APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MALAM TERAKHIR DI KOTA

MALAM TERAKHIR DI KOTA

Menjelang hari pernikahannya, seorang pria memilih merayakan malam kebebasan terakhir bersama para sahabat. Namun, suasana pesta berubah mencekam saat rahasia masa lalu yang terkubur mulai terungkap ke permukaan. Kebenaran yang tak terucap itu kini menjadi ancaman nyata bagi rencana masa depannya. Di bawah lampu kota, hubungan pertemanan mereka diuji habis-habisan, sementara nasib pernikahannya pun berada di ambang kehancuran yang tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana di meja itu terasa begitu tegang setelah pengakuan Andi. Ardi masih duduk diam, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Hatinya terasa hancur, seperti ditusuk dari belakang oleh salah satu orang yang paling ia percayai. Sementara itu, Fira dan Reza juga terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

Malam yang seharusnya penuh tawa dan kenangan indah berubah menjadi arena rahasia gelap yang mengungkap diri satu per satu.

Namun sebelum Ardi bisa merespons apa pun, pintu bar terbuka, dan seorang wanita melangkah masuk dengan anggun. Langkahnya perlahan tapi penuh keyakinan, seolah-olah ia tahu betul ke mana tujuannya.

Rambut panjang hitamnya tergerai, dan senyum tipis menghiasi wajahnya yang cantik. Saat matanya menangkap sosok Ardi, senyum itu sedikit melebar.

Itu Nadia-cinta pertama Ardi, sosok yang tak pernah ia bayangkan akan muncul di malam seperti ini. Mereka tidak pernah lagi berbicara sejak perpisahan mereka bertahun-tahun lalu, dan hanya bayang-bayang masa lalu yang tersisa dari hubungan itu. Kehadiran Nadia, seperti angin dingin yang masuk ke dalam bar, membuat Ardi merasakan kekacauan lain di dalam dirinya.

"Ardi?" Nadia memanggil dengan lembut namun cukup untuk membuat semua orang di meja menoleh. "Sudah lama sekali."

Ardi menatapnya, masih setengah terkejut, seolah-olah dia tidak yakin apakah ini nyata atau hanya halusinasi dari pikirannya yang sudah terlalu terbebani oleh rahasia malam itu. Ia mencoba berbicara, tetapi kata-katanya tercekat di tenggorokan. Fira, yang duduk di sebelah Ardi, langsung memperhatikan perubahan ekspresi di wajahnya.

"Nadia?" akhirnya Ardi berkata dengan suara yang lebih lemah dari yang ia maksudkan. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

Nadia tersenyum lembut, seolah tidak menyadari ketegangan yang tiba-tiba merundung meja itu. "Aku sedang di kota untuk urusan pekerjaan. Aku dengar dari teman kita, bar ini sering kamu kunjungi. Jadi, kupikir kenapa tidak mampir dan melihatmu lagi?"

Fira dan Reza saling bertukar pandang. Mereka jelas merasa bingung dengan kemunculan tiba-tiba wanita ini. Fira, yang sudah menyimpan perasaannya untuk Ardi selama bertahun-tahun, merasakan ketidaknyamanan mengalir dalam dirinya. Sementara itu, Reza hanya bisa tersenyum kaku, belum yakin apakah ini akan menambah komplikasi baru atau justru mengalihkan ketegangan sebelumnya.

Andi, yang tadi baru saja mengungkapkan rahasia terbesarnya, menunduk dalam diam. Kemunculan Nadia, cinta pertama Ardi, tampaknya menjadi peringatan bahwa malam ini tidak akan berakhir baik.

"Eh, duduklah bersama kami," ujar Ardi, meski suaranya masih terdengar canggung. Dia berusaha menormalkan situasi, tetapi semua orang di sana tahu betul bahwa ini bukan pertemuan biasa.

Nadia tersenyum lebih lebar. "Terima kasih, tapi aku nggak bisa lama-lama. Aku cuma ingin lihat kabarmu, Ardi." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih pelan, "Dan mungkin ada beberapa hal yang ingin kita selesaikan."

Kata-kata itu membuat jantung Ardi berdetak lebih kencang. "Menyelesaikan sesuatu?" pikirnya. Perpisahan mereka dulu memang penuh drama, tapi dia tidak pernah membayangkan akan ada penyelesaian lagi.

