APKDock Logo
Sampul Novel Menikah Demi Perceraian

Menikah Demi Perceraian

9.3 / 10.0
Sebastian Alvero Abraham terjebak dalam pernikahan dengan Latasha Revalina Mahendra, gadis yang delapan tahun lebih muda darinya. Meski awalnya Vero merasa seperti pengasuh bagi Reva yang kekanak-kanakan, keceriaan Reva justru membawa kebahagiaan baru yang tak terduga. Namun, saat kemesraan mulai tumbuh, motif asli Reva menikahi Vero terbongkar. Akankah kekecewaan Vero menghancurkan rumah tangga mereka yang baru seumur jagung setelah rahasia itu terungkap?

Menikah Demi Perceraian Bab 1

Embusan napas kasar mencelos melalui celah antara bingkai birai tipis milik Latasha Revalina Mahendra yang berjarak, begitu wanita cantik berusia dua puluh tahun itu memasuki kamar. 

Menggeleng tak habis pikir, kedua lengan Reva spontan bersedekap di area dada, selagi manik mata hazel indahnya dibiarkan untuk menatap sesosok pria tampan yang terbaring di permukaan ranjang. 

Mengayunkan tungkai yang terbalut slipper berwarna putih tulang, pribadi pemilik surai lurus dengan panjang sepinggang itu berjalan perlahan, menghampiri ranjang, lantas mendudukan diri di tepian benda persegi tersebut. 

"Uncle!" Reva menyeru pelan. 

Melepaskan sedakepan lengan, telapak tangan sebelah kiri wanita cantik itu melayang, hingga melabuhkan sebuah pukulan yang tak seberapa kencang ke permukaan lengan kekar milik pria tampan yang ada di hadapan.

Tidak mendapatkan respon maupun gubrisan, Reva membungkuk, mencondongkan dirinya ke arah pria tampan tersebut.

"Uncle!" Reva kembali menyeru seraya melabuhkan sentuhan di permukaan bahu sebelah kanan Sebastian Alvero Abraham, tak lupa memberi sedikit guncangan berarti juga di sana.

"Eummm?" Vero - begitu singkatnya pria berusia dua puluh delapan tahun itu biasa disapa, mengerang pelan tanpa membuka pelupuk mata yang sedari tadi memang sudah memejam.

Mendapati Vero memberi respon begitu acuh, Reva membuang napas kasar, lantas menegakan kembali tubuhnya, duduk dengan posisi sempurna.

"Kok udah tidur? Gak nungguin aku?"

"Saya capek, Rev. Ngantuk juga," tutur Vero bernada gumaman yang nyaris terdengar ayalnya sebuah rengekan.

Reva mendengkus, kemudian mengedarkan pandangannya, sekilas. "Ini malem pertama kita loh, Uncle."

Hening. Vero diam lagi, tidak merespon perkataan Reva, karena kesadarannya sudah benar-benar hampir terkikis habis oleh rasa lelah juga kantuk.

"Uncle ....!" Reva merengek sembari kembali mengguncang bahu Vero, berharap tindakan yang dilakukan bisa membuat suami tampannya itu terbangun, lantas bersedia berbincang dengannya, meskipun hanya sebentar.

Kenyataan bahwa ini adalah malam pertamanya bersama Vero sebagai sepasang suami istri, membuat Reva jadi tidak bisa tenang.

Terlebih, wanita cantik pemilik senyum manis berlesung pipi itu, kini tengah berada di kamar yang ada di unit apartemen milik Vero.

"Uncle! Bangun dulu bentar." Reva kembali merengek sambil terus mengguncang bahu Vero, mengganggu tidur pria tampan yang telah resmi mempersunting dirinya siang tadi itu.

Vero mendengkus kesal, lantas menolehkan kepala, jadi tidur dalam posisi memunggungi Reva seutuhnya.

Agaknya pribadi tampan pemilik surai lembut berwarna hitam legam itu memang tidak sedikit pun memiliki niatan untuk meladeni rengekan sang istri.

Melihat Vero tak kunjung mengindahkan rengekan yang telah dilakukan, Reva mulai merasa kesal sendiri.

"Uncle bangun dulu, bisa gak sih?!"

Vero melenguh pelan. "Apa sih, Rev?" tanyanya, sembari menolehkan kepala ke arah Reva, tapi masih tak kunjung membuka mata.

Mendengkus kesal, Reva mengatupkan bibirnya cukup rapat, sedang kedua pipinya menyembul, menekuk hidung kecilnya hingga terlihat sedikit mengernyit dan tenggelam.

Menggerakan manik matanya dengan bimbang, sejurus kemudian, senyum nakal tertoreh di permukaan bibir wanita cantik itu, saat sebuah ide cemerlang datang menghinggapi benak.

Melabuhkan sentuhan lembut, lebih pada menggoda secara berkala di area bahu hingga dada bidang Vero, Reva membungkuk, mencondongkan tubuhnya lagi ke arah Vero seperti sebelumnya.

"Uncle gak mau unboxing aku dulu, gitu?" Bisikan itu menguar, terdengar cukup sensual, membersamai embusan napas bersuhu agak hangat yang berhambur, menyentuh daun telinga sebelah kanan Vero.

Vero kaget, meski sempat ada jeda tiga detik, selanjutnya pribadi tampan itu serta merta membuka pelupuk mata dengan pergerakan cepat.

