APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Membunuh Masa Lalu

Membunuh Masa Lalu

Dalam asmara, bersiaplah untuk menghadapi kehilangan atau kerinduan yang mendalam. Cinta sering kali datang dan pergi secara misterius, namun luka yang ditinggalkan bisa merenggut separuh jiwa. Jaya terjebak dalam kepedihan saat sosok yang paling ia sayangi menghilang tanpa kepastian yang jelas. Kisah pilu Jaya ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang belum pernah merasakan betapa hancurnya hati ketika ditinggal tanpa sebuah jawaban pasti.
Bab
Bagikan

Bab 1

Setengah jam kami duduk di kedai ini. Namun, sepertinya tidak ada percakapan yang berarti. Kopi yang kami pesan sejak tadi tak aku sentuh sedikitpun. Hanya kopi lelaki di depanku yang terlihat tandas tak tersisa.

"Jadi, kamu tetap tak mau bercerita kenapa, Jay?" ucapnya kepadaku. Masih terus berusaha mendesakku.

"Lalu buat apa kamu minta aku kemari?" kejarnya lagi.

"Ayolah, Jaya yang kukenal tidak seperti ini. Lagi pula kaya sama siapa saja, aku ini kawan karibmu sejak kecil, Jay. Janganlah sungkan," ujarnya lagi sembari menyerobot kopi punyaku. Kubiarkan saja, toh aku tak lagi berselera.

Ingin rasanya aku curhat dengan Iwan, namun gengsi. Takut gantian di tertawakan. Sungguh tidak menyenangkan kalau sampai Iwan tahu bahwa aku yang biasanya sok tegar ini ternyata lemah juga oleh wanita. Benar-benar menyedihkan. Namun, ini memang masalah perasaan, terlalu susah untuk dikendalikan.

Dulu, sempat aku menertawakan Iwan, temanku karibku. Saat ia ditinggal pacarnya entah kemana. Sebenarnya juga kalau dibilang pacar juga lucu, sebab hanya berhubungan lewat dunia maya saja. Kenal, pacaran, dan akhirnya sudahan juga di dunia maya. Aku sempat tertawa terbahak-bahak saat Iwan curhat kepadaku kala itu. Melihat matanya yang basah oleh air mata, membuatnya semakin tampak lucu saja. Sangat tidak pantas lelaki berbadan kekar dan bertampang sadis bisa menangis hanya gara-gara wanita yang tidak pernah ditemui di dalam dunia nyata.

"Kamu gila!" kataku kepadanya waktu itu sembari tertawa terbahak-bahak.

Dan nampaknya kini aku tengah terkena karmaku sendiri. Dulu pernah menertawakan Iwan yang menangis kehilangan wanita, dan kini aku sendiri pun menangis karena kehilangan wanita. Benar-benar roda kehidupan itu berputar.

Kini Iwan sudah berumah tangga dengan Asih, teman sekelas kami waktu SMA. Yang berarti temanku juga. Sudah dikaruniai anak satu malah. Dan aku dulu yang menertawakannya, kini lagi menuai karma. Sedangkan Iwan sudah bahagia dengan pilihannya.

.

Kata pepatah, hidup adalah seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Semuanya serba bergantian. Kesedihan dan kebahagian datang silih berganti. Dan kini, aku tengah berada dalam keadaan di bawah itu.

"Ya, sudah! Kalau nggak mau bercerita aku pergi, Jay. Sudah di tungguin bos, nih!" Iwan berdiri sembari meraih tas ranselnya di meja.

Buru-buru aku raih tangannya, "Sebentar, Wan. Baik, aku bercerita. Tapi janji ya, jangan tertawa."

Perlahan kuturunkan rasa gengsiku.

"Apaan, sih? Bikin penasaran saja! Dari tadi, Kek." Iwan kembali menaruh ranselnya, dan duduk kembali sambil pasang wajah manyun.

"Janji ya, jangan meledek atau tertawa," tegasku sekali lagi sembari sedikit melotot.

"Iya, iya! Bawel, sih. Apaan?" Iwan balas mendelik.

Akhirnya aku ceritakan juga kepada Iwan tentang pertemuanku dengan seorang wanita, yang pada akhirnya ia menghilang tanpa jejak. Iya hilang, entah kemana tanpa pamit satu patah kata pun juga.

