APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencintai Monster yang Kupanggil Suami

Mencintai Monster yang Kupanggil Suami

Elara menggunakan kekuasaan keluarganya demi memaksa Julian, cinta pertamanya, ke dalam pernikahan tanpa cinta. Selama tiga tahun, ia menghadapi dinginnya kebencian Julian yang merasa kebebasannya dirampas. Saat menyadari cintanya hanya menjadi racun, Elara memilih menyerah dan menghilang sepenuhnya. Namun, kepergian Elara justru meninggalkan kehampaan tak terduga bagi Julian. Akankah kebebasan ini yang ia cari, ataukah benci itu sebenarnya adalah cinta yang tersembunyi?
Bab
Bagikan

Bab 2

Matahari pagi itu masuk lewat celah gorden yang tidak tertutup rapat, menusuk langsung ke mata Elara yang bengkak. Dia terbangun dengan posisi meringkuk di sofa ruang tengah, bukan di kamar utama yang empuk. Badannya terasa pegal semua, tapi rasa kaku di punggungnya tak sebanding dengan rasa nyeri yang masih tersisa di dadanya sejak semalam.

Dia bangkit perlahan, merapikan dress merahnya yang kini sudah kusut masai. Di atas meja makan, kue tart yang semalam dia siapkan masih ada di sana, tampak menyedihkan dengan krim yang mulai meleleh. Elara menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah tercecer di lantai dapur.

Baru saja dia ingin melangkah ke kamar mandi, suara pintu kamar atas terbuka. Julian turun dengan kemeja kantor yang sudah rapi, terlihat segar seolah badai yang dia ciptakan semalam sama sekali tidak memengaruhi tidurnya. Pria itu berhenti di anak tangga terakhir, menatap Elara dengan pandangan meremehkan.

"Masih di sini? Aku kira kau sudah lari mengadu pada ayahmu," sindir Julian sambil mengancingkan jam tangan-bukan jam pemberian Elara, tentu saja.

Elara tidak membalas. Dia hanya menatap Julian datar. "Aku mau mandi."

"Oh, silakan. Mandilah dengan air bunga atau apa pun yang biasa dilakukan putri kaya sepertimu untuk mencuci dosanya," Julian melangkah menuju pintu depan, tapi langkahnya terhenti saat hidungnya menangkap sesuatu. Dia mengernyit, lalu mendekat ke arah Elara.

Julian menarik napas dalam-dalam di dekat bahu Elara, membuat wanita itu tersentak kaget. Jantung Elara berdegup kencang, tapi sedetik kemudian, wajah Julian berubah menjadi sangat dingin dan penuh kebencian.

"Parfum ini..." suara Julian mendadak berubah jadi rendah dan tajam. "Kenapa kau memakai aroma ini, Elara?"

Elara bingung. "Maksudmu apa? Ini parfum baruku-"

"Jangan bohong!" Julian menyambar pergelangan tangan Elara dengan kasar, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Ini parfum yang sering dipakai Clara. Kau sengaja, kan? Kau sedang mencoba menjadi dia supaya aku sudi melirikmu? Kau benar-benar menjijikkan."

Elara mencoba melepaskan tangannya yang mulai sakit. "Aku bahkan tidak tahu Clara pakai parfum apa, Julian! Lepaskan, sakit!"

"Kau tahu segalanya tentang dia! Kau yang membayar orang untuk mencari tahu hidupnya, kau yang membuat dia pergi dari kota ini, dan sekarang kau mencoba meniru baunya?" Julian mengibaskan tangan Elara seolah-olah tangan itu adalah kotoran. "Bahkan jika kau memakai kulitnya sekalipun, kau tidak akan pernah bisa menggantikannya. Kau cuma sampah yang terbungkus kain sutra."

Julian keluar dari rumah dengan membanting pintu begitu keras hingga vas bunga di dekat pintu bergetar. Elara terpaku di tempatnya. Dia mencium aroma tubuhnya sendiri. Parfum itu adalah hadiah dari temannya, dia tidak tahu kalau aromanya mirip dengan milik mantan kekasih Julian. Tapi bagi Julian, segala sesuatu yang dilakukan Elara selalu punya niat busuk di baliknya.

Dia terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Baru jam delapan pagi, dan dia sudah merasa sehancur ini.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar di atas meja. Nama "Ayah" muncul di layar. Elara menghapus air matanya secepat kilat, mengatur suaranya agar tidak terdengar serak.

"Halo, Yah?"

"Elara, kenapa suaramu begitu? Kau sakit?" suara berat ayahnya terdengar di seberang sana.

"Hanya flu sedikit, Yah. Ada apa?"

