APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Suamiku

Mantan Suamiku

Dua tahun pasca perceraian, Aurora kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Meski hubungan mereka telah berakhir, Henry tidak berniat melepaskannya begitu saja. Dengan berbagai taktik licik, Henry bertekad menaklukkan kembali hati Aurora dan memilikinya secara utuh. Di tengah deburan ombak, api gairah yang membara membawa mereka ke dalam penyatuan intim yang penuh damba. Meski penuh kerumitan, Henry terus berusaha menjerat Aurora dalam jerat asmara yang tak terelakkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bersamaan dengan semilir angin pagi, Aurora mengendarai mobilnya berwarna merah menyusuri jalan yang ramai. Kendaraan-kendaraan melintas dan banyak anak-anak berjalan kaki di trotoar hendak pergi ke sekolah. Mobil Aurora berhenti tepat di depan lampu merah. Seorang laki-laki paruh baya menyebrang tepat di depannya, melemparkan senyum padanya. Aurora membalas senyumannya. 

Lampu lalu lintas kembali menyala hijau. Aurora kembali melajukan mobilnya. Kedua tangannya mencengkeram erat kemudinya tiap kali ia teringat pertemuannya dengan mantan suaminya tadi. Entah apa yang pria itu inginkan darinya? Gelagat Henry terlihat mencurigakan di depan matanya. Aurora yakin pria itu sedang merencanakan sesuatu lagi. Ia tidak boleh terjebak dalam permainan lelaki itu. 

Mobil sedan berwarna merah itu masuk ke kawasan pelabuhan dimana perusahaan pelelangan ikan milik keluarganya, Blue Sea Corps berada. Aurora memarkirkan mobilnya dengan mulus tepat di samping perusahaan. Aroma laut dan garam langsung menyambutnya begitu keluar dari mobilnya. Sepatu hak merahnya menimbulkan irama di jalanan beraspal ketika Aurora berjalan. Ia langsung menuju ruangan kakaknya. 

"Apa Kakakku ada di dalam?" tanya Aurora pada sekretaris kakaknya. 

"Tuan Stockwell ada di dalam." 

Aurora membuka pintu dan sang kakak terkejut saat melihat Aurora datang dengan wajah kesal. 

"Ada apa kamu datang ke sini?" 

"Tadi aku bertemu dengan Henry." 

"Jadi itu yang membuatmu terlihat kesal pagi ini?" 

"Itu salah satunya dan satunya lagi aku kesal padamu, karena kamu gagal mendapatkan investor. Seharusnya kamu memanfaatkan kesempatan untuk memenangkan hati Tuan Lyod untuk berinvestasi di sini." Aurora mengibaskan rambutnya yang pirang. "Dan Henry menawarkan untuk membantu perusahaan kita." 

"Hei itu bukan sepenuhnya salahku. Dia mendapat penawaran lebih bagus dari perusahaan lain dan apa kamu menerima tawaran Henry?" Vernon beranjak dari kursi, lalu bersandar di pinggir meja dengan menyilangkan kakinya. 

"Apa kamu sudah gila, Vernon? Aku tidak ingin ada hubungan lagi dengan pria gila kerja seperti Henry, bahkan yang selalu ada dipikirannya kerja dan kerja." 

Vernon menatap adik perempuannya dengan penuh selidik. "Kalian berdua tidak mau saling mengalah sejak kalian menikah dan lebih mengutamakan ego kalian. Setahuku Henry itu pria baik dan setia. Aku sangat menyesali kalian harus bercerai hanya demi ego kalian." 

"Wanita itu butuh perhatian dari pasangannya dan aku tidak mendapatkannya dari Henry. Ternyata dia bukan tipe pria romantis yang selalu ada di dalam bayanganku. Dia pria dingin yang gila kerja." 

Vernon menghela napas kasar. "Jadi apa kamu masih mencintainya?" 

"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini padanya." 

"Kamu nanti akan menyesalinya telah berpisah darinya?" 

Vernon kembali ke kursinya dan duduk sambil memyandarkan punggungnya. Aurora menekankan kedua tangannya di meja kerja Vernon dan mencondongkan tubuhnya sehingga jarak wajah mereka begitu dekat. 

"Aku tidak akan pernah menyesal telah berpisah darinya. Ingat itu!" hardiknya. 

Aurora kembali menegakkan tubuhnya dan melipat tangannya di depan. 

"Waktu kita sekarang tidak banyak untuk menyelamatkan perusahaan peninggalan Ayah kita. Kita sudah hampir kehabisan waktu." Aurora memijat pelipisnya, lalu duduk di kursi di dekat jendela. "Masalah ini membuatku sakit kepala." 

"Kita sudah melakukan segala cara untuk menyelamatkan perusahaan ini dan harus bersiap jika perusahaan ini dinyatakan bangkrut." 

"Kita masih ada waktu dan jangan menyerah. Aku yakin pasti ada jalan keluar hanya saja kita belum menemukannya." 

"Sebenarnya kita sudah memiliki jalan keluar," kata Vernon membuat Aurora menegakkan tubuhnya dan sorot matanya yang tajam terarah pada kakaknya. "Sebaiknya kau terima saja tawaran Henry." 

"Aku tidak akan pernah meminta bantuannya." 

Vernon mendesah pelan melihat sikap adik perempuannya itu. "Kamu keras kepala sekali." 

Suara ponsel Aurora berdering. Dia cepat-cepat mengambil ponselnya di dalam tas. Tertera nama Evelyn, asisten rumah tangga ibunya. Dahi Aurora mengernyit tidak biasanya Evelyn meneleponnya. Dia segera menjawabnya. 

"Ada apa, Evelyn?" 

"Nyonya Rosamaria jatuh di kamar mandi sekarang sudah dibawa ke rumah sakit Saint Bernard." 

"Apa?!" serunya terkejut. Seketika Aurora menjadi panik. "Aku akan segera ke sana." 

Aurora menutup sambungan teleponnya dan mengambil tasnya. 

"Apa yang terjadi?" tanya Vernon yang terlihat bingung melihat sang adik panik. 

"Ibu jatuh di kamar mandi dan sekarang ada di rumah sakit," jawabnya. 

Vernon ikut terkejut dan panik. "Tunggu apa lagi, kita pergi ke sana!" 

Mereka berdua terburu-buru meninggalkan ruangan. 

*** 

Di rumah sakit, Evelyn melambaikan tangan kepada Aurora dan Vernon yang baru saja tiba di depan ruang perawatan. Masih dengan napas tersengal-sengal, Aurora bertanya, "Bagaimana keadaan Ibu?" 

"Kurang bagus. Nyonya terkena stroke." 

Jantung Aurora seketika mencelos dan Vernon nampak sedih. Mereka berdua masuk dan melihat ibu mereka terbaring tak sadarkan diri. Tak dapat menahan kesedihannya, Aurora menangis dan Vernon memeluknya. 

"Aku takut kehilangan Ibu." 

"Ibu akan baik-baik saja." Vernon mengusap lembut punggung adiknya. 

Aurora menguraikan pelukannya, lalu mendekati sang ibu dengan tatapan sedih. Ia membelai kepalanya. 

"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, tapi sepertinya kita harus mengambil tawaran Henry. Kita sudah tidak memiliki uang lagi untuk biaya perawatan Ibu, jadi aku mohon padamu singkirkan egomu demi Ibu." 

Aurora langsung berpaling ke arah kakaknya, tapi tidak menanggapinya hanya memandangi ibunya. Setetes air matanya terjatuh, dihapusnya dengan jari-jemarinya, lalu menghadap kakaknya. 

"Aku akan menemui Henry." 

Mata Vernon membelalak. "Sungguh?" tanyanya tidak percaya. 

Aurora mengangguk. Kali ini dia akan mengorbankan harga dirinya demi sang ibu. Kalau bukan karena ibunya dia tidak akan pernah meminta bantuan mantan suaminya itu. 

"Tolong jaga Ibu!" 

Aurora mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja. Di dalam mobil, ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menyalakan mesin mobil. Jantung Aurora berdetak lebih cepat seiring ia semakin mendekati tujuan menemui mantan suaminya. Ia meremas kuat-kuat setir mobil. Pikirannya seperti benang kusut  yang tidak tahu lagi bagaimana mengurainya. 

Sebuah gedung pencakar langit tepat di depannya. Aurora membelokkan mobilnya memasuki area gedung perkantoran tersebut. Wanita itu menyuruh seseorang untuk memarkirkan mobilnya dan langsung menemui Henry di kantornya. Sebelum masuk Aurora menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. 

"Nyonya," seru sekretarisnya yang masih mengenalinya sebagai mantan istri bosnya. 

"Henry ada di dalam?" 

"Iya dia ada di dalam." 

Aurora membuka pintu dan pandangan mata Henry lurus menatap wanita di depannya. Ruangan yang cukup luas terasa menyempit. Aurora merasakan tubuhnya menegang dan lidahnya kelu. 

"Aurora?" Suara laki-laki itu pun terdengar berat dan terbata tidak kalah terkejut. Senyumannya mengembang di wajahnya yang tampan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Chef Galak Itu Mantan Pacarku
9.2
Mita adalah manajer selebriti handal yang harus menghadapi tantangan besar saat bertemu Gun Saliba. Chef ternama yang sangat rewel itu ternyata merupakan mantan kekasih yang ingin ia lupakan selamanya. Bukannya bersikap profesional, Gun justru menunjukkan permusuhan dan bertekad menyulitkan hidup Mita di tempat kerja. Di balik ketegangan tersebut, Gun rupanya belum mengetahui alasan sebenarnya mengapa Mita memutuskan hubungan mereka di masa lalu.
Sampul Novel Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
7.9
Ayana adalah pemimpin geng motor The Wild Ants yang terkenal pemberontak. Kenakalannya membuat sang Papa mengirimnya ke pesantren untuk dibina. Di sana, ia terkejut saat mengetahui dirinya dijodohkan dengan Gus Farhan, putra pemilik pesantren. Ayana tak berdaya menolak karena perjodohan tersebut merupakan wasiat terakhir almarhumah ibunya. Kini, ratu jalanan itu harus berjuang menghadapi kehidupan religi dan komitmen pernikahan yang tak pernah ia duga.
Sampul Novel Identitas Ganda Suamiku
8.0
Terdesak untuk menikah, Nadine memilih seorang pengusaha yang kabarnya telah bangkrut. Ia siap menjadi tulang punggung keluarga, namun keajaiban justru terus terjadi. Nadine memenangkan Porsche saat ingin membeli mobil murah dan mendapat vila mewah secara tiba-tiba. Keberuntungan selalu menyertainya berkat bantuan sang suami yang misterius. Nadine akhirnya menyadari kenyataan mengejutkan bahwa pria di sampingnya bukanlah orang biasa, melainkan seorang miliarder kaya raya.
Sampul Novel Miss Primadona
9.1
Tisa dikenal sebagai wanita jelita yang hanya mengejar kemewahan melalui pria-pria kaya dalam hidupnya. Namun, pesona dan gaya hidup materialistisnya tidak mampu melindungi dirinya saat berbagai kemelut besar mulai berdatangan secara bertubi-tubi. Terjepit di antara kehancuran dan kenyataan pahit, Tisa kini menghadapi pilihan sulit. Akankah rentetan masalah ini membuatnya sadar untuk memperbaiki diri, atau justru ia akan semakin tenggelam dalam kesalahannya?
Sampul Novel PERNIKAHAN YANG TERNODA
9.2
Sadar akan posisinya yang tak lagi diinginkan, Abelia memutuskan untuk mundur dan menghilang dari kehidupan suaminya, Bara. Selama ini, Bara lebih sering menghabiskan waktu di pelukan wanita selingkuhannya daripada pulang ke rumah. Namun, ketika penyesalan mendalam akhirnya menghampiri Bara dan ia berniat memperbaiki segalanya, keadaan telah berubah total. Abelia bukan lagi miliknya karena ia telah menemukan kebahagiaan baru di pelukan pria lain.
Sampul Novel Putri Yang Ditukar
8.8
Syaqilla tumbuh di panti asuhan setelah dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Saat dewasa, sang ibu datang menjemputnya hanya untuk memberikan penderitaan baru. Dua tahun berselang, Syaqilla justru dijual kepada seorang rentenir demi melunasi utang ibunya yang menumpuk. Mengapa kebencian sang ibu begitu mendalam hingga tega mengorbankan masa depan anaknya? Syaqilla kini terjebak dalam dilema antara pengabdian dan kenyataan pahit yang menghancurkan hatinya.