APKDock Logo
Sampul Novel MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT

MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT

9.7 / 10.0
Elmi dan Damar mengawali asmara sejak kuliah hingga menikah. Namun, lima tahun berumah tangga, Damar justru menjadi parasit yang menganggur dan mengklaim rumah warisan Elmi sebagai miliknya. Konflik memuncak saat Damar menolak punya anak, meski Elmi sangat mendambakannya. Saat mendapat kerja, Damar malah berselingkuh. Di tengah luka, Elmi bertemu kolega yang tulus mendukungnya. Kini ia harus memilih: bertahan dalam kepalsuan atau pergi mengejar kebahagiaan sejati.

MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT Bab 1

"Buka lebih lebar!" Damar memerintah sambil menggeser kasar, melebarkan kaki putih Elmi yang jenjang. Pusakanya menegang, sudah siap menerjang.

Sementara Elmi, istrinya, terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang kaku. Bola mata Elmi menyipit, menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara desah napas Damar terdengar berat di telinganya. Tangan Damar mencengkeram bahunya, terlalu kuat, dan ia menggigit bibir untuk menahan erangan yang hampir keluar.

"Ehmm. Damar, tolong ... Pelan-pelan," suaranya lirih bergetar, hampir tidak terdengar.

Namun, Damar tidak mendengar atau lebih tepatnya tidak peduli. Gerakannya tetap kasar, seakan tidak menyadari bahwa tiap sentuhannya membuat tubuh Elmi semakin meringkuk. Air mata Elmi mulai menggenang di sudut matanya, menyesakkan dada yang sudah penuh dengan rasa sakit dan perih. Tidak ada kelembutan, tidak ada rasa kasih sayang. Semua terasa seperti hukuman yang tak berkesudahan.

Elmi berusaha menutup mata, berharap bisa melarikan diri dari kenyataan ini, tapi rasa sakit itu nyata, terus menghantamnya berulang kali tanpa ampun. "Damar, pelan sedikit ... kumohon..."  bisiknya lagi, tapi suaminya hanya merespons dengan geraman tidak sabar.

Dia tahu, dalam hati kecilnya, bahwa Damar tak akan berhenti sampai ia puas. Dan Elmi hanya bisa pasrah, menahan segala perasaan yang ingin ia muntahkan keluar. Rasa perih di hatinya jauh lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Elmi ingin berteriak, menangis, atau mungkin melawan, tapi tubuhnya lemas, dan suaminya jauh lebih kuat.

Ketika semuanya akhirnya berakhir, Damar menarik diri tanpa sepatah kata pun. Ia bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk, dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Elmi yang masih tergeletak kaku. Elmi menarik selimut, menutupi tubuhnya yang gemetar. Dia menggigit bibirnya lebih keras, berharap rasa sakit di bibirnya bisa menumpulkan perih di hatinya. 

Sambil menahan isak, Elmi bergumam pada dirinya sendiri, "apa memang rasanya sesakit  ini?" Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban, seperti harapan yang sudah lama hilang entah ke mana.

**

Walaupun hari ini Elmi libur, bukan berarti dia bisa bersantai dan bangun siang sesuka hatinya.

Elmi meletakkan piring terakhir di atas meja, mengusap keringat yang mulai membasahi dahinya. Matahari baru saja terbit, tapi dapur sudah ramai dengan aroma masakan. Dia telah bangun sejak subuh, memastikan semua siap sebelum Damar dan ibu mertuanya turun dari kamar.

"Selamat pagi, Bu." Elmi menyapa dengan senyum tipis saat Ibu Damar memasuki ruang makan.

Ibu mertuanya itu hanya mengangguk singkat tanpa membalas senyuman Elmi. Wanita paruh baya itu duduk di kursi sambil mencebik pelan, lalu menatap piring-piring yang tersaji di depannya dengan pandangan kritis. "Masak apa?"

"Elmi bikin nasi goreng ayam, Bu. Saya tambahkan sayuran seperti yang Ibu minta kemarin. Dan ada omelet keju untuk Damar," jawab Elmi hati-hati. Tangannya mengeratkan pegangannya pada serbet di pangkuannya.

Ibu mertuanya mengernyit. "Kamu pikir ini enak? Nasi gorengnya terlalu berminyak. Sayurannya pasti layu karena dimasak terlalu lama. Dan omelet keju ini-" Wanita itu mengambil potongan kecil dengan garpu, lalu memasukkannya ke mulut, "- ck! Ya ampun, ini terlalu asin."

Elmi merasakan dadanya mencelos. Dia sudah bangun sejak pukul empat pagi, mencoba segala cara untuk membuat sarapan yang terbaik. Tapi, lagi-lagi, semua usahanya seolah tak ada artinya di mata ibu mertuanya.

"Maaf, Bu, saya akan coba lebih baik lagi besok," ucap Elmi pelan. Kata-katanya terselip rasa kecewa yang dalam.