Hubungan mereka, yang dulunya penuh cinta dan gairah, berakhir dengan pertengkaran hebat yang menyebabkan mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.

Fira, yang sudah merasa tidak nyaman sejak percakapan di luar bar, kini semakin gelisah. Dia tahu siapa Nadia, meskipun Ardi jarang membicarakannya. Melihat wanita itu muncul sekarang, pada malam yang begitu penting, terasa seperti petir yang menyambar di tengah badai.

Reza, yang merasakan ketegangan di udara, mencoba mencairkan suasana. "Nadia, kenalin, aku Reza. Kita belum pernah ketemu, kan?"

Nadia tersenyum ramah dan mengangguk. "Belum, tapi aku pernah dengar tentang kamu. Kamu teman dekat Ardi, kan?"

"Yup, sudah lama banget kita berteman," jawab Reza cepat. "Malam ini kita lagi... ah, sedikit reuni kecil-kecilan sebelum Ardi menikah."

Mendengar kata-kata 'menikah', mata Nadia sedikit menyipit. Dia menatap Ardi dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ada campuran antara kekecewaan dan kerinduan di dalamnya.

"Menikah, ya?" tanya Nadia pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri. "Aku dengar kabarnya, tapi nggak pernah sangka ini akan datang secepat ini."

Ardi merasakan tubuhnya menegang. Kemunculan Nadia sudah cukup mengganggu, dan sekarang pembicaraan tentang pernikahan membuat segalanya semakin rumit. Fira diam-diam mengamati ekspresi Ardi, mencoba menangkap apa yang sedang ia pikirkan. Sementara itu, Andi, yang masih tenggelam dalam rasa bersalah, menatap ke bawah, merasa bahwa kehadirannya di meja ini hanya memperparah situasi.

"Aku senang kamu baik-baik saja, Ardi," lanjut Nadia. "Aku nggak mau ganggu malam kalian. Aku cuma... aku cuma ingin bilang kalau aku masih ingat kita. Aku ingat apa yang kita punya dulu."

Perasaan campur aduk memenuhi kepala Ardi. Semua kenangan dengan Nadia tiba-tiba muncul kembali-masa-masa mereka jatuh cinta, momen-momen indah yang diikuti oleh pertengkaran besar yang berakhir dengan perpisahan. Dia tidak pernah berpikir akan bertemu lagi, apalagi dalam situasi seperti ini.

"Nadia, aku..." Ardi mencoba berkata, tapi Nadia mengangkat tangan, menghentikannya.

"Nggak usah, Ardi," katanya dengan senyum tipis. "Aku nggak di sini untuk membawa masa lalu kembali. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa... meskipun kita nggak pernah lagi bicara setelah perpisahan itu, aku masih memikirkan kamu. Dan aku harap kamu bahagia."

Kata-kata itu terasa seperti beban tambahan yang menggantung di bahu Ardi. Sebelum ia sempat merespons, Nadia berbalik dan berjalan keluar dari bar, meninggalkan keheningan yang berat di meja itu.

Ketika pintu bar tertutup di belakang Nadia, Ardi merasa seperti baru saja menatap bayangan masa lalunya yang paling dalam. Malam itu semakin dipenuhi oleh rahasia dan kebingungan, dan Ardi tahu bahwa apa pun yang terjadi selanjutnya, malam terakhir ini tidak akan pernah dia lupakan.

Ardi masih duduk terpaku setelah kepergian Nadia, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Suasana di meja terasa semakin berat, hampir tidak bisa tertahankan. Reza mencoba memecahkan keheningan dengan tawa canggung, tetapi tidak ada yang menanggapi.

Fira, yang duduk di sebelah Ardi, tampak gelisah. Dia tahu betul siapa Nadia bagi Ardi di masa lalu, dan meskipun dia tidak pernah menyebutkan perasaannya, malam ini, perasaan itu terasa semakin sulit disembunyikan. Dia berusaha tetap tenang, tetapi tatapannya tak bisa lepas dari wajah Ardi.

Reza akhirnya angkat bicara. "Gila, bro, ini kayak drama ya. Mantan lama muncul pas lu mau nikah. Apa yang sebenernya terjadi sih?"

Ardi menatap Reza dengan wajah kosong, tidak yakin harus mulai dari mana. "Gue nggak tahu, Rez. Gue bahkan nggak pernah berpikir bakal ketemu Nadia lagi, apalagi di malam kayak gini."

Fira akhirnya bersuara, suaranya sedikit bergetar. "Ardi, apa kamu masih... masih ada perasaan buat dia?"

Pertanyaan itu membuat Ardi menatap Fira dalam-dalam. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam di balik pertanyaan itu. Fira bukan hanya teman-dia sudah menjadi seseorang yang selalu ada di sampingnya selama bertahun-tahun, meski mereka tidak pernah benar-benar mendefinisikan hubungan mereka.

"Nggak, Fir," jawab Ardi, suaranya lemah tapi tegas. "Itu udah lama sekali. Gue nggak pernah berpikir bakal kembali ke masa itu. Sekarang gue fokus sama rencana nikah gue."

Fira tersenyum tipis, tapi jelas ada kelegaan yang samar di wajahnya. "Oke. Aku cuma khawatir, karena... ya, kamu tahu, dia cinta pertama kamu. Kadang-kadang hal-hal yang nggak selesai bisa bikin bingung."

Reza mengangguk, menambahkan. "Benar, cinta pertama itu susah dilupain, bro. Gue paham banget. Tapi kalau Nadia datang dengan tujuan bikin masalah, lu harus hati-hati. Sebentar lagi lu nikah."

Ardi menatap ke meja, teringat kembali kata-kata Nadia sebelum ia pergi. "Aku masih ingat kita." Dia tidak tahu harus merasa apa. Masa lalu dengan Nadia adalah sesuatu yang pernah sangat berarti baginya, tapi perpisahan mereka juga menyakitkan. Dan sekarang, muncul di tengah malam penting ini, Nadia seolah membuka luka lama yang sudah lama tertutup.

Tiba-tiba, Andi yang sejak tadi diam mulai berbicara lagi, suaranya terdengar lebih berat. "Lu pikir lu punya masalah sekarang, Di? Apa yang gue bilang tadi masih lebih buruk."

Semua mata tertuju pada Andi. Ardi, yang masih memikirkan Nadia, merasa kemarahan yang sempat terpendam mulai bangkit lagi. "Iya, soal lu dan Citra," jawab Ardi, kali ini nadanya lebih dingin. "Apa lu pikir gue bakal lupa soal itu?"

Andi menarik napas dalam-dalam, berusaha menjelaskan. "Gue nggak bilang itu untuk bikin semuanya lebih kacau. Gue cuma... gue nggak tahan lagi simpan rahasia itu, bro. Gue tau gue salah, gue tau gue bikin kesalahan terbesar dalam hidup gue. Tapi, gue nggak mau ini terus mengganggu persahabatan kita."

Ardi menatap Andi dengan mata tajam. "Lu tidur sama pacar gue waktu itu, Ndi. Lu pikir gue bisa lupa begitu aja?"

Andi menunduk, rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya. "Gue ngerti kalau lu marah, Di. Dan lu berhak. Tapi gue harap kita bisa cari jalan keluar dari ini. Gue nggak mau kehilangan persahabatan kita."

Reza, yang sedari tadi mendengarkan, merasa tegang dengan situasi ini. "Oke, ini udah mulai panas. Gimana kalau kita tenang dulu sebentar, bro? Kita semua tahu Andi salah, tapi mungkin kita harus pikirin baik-baik sebelum makin parah."

Fira, yang juga melihat suasana semakin memanas, mencoba ikut meredakan. "Ardi, aku tahu ini berat. Tapi malam ini seharusnya malam yang menyenangkan buat kamu. Jangan biarkan hal-hal ini menghancurkannya."

Ardi menghela napas berat, merasakan tekanan di kepalanya semakin besar. Nadia, pengkhianatan Andi, dan pernikahan yang semakin dekat-semua terasa berputar di pikirannya, menambah beban yang semakin sulit ia tanggung. Dia tahu dia harus membuat keputusan, tapi malam ini terasa seperti malam yang penuh dengan pilihan sulit.

Ardi akhirnya berdiri, wajahnya penuh kelelahan. "Gue nggak tahu gimana harus menyelesaikan ini sekarang. Gue perlu keluar sebentar. Sendirian."

