sudah melihat ke arah teras.

"Assalamualaikum, Bu Kades!" sapa Hendra sambil tersenyum ramah. "Saya nyusahin ya, mangkal di sini?"

Bu Intan terkesiap sejenak, tapi cepat menguasai diri. "Waalaikumsalam, Hendra... enggak, enggak... malah rumah ini jadi lebih rame, ya, karena bubur ayam si gantengnya deket."

Hendra tertawa kecil. "Wah, Ibu menggoda nih. Biasanya yang godain saya ibu-ibu komplek sebelah."

Dari balik jendela, Bi Koni nyengir lebar, 'YES, berhasil!' bisiknya dalam hati.

"Kalau Ibu sempat, cobain lagi bubur saya ya. Hari ini saya racik spesial."

Bu Intan tersenyum. "Boleh. Tapi jangan kasih porsi kecil ya. Takut nanti kangen."

Mereka berdua tertawa. Entah kenapa, pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya. Angin membawa aroma bubur ayam dan sesuatu yang lain-mungkin harapan yang mulai disusun ulang.

Tak jauh dari situ, Bi Koni sudah siap dengan mangkuk bersih dan sendok, melenggang ke depan pagar sambil bersiul-siul. Sambil pura-pura membantu, ia mencuri-curi pandang penuh semangat. 'Hendra, kamu gak tau aja... kamu lagi jadi malaikat penyelamat mood majikanku. Satu langkah lagi, semesta, bantu aku ya!'

Bu Intan berdiri di dekat gerobak bubur ayam dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan-campuran deg-degan, geli, dan gugup. Hendra sedang meracik mangkuk demi mangkuk bubur dengan ketelitian yang memikat. Gerakan tangannya cekatan, namun lembut seperti biasa. Aromanya wangi, tapi entah mengapa wangi itu seperti berasal dari orangnya, bukan kuah kaldu ayam.

Tiba-tiba...

"Woiiiiii! Itu Hendra kan?! Anak Mang Karnaaaa?!"

Suara cempreng Bi Ani, tetangga sebelah, langsung menembus udara pagi seperti sirine kebakaran.

Dalam hitungan menit, datanglah rombongan emak-emak kompleks-berkain, berbaju daster, bahkan ada yang masih pakai hair roller di rambut. Anak-anak kecil pun ikut mengekor, sambil teriak, "Bubur ayam! Bubur ayam!"

Bu Intan tertegun. Senyum manisnya yang semula eksklusif untuk Hendra, kini harus berbagi dengan tetangga.

"Bubur si ganteng nih! Emak-emak gak usah masaaakkkk!!!" teriak Bi Ani sambil melambai heboh. Tangan kirinya narik tangan Bu Yeti yang masih pakai kaos tidur.

"Minggir, Bu Kades. Yang muda duluan dong!" goda Rini sambil nyenggol manja, lalu terkekeh.

Bu Intan tersenyum... setipis mungkin. Tapi dalam hati, ia nyaris mendidih.

Hendra tetap tersenyum ramah, melayani satu per satu dengan sabar. "Satu pedas, tanpa kerupuk, ya Bu. Ini punya Bu Siska. Nah, yang ini spesial suwiran lebih banyak, punya Bu Euis."

Semua emak-emak berebut perhatian, tak mau kalah memuji.

"Duh, Hendra... kalo kamu jualan tiap hari, saya rela skip diet deh..."

"Hendra, nanti ikut arisan RT ya, kita butuh seksi dokumentasi. Kameranya pake hatiku boleh?"

Bu Intan nyaris pingsan karena geli dan... cemburu.

Ia berdiri agak ke samping, tersisih secara emosional maupun logistik. Mangkuk yang ia pesan tadi belum diambil-dan kalau ia tidak beringsut maju, bisa jadi malah ditaruh di kursi kosong dan dilupakan.

Sementara itu, Bi Koni yang menonton dari balik jendela tertawa geli.

"Yah, Bu... jangan kalah saing dong. Tuh emak-emak semua pada keluar taring. Tapi tetap... yang punya hati mah satu..." katanya sambil mengangkat alis penuh kode.