Reva tersenyum senang, penuh kemenangan, kemudian menegakan posisi duduk, tanpa mengalihkan sedikitpun atensi dari Vero.

"Bangun dulu, Uncle."

Vero memejam lagi sembari membuang napas kasar, merasa sangat terganggu atas tindakan Reva, ia beringsut, mendudukan diri dengan wajah suram penuh marah.

"Mau apa?" Vero bertanya dengan begitu dinginnya.

Bibir Reva refleks mencebik, membersamai hati yang agak perih seperti habis dicubit, sebab merasa mendapat bentakan untuk kali pertama dari Vero.

Menyadari ada perubahan suasana, Vero mengusap kasar permukaan wajahnya menggunakan telapak tangan sebelah kiri, lantas tersenyum lembut sembari menatap Reva, hangat. "Mau apa, hemmm?"

Pria tampan itu sengaja sekali merubah nada juga intonasi suara yang digunakan, berikut dengan tatapannya yang seketika meluruh, setelah menyadari Reva sempat terkejut, tadi.

Manik hazel indah Reva gemetar, menatap Vero, takut-takut. "Uncle gak boleh tidur duluan."

"Kenapa?"

"Ya soalnya, aku jadi bingung."

Vero mengernyitkan kening, sedang matanya agak memicing, menatap Reva, nanar. "Bingung kenapa?"

"Ya pokoknya bingung."

"Iya, bingung kenapa?"

"Bingung harus tidur di mana," cicit Reva, begitu pelan, nyaris saja tidak terdengar, sebab begitu bertutur, ia menundukan kepala, memutuskan kontak mata dengan Vero.

Vero sampai melongo, mulai merasa tidak habis pikir, mendapati alasan tidurnya diganggu oleh Reva, hanya karena sebuah alasan sederhana.

"Kan bisa tidur di sini. Gak harus berisik, Rev. Kamu ganggu tidur saya, kamu tahu?"

Vero kesal, jadinya sampai tidak sadar meninggikian intonasi pada kalimat kedua yang dilontarkan, memberi kesan seperti sedang membentak, membuat Reva sedikit terkesiap.

Menghela napas panjang dan mengembuskannya secara pelan, Vero berusaha untuk mensugestikan dirinya agar kembali tenang, kendati keadaan lelah juga mengantuk yang diganggu, membuatnya merasa cukup emosi.

"Ya udah." Reva menengadah secara perlahan, mencuri-curi pendang ke arah Vero, lantas menunjuk sisi lain dari tempat tidur yang kosong. "Uncle geser ke sana. Aku mau tidur sebelah sini."

Ada keinginan untuk setidaknya melabuhkan cubitan di kedua sisi pipi Reva, untuk sekadar melampiaskan kekesalan yang dirasa, tapi Vero memilih untuk menahannya.

Membuang napas kasar, pria tampan bersurai hitam legam itu lantas menuruti keinginan istri rewelnya, bergeser, menempati sisi kosong tempat tidur yang sebenarnya, sengaja ia sediakan untuk Reva, begitu wanitanya itu selesai membersihkan diri.

"Udah. Kamu puas sekarang?"

Reva melirik Vero. Bibirnya mencebik lagi, mengetahui jika dirinya sudah membuat suasana hati sang suami jadi tidak baik.

Memposisikan diri untuk bersiap berbaring, menarik selimut, Reva memunggungi Vero sembari meremat erat tepian selimut yang berlabuh di area dadanya.

Merasakan tempat tidur agak sedikit bergoyang, Reva memejam, sesaat.

"Uncle?"

"Hemmm?"

Tidak tahu mau bicara apa, toh sebenarnya Reva hanya ingin memastikan, jika suami tampannya itu belum kembali terlelap, hanya sudah memposisikan diri untuk berbaring, seperti dirinya.

Vero menunggu Reva kembali angkat suara, ketika mendapati sang istri hanya diam bergeming, ia menoleh. "Kamu mau ngomong apa?"

Mendengar Vero bertanya dengan nada lembut, tidak ada indikasi membentak atau kesal sama sekali, Reva lantas memberanikan diri untuk berbalik, menghadap ke arah Vero.

Saling bersitatap tanpa berucap selama beberapa detik, Reva menelan ludahnya dengan kepayahan. "Uncle."

"Hemmm?"

"Cerai yuk?"

Lanjut Membaca

Daftar Isi Menikah Demi Perceraian

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita cantik dengan reputasi buruk sebagai perusak hubungan, memutuskan untuk bertobat. Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Namun, Amber dirampok dan terdampar di hutan beku. Satu-satunya harapan hidupnya adalah pria misterius bernama Tuan Dingin. Duda yang membenci wanita ini dicap kanibal oleh warga sekitar. Akankah Amber mampu meluluhkan hatinya atau justru menjadi korban kebencian sang pria?
Sampul Novel Pengantin Pengganti, Hati Pendendam
8.8
Upacara janji nikah yang seharusnya menjadi ajang kampanye Baskara berubah jadi pengkhianatan. Aku dibius dan melihatnya menikahi selingkuhannya di depan para elite. Setelah tujuh tahun pengorbananku membangun kariernya, dia justru menyebutku tidak berguna. Namun saat perceraian tiba, Baskara berpura-pura amnesia akibat kecelakaan dan memohon agar aku tidak pergi. Dia ingin bermain sandiwara, maka aku akan memastikan dialah yang hancur dalam permainan ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan