APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mengemis nafkah suamiku

Mengemis nafkah suamiku

Kehidupan Ajeng Samudra terasa pilu saat ia harus mengemis nafkah pada Alfandra. Sang suami justru lebih memprioritaskan keuangan untuk mantan istrinya dengan dalih kebutuhan anak. Mirisnya, Ajeng dilarang bekerja dan hanya diminta mengurus rumah serta diri sendiri. Tekanan kian berat karena ibu mertuanya terus menuntut materi dari Alfandra, meski ia memiliki anak lain yang jauh lebih mapan. Ajeng terjebak dalam konflik finansial dan ego keluarga.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Tadi ngobrol sama siapa di luar sayang?"

Alfa yang kebetulan baru saja duduk di meja makan langsung mencerca Ajeng dengan pertanyaan.

"Yang mana? Sama Diro!" Ajeng menjawab jujur, Alfa yang mendengarnya langsung menghentikan aksinya yang akan meminun minuman di gelasnya, raut wajahnya langsung berubah tak suka.

"Kan udah aku bilang, jangan tanggepin dia. Aku nggak suka!" Memang, sekomplek tau jika Diro menaruh rasa pada Ajeng, meskipun sudah tau Ajeng telah menikah. Bahkan pernah sekali, Alfa melabrak Diro saat pria itu lewat depan rumahnya dan celingukan seperti mencari sesuatu, Alfa yang kebetulan lihat langsung mencercanya dan memarahinya karna menaruh rasa pada istrinya.

Namun yang membuat Alfa geram adalah, bukanya takut. Diro malah dengan entengnya menjawab, "nikah bisa cerai, kalau emang jodoh Ajeng sama gue mau gimana? Mas Alfa cuma tempat mampir doang!"

Alhasil hampir saja terjadi baku hantam, namun tak jadi ketika Ajeng mendadak keluar karna suara keributan. Dan langsung membawa suaminya itu masuk.

"Dia cuma nyapa mas, ya aku bales aja."

"Jadi orang jangan genit. Kamu udah bersuami!"

Ajeng yang akan memberikan lauk pada piring Alfa sontak saja berhenti, dan langsung menatap sang suami yang terlihat memandang ke arah lain dengan tatapan malas.

"Aku nggak semurahan itu mas, aku juga tau dan nggak pernah nanggepin lebih. Aku cuma nyapa balik apa itu salah?"

"Jelas salah!" Tatapan Alfa kini beralih pada Ajeng sepenuhnya, terlihat raut marah tercetak diwajahnya, "kalau suami bilang jangan tanggepin ya jangan tanggepin, kamu ngerti bahasa manusia nggak sih!"

Setelahnya, suara gebrakan di meja di susul suara kursi yang bergeser dan kemudian Alfa bangkit dari duduknya.

"Mas nggak jadi sarapan?" Tanya Ajeng begitu melihat Alfa keluar sembari membawa kunci mobil.

"Nggak mood, mau sarapan di rumah mama!" Dengan enteng sekali Alfa membalas ucapan sang istri membuat Ajeng menghela dan langsung terduduk lemas.

"Aku udah siapin sarapan pagi pagi, tapi yang dimakan sarapan mamanya!"

Tak lama kemudian bell rumah berbunyi, dia pun segera keluar untuk melihat siapa yang pagi pagi datang ke rumahnya. Karna tak biasanya.

Saat pintu terbuka, dia langsung di hadapkan dengan wajah mantan istri suaminya beserta anaknya yang sudah sama sama rapi.

Melihat bukan Alfa yang membukakan pintu membuat Diana terlihat kikuk.

"Mas Alfanya ada Jeng?"

"Emang kenapa mbak?" Tanya Ajeng dengan heran.

"Ini, Runa pengen main ke tempat mainan sama papanya. Tadi pas aku chat mas Alfa katanya di rumah."

"Mas Alfanya lagi ke rumah orangtuanya mbak,"

"Owh, ke rumah mama? Yaudah aku susul kesana aja. Kebetulan mama sering nyuruh aku mampir kesana. Tapi aku sering lupa. Jadi sekalian aja jemput mas Alfa." Mulut Ajeng menganga mendengar ucapan Diana yang seolah tak merasa bersalah sama sekali, padahal didepanya adalah istri sah dari mantan suaminya itu. Baru saja Ajeng akan membuka mulutnya, tiba tiba saja Diana sudah kembali berkata.