"Ha-ha-ha ... kena karma kamu, Jay!" Tawa Iwan menggelegar di udara, sampai-sampai seluruh penghuni kedai kopi melirik kepada kami.

Kutinju lengan Iwan. Sialan, kalau tahu begini mendingan tadi enggak usah cerita saja. Aku membatin kesal.

***

Aku mengenal wanita itu belum lama, baru sekitar tiga bulan yang lalu. Kami berkenalan di sebuah kedai kopi, di sore hari saat hujan deras mengguyur bumi. Awalnya kami hanya sama-sama tengah berteduh di sebuah emperan kedai, hanya ada kami berdua kala itu. Lalu kami saling berkenalan dan sembari menunggu hujan reda kami pun berlanjut mengobrol masuk ke dalam kedai.

Wanita itu bernama Vera, nama yang menyiratkan aura pesona dan kedewasaan, menurutku. Setelah hujan reda kami pun saling berpamitan dan tentu tak lupa saling bertukar nomor telepon. Meskipun perkenalan itu hanya sekilas lalu. Namun, senyumnya yang memesona berbalut lipstik merah marun itu sangat membekas sampai ke dalam palung hatiku. Bahkan senyum itu bertengger mesra di otakku hingga tiga hari lamanya.

Belum pernah aku sebucin ini. Aku memang lelaki normal yang sangat bisa mengagumi wanita cantik, tetapi aku bukanlah seorang lelaki gampangan yang mudah terpikat dan terpesona kepada setiap wanita.

Baru kali ini tampaknya pesona wanita mampu mematahkan kuda-kuda pertahananku sebagai seorang lelaki. Biasanya, wanita yang mendekatiku atau berkenalan denganku sepintas lalu saja, tidak ada yang spesial atau istimewa. Perasaanku juga tak seheboh ini kala bertemu pertama kali dengan dengan Sandra, mantan kekasihku dulu. Vera memang berbeda. Ia bagai intan mutiara yang kilaunya mampu menyilaukan mataku sampai aku tak bisa lagi melihat apa-apa selain kilaunya saja. Gila bukan?

Sejak tiga hari setelah bertemu dengannya kala itu, bayangannya seperti tak mau lenyap, terus menari-nari dalam otakku. Aku seperti setiap detik dirajam rindu. Aku memberanikan diri menghubungi nomernya, rasanya tak tahan juga tersiksa begitu. Entah perasaan gila macam apa ini. Orang baru kenal sekilas kok sudah merindu.

Ingin kutulis chat untuk menyapanya. Namun, berkali-kali juga aku hapus, canggung sebenarnya harus memulai dari mana. Ada rasa gengsi juga. Ah, persetan! Aku melawan perasaanku sendiri. Tidak mau aku lebih lama disiksa oleh bayangannya. Rindu ini begitu mengganggu dan begitu menyiksaku!

[Hai, Ver. Ini aku, Jaya. Kita berkenalan di kedai Coffee Star tiga hari lalu. Ingat?] aku kirim juga akhirnya.

Aku menunggu balasan chat-nya dengan perasaan yang gelisah, dengan harap-harap cemas.

Tak berselang lama, Vera pun akhirnya membalas, [Eh, iya. Ingat dong, masa baru tiga hari sudah lupa. Aku belum pikun, lho ya. Bagaimana kabarmu?]

[Aku baik, Ver. Oh ya, kalau tidak sibuk, apa kita bisa bertemu nanti malam di Kedai Coffee Star lagi?] balasku tanpa babibu lagi. Rasanya aku tidak ingin lagi membuang-buang waktu dengan percuma untuk segera menemuinya. Kali ini bukan lagi waktunya untuk bertele-tele ria, Bung!

[Oh, tentu. Aku juga kebetulan lagi free. Nggak ada kesibukan, nih! Baik pukul delapan malam kita bertemu, ya. Bye,] balasnya diakhiri dengan emoticon love.

Apa! Sebentar-sebentar, benarkah dia balas dengan emoticon love? Berkali-kali aku memastikan dan memang benar aku tidak salah lihat. Senyumku merekah, batinku membuncah, nampaknya gayung pun bersambut. Tak henti-hentinya aku tersenyum sendiri bak orang gemblung. Kuhampiri cermin, kulihat bayanganku sendiri.

"Apa kau tengah jatuh cinta, Jaya?" tanyaku bodoh pada bayanganku sendiri.

Ah, aku baru mengalami jatuh cinta sekonyol sekaligus seindah ini. Pesona apa yang ada di dalam dirimu, Ver, sehingga membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepadamu. Tidak sabar rasanya menunggu sampai nanti malam.

Ah, Ver, Ver. Aku masih terus saja senyum-senyum sendiri. Tidak peduli lagi kalau ada orang melihat dan mengira aku orang gila dadakan. Sekali lagi, peduli setan!

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahku Menikahi Pelakor
9.1
Elvira harus merelakan kehidupan glamornya usai perceraian pahit kedua orang tuanya. Ia memilih tinggal bersama Miranda, ibunya yang terluka, sementara sang ayah hidup mewah dengan wanita yang menghancurkan keluarga mereka. Dari sosialita manja, kini Lia harus berjuang hidup sederhana di pinggiran kota. Bersama pelayan setia, Mbok Rini, ia belajar memasak dan berjualan kue. Di tengah kesulitan ekonomi, Lia justru menemukan arti kebahagiaan sejati yang tak terbeli.
Sampul Novel Cinta Seroja
8.2
Seroja Wijaya adalah kembang desa rupawan anak petani di tanah Sunda. Meski banyak pria desa hingga kota ingin meminangnya, ia selalu menolak demi menunda pernikahan. Suatu hari, sang abah menjodohkannya dengan juragan sayur dari kampung tetangga. Sayangnya, pernikahan itu berakhir cerai karena Seroja hanya merasa kecewa. Di tengah luka, ia bertemu Alzidan, teman masa kecil yang sempat pindah ke kota. Pertemuan itu membawa mereka ke pelaminan dan hidup bahagia.
Sampul Novel Jangan Tinggalkan Aku
9.3
Pasca kecelakaan maut yang merenggut orang tuanya, Alvira harus menanggung biaya pengobatan kakaknya yang koma. Di tengah himpitan ekonomi, ia nekat menjual diri di klub malam demi uang cepat. Tak disangka, ia bertemu Damian Verrell, Presdir dingin yang menawarinya kontrak sebagai simpanan dengan bayaran tinggi. Demi keselamatan sang kakak, Avi rela mengorbankan kehormatannya dan terjebak dalam dunia Damian yang penuh kuasa namun memiliki hati yang tertutup rapat.
Sampul Novel Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu
8.9
Dunia Savi hancur saat Jaka, rockstar yang ia puja sejak remaja, mengkhianati janji manisnya. Di sebuah bar Senopati, Savi mendengar rencana kejam Jaka untuk menyingkirkannya dengan sandiwara tunangan palsu. Tak hanya dihina sebagai pengganggu, Savi bahkan dibiarkan terluka fisik demi wanita lain. Muak dengan kekejaman dan rasa malu di depan umum, Savi memutuskan untuk bangkit. Ia memutus semua akses komunikasi dan memulai hidup baru di Florence tanpa bayang masa lalu.
Sampul Novel Mantan Pacar
8.4
Clara mendatangi kebun anggur tunangannya demi memulai hidup mewah. Namun, calon suaminya lenyap misterius dua hari sebelum pernikahan. Di tengah pencarian, ia justru terikat dengan saudara laki-laki sang tunangan yang kaku namun memikat. Terjebak dalam pusaran rahasia gelap keluarga dan godaan terlarang, Clara menyadari bahwa pengungkapan kebenaran bisa menghancurkan hidupnya atau justru memberinya kekuasaan besar yang selama ini ia dambakan.
Sampul Novel My Special CEO
9.7
Cleo Alineava Lynn, gadis bermata biru yang akrab disapa Cheva, lebih memilih bekerja di perusahaan luar daripada memimpin bisnisnya sendiri. Tak disangka, ia justru jatuh hati pada atasannya, Devan Eduardo Hutresky. Devan yang awalnya skeptis terhadap cinta pun terpikat sejak pertemuan pertama. Namun, asmara mereka tak berjalan mulus. Berbagai rintangan terus menguji ketahanan hubungan keduanya. Sanggupkah cinta menjadi alasan mereka bertahan, atau justru memicu perpisahan?