"Nggak usah repot-repot kalau hasilnya cuma seperti ini. Kamu sebaiknya belajar dari pembantu rumah tangga kami yang dulu. Dia bahkan lebih tahu selera keluarga ini dibanding kamu," kata Ibu Damar tanpa basa-basi. Dia mendorong piring nasi goreng menjauh seolah makanan itu beracun.

Elmi menunduk, menahan air mata yang menggenang di sudut matanya. Bukan hanya rasa sakit karena lelahnya yang tak dihargai, tapi juga kata-kata ibu mertuanya yang menusuk hati. "Baik, Bu," sahutnya lemah. 

Saat itu, Damar turun dari lantai atas. Pandangannya terarah ke meja makan, lalu ke wajah Elmi yang pucat. Tanpa berkata apa-apa, dia duduk dan langsung menyendok omelet ke piringnya.

"Damar, omelet ini terlalu asin, bukan?" tanya ibunya, menatap putranya dengan harapan pembenaran.

Damar hanya mengangkat bahu. "Biasa saja, Bu. Lagi pula aku suka asin. Elmi, tolong buatkan kopi," katanya tanpa ekspresi, seolah situasi itu tidak ada artinya.

Elmi mengangguk, buru-buru melangkah ke dapur untuk menyembunyikan kesedihan yang mulai tak tertahankan. 

Saat ia sedang merebus air untuk membuat kopi, ia masih bisa mendengar ibu mertuanya masih mengomel tentang betapa tidak becusnya Elmi sebagai seorang istri. Kata-kata itu seolah meresap ke dalam setiap pori-porinya, membuatnya merasa semakin kecil dan tak berarti. Tangannya gemetar saat ia menuangkan air panas ke dalam cangkir, mencampurnya dengan kopi dan gula. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri.

"Elmi!" panggil  Damar lagi, mengejutkannya. "Nanti bawakan kopinya ke ruang tengah." Ucap Damar lebih seperti perintah ketimbang permintaan tolong.

Ibu mertuanya menghela napas, lalu melirik Elmi. "Kamu benar-benar harus belajar lebih keras, Elmi. Menjadi istri yang baik itu bukan sekadar bisa memasak. Kamu bahkan gagal dalam hal yang paling sederhana ini."

Elmi hanya bisa diam, mengangguk lemah. Tubuhnya terasa berat, seolah beban yang tak terlihat menindihnya semakin dalam. Setelah ibu mertuanya juga meninggalkan meja, Elmi tetap berdiri di sana, memandangi piring-piring kotor bekas sarapan. Usahanya lagi-lagi tak ada artinya.

Elmi memandangi rumah mereka yang luas dengan perasaan campur aduk. Ini adalah rumah yang dibeli dari uang warisan orang tuanya, hasil jerih payah keluarganya selama bertahun-tahun. 

Namun, semua itu disembunyikan dari Ibu Damar. Sejak rumah orang tua Damar disita oleh bank, ibu mertuanya itu ikut tinggal dengan Damar dan Elmi. Sebenarnya Elmi tidak keberatan, masalah utamanya adalah Damar berdusta bahwa rumah ini hasil kerja keras Damar, dan Elmi hanya bisa diam, menelan ketidaknyamanan yang semakin hari semakin menyakitkan.

"El! Kopi! Mana kopi!" Suara Damar membuyarkan lamunan Elmi.

"Iya, ini, sebentar lagi," jawab Elmi, mencoba tetap tenang. Dia tahu Damar sedang dalam suasana hati yang buruk. Hari-hari seperti ini semakin sering terjadi, terutama sejak Damar kehilangan pekerjaannya  dua tahun lalu. Sejak saat itu, Damar hanya bergantung pada tabungan serta uang gaji hasil kerja keras yang masih Elmi miliki.

Dengan cepat, Elmi meletakkan cangkir di depan Damar. "Maaf, ini kopinya."Saat dia menyerahkan kopi itu, Damar mengambilnya tanpa mengucapkan terima kasih.

Damar menyesap kopi itu tanpa berkata apa-apa lagi. Elmi berdiri di sampingnya, merasa seperti seorang pelayan yang menunggu instruksi lebih lanjut. Ibu Damar masih menatapnya dengan sorot merendahkan, seolah kehadiran Elmi saja sudah merupakan kesalahan besar.

"Ibu mau ke kamar dulu," Ibu mertua Elmi itu bicara datar lalu berbalik cepat menuju ke arah kamarnya yang ada di ujung rumah.

Elmi diam mematung menatap suaminya yang duduk manis di sofa, menghidupkan televisi tanpa benar-benar menonton. Tatapannya kosong, seakan sedang memikirkan sesuatu yang jauh dari jangkauan Elmi. 

"Damar," Elmi memulai dengan hati-hati, "aku ingin kita bicara."

Damar mendesah, lalu mematikan suara televisi. "Mau bicara apa lagi?"

