APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif

Menikah Dengan CEO Posesif

Sheila harus menelan kepahitan saat pernikahan impiannya dengan Bryan hancur seketika. Ia terpaksa menjadi istri Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya jaminan atas utang Bryan. Kini, Sheila terjebak dalam obsesi Bara yang posesif dan mengklaimnya sebagai milik pribadi. Di tengah rasa benci dan kecewa, mampukah Sheila bertahan menghadapi lika-liku rumah tangga yang rumit? Ataukah ada kebahagiaan yang tersisa dalam ikatan paksa ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Semua orang di sana berdiri ketika melihat Bara, pria itu datang mengagetkan semua orang. Nama Bara tengah melejit lantaran masuk jajaran pengusaha muda dan kaya raya.

Bara berjalan gagah menampakan raut wajah sangar, menahan emosi. Pandangannya tak lepas dari Sheila.

Aku datang, Shei. Menepati janjiku, ucapnya dalam hati.

Tersirat keinginan kuat dari sorot matanya untuk memiliki Sheila.

"Bryan, apa kau lupa perjanjian kita?!" sindir Bara.

Hampir semua orang yang mendengarnya mengerutkan kening diiringi tanda tanya besar.

Bryan menelan ludahnya berat. Mulutnya terasa  pahit, tenggorokannya tercekat. Darimana Bara tahu jika pernikahannya diadakan sekarang?

"Kau lupa Bryan? Sainganmu ini bukan orang sembarangan!" tegas Bara melipat tangan.

Sheila menatap Bryan kemudian beralih pada Bara. Sesungguhnya apa yang terjadi?

Bara mendekat lalu mencengkeram kerah Bryan membuat tubuh keduanya hanya berjarak satu jengkal.

Seringaian jahat terbit di wajah Bara. "Kau cerdik, tapi saya licik Bryan. Bisa-bisanya kau ingin menikah dengan Sheila, sementara Sheila menjadi jaminan atas hutangmu!" kelakar Bara kesal menghempas tubuh Bryan ke samping hingga membentur meja.

Sheila tercengang, "Hutang?" tanyanya bingung.

Bryan menunduk lemah. Lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan.

Herman menatap nyalang Bryan yang diam seperti pengecut.

"Kau ini! Beraninya menjadikan putriku sebagai jaminan! Kau kurang ajar Bryan!" seru Herman kecewa, dadanya naik turun beriringan dengan emosi yang menderu.

Tangan Herman melayang di udara hendak menampar Bryan, tapi Sheila menghentikannya.

Rupanya, perseteruan ini yang membuat kegundahan di hati Sheila.

"Ayah, Bryan pasti memiliki alasan mengapa dia melakukan ini," bela Sheila mengusap lengan ayahnya memberi ketenangan. Meski dirinya juga syok atas tindakan Bryan.

"Bryan, jelaskan sejujurnya," pinta Laras menengahi di atas ketegangan yang menguasai.

Bryan menghembuskan napas berat. "Saya terpaksa melakukan ini. Memang benar, saya meminjam uang pada Bara. Uang itu saya gunakan untuk biaya operasi Ibu saya. Saya berjanji akan membayarnya, tapi Bara bersikeras menginginkan Sheila menjadi jaminannya."

"Saya sudah menolak. Namun, di sisi lain saya butuh uang itu segera. Demi keselamatan ibu saya," jelas Bryan pilu. Sheila trenyuh mendengarnya.

Sedangkan Bara justru berdecak malas, ini terlalu mengulur waktu. Apa susahnya tinggal berkata iya dan memberikan Sheila padanya.

Ibu Bryan yang duduk di kursi roda, merasa bersalah sekaligus benci pada dirinya. Menurutnya, akar dari masalah ini adalah ia.

"Harusnya ibu mati saja Bryan agar tidak menyusahkan kamu!" sesal Santi Ibu Bryan, ia bisa berbicara, tapi kaki dan tangannya masih belum bisa berfungsi normal.

Bryan menggeleng kuat, ia bersimpuh di kaki ibunya. "Jangan katakan itu, Bu. Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kali," ucap Bryan membