APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren

Mengejar Dosen Duren

Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kurang lebih satu bulan yang lalu….

“Kami tahu kamu bisa melihat kami. Jangan sok gak liat kami dong!” Dua makhluk tak kasat mata sedang mengikuti seorang gadis indigo yang pura-pura tidak bisa melihat hantu. Mereka roh-roh yang masih penasaran dan bergentayangan di bumi, tujuan mereka mendekati gadis ini karena ingin mendapat bantuan dari manusia yang punya kelebihan. Sayang sungguh sayang banyak orang yang memiliki keistimewaan tapi tidak peduli pada mereka, cuek bebek saja seperti gadis ini, mengabaikan mereka dari tadi. Sepertinya mau sampe beberapa kali lebaran haji pun mereka tidak akan digubris sama sekali.

‘Apaan sih ini setan, ganggu deh,’ gumam gadis ini dalam hati sambil terus berjalan menuju kampus. Percuma saja dia menghindari para setan, sewaktu-waktu kan tidak sengaja bertatap mata dengan mereka dan dia bagaikan cahaya yang menarik makhluk gaib untuk mendekatinya. Kelebihan ini membuat sang gadis tidak bisa menikmati menjadi manusia sejati, dia tidak bisa hidup dengan tenang, sewaktu-waktu pasti akan dikagetkan oleh setan.

“Hei …. Tengok sini!” kata setan berambut panjang dan bergaun putih, wajahnya memang tidak seram, sepertinya setan gadis penasaran yang meninggal saat masih perawan, hanya ada luka lebam di bagian leher saja, mungkin korban dari pembunuhan.

“Tengok sini!” kata temannya yang berwajah agak seram bekas kecelakaan, entah habis kecelakaan apa, yang jelas dia berlumuran darah dan badannya kotor sekali. Usaha mereka hanya sia-sia saja, tidak ada respon karena si gadis tetap fokus jalan ke depan tanpa mau menoleh dan menjawab sama sekali.

“Kita halangi, yok!” ajak si wajah seram pada hantu gadis perawan. Ternyata semangat mereka begitu menggebu-gebu, tidak pantang menyerah begitu saja demi mendapat respon dan akan memohon bantuan berharap dibantu oleh manusia ini.

Hantu gadis perawan mengangguk, dia dan hantu korban kecelakaan kompak menghalangi jalan dengan membentangkan kedua tangan. 

Gadis berambut hitam panjang sontak kaget melihat tangan setan-setan menghalangi jalannya, mau lurus dia nabrak tangan setan, mau belok susah karena dadakan. Alhasil dari pada nabrak setan, kata sang nenek bikin energi kita melemah, jadi dia pilih belok dadakan saja biar energinya tidak terkuras karena bersentuhan dengan mereka. 

Tak disangka pilihan ini malah menjerumuskannya ke dalam lubang kemaslahatan, eh salah, maksudnya lubang jalan. Sepatu yang tadinya bersih nan kinclong mendadak jadi basah dan penuh lumpur, maklum becek habis hujan semalam. Sialnya lagi, tak cuma kotor dan berlumpur, kakinya tertelan lumpur tersebut dan hampir saja membuat dia terjatuh.

‘Ih sebel pada usil. Jadi sial, kan.’

Netra hitam berkilau dengan tatapan yang tajam kini tidak lagi mengarah ke bawah atau ke depan, sekarang menatap kedua setan dengan tajam seolah belati yang siap menebas tubuh korban. 

“O … ouuu …. Sepertinya kita dalam bahaya!” kata setan korban kecelakaan pada rekan seperjuangannya. Dia takut melihat tatapan gadis yang dari tadi cuek bebek. Gadis itu membuktikan bahwa dia bisa melihat setan-setan itu, tapi sayangnya tatapannya penuh amarah. Jelas gadis cantik ini marah lah, sepatunya kotor dan dia mau berangkat kuliah lho. Ini setan-setan usil malah ganggu, bikin dia hampir jatuh dan sepatunya kotor saja. Mending kalau kasih duit, hasilnya enak, ini ngasih kesialan, kan kurang ajar.

“Kamu, sih.” Hantu perawan menyalahkan ajakan sesat dari rekannya. 

“Kalian … kalian enyah dari hadapan gueeee …!” teriak manusia indigo ini begitu kencang. Tanpa sadar gadis ini jadi perhatian banyak orang lantaran berteriak entah pada siapa, orang di depannya tidak ada siapa-siapa. Semua mata yang tertuju pada sang gadis menatap gadis itu curiga, menganggap gadis ini aneh dan menakutkan saja, bahkan disangka gila. 

Sekarang tatapan tajam itu berubah melebar, melotot bak Suzana. Dua setan itu pun ketakutan, mundur-mundur bak undur-undur. “Enyah kalian berdua, kalau tidak, kalian berdua akan lenyap sekarang juga!” Satu tangan gadis ini terangkat ke udara, dia seolah penyihir yang akan memberikan hukuman tanpa tongkat, hanya dengan tangan kosong saja bisa mengeluarkan sihir yang bisa membinasakan setan-setan.

“Ma- ma- maafkan kami!” Dua setan sekawan makin mundur, mereka takut dengan ancaman manusia yang dari tadi mereka anggap bisa membantunya tapi pura-pura cuek, ternyata sangar juga. Salah mereka sih cari gara-gara saja, ini orang jadi murka kan.

“Ayo pergi!” ajak hantu gadis perawan sambil memegang lengan hantu wajah menyeramkan. Daripada diam di sini, bikin mereka tak aman, lebih baik pergi saja.

“Pergiii ….” teriak gadis ini lagi lalu kedua hantu menghilang entah kemana, ditelan bumi mungkin. Kedua hantu melihat ada pedagang cermin, mereka berlari memasukkan diri ke dalam kaca, teleportasi ala makhluk gaib adalah dengan kaca.

Teriakan itu lagi-lagi membuat semua mata tertuju padanya. Orang-orang makin curiga jika gadis ini gila.

“Ih aneh!” kata orang yang mau lewat ke dekat gadis ini. Bulu kuduknya berdiri semua, takut si gadis aneh kembali menjadi dan lebih parah, tidak cuma berteriak saja 

Sang gadis menoleh dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Astagfirullah, kelupaan!” Dia geleng-geleng kepala, tak habis pikir atas kejadian menjengkelkan ini. Dia jadi malu sendiri, kedua tangannya meraih buku yang ada di dalam tas lalu dia gunakan untuk menutupi wajahnya, malu kalau ada yang kenal.

Tujuh menit kemudian dia sampai di gedung kampus bagian dimana keberadaan kelasnya berada. Sebuah tangan berkulit putih melingkar ke lehernya, saat dia menoleh, dia bisa melihat pemilik tangan ini siapa, untung manusia.

“Pagi, Juita!” sapa gadis berambut ikal yang terlihat sekali memiliki sikap agak malu-malu ucing.

“Jelita heh!” sanggah gadis indigo yang ternyata bernama Jelita.

“Udah siap ikut kelas?” tanya sang sahabat sambil mengangkat buku yang dia pegang tinggi-tinggi, dia antusias sekali ikut kelas hari ini.

“Siap dong!” jawab Jelita tak kalah semangat. Mereka berdua berjalan bersamaan memasuki kelas.

Saat melangkahkan kaki hendak masuk, tiba-tiba Jelita ditarik oleh sahabatnya- Luna. “Eh kok sepatu lo kotor sih? Lo kayak kuda nil aja deh, kotor sama lumpur. Jangan-jangan emang bener lo mandi lumpur deh.” 

Jelita mengerucutkan bibirnya. Masa dia disamakan dengan kuda nil, ya jelas cantikan Jelita lah. “Enak aja, gue gak mandi lumpur kaya kuda nil. Tadi gue hampir jatoh, salah langkah sampe sepatu gue jadi kotor begini.”

“Huh …. Masa? Ah kudanil gak mau ngaku!” Luna tetap mengejek jelita, dia suka jika Jelita marah, mukanya pasti merah bak tomat.

“Yee …. Udah dibilang gue mau jatoh. Tadi ada setan yang ngalangin jalan.” Jelita membela diri dan mengungkapkan alasannya apa. Luna adalah satu-satunya teman yang mengetahui jika Jelita seorang indigo.

“Masa?” Luna jadi penasaran, dia suka cerita horor, koleksi komiknya banyak dan rata-rata semua fantasi dan horor.

“Iya. Gue tadi abis dikejar-kejar setan tau. Lo mau juga, gak?” tawar Jelita, kali ini dia yang menakut-nakuti .

“Eh gak mau, gak minat.”

*** Di tempat lain :

BREAKING NEWS, Mobil Masuk Jurang Sedalam Ratusan Meter di Bandung, satu korban dinyatakan meninggal dan satu korban dinyatakan hilang.

Mata Daniel yang sebelumnya sibuk pada laptop, kini berpindah pada layar LED televisinya yang menempel di dinding. Informasi dari sebuah acara berita sore itu, menarik perhatiannya.

Satu unit mobil yang ditumpangi dua penumpang terjun ke jurang setelah mengalami kecelakaan tunggal di Kampung Pasir Pogor, RT 02/09, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (29/12/2022) siang ini.

Korban yang diketahui adalah wanita berusia dua puluh tujuh tahun ditemukan dalam keadaan meninggal sementara korban lain yang merupakan seorang bayi berusia 18 bulan, dinyatakan hilang. Sampai detik ini, polisi masih melakukan proses evakuasi karena medan yang dianggap cukup sulit untuk dilalui.

Perasaan Daniel yang sudah tidak enak sejak beberapa jam lalu pun segera beranjak dari meja kerjanya. Ia mengambil ponsel yang sedang dichargernya dalam keadaan off dan berusaha menyalakannya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari sang istri, Elizabeth pada aplikasi chat yang biasa mereka gunakan.

"Ada apa Eli telpon aku sampai banyak begini," gumam Daniel, lalu segera menghubungi istrinya kembali. 

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi.

Daniel segera mematikan panggilan dan mencoba melakukan panggilan berikutnya ke nomor kedua sang istri, mengingat ponsel yang digunakan oleh istrinya memang memiliki dua kartu SIM.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi.

Namun ternyata hasilnya sia-sia saja. Daniel yang sebelumnya masih bisa berpikir positif, kini mendadak menjadi cemas. Ia pun mencari nomor lain dalam kontaknya dan melakukan panggilan lagi.

"Halo, David? Aku mau tanya, apa Elizabeth ke tempat papah?"

[Enggak, Bang. Ada apa emangnya?]

Daniel menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Ia lalu mendesah dan berkata, "Tadi Elizabeth pergi ke sana karena papah mau ketemu sama Eliezer. Aku enggak antar dia karena mau ada zoom class sama mahasiswa, jadi aku stay di rumah. Tapi sampai sekarang dia belum kabarin aku, apa dia ada ngabarin kamu atau papah?"

[Enggak deh kayaknya. Ini aku sama papah mau pergi jalan-jalan ke luar, Bang.]

"Hah, kok bisa?" Daniel mencebik, lalu memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Yaudah, aku telpon teman-temannya dulu. Tolong kabari aku kalau Elizabeth sama Eliezer ke sana."

[Iya, Bang.]

Panggilan pun terputus. 

David adalah adik sambung Daniel yang dibawa oleh ibu tirinya. Pernikahan sang papah dan istri barunya baru berlangsung beberapa tahun belakangan, tapi hubungan David dan Daniel sudah terjalin baik. David adalah pribadi terbuka yang bisa mengimbangi sikap diamnya sang kakak sambung. Sehingga sejauh ini, tak ada masalah apapun yang melibatkan kedua kakak beradik tiri itu.

Daniel sangat memercayai David, sebagaimana David yang selalu menghormati Daniel.

Sebuah ketukan di pintu rumah membuat lamunan Daniel terpecah. Ia menoleh dan segera beranjak dari ruang kerja pribadinya dalam bangunan itu dan berlari menuju ke pintu. Sembari menarik napas, pria bertubuh proposional itupun menarik gagang pintu dan membukanya. 

Bak disambar petir di siang bolong, ekspektasi Daniel tentang siapa tamu di balik pintu itu sungguh berbeda dari realita yang ada. Elizabeth tidak ada di sana, pula dengan anak mereka yang bernama Eliezer. Justru seorang polisilah yang berdiri tegak di sana.

"Ada ... yang bisa saya bantu, Pak?" Daniel membuka pembicaraan terlebih dahulu.