"Kapan kamu akan memberitahu Ibu tentang kondisimu yang sebenarnya?" Elmi memberanikan diri menatap suaminya. "Ibumu masih berpikir kalau rumah ini hasil kerja kerasmu. Padahal semua ini dari uang orang tuaku. Bahkan sampai sekarang kita masih menggunakan uang tabungan dan uang gajiku untuk keperluan sehari-hari."

Damar meletakkan cangkir kopinya dengan kasar. "Kamu mau mulai berdebat lagi? Aku sudah bilang, aku akan cari pekerjaan baru. Ini kan nggak selamanya, hanya sementara."

Elmi menggeleng pelan, merasakan kepahitan yang menyelip di hatinya. "Tapi ... Sudah hampir tiga tahun, Damar. Kita tidak bisa terus begini. Aku juga yang harus menanggung semua ini, bukan hanya masalah keuangan, tapi juga semua kebohongan yang kamu ciptakan."

Damar berdiri, ekspresinya marah. "Kamu pikir aku tidak berusaha? Aku sudah mencoba segalanya! Ini bukan salahku kalau cari kerja masih sulit setelah pandemi! Ck! Kamu ini perhitungan sekali sama suami sendiri!"

"Tapi bukan berarti kamu harus terus berbohong, apalagi pada keluargamu sendiri." Elmi berusaha menahan getaran di suaranya. "Aku tidak ingin kita hidup dengan kebohongan, Damar."

Damar tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan dalam suaranya. "Oh, jadi kamu ingin bilang sama Ibuku kalau aku ini pengangguran yang hanya mengandalkan uang istrinya? Kamu pikir itu akan membuat semuanya lebih baik?" Damar melotot.

Elmi terdiam. Dia tahu ini bukan saat yang tepat, tapi kebohongan ini semakin memberatkan hati dan pikirannya. "Aku hanya ingin kita jujur satu sama lain, dan pada keluargamu. Ini bukan hanya soal uang, tapi soal bagaimana kita bisa saling mendukung sebagai pasangan."

Damar menatap Elmi dengan dingin. "Kamu tahu apa? Mungkin kamu benar. Mungkin aku ini tidak berguna. Tapi jangan pikir aku akan membiarkan kamu menghina harga diriku di depan Ibuku.

"Damar, aku nggak pernah bermaksud begitu..."

"Sudah cukup, Elmi!" Damar memotongnya. "Aku mau keluar sebentar. Pusing dengar yang ngomel!"

Sebelum Elmi bisa mengatakan apa-apa lagi, Damar sudah meraih jaketnya dan pergi, membanting pintu dengan keras. Elmi berdiri kaku di ruang tengah yang hening, matanya terpejam menahan air mata yang ingin tumpah. Rasa muak ini semakin menghancurkan mereka, perlahan tapi pasti. Elmi hanya bisa berharap, suatu saat nanti, Damar akan menyadari bahwa kebohongan bukanlah jalan keluar.

Dia menghela napas panjang, kemudian berbalik menuju dapur. Piring-piring yang belum dicuci menantinya, seperti tumpukan masalah yang belum terselesaikan. Dengan tangan gemetar, dia mulai membersihkan, mencoba menghilangkan beban di hatinya dengan setiap gesekan spons dan air sabun. Tapi tetap saja, rasa sesak itu tidak hilang.

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Gadis terpaksa menjadi pengantin pengganti demi menjaga martabat ibu angkatnya. Namun, kesalahpahaman besar membuat Alex membencinya hingga bersikap kasar. Gadis tidak tinggal diam menghadapi perlakuan tersebut, sambil tetap menyembunyikan rahasia besar mengenai jati diri aslinya. Akankah Alex berhasil mengungkap misteri yang tersimpan rapat itu? Ikuti kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka yang kini tersedia secara lengkap di Bakisah.
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel PRIME MINISTRE'S DAUGHTER
8.2
Ken terobsesi menikahi Eleanore, putri perdana menteri yang dingin, hingga nekat memakai cara licik. Namun, setelah resmi menikah, Ken mengungkap rahasia kelam masa lalu istrinya yang memicu kebencian mendalam. Eleanore yang awalnya merasa bahagia karena cinta keponakan raja itu, kini harus menderita akibat perubahan sikap Ken yang drastis. Meski hatinya hancur disakiti sang suami, Eleanore tetap bertahan dalam cinta di tengah konflik masa lalu yang sulit dimaafkan.
Sampul Novel Sentuhan Ayah Tiri
8.2
Kehidupan seorang gadis berubah drastis saat Hunter Oragle memergokinya tengah mengintip kemesraan intim pria itu bersama sang ibu. Bukannya marah, ayah tirinya justru memberikan tawaran provokatif untuk mengajarinya secara langsung. Hubungan yang seharusnya murni kini terjebak dalam pusaran gairah terlarang yang berbahaya. Segalanya menjadi kian rumit dan penuh tekanan ketika fakta-fakta masa lalu mulai terungkap ke permukaan, mengancam batas moral mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan