APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Membongkar Pengkhianatan Suamiku

Membongkar Pengkhianatan Suamiku

Niat Aira memberikan kejutan manis untuk suaminya seketika hancur berkeping-keping. Saat melangkah masuk ke dalam rumah, ia justru mendapati pemandangan yang sangat mengejutkan: seorang wanita asing dengan perut buncit yang tengah hamil besar berada di sana. Hatinya dipenuhi tanya dan rasa sakit yang mendalam. Siapakah sebenarnya sosok wanita misterius tersebut? Rahasia gelap apa yang selama ini disembunyikan sang suami di balik pernikahan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2

"Kalau boleh tahu, sepupu yang mana ya?" tanyaku penuh selidik. Ya, aku harus tahu dengan jelas dari mana asal usul wanita itu.

"Kamu nggak kenal, Dek, soalnya kalian belum pernah bertemu sebelumnya," sahut Mas Farid. Dari gelagatnya saja, aku sudah bisa menebak siapa dia. 

"Sepertinya Mbak Adel tidak suka melihat kedatangan Rini. Maaf jika kehadiran Rini di rumah ini membuat Mbak jadi terganggu. Jika Mbak Adel keberatan dengan kehadiranku disini, aku akan pergi, Mbak," ucapnya. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar merasa bersalah atau justru ini hanya berakting.

Aku memang tidak suka jika wanita itu tinggal di sini. Jelas, aku merasa terganggu, pulang-pulang melihat suamiku sedang berduaan dengan wanita asing di rumahku sendiri.

"Iya, aku keberatan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ada wanita asing di dalam rumahku. Jelas saja aku berpikiran lain." Aku sengaja berkata seperti untuk melihat bagaimana expresi Mereka.

Mas Farid harus tahu bahwa tidak boleh sembarangan membawa orang lain ke rumah ini. Begitu juga dengan wanita yang mengaku sebagai sepupunya Mas Farid itu, ia harus sadar diri. 

"Biarpun kamu adalah sepupunya Mas Farid, tapi kamu harus minta ijin dulu padaku sebelum menginjakkan kaki di rumah ini," ucapku dengan tegas.

"Maaf, Mbak. Tapi tadi kata Mas Farid tunggu sampai Mbak Adel pulang dulu, biar ada kejutan," ucapnya, berusaha membela diri.

Kejutan apaan? Aku tidak bisa percaya kalau mereka adalah saudara sepupu setelah melihat pemandangan menyakitkan tadi.

"Dek, kamu jangan gitu, dong! Kasihan Rini. Biarkanlah ia tinggal di rumah ini. Bukan untuk seterusnya kok, hanya sementara sampai Rini merasa tenang." Mas Farid berusaha membujukku.

Aku memang merasa keberatan untuk mengizinkan wanita itu tinggal di rumah ini.

Sebenarnya, aku bukanlah orang yang kejam dan tidak punya rasa kasihan. Banyak yang menjadi pertimbangan untuk menerima wanita itu tinggal di rumah ini. Apalagi keadaannya saat ini ia sedang hamil.

Aku tidak mau nantinya rumah tanggaku berantakan gara-gara kehadiran wanita yang mengaku sebagai sepupunya Mas Farid itu di sini. Apalagi, aku belum yakin betul kalau wanita itu adalah sepupunya Mas Farid. Bisa saja mereka membohongiku.

Bagiku tidak cukup kalau hanya mendengar penjelasan mereka, harus ada bukti, baru aku bisa mempercayainya. Bisa saja mereka mengaku kalau suaminya Rini sudah meninggal agar aku percaya.   

"Benarkah suamimu sudah meninggal, Rini?" Aku bertanya hanya untuk memastikannya saja.

Wanita itu tiba-tiba menangis, aku sendiri bingung melihatnya. Perasaan, tidak ada yang salah dengan pertanyaankum Wajar aku menanyakannya.

"Rin, tolong jangan menangis. Jika kamu menangis, nanti janin yang ada di dalam kandunganmu bisa stress loh." Mas Farid berusaha menenangkan wanita itu.

Aku tercengang melihat sikap Mas Farid kepada wanita itu. Perhatian sekali! Bahkan Mas Farid sepertinya sudah paham betul bagaimana memperlakukan wanita yang sedang hamil.

"Mari kita bicara di kamar, Dek. Mas akan jelasin semuanya." Mas Farid menarik tanganku dan membawaku masuk ke kamar.

"Dek, Mas kan sudah jelasin tadi, kalau suaminya Rini sudah meninggal. Lihat tuh, Rini jadi tersinggung!" Mas Farid malah menyalahkanku karena menanyakan hal yang ingin kuketahui.

"Wajar saja jika aku bertanya, Mas! Rini kan akan tinggal di sini, jadi aku harus tau semua tentang dia," ucapku tak mau kalah. 

Mas Farid sudah berubah. Baru satu hari wanita itu hadir di rumah ini, sikapnya sudah seperti ini. 