"Yaudah saya pergi dulu Jeng!"

Ajeng menatap kepergian Diana dengan sendu, Diana di suruh ke rumah mertuanya? Dia saja lupa kapan terakhir mama mertuanya itu menyuruhnya main ke rumah. Terlebih Alfa, suaminya itu memang sering ke rumah mertuanya namun dia tak diajak.

Ajeng menghela nafas lelah, lalu kembali masuk. Setelah ini, dia juga bingung harus bagaimana. Dirumah juga suntuk, tapi Alfa tak pernah mengajaknya main ke luar sekalipun libur kerja.

Ajeng kembali ke meja makan, dia pun makan dengan tak berselera, setelahnya dia duduk di ruang TV untuk menghabiskan waktunya melihat siaran televisi yang itu itu saja.

Hingga tanpa di rasa, jam sudah menunjukan angka 2 siang, tumben sekali suaminya itu belum pulang. Jika main ke rumah mertuanya biasanya siang saat adzan dhuhur suaminya itu sudah balik.

Baru saja akan mengambil Ponselnya untuk menghubungi Alfa, dia langsung sadar saat mengingat Alfa akan menemani Runa bermain.

Seketika Ajeng mengelus perutnya, memang setahun menikah mereka belum di karuniai anak, saat periksa ke dokter tak ada yang masalah. Rahimnya begitu sehat, sperma Alfa pun subur. Mungkin memang Tuhan belum mempercayai anak pada pernikahan mereka.

Ajengpun kembali duduk di depan TV, namun tak lagi menonton TV, melainkan memainkan ponselnya. Saat membuka IG, dia langsung melihat foto yang di unggah oleh Diana.

Disana, ada Alfa, Runa dan juga Diana yang saling bergandengan tangan. Di foto berikutnya, Alfa tampak tertawa dengan Runa dalam gendongannya.

Hal itu membuat hati Ajeng semakin sakit melihat kebersamaan mereka.

Ajeng beralih mencari aplikasi kontak, dan mencari nama sang suami untuk dia hubungi.

Satu panggilan tak terjawab, namun saat panggilan ke dua langsung di angkat.

"Hallo Jeng? Ada apa? Mas Alfa lagi main sama Runa."

Ajeng langsung mengernyit begitu suara Diana yang dia dengar, bukan Alfa.

"Kasih ponselnya ke mas Alfa dong mbak, mau ngomong bentar!"

"Oh oke!"

Terdengar, Diana berteriak memanggil Alfa, namun jawaban Alfa membuat bahu Ajeng langsung lemas.

"Bilang aja, lagi sibuk. Nanti kalau udah selesai sama Runa aku telfon balik!"

"Oke mas!" Terdengar pula, Diana membalas.

"Eh Jeng kata mas Alfa.. "

Belum sempat menjelaskan, Ajeng terlebih dahulu mematikan panggilan. Ajeng langsung lemas dengan wajah berkaca kaca.

Memang Yuna adalah darah daging Alfa, namun saat mendengar nama itu kenapa seolah olah dunia Alfa hanya di tujukan untuk Runa.

Terlebih sikap Diana yang seolah mencari kesempatan, padahal disatu sisi Diana pun sudah bersuami. Apa suaminya itu tidak cemburu melihat kedekatan Alfa dan dirinya yang cukup intens.

Apa dulu dia terlalu tergesa mengambil keputusan? Sekarang dia tak punya apa apa selain Alfa. Karna keluarganya juga seakan menjauhinya. Termasuk teman temannya yang dulunya begitu akrab saat kuliah. Memang mereka menyatakan jika disapa. Namun tak lagi bisa sedekat dulu.

Kadang, jika dia benar benar merasa boring, dia akan bermain ke rumah Santi dan bermain bersama anaknya yang masih kecil. Dan dia sering menggendongnya.

Namun sekarang dia tak enak jika harus bertamu, mengingat suami Santi pun sedang sakit.

"Mas Alfa, mas!!!" Suara teriakan dari arah luar hingga semakin terdengar dekat membuat Ajeng langsung menoleh, dia mendapati iparnya yang sedang celingukan mencari seseorang padahal ada dia yang jelas jelas dia lihat.