Bu Intan menggeleng-geleng pelan, berusaha menahan tawa dan cemburu dalam satu paket. Ia akhirnya maju lagi, sedikit menyela, dan dengan suara yang tetap lembut tapi cukup tegas berkata,

"Hendra... yang tadi buat saya mana ya? Sebelum disamber sama Bu Ani yang ngaku-ngaku masih jomblo."

Hendra tertawa kecil, lalu dengan luwes menyodorkan semangkuk bubur paling rapi plating-nya pagi itu.

"Ini dia, Bu Kades. Udah saya pisahin tadi. Yang ini buburnya gak cuma enak, tapi spesial... karena saya yang tuangin sambil deg-degan," bisiknya sambil nyengir.

Bu Intan mematung sejenak, lalu tertawa kecil. "Aduh, kamu jangan gitu, nanti buburnya asin sendiri..."

Emak-emak menoleh kompak. "Wuuuuuuuuuuu..."

Dan pagi itu, walau tak sepenuhnya berhasil menikmati momen privat seperti yang diharapkan, Bu Intan merasa hatinya tetap hangat. Bukan karena bubur, bukan karena godaan tetangga, tapi karena ada getar kecil yang tetap berhasil menyusup di sela riuhnya dunia.

Dan Bi Koni, yang kini sudah berdiri di pagar, hanya berbisik sambil mengunyah kerupuk,

"Slow aja, Bu... yang rame boleh rebutan, tapi yang spesial mah... tahu tempatnya pulang."

Setelah emak-emak membubarkan diri dengan senyum puas dan mangkuk bubur di tangan, suasana kembali tenang. Hanya angin pagi dan suara burung dari pepohonan kompleks yang menemani.

Bu Intan berdiri sedikit lebih dekat ke gerobak, masih menggenggam mangkuk buburnya yang sudah mulai hangat di tangan, tapi belum disentuh. Ia sedang menikmati keheningan yang sempat direbut tadi. Dan Hendra, yang sejak tadi sibuk, akhirnya menoleh dengan senyum yang lebih tenang.

"Bu Kades," ucapnya pelan, suaranya rendah dan sopan seperti biasa. "Saya mohon pamit... Besok pagi saya balik lagi ke pesantren."

Bu Intan tersentak pelan, lalu mengangkat wajah menatap Hendra, nyaris tak percaya.

"Oh? Kemarin katanya libur kuliah sampai dua minggu lagi?"

Hendra mengangguk kecil, wajahnya tetap teduh. "Kuliahnya masih libur, Bu. Tapi ada beberapa kegiatan khusus di pesantren. Amanah dari kyai. Insya Allah, kalau sudah selesai, saya langsung balik lagi. Mungkin masih sempat beberapa hari di kampung sebelum kuliah mulai lagi."

Ada jeda di antara mereka. Sunyi kecil yang menggantung antara dua orang dengan usia berbeda, latar berbeda, tapi kini mulai terhubung oleh satu hal yang sama: rasa nyaman.

Bu Intan menunduk sebentar, menatap bubur di tangannya. Aneh, tiba-tiba bubur ini seperti kehilangan selera.

"Ya sudah... kalau memang begitu," ucapnya pelan, mencoba menyembunyikan kekecewaan yang menumpuk diam-diam. "Kalau amanah dari Pak Kyai ya harus dijalankan. Saya ngerti, Ndra."

Hendra mengangguk pelan, seolah bisa menangkap nada getir di balik senyum Bu Intan.

"Doakan saya ya, Bu," ujarnya. "Dan... terima kasih sudah datang pagi-pagi ke gerobak. Saya nggak nyangka."

Bu Intan tertawa kecil, mencoba meredakan suasana. "Iya... saya juga nggak nyangka akhirnya beli bubur juga. Ternyata rasanya... enak, bikin nagih."

Hendra menunduk sedikit, matanya hangat. "Kalau saya balik nanti, saya anter langsung ke rumah ya, Bu. Biar nggak rebutan sama yang lain."

Bu Intan menatapnya sebentar, lalu tersenyum-kali ini benar-benar tulus. "Besok kalau berangkat lagi ke pesantren, hati-hati di jalan ya, Ndra."

Hendra mengangguk. "Siap, Bu Kades."

Dan setelah itu, Hendra kembali membereskan peralatan jualannya, meninggalkan Bu Intan dengan mangkuk bubur yang yang justru perlahan hatinya mulai dingin.

Bu Intan duduk di teras sambil menyendok bubur perlahan. Di dalam, Bi Koni mengintip dari balik tirai jendela, lalu buru-buru keluar membawa teh manis hangat.

"Lho, Bu... kok makannya jadi sendirian aja?"

Bu Intan tersenyum samar. "Hendra balik lagi besok ke pesantren. Cepet banget ya."

Bi Koni menyodorkan teh dengan ekspresi penuh simpati, tapi juga cerdik.

"Iya sih... tapi tenang aja Bu, saya udah siapain oleh-oleh buat Hendra ke pesantren. Hendra kan masih anak sepupu saya juga. Biar dia inget kampung-dan inget siapa yang menanti di sini..."

Bu Intan terbelalak. "Bi Koni!"

Bi Koni nyengir, "Santai Bu, cuma cemilan doang kok. Tapi isinya... ada foto ibu juga."

"Ihhh... Kamu keterlaluan!" Bu Intan tertawa sambil memukul pelan lengan Bi Koni. Tapi tawa itu-meski malu-malu-penuh warna.

Bi Koni menjawab santai, "Saya ini cuma ingin Ibu bahagia. Kalau bahagia itu harus sedikit nyocol... ya saya nyocol."

Dan pagi itu, meski awannya mulai menggantung, Bu Intan tahu satu hal: hati yang tersakiti bisa pulih... apalagi kalau mulai ada seseorang yang mau menyembuhkannya-walau cuma lewat semangkuk bubur ayam dan senyum tulus di pagi hari.

Langkah roda gerobak bubur itu menimbulkan suara berderit kecil di jalan paving kompleks yang mulai lengang.

Matahari belum tinggi, tapi sinarnya mulai menyusup lewat sela-sela pepohonan. Hendra mendorong gerobaknya perlahan, tak terburu-buru-seolah ingin memperpanjang momen pagi itu.

Di kepalanya, tak henti-hentinya terputar satu hal: senyum Bu Intan.

Senyum itu bukan sekadar ramah atau basa-basi. Ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang hanya bisa dikenali oleh orang yang pernah diam-diam menyimpan rasa.

Hendra tahu. Ia bisa membacanya. Tatapan yang sedikit lebih lama, gerak yang sedikit lebih lembut, dan... diam yang terasa dalam. Itu bukan hanya kagum. Itu luka yang sedang belajar percaya untuk sembuh.

Dan sejak semalam, setelah perbincangan dengan Bi Koni, pikiran Henddra tak tenang. Wanita yang dari dulu diam-diam ia hormati-sekaligus ia kagumi sebagai perempuan kuat, anggun, dan penuh karisma-ternyata menyimpan sesuatu yang selama ini tak pernah ia duga.

Bi Koni, dengan gaya blak-blakan khasnya, membuka semuanya.

"Hendra, saya tahu kamu anak baik. Tapi kadang perempuan butuh yang bukan hanya baik-tapi yang hangat. Yang bisa bikin dia merasa dilihat... dimengerti. Bu Intan itu terlalu lama sendiri, terlalu lama direndahkan suaminya dalam kesendirian. Kamu jangan berpikir beda usia."

Dan Hendra hanya bisa menunduk, wajahnya memerah. Ia tak menjawab, tapi detak jantungnya menjawab semuanya.

Ia ingat, dulu saat SMA, ia selalu memperhatikan Bu Intan dari jauh. Saat Bu Intan ikut pertemuan karang taruna mewakili Pak Kades, atau saat memberi sambutan di acara 17-an. Wajahnya tenang, tutur katanya elegan. Bahkan saat duka datang berkali-kali ke rumah tangganya, Bu Intan tetap tegar.

Tegar yang memikat. Tapi juga, kini Hendra tahu, menyimpan lelah.

Ia menghela napas panjang. Di jalan pulang itu, Hendra bukan lagi sekadar mahasiswa, santri, anak muda yang menggantikan bapaknya jualan bubur. Ia adalah lelaki normal yang sedang belajar memahami arti tanggung jawab perasaan dalam segala keterbatasannya.

Hendra ingin lebih lama di kampung, tapi Pak kyai memanggilnya. Amanah sudah menunggu. Mengajar santri pesantren kilat, menggantikan Ustaz yang berhalangan hadir.

Hendra menghentikan langkahnya sejenak, memandangi gerobak dengan spanduk bertuliskan "Bubur Ayam Mang Karna."

Ia tersenyum kecil.

"Pak, gerobak ini bukan cuma bawa bubur, ya..." gumamnya sendiri. "Tapi juga bawa hati dan harapan seseorang. Bahkan mungkin... dua orang beda generasi, hehehehe."

"Benarkah wanita itu makin tua, makin......?"

^*^

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arimbi
8.7
Hanna terpaksa menikahi Sultan setelah sebuah insiden di perkemahan desa memaksa mereka bersatu. Meski awalnya terlihat lembut, sifat Sultan berubah drastis setelah membawa Hanna ke kota. Hanna kini terkurung dalam rumah, terjebak aturan ketat tanpa diperlakukan layaknya istri sah. Sultan ternyata terobsesi menjadikannya pengganti Arimbi, cinta pertamanya yang menderita gangguan jiwa. Di bawah bayang-bayang masa lalu itu, masa depan Hanna hancur dalam tekanan mental yang berat.
Sampul Novel Dia Canduku
9.5
Dalam kondisi setengah sadar, Amira dikhianati oleh suaminya sendiri yang tega menjualnya kepada Raka, seorang pengusaha yang butuh pelampiasan. Pertemuan intim yang tak terduga itu ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi Raka hingga ia terus terbayang sosok Amira. Takdir kembali mempertemukan mereka secara mengejutkan di kediaman Raka seminggu kemudian. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah rahasia kelam di malam panas itu mulai terungkap?
Sampul Novel Identitas Asliku Menghancurkan Pacarku
9.1
Di hari pertama kuliah, Xander Harris mengantarku ke asrama, namun sambutan teman sekamarku sungguh buruk. Dia memuji kedewasaan Xander sembari menghinaku karena dianggap memakai barang mewah palsu. Ia terus menyindirku sebagai wanita materialistis yang bergantung pada pria tua demi kemewahan. Padahal, sosok pria kaya yang dia bicarakan sebenarnya adalah ayah kandungku sendiri. Sementara itu, Xander yang ingin kunikahi hanyalah putra dari sopir ayahku.
Sampul Novel Kabar Buruk Kehamilanku
9.7
Kebahagiaan Rike saat menunjukkan hasil tes kehamilan kepada sang suami seketika sirna. Sebuah berita mengejutkan muncul, mengklaim bahwa kehamilan tersebut terjadi sebelum mereka resmi menikah. Hal ini memicu kekecewaan mendalam bagi ibunda Rike yang kemudian menuduhnya telah berzina. Kini, Rike harus berjuang memulihkan kepercayaan ibunya. Namun, apakah tuduhan memilukan itu memang sebuah fakta yang tersembunyi? Simak perjuangan Rike mengungkap kebenaran.
Sampul Novel Kematianku Membuat Hatinya Hancur
8.8
Nathan Cross, bos mafia penguasa kegelapan, menikahi Jane Rivers yang ia cintai selama satu dekade. Jane merasa sangat dimuliakan hingga tahun kelima, saat ia hamil dan Nathan memaksanya menggugurkan janin itu demi wanita lain. Terungkap pula bahwa Nathan dalang kehancuran keluarga Jane. Hancur, Jane memalsukan kematiannya lewat bantuan musuh Nathan untuk kabur. Nathan pun meratap penuh penyesalan, namun luka Jane sudah terlalu dalam untuk dimaafkan.
Sampul Novel Kisah Cinta di Batukarut
8.6
Lihar dipercaya memimpin perusahaan pasir di Batukarut menggantikan Pak Ajat yang menyimpan dendam. Meski dibantu Dadun dan Om Joni, tantangan berat muncul dari kecurangan pekerja hingga teror gaib garam misterius yang memicu kecelakaan beruntun. Di tengah kemelut bisnis, hubungan asmara Lihar dengan Yeti terancam oleh kehadiran Erom hingga memicu keributan warga. Meski teguh menghadapi sabotase mistis, Lihar harus tegar saat kariernya stabil namun kisah cintanya justru hancur.