Polisi dengan tubuh tegap dan perut ratanya itu tampak masih muda, sepertinya pria itu masih angkatan baru. Terlihat dari wajahnya yang juga masih terlihat sangat muda jika dibandingkan dengan polisi-polisi lain yang pernah dikenal oleh Daniel.

"Permisi, apa benar ini kediaman ibu Elizabeth Wijaya?" 

Jantung Daniel berdetak lebih cepat ketika polisi itu menyebut nama sang istri. Ia kemudian menelan saliva dengan susah payah, sebelum akhirnya membalas, "I-iya betul. Ini memang ... memang rumah Elizabeth. Saya Daniel, suaminya."

"Kalau begitu informasinya valid." Polisi itu mengatup bibirnya sejenak, lalu menurunkan topi yang ada di kepalanya. Dengan cepat Daniel bisa melihat bentuk rambut sang polisi yang bergaya cepak di depannya. "Begini Pak Daniel, saya datang ke sini untuk memberi kabar duka untuk Anda."

"Tunggu, tunggu!" sergah Daniel tak terima. "Kabar duka?"

"Betul, Pak Daniel."

Kedua alis hitam milik Daniel pun bertaut seketika. "Ada apa ya, Pak?"

Perasaan pria itu semakin tidak karuan ketika sang polisi terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan berita yang sudah ada di ujung lidahnya. Namun Daniel masih tidak bergeming dan tetap berdiri sembari memandangi sang polisi dengan papan nama bertuliskan Sahrul dengan raut penasaran. 

Kabar buruk apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh polisi itu?

"Sebelumnya kami minta Pak Daniel untuk tetap tenang dan bersabar. Begini, petugas patroli kami menemukan kendaraan yang digunakan oleh istri Anda telah mengalami kecelakaan tunggal di daerah Cililin," jelas Sahrul dengan sangat berhati-hati. "Proses evakuasi masih berlangsung tapi kami menemukan beberapa barang dari korban yang mungkin perlu Anda lihat."

Kedua mata Daniel membola, setelah mendengar kata-kata yang baru saja didengarnya. Apa katanya?

Sahrul kemudian menyodorkan beberapa barang yang sudah dibungkus dengan kantung plastik transparan kepada Daniel. "Ini adalah kartu identitas dan dompet istri Anda. Selain itu, kami juga menemukan syal berukuran pendek dan kartu identitas anak dalam mobil tersebut, Pak. Mungkin bapak bisa melihatnya untuk memast--" Ucapan Sahrul menggantung di udara karena gerakan Daniel yang meraih benda itu secara tiba-tiba. 

Air mata tak lagi bisa ditahan oleh Daniel ketika semua barang itu ada di tangannya. 

"Pak, sebaiknya Anda ikut kami ke TKP. Istri Anda dinyatakan meninggal dunia di tempat, sementara anak Anda ... masih dalam proses pencarian."

"Meninggal?" Daniel mendongak, melihat Sahrul dengan tatapan nanar. "Itu pasti kesalahan, 'kan? Dia masih hidup, 'kan? Eliz enggak mungkin pergi begitu saja."

Sahrul mengembuskan napas berat sebelum akhirnya menghampiri Daniel yang terisak di tempatnya. Ia memandangi wajah sedih Daniel dengan ekspresi penuh simpati. Meski sudah beberapa kali Sahrul melihat pemandangan ini, tapi tetap saja hatinya selalu tersentuh dan ikut teriris saat melihat keluarga korban yang mendengar kabar kematian. Pria itu menepuk-nepuk pelan bahu Daniel, lalu berkata, "Yang sabar, Pak. Hidup dan matinya seseorang sudah diatur sama Tuhan. Bapak harus ikhlas."

Namun kata-kata penyemangat itu hanyalah angin lalu bagi Daniel. Ia memeluk barang-barang sang istri dan anak yang ada dalam genggamannya dan menangis lebih keras.

Sementara Sahrul hanya bisa berdiri dengan pasrah tanpa ada niatan merusak ataupun mengganggu momen menyedihkan yang dialami oleh Daniel.

Pada hari itu, Daniel bukan hanya kehilangan istri dan anaknya. Namun pria itu juga kehilangan separuh hidupnya. Kehidupannya yang sebelumnya dipenuhi warna, kini telah berubah menjadi cerita abu-abu yang mengerikan.

"Kalau Anda sudah tenang, tolong ikut saya ke TKP ya, Pak. Kami perlu mendapatkan pernyataan Anda bahwa korban memang benar merupakan saudari Elizabeth Wijaya." Sahrul menepuk bahu Daniel. “Anda harus kuat, Pak. Putra Anda kemungkinan masih hidup dan butuh ketegaran Anda untuk ikut serta mencarinya.”

“Eliezer masih hidup ‘kan? Tolong temukan bayi saya.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Broken Vessel
7.9
Di dunia di mana setiap orang memiliki kekuatan spesial bernama Arte, Trystan yang berusia 21 tahun justru terjebak dalam bahaya besar. Kekuatan langka miliknya memicu perburuan mematikan; banyak pihak ingin menghabisinya atau memanfaatkan kemampuannya. Hidup Trystan kini dipenuhi pengkhianatan, dendam, dan rasa kehilangan yang mendalam. Di tengah paksaan serta tanggung jawab besar, ia harus berjuang melindungi hal berharga sambil menghadapi musuh yang terus mengincar.
Sampul Novel CEO LEBAY
8.3
Richard tewas setelah gagal bersaing memperebutkan Claudia. Di akhirat, ia memprotes ketidakadilan nasibnya hingga Tuhan memberinya kesempatan hidup kedua. Berkat doa tulus seorang gadis, Richard bangkit dengan memori masa lalu yang luar biasa. Kini ia menguasai berbagai bahasa dan seni, serta tahu letak harta karun tersembunyi. Sambil mengejar Claudia dengan kekayaan barunya, Richard mulai ragu apakah obsesinya itu benar atau ada cinta lain yang lebih tulus.
Sampul Novel Dunia Lain Di Balik Pintu
8.7
Astrid Ratchett, siswi antisosial yang sering dirundung, terobsesi dengan novel fantasi Richard Mcgrory. Suatu hari, ia menemukan pintu rahasia di balik lemari menuju dunia yang persis seperti buku favoritnya. Di sana, Astrid menjadi sosok cantik dan terhormat. Namun, ia terkejut saat bertemu mendiang sahabatnya yang kini jadi pangeran. Saat ancaman keluarga jahat muncul, Astrid harus berjuang menyelamatkan negeri itu sambil mengungkap kebenaran di balik dunia misterius ini.
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, koki ternama, mendadak jadi buronan setelah masakannya tak sengaja menewaskan perdana menteri. Saat pelarian, jiwanya berpindah ke tubuh seorang wanita yang tenggelam di lokasi berbeda. Dalam raga barunya, Max justru jatuh cinta pada Wulan, sahabat dari Nadia. Begitu berhasil kembali ke tubuh aslinya, Max bertekad mencari dan menikahi Wulan. Namun, meyakinkan wanita itu bukanlah perkara mudah. Akankah cinta sang koki berakhir manis?
Sampul Novel My Handsome Partner
8.0
Karir Senja stagnan hingga tugas meliput bencana menyeretnya ke banjir bandang. Terdampar di hutan, ia bertahan hidup bersama Ella si peri dan menyelamatkan pria bernama Salaar Bayu dari laba-laba raksasa. Pertemuan mereka berlanjut di Desa Galie, di mana Bayu bertugas sebagai jagawana. Keduanya bekerja sama mengungkap misteri Hutan Sungai Hitam. Namun, kehadiran Fajar, sang mantan kekasih, menguji hati Senja di tengah misi berbahaya mereka.
Sampul Novel Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar
8.4
Tiga tahun aku bersabar menghadapi Marco, Alpha yang dingin dan selalu beralasan menjagaku yang rapuh. Di hari jadi kami, ia justru pergi demi serigala betina lain bernama Sarah. Marco meninggalkan aku sendirian di jalanan gelap saat badai demi mengejar cinta sejatinya. Di titik kehancuran itu, muncul sosok Alpha misterius dengan kekuatan luar biasa. Tatapan peraknya mengunci mataku, lalu ia mengklaim diriku sebagai miliknya dengan geraman penuh proteksi.