"Cari siapa Ca?" Akhirnya Ajeng mengalah untuk bertanya terlebih dahulu.

"Cari mas Alfa, dia kemana mbak? Libur kok nggak ada di rumah!" Aca masih terdiam di depan pintu masuk, seperti enggan untuk masuk, dan menunggu jawaban Ajeng dimana abangnya itu berada.

"Dia sedang bermain sama Runa, Ca!"

Terlihat Aca langsung menepuk keningnya, seolah baru saja mengingat sesuatu, "Oiya, aku lupa kan emang setiap weekend mas Alfa selalu nemenin mbak Diana sama Runa main!" Entah keceplosan atau apa, yang jelas Ajeng baru tau jika selama ini selama weekend Alfa selalu menghabiskan waktunya bersama anak dan mantan istrinya itu.

-----

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!
9.3
Demi membalas budi, Ayu merawat Ibu Lestari dengan tulus. Namun, ia justru terjebak dalam perjodohan dengan Tama, pria yang sudah memiliki kekasih dan membencinya. Saat kondisi kesehatan sang ibu kritis, Tama terpaksa menikahi Ayu lewat ikatan kontrak yang dingin. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, benih asmara mulai tumbuh tanpa diduga. Luka hati perlahan sembuh saat pengabdian Ayu mengubah kebencian menjadi perasaan yang sulit dilepaskan.
Sampul Novel CEO yang Penyayang Ingin Go Public
9.6
Elia dikenal publik sebagai pria sopan yang tertutup, namun aslinya dia sosok kejam yang menjerat Ashley dalam gairah. Hubungan rahasia mereka membuat Ashley aman dari gangguan siapapun. Keadaan berubah saat Ashley mual di depan umum. Elia yang biasanya dingin justru berlutut dan membelai perutnya dengan lembut. Sang CEO pun meminta Ashley untuk meresmikan hubungan mereka di depan semua orang, serta berjanji akan memberikan segalanya demi dirinya.
Sampul Novel DENDAM SANG CEO
9.6
Bram, CEO angkuh yang gagal move on dari Melisa, berencana menghancurkan Adam dengan memanfaatkan adiknya, Agni. Bram berpura-pura mencintai Agni hingga berhasil mendapatkan segalanya, namun niat busuk itu akhirnya terbongkar. Meski awalnya hanya ingin balas dendam, benih cinta tulus justru tumbuh di hati Bram. Sayangnya, Adam menentang keras hubungan ini karena sejarah persaingan bisnis mereka. Kini Agni terjepit antara perjodohan dengan Alan atau memilih Bram yang egois.
Sampul Novel Disusui Madu
8.7
Wafa terpaksa menumpang di kediaman Cindy atas ajakan Dika, suaminya. Namun, kehidupan Wafa berubah drastis menjadi pelayan di sana. Konflik memuncak saat mertuanya lebih memihak Cindy, ditambah duka mendalam atas kematian putra sulungnya, Delon. Keadaan kian misterius ketika Cindy mendadak hamil sementara ia terus mendominasi rumah tangga Wafa. Di tengah lilitan utang biaya medis dan pengkhianatan, mampukah Wafa bertahan atau memilih pergi demi kedamaiannya?
Sampul Novel En-PD163
8.4
Janna, peneliti berbakat yang hanya peduli pada sains, jatuh hati kepada Kingsley di pusat riset. Setelah perjuangan panjang untuk memilikinya, pernikahan mereka justru hancur saat Kingsley terobsesi mengejar cinta orang lain hingga tega menyakiti Janna. Merasa dikhianati, Janna memilih bercerai dan pergi. Saat Kingsley sadar dirinya hanya dimanfaatkan dan ingin kembali, Janna sudah memulai hidup baru bersama kekasih lain yang mencintainya.
Sampul Novel Love with my penyiarku
8.7
Muhammad Ghifarial Siregar, seorang pria flamboyan yang sangat populer, menambatkan hatinya pada sosok Ariana Martha. Meski perjalanannya dipenuhi luka mendalam dan jiwa yang rapuh, ia tetap teguh meyakini kehadiran cinta sejati. Baginya, perasaan tulus adalah takdir Tuhan yang harus diikhlaskan layaknya suara merdu di angkasa. Ia bertekad menjaga rasa yang tumbuh di relung hati agar terus mekar selamanya, hingga maut datang memisahkan mereka berdua.