"Julian belum mengirimkan laporan proyek terbaru ke kantor pusat. Katakan padanya, jangan karena dia suamimu, dia bisa santai-santai. Kalau dia berulah lagi, Ayah tidak segan-segan menarik semua investasi di perusahaannya. Mengerti?"

Elara menggigit bibir bawahnya. Inilah yang membuat Julian semakin membencinya. Setiap kemajuan karier Julian selalu dibayang-bayangi oleh ancaman ayahnya. Julian merasa seperti anjing peliharaan yang harus terus dipacu agar tetap patuh.

"Julian sedang sibuk, Yah. Nanti aku sampaikan," kata Elara pelan.

"Bagus. Ingat Elara, kau itu putri keluarga klan utama. Jangan biarkan pria itu merendahkanmu. Kalau dia macam-macam, bilang pada Ayah."

Setelah telepon ditutup, Elara melempar ponselnya ke sofa. Dia merasa terjepit di antara dua batu besar yang siap menghimpitnya sampai remuk. Di satu sisi ada ayahnya yang sombong dan suka mengontrol, di sisi lain ada Julian yang menganggapnya sebagai sumber penderitaan hidupnya.

Dia memutuskan untuk pergi ke kantor Julian. Bukan untuk bertengkar, tapi untuk menyampaikan pesan ayahnya-sekaligus, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling bodoh, dia ingin memastikan Julian sudah makan siang.

Elara mampir ke restoran favorit Julian, membelikan menu yang biasa pria itu pesan tanpa bawang bombay, persis seperti yang Julian suka. Dengan kotak makan di tangan, dia berjalan masuk ke gedung kantor Julian. Para karyawan menatapnya dengan pandangan aneh-campuran antara rasa hormat palsu dan kasihan yang disembunyikan. Semua orang tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya.

Saat sampai di depan ruangan Julian, sekretarisnya mencoba menahannya. "Maaf, Bu Elara, Pak Julian sedang ada tamu penting."

"Aku istrinya, aku bisa masuk kapan saja," kata Elara dengan sisa-sisa kesombongan yang dia punya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan bawahan suaminya.

Tanpa mengetuk, Elara membuka pintu.

Langkah kakinya terhenti seketika. Di dalam ruangan itu, Julian tidak sedang bersama klien. Dia sedang duduk di sofa dengan seorang wanita. Wanita itu sedang menangis, dan tangan Julian berada di bahu wanita itu, mengusapnya dengan lembut-sebuah gerakan yang tidak pernah Julian berikan pada Elara selama tiga tahun mereka menikah.

Wanita itu adalah Clara.

"Elara?" Julian berdiri, matanya memancarkan amarah karena privasinya diganggu. "Siapa yang mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk?"

Elara menatap Clara yang tampak begitu rapuh, lalu menatap kotak makan di tangannya. Rasanya sangat konyol. Dia datang seperti istri yang berbakti, sementara suaminya sedang sibuk menenangkan "cinta sejatinya".

"Ayah memintamu mengirimkan laporan proyek," kata Elara, suaranya terdengar hampa. "Dan... aku membawakanmu makan siang."

Julian melihat kotak makan itu, lalu tersenyum miring yang menyakitkan. "Makan siang? Kau lihat? Clara sedang kesulitan karena bisnis kecilnya diganggu oleh orang-orang suruhan ayahmu, dan kau datang ke sini membawa makanan seolah-olah kau adalah malaikat?"

"Aku tidak tahu apa-apa soal bisnis Clara, Julian!"

"Sudahlah, Elara. Pergi dari sini. Bau parfummu yang meniru dia saja sudah membuatku mual, apalagi melihat wajahmu yang pura-pura tidak tahu apa-apa." Julian mengambil kotak makan itu dari tangan Elara, lalu tanpa ragu, dia membuangnya ke tempat sampah di sudut ruangan.

Bunyi buk saat kotak itu menghantam dasar tempat sampah terdengar seperti suara harapan Elara yang hancur berkeping-keping.

"Julian, itu keterlaluan..." Clara berbisik pelan, mencoba melerai, tapi Elara tahu itu hanya akting agar dia terlihat lebih baik di mata Julian.

Elara menarik napas dalam, mencoba menahan air mata yang sudah mendesak di pelupuk matanya. Dia tidak boleh menangis di depan wanita ini. Dia tidak boleh kalah telak.

"Laporannya, Julian. Kirim sebelum sore kalau kau tidak mau perusahaanmu habis," kata Elara dengan nada dingin yang dia paksakan.

Dia berbalik dan berjalan keluar dengan kepala tegak. Tapi begitu pintu lift tertutup, pertahanannya runtuh. Dia bersandar pada dinding lift, tubuhnya gemetar hebat. Dadanya terasa sangat sakit sampai dia sulit bernapas.

Tiga tahun dia bertahan. Tiga tahun dia dihina. Tiga tahun dia mencoba mencairkan gunung es yang ternyata justru semakin membeku. Dan hari ini, melihat Julian memberikan kelembutan yang selama ini dia dambakan kepada wanita lain, Elara sadar bahwa dia sudah sampai pada batasnya.

Dia tidak lagi punya kekuatan untuk berjuang. Cintanya yang besar ternyata bukan sebuah kekuatan, melainkan sebuah kutukan yang pelan-pelan membunuhnya.

Sesampainya di rumah, Elara tidak lagi menangis. Dia berjalan menuju kamar, mengambil koper besar dari atas lemari, dan mulai memasukkan baju-bajunya. Bukan baju mahal yang dibelikan Julian-karena Julian memang tidak pernah membelikannya apa-apa-melainkan baju-baju miliknya sendiri.

Dia melihat cincin pernikahan di jari manisnya. Sebuah lingkaran emas yang indah, tapi terasa seperti borgol yang berat. Dia melepaskan cincin itu, meletakkannya di atas meja rias, tepat di samping foto pernikahan mereka di mana Julian sama sekali tidak tersenyum.

"Cukup, Julian," bisiknya pada ruangan yang kosong. "Aku menyerah."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Selama tiga tahun, pengabdian Giselle hanya dibalas kebencian oleh Lucian. Setelah menyerah pada pernikahan yang menyesakkan itu, Giselle bangkit menjadi CEO saingan dengan berbagai identitas rahasia sebagai peretas hingga desainer ternama. Lucian yang awalnya meremehkan justru terobsesi untuk mengejarnya kembali saat rahasia Giselle terungkap. Meski Lucian memohon kesempatan kedua dengan segala cara, bagi Giselle, penyesalan suaminya sudah sangat terlambat.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Aluna bekerja keras di Hotel Aurelia demi biaya pengobatan adiknya. Namun, hidupnya hancur saat akun sistemnya dituduh membocorkan video rahasia Davin Elvard Renata dari Presidential Suite. Meski dijebak oleh rekan internal, miliarder itu tak peduli dan memaksa Aluna menjadi tawanan pribadinya sebagai bentuk tanggung jawab. Terjebak dalam konspirasi besar dan ancaman Davin, Aluna harus bertahan di tengah permainan kekuasaan yang penuh rahasia dan ketakutan.
Sampul Novel Hari Pernikahannya, Pembalasan Dendam Sempurnanya
9.2
Dahulu aku menyelamatkan Arya Wicaksana, membangunnya menjadi raja bisnis, dan menikahinya secara rahasia. Namun, ia mengkhianatiku dengan menyebutku beban dan menghancurkan klinik kenangan putri kami demi kekasih barunya. Arya menyalahkan ambisiku atas kematian anak kami, berusaha menghapus jejak masa lalu kami sepenuhnya. Ia pikir ia telah menang, namun undangan pernikahannya justru menjadi awal kehancurannya yang akan aku eksekusi tepat di hari bahagianya.
Sampul Novel Istri Pengganti Tuan Muda!
8.8
Demi menjaga martabat keluarga Wijaya dan Maduswara, seorang ayah memohon kepada putrinya untuk menjadi pengantin pengganti. Jika pernikahan besar ini sampai batal, reputasi leluhur mereka akan hancur seketika. Tak hanya itu, nasib perusahaan yang telah dibangun sang ayah selama bertahun-tahun kini berada di ujung tanduk. Sang putri pun dihadapkan pada pilihan sulit untuk menyelamatkan kehormatan serta masa depan bisnis keluarganya.
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta Pada Sugar Daddy
8.6
Terdesak kebutuhan finansial, Anggita yang berusia 20 tahun nekat mendaftar di aplikasi Sugar Baby. Meski sempat diabaikan karena fisiknya, pengacara sukses bernama Devano Abimanyu justru tertarik padanya. Devano bersedia membiayai hidup Anggita dengan syarat ketat: dia memegang kendali penuh, menjanjikan kenikmatan luar biasa, dan melarang Anggita jatuh cinta. Akankah Anggita mampu bertahan tanpa melibatkan perasaan, atau justru terjebak dalam aturan yang sengaja dilanggar?
Sampul Novel Pertemuan Tak Terduga: Kukira Kau Seorang Gigolo?!
8.3
Vanessa membatalkan pertunangannya setelah memergoki calon suaminya berkhianat dengan adiknya sendiri. Untuk membalas dendam, ia menyewa pria yang ia sangka gigolo di sebuah klub demi satu malam panas. Vanessa pergi begitu saja setelah memberikan cek besar, mengabaikan amarah pria itu. Namun, dunianya terguncang saat ia bertemu Tuan Fuller, pebisnis berpengaruh yang harus ia temui, hanya untuk menyadari bahwa sang miliarder adalah pria yang ia bayar.