Aku duduk di tepi ranjang, malas mendengar Mas Farid jika ia hanya ingin menyalahkanku.

Melihatku diam seperti itu, Mas Farid duduk di sampingku. Ia memutar posisi duduknya agar berhadapan denganku.

Tangan kekar itu membingkai wajahu, lalu meminta maaf atas kesalahannya.

"Maafin mas, Dek. Mas tidak bermaksud menyalahkanmu. Mas hanya kasihan melihat kondisi Rini saat ini. Dia stress karena kehilangan suaminya."

"Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya, Mas?"

"Awalnya, mas sudah menolak. Tapi mas enggak enak sama Ibu dan Tante. Mereka yang mengusulkan agar Rini tinggal di rumah kita untuk sementara waktu." Lelaki berparas tampan yang sudah mendampingiku selama empat tahun itu menunjukkan rasa bersalahnya.

"Lagian, Rini juga bisa membantumu untuk beres-beres rumah, biar kamu nggak kecapean mengerjakan semuanya sendirian, Dek," ucapnya lagi.

"Benarkah yang kamu katakan itu, Mas? Mas yakin?" Aku menatapnya, dalam.

"Mas berkata yang sebenarnya. Tidak sedikitpun terlintas di benak Mas untuk menduakan mu. Alangkah bodohnya jika mas melakukannya, apalagi sampai membawa wanita itu ke rumah kita." Mas Farid menggenggam tanganku, kemudian menciumnya.

"Yakin?" Kalau dia sepupunya Mas, kenapa  Mas sampai mengelus dan menempelkan telinga Mas di perutnya? Apakah seperti itu caramu memperlakukan saudara sepupumu, Mas?" Aku mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

Raut wajah Mas Farid tiba-tiba berubah, mendadak gugup dan mengalihkan pandangannya.

"Begini, Dek. Kamu salah paham. Mas cuma ingin merasakan gerakan calon ponakan mas yang ada di dalam kandungan Rini. Mas pingin punya anak." Suara Mas Farid terdengar lirih saat ia mengatakan ingin memiliki anak. 

Disitulah kelemahanku, sampai saat ini, aku belum bisa memenuhi keinginannya.

"Mas pingin punya anak?" Aku bertanya sambil menahan bulir bening yang hendak keluar dari kelopak mata. Jika dibahas soal anak, maka aku tidak akan bisa ngomong apa-apa lagi, karena sampai detik ini belum bisa memberikan keturunan untuk suamiku. 

"Enggak kok', mas cuma bercanda." Mas Farid tersenyum padaku, terlihat sekali bahwa senyumnya seperti dipaksakan.

"Semoga saja Mas berkata jujur, jika ada kebohongan atau rahasia yang Mas tutup-tutupi, maka rumah tangga kita akan hancur, Mas! Aku tidak mau menjalani pernikahan yang di dalamnya penuh kebohongan," tegasku agar Mas Farid berpikir seribu kali jika ia ingin bermain api dengan wanita lain.

"Mas enggak akan pernah mengkhianatimu, Dek. Hanya kamu satu-satunya wanita yang Mas cintai di dunia ini. Mas tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita." Mas Farid mendekapku ke dalam pelukannya. "Percaya sama mas," lirihnya.

Meskipun Mas Farid bicara seperti itu, tapi aku belum bisa mempercayai omongannya. Aku harus tetap menyelidikinya.

***

Setelah lelah seharian bekerja di butik muslimah yang sudah aku kelola sebelum menikah dengan Mas Farid, aku terpaksa harus memasak lagi untuk makan malam kami.

Aku jarang sekali memasak di malam hari karena sudah capek dengan aktivitasku yang membutuhkan waktu dan energi. Biasanya sepulangnya dari butik, aku akan singgah ke warung nasi Padang langgananKu. Makan nasi bungkus saja, biar praktis.

Berbeda dengan malam ini, niatku yang tadinya akan mengajak Mas Farid untuk makan di luar sambil merayakan anniversary kita, gagal sudah karena kehadiran wanita itu.

Hanya telur balado dan sayur bening yang bisa kusiapkan. Mas Farid menemaniku menatanya di atas meja, sedangkan wanita itu masih mengurung diri di kamar.

"Dek, panggil Rini, gih! Biar kita makan sama-sama," ucap Mas Farid sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.

Mas Farid adalah suami yang baik. Ia seringkali membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan hanya baik, pastinya perhatian dan romantis. Di mataku Mas Farid adalah sosok laki-laki yang sempurna. 

Semoga saja firasat burukku tidak benar dan tidak akan pernah terjadi. Karena jika hal itu sampai terjadi, aku tidak akan pernah memaafkannya.

Aku mengetuk pintu kamar tamu, yang saat ini ditempati oleh Rini. Tak lama pintu terbuka, keluarlah Rini dengan mata sembab. Mungkin ia habis menangis.

"Rin, kita makan dulu, Mas Farid sudah menunggu di meja makan."

"Baik, Mbak," jawabnya, kemudian mengikutiku menuju ruang makan.

Suasana makan malam kali ini hening, berbeda dengan sebelumnya. Biasanya Mas Farid akan menyuapiku dan aku juga melakukan hal yang sama. Aku mencoba memaklumi keadaan ini dan tetap bersikap seperti biasa. Hanya saja hatiku belum bisa tenang sebelum memastikan bahwa suamiku tidak ada hubungan spesial dengan Rini.

***

Tengah malam, aku tiba-tiba terbangun karena dorongan ingin buang air kecil. Aku terkejut saat mengetahui tubuh Mas Farid tidak ada lagi di atas kasur. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kamar, tetap tidak ada. 

Kemana Mas Farid malam-malam begini? Apa mungkin ia sedang di kamar mandi?

Akhirnya kuputuskan untuk menyusulnya ke kamar mandi. Di rumah ini hanya ada satu kamar mandi yang letaknya di dekat dapur.

Begitu sampai di depan kamar mandi, kudapati pintunya terbuka, itu artinya tidak ada orang di dalamnya.

Kemana Mas Farid? Tidak mungkin malam-malam begini ia pergi ke pabrik!

Rumah ini tidak begitu luas, hanya ada ruang tamu, ruang tengah, tiga kamar, dapur dan kamar mandi. Kucari ke setiap ruangan, tapi tidak kutemukan juga.

Saat melewati kamar Rini, samar-samar terdengar suara yang cukup aneh.

Suara siapa itu? Rini hanya sendirian di dalam. Apa jangan-jangan Mas Farid berada di dalam? Terus suara itu ...

Bersambung ...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU
9.7
Kehidupan Tara berubah drastis saat ia terjebak dalam posisi yang tak pernah dibayangkan: menjadi istri kedua dari sahabat mendiang suaminya sendiri. Kini, ia terperangkap di tengah dinamika rumah tangga yang penuh komplikasi dan tekanan batin. Di tengah konflik emosional yang terus menguji kesabarannya, Tara harus menentukan pilihan sulit. Akankah ia bertahan demi komitmen tersebut, atau justru memilih untuk menyerah karena beban yang terlalu berat?
Sampul Novel Bekas Luka Ikatan yang Hancur
8.6
Tiga tahun Sinta lalui bersama Trisna, suami dingin yang tak pernah menganggapnya istri. Keadaan kian pahit saat cinta pertama Trisna kembali dan membawa surat cerai. Meski Sinta mengaku hamil, Trisna tetap bersikeras untuk berpisah. Sinta pun menyerah dan menandatangani surat itu di ranjang sakitnya. Namun, Trisna mendadak berubah pikiran. Ia kini bersimpuh memohon maaf dan berjanji akan berubah, meninggalkan Sinta dalam kebimbangan yang mendalam.
Sampul Novel Diselingkuhi Tunangan Dinikahi CEO Tampan
9.2
Hidup Dea hancur setelah dikhianati papa, sahabat, dan tunangannya. Ia pun mengungsi ke rumah sang mama, namun hampir dilecehkan ayah tirinya. Beruntung, Bian sang kakak angkat sekaligus CEO tampan menyelamatkannya. Meski trauma dan enggan mencintai lagi, sebuah kesalahpahaman memaksa Dea menikah dengan Bian. Mampukah Dea menjalani rumah tangga tanpa rasa cinta? Akankah ia menyadari perasaan tulus yang telah lama Bian pendam untuk dirinya?
Sampul Novel Gadis Ternoda
8.1
Diana terjerumus dalam jebakan sahabatnya hingga dijual kepada pria asing. Insiden satu malam itu berakhir dengan kehamilan tak terduga. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukannya kembali dengan ayah biologis anaknya. Namun, situasi menjadi rumit saat ia menyadari pria itu adalah kekasih sepupunya sendiri. Akankah Diana berani mengungkap rahasia tentang buah hati mereka, atau memilih bungkam demi menjaga perasaan keluarganya?
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah arsitek brilian dengan Adrian Wijaya hancur seketika saat kecelakaan menghapus ingatan sang taipan. Adrian berubah menjadi monster kejam di bawah kendali Helena yang licik. Ia membunuh adikku, melumpuhkan kakiku, hingga merampas pita suaraku untuk diberikan pada Helena. Pengkhianatan ini mengubah cinta menjadi dendam membara. Aku memalsukan kematian dan siap menghancurkan kerajaannya. Saatnya sang monster membayar segalanya.
Sampul Novel Permainan Pewaris
9.3
Tiga tahun menjalin kasih, Kristian Dobson justru mengkhianatiku demi menikahi Laura Clarke, sang pewaris kaya. Berdalih ingin diakui keluarga, dia malah mengurungku dalam kemewahan yang menyesakkan. Puncaknya, Kristian tega memaksaku melompat dari lantai tujuh belas demi memuaskan istri barunya. Mereka mengira aku lemah dan bisa dihancurkan begitu saja. Namun, mereka tidak sadar bahwa akulah pewaris tunggal kekayaan terbesar di kota ini yang sesungguhnya.