Tanpa menunggu tanggapan, Ardi berjalan keluar dari bar, meninggalkan teman-temannya dalam keheningan yang penuh kegelisahan. Malam yang seharusnya menjadi perayaan kini berubah menjadi malam yang penuh dengan rahasia, penyesalan, dan rasa sakit.

Di luar, udara malam yang dingin menyentuh wajah Ardi. Ia menatap langit kota yang kelabu, seolah berharap mendapatkan jawaban dari kebingungannya. Namun, jawaban itu belum juga datang. Yang tersisa hanyalah malam yang panjang dan penuh pertanyaan.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Jadikan Kau Ratu
9.7
Darren Gerald rela mendekam di penjara dan nyaris tewas demi menolong perempuan yang ia cintai. Meski sempat ingin menyerah, ia memilih tetap setia mendampingi sang kekasih yang kini berstatus janda dan mengidap gangguan mental. Namun, saat orang tua pihak wanita memberikan restu, rintangan baru muncul dari Rossi, ibu kandung Darren. Rossi menentang keras hubungan tersebut. Darren kini terjebak dalam dilema antara baktinya pada ibu atau memperjuangkan cintanya.
Sampul Novel Berakhir Menjadi Tawanan
9.5
Hidup di ibu kota memaksa Liana bekerja keras demi menghidupi adik-adiknya. Dari berpindah kontrakan hingga menjadi pacar kontrak, semua ia lakoni demi uang. Namun, rencana hidupnya berantakan saat bertemu Arsen, pemilik kos barunya. Pria misterius ini tidak hanya mengusik ketenangan Liana, tetapi juga menyeretnya ke dalam situasi pelik yang tak terbayangkan. Kini, kehadiran Arsen menjadi badai besar yang bisa menghancurkan atau justru menyelamatkan masa depan Liana.
Sampul Novel Buku Harian TKW
8.6
Rendra Pradhana dan Maya Septa bermimpi membangun rumah tangga indah, namun masa lalu kelam menghantui mereka. Kematian Lastri melibatkan ayah Rendra dan memicu kebencian keluarga Maya. Meski berhasil menikah, badai ekonomi dan konflik terus menguji kesetiaan mereka. Demi bertahan hidup, Maya terpaksa menjadi TKW di Malaysia. Benarkah kutukan leluhur Mbah Karso yang menentang persatuan dua keluarga ini menjadi nyata? Akankah cinta mereka sanggup melawan takdir?
Sampul Novel Elegi of Rosr
9.1
Pasca gagal menikah, hidup Ayu Suwarjo hancur hingga ayahnya terpaksa menjaminkan dirinya pada Roy Punda demi menyelamatkan bisnis keluarga. Lewat kontrak enam bulan, Ayu terikat pernikahan paksa dengan pria sombong tersebut demi kebahagiaan ibunya. Meski awalnya menolak, Ayu harus berjuang menjaga sikap di depan suami barunya. Di tengah rahasia dan petualangan yang menguji kesetiaan, akankah sandiwara pernikahan sementara ini berubah menjadi ikatan cinta yang abadi?
Sampul Novel Jangan Hancurkan Hatiku
8.2
Evelyn Carter dianggap wanita paling beruntung saat dipersunting Victor Blake, pewaris aristokrat Beaumont yang berjanji melindunginya meski ia memiliki kekurangan fisik. Namun, kebahagiaan itu hancur saat Evelyn mengungkap fakta kelam bahwa suaminya sendiri yang menyebabkan cacat pada kakinya. Merasa dikhianati oleh pria yang sangat ia percayai, Evelyn kini bertekad bangkit dari keterpurukan dan memulai lembaran hidup baru demi membalas semua kepedihannya.
Sampul Novel Miss Black Puteri CEO Yang Terbuang
9.4
Rose tumbuh menderita sebagai yatim piatu hingga Denzel mengungkap identitasnya sebagai putri CEO Louis Brown. Demi keamanan, ia menyamar menjadi Rose Carter, mahasiswi berprestasi sekaligus violinis rahasia bernama Miss Black. Konflik memuncak saat Luke, putra angkat ayahnya, memaksa Rose menikah demi harta. Di tengah teror Peter dan Hendrick yang mengincar nyawanya, benci berubah menjadi cinta. Rose harus berjuang melawan pengkhianatan demi kebahagiaan bersama Luke.