APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Suami Ingin Cintaku Kembali

Mantan Suami Ingin Cintaku Kembali

Dua tahun Aulia menjalani pernikahan hampa bersama Arya. Meski telah lama berpisah, Arya masih terobsesi dengan mantan istri pertamanya, Dinda. Merasa selalu menjadi prioritas kedua, Aulia akhirnya memilih menyerah dan mengakhiri hubungan mereka. Namun, setelah perceraian terjadi, Arya justru datang mengejar dan memohon kesempatan kedua untuk menebus kesalahannya. Aulia kini bimbang, apakah ini cinta tulus atau sekadar permainan ego Arya yang lama?
Bab
Bagikan

Bab 3

Langit malam itu kelam, dan udara terasa semakin dingin. Angin berhembus lembut, berdesir melewati celah-celah pintu, membawa bau tanah yang lembab. Aulia berdiri di ambang pintu, menatap Arya yang berdiri di depannya dengan mata penuh harap, hampir seperti seorang anak yang takut kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Wajahnya terlihat kelelahan, lebih tua dari yang terakhir kali ia lihat. Mungkin karena penyesalan yang menggerogoti dirinya setiap detik, mungkin juga karena terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Tapi di mata Arya, Aulia hanya melihat satu hal-kesepian yang sama. Kesepian yang sudah terlalu lama mereka rasakan bersama, dan kini hanya tersisa antara mereka berdua.

"Aulia," kata Arya dengan suara yang rendah, hampir berbisik, seperti ada bagian dari dirinya yang takut jika suara itu terlalu keras akan mengusik perasaan Aulia lebih dalam. "Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa... aku tahu aku sudah terlalu banyak menyakiti hati kamu, tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin mencoba lagi, Aulia. Tolong beri aku kesempatan."

Aulia menggigit bibir bawahnya, menahan agar air mata yang sudah menggenang tidak jatuh begitu saja. Setiap kali Arya berbicara, setiap kali ia melihat pria ini dengan harapan yang tertulis jelas di wajahnya, hatinya teriris. Tapi di saat yang sama, ada keraguan yang semakin menguat. Ia tahu, dan ia sangat tahu, bahwa untuk memulai kembali, mereka harus membayar harga yang sangat tinggi. Dan Aulia sudah tidak tahu lagi apakah ia cukup kuat untuk menanggung semua rasa sakit itu.

"Bagaimana caramu ingin memperbaiki semuanya, Arya?" Aulia berbicara dengan suara yang gemetar, namun ia berusaha agar kata-katanya tetap terdengar tegas. "Apa yang bisa kau lakukan sekarang yang belum pernah kau lakukan dua tahun lalu? Apa yang bisa kau beri yang aku belum dapatkan?"

Arya menunduk, seolah tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Wajahnya memucat, dan dalam diamnya, Aulia bisa melihat betapa hatinya hancur. Namun, di sisi lain, hatinya juga hancur. **Mengapa ia harus merasa seperti ini? Mengapa ia masih harus bertahan dengan cinta yang begitu mengikat, sementara yang ia dapatkan hanyalah bayang-bayang?**

"Aulia, aku minta maaf," suara Arya kembali terdengar, dan kali ini terdengar lebih pecah, seolah ia berjuang untuk menahan tangis yang hampir meledak. "Aku tak pernah berniat untuk membuatmu merasa seperti itu. Aku tak pernah berniat untuk membuatmu merasa tak penting, untuk membuatmu merasa seperti kamu tidak pernah ada di hati aku. Tapi aku sudah kehilangan kendali. Aku terlalu takut kehilangan Dinda, dan aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu aku bisa seburuk itu."

Aulia terdiam. Apa yang bisa ia katakan? Apa yang bisa ia rasakan? Bukankah ini hanya siklus yang terus berulang? Bukankah ini hanya bagian dari kebohongan yang tidak pernah selesai? Arya selalu kembali, selalu berkata ingin memperbaiki, namun kenyataannya, itu hanya omong kosong yang tak pernah terwujud. Hati Aulia sudah terlalu banyak terluka, terlalu banyak berharap pada janji-janji yang akhirnya hancur.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi, Arya," Aulia akhirnya membuka suara, suara itu pecah, dan terasa begitu berat, seperti ada beban yang sangat besar yang terpaksa harus ia keluarkan. "Aku tidak tahu apakah aku bisa menerima cintamu setelah semua yang telah terjadi."

"Aulia..." Arya melangkah maju, hampir mendekatinya, namun Aulia mundur beberapa langkah, memagari dirinya dengan jarak yang tidak bisa didekati. "Aku tahu aku tidak bisa mengubah masa lalu, aku tahu aku tidak bisa menghapus semua yang sudah terjadi, tapi aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa berubah. Aku ingin kamu tahu, bahwa tanpa kamu, hidupku kosong. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan tanpa kehadiranmu. Aku butuh kamu, Aulia. Aku ingin kita mencoba lagi, kalau kamu mau."

Aulia menatap Arya dengan perasaan yang bercampur aduk-marah, terluka, dan rindu. Rindu yang tak pernah padam, meskipun ia mencoba untuk menahannya, untuk menutupinya. Ia ingat betul bagaimana dulu mereka saling berbicara tentang masa depan, tentang impian yang mereka bangun bersama. Tapi kini, impian itu terasa begitu jauh, seperti sesuatu yang sudah tidak bisa diraih lagi.

"Bagaimana aku bisa percaya padamu, Arya?" Aulia berkata dengan suara yang hampir pecah. "Kau berkata ingin berubah, tapi apa yang menjamin aku bahwa ini bukan kebohongan yang sama? Apa yang membuatmu yakin bahwa kali ini, kita tidak akan berakhir di tempat yang sama? Apa yang akan mengubah segalanya, kalau pada akhirnya, Dinda selalu ada di antara kita?"

Arya terdiam. Matanya tertunduk, dan Aulia bisa melihat bahwa pertanyaannya itu begitu menusuk. Sepertinya Arya tidak punya jawaban yang bisa membenarkan dirinya. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa kata-katanya itu benar-benar tulus, tidak ada yang bisa menjamin bahwa ia akan meninggalkan bayangan masa lalunya dan sepenuhnya mencintai Aulia tanpa syarat.

"Aku... aku tidak tahu," jawab Arya, suara itu terdengar begitu rapuh. "Aku hanya tahu bahwa aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Dan kali ini, aku benar-benar ingin kamu menjadi prioritas utamaku. Hanya kamu, Aulia. Hanya kamu."

Tapi Aulia sudah terlalu banyak terluka. Ia sudah terlalu sering merasa terabaikan, meskipun ia tahu, di dalam hatinya yang terdalam, bahwa Arya memang mencintainya. Tapi cinta itu, cinta yang tidak sepenuhnya diberikan, cinta yang setengah hati, tidak bisa membuat Aulia merasa dihargai.

"Aku sudah cukup, Arya," Aulia berkata dengan suara yang semakin keras, meskipun ada tetesan air mata yang mengalir di pipinya. "Aku sudah cukup mencintaimu dalam diam. Aku sudah cukup berharap tanpa pernah mendapatkan apa yang pantas aku dapatkan. Aku tidak bisa lagi menjadi pilihan kedua. Aku tidak bisa lagi hidup dalam bayanganmu dan bayangan Dinda."

Arya berdiri di sana, matanya penuh dengan air mata yang belum jatuh. Ia merasa dunia sekitarnya runtuh. "Aulia, jangan..." ia berusaha meraih tangan Aulia, tetapi Aulia menarik tangan itu dengan cepat.

"Aku bukan orang yang kau butuhkan, Arya. Dan aku sudah cukup lelah menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Mungkin ini waktunya aku untuk pergi, dan pergi jauh darimu. Untuk sekali saja, aku ingin merasa bebas. Tanpa bayangan, tanpa penyesalan. Aku ingin hidup untuk diriku sendiri."

Aulia berbalik dan berjalan menjauh. Setiap langkahnya terasa berat, setiap napasnya terasa lebih sulit, tetapi ia tahu, ini adalah pilihan yang benar. Meski hatinya masih tercabik-cabik, meski ia masih mencintai Arya dengan segenap jiwa, ia tahu satu hal: ia tidak bisa hidup di antara ketidakpastian, dan ia tidak bisa membiarkan dirinya terus terluka oleh seseorang yang tidak pernah bisa sepenuhnya hadir.

"Selamat tinggal, Arya," bisiknya, tanpa menoleh lagi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bertukar Peran Dipelaminan
8.1
Eveline terjebak dalam nasib kelam karena kemiripan wajah dengan kakaknya, Mariana. Di hari pernikahan, ia dipaksa menggantikan Mariana yang hamil akibat hubungan gelap demi menjaga nama baik keluarga. Eveline setuju menyamar hanya satu malam dengan rencana memberi obat tidur kepada Viktor, sang mempelai pria. Namun, janji Mariana untuk bertukar posisi kembali esok hari justru memicu komplikasi besar yang membongkar rahasia kelam keluarga mereka.
Sampul Novel Bos Terkutuk: Jauhi Aku!
8.6
Lima tahun pengabdian Valerie sebagai sekretaris berujung sia-sia saat Edwin membuangnya ke kantor cabang. Namun, pengasingan itu justru menjadi awal kebahagiaannya. Saat seorang pria baru mendekat dan warisan miliarder dari ayahnya menanti, Valerie menyadari betapa suram masa lalunya. Ketika Edwin yang sombong menuduhnya gagal move on di sebuah pesta, Valerie dengan berani membalas ejekan mantan bosnya itu. Kini, roda berputar dan dialah yang memegang kendali.
Sampul Novel Bucinnya Cowok Temprament
9.2
Bastian Theo Raymond dan Liliana Mahendra terpisah selama lima tahun akibat kecelakaan yang memicu amnesia. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Theo jatuh hati pada Lili yang kini menjadi dokter. Demi meminang Lili, Theo rela menyerahkan sepuluh miliar kepada ayah Lili. Meski temperamen, Theo berubah menjadi sangat bucin. Di sisi lain, Lili mulai merangkai kepingan ingatan masa lalunya melalui sentuhan Theo guna mempertahankan pernikahan rumit mereka.
Sampul Novel Derita Penantian Cinta
8.6
Almira adalah sarjana asal desa yang bekerja di perusahaan swasta. Tekanan muncul saat ayahnya mendesak Almira segera menikah karena sang adik sudah bertunangan. Sang ayah takut Almira akan sulit mendapat jodoh jika dilangkahi adiknya, yang dianggap sebagai aib keluarga. Meski dipaksa melalui berbagai perjodohan, Almira menolak semua pria itu karena merasa tidak cocok. Sikapnya memicu kemarahan ayah yang kini melabeli Almira sebagai gadis sombong dan pemilih.
Sampul Novel Dimanjakan suami kontrak
9.1
Terikat trauma pengkhianatan yang sama, aku dan seorang duda kaya sepakat menjalani pernikahan kontrak tanpa cinta. Rencanaku sederhana: melahirkan, menerima bayaran, lalu pergi demi masa depan adikku. Namun, takdir menyeretku ke pusaran konflik para penguasa. Saat aku bersikeras bahwa aku bukan siapa-siapa baginya, dia justru mengikatku dalam pernikahan sungguhan. Kini, di tengah ancaman yang mengincar, sang suami kontrak justru menjadi pelindung utamaku.
Sampul Novel Gadis Nakal Itu Milikku
9.4
Grace jatuh terduduk dalam kehancuran setelah dipermalukan oleh Edward. Tidak ada lagi sikap keras kepala yang biasa ia tunjukkan. Di tengah isak tangisnya, Edward mendekat dan memeluknya erat sambil memohon maaf. Edward mengaku tindakannya dipicu oleh kecemburuan melihat kedekatan Grace dengan Kevin. Meski emosinya sempat meledak, Edward menyadari perasaannya yang kacau. Ia mencium kening Grace, berusaha menjelaskan sesak di dadanya yang selama ini tak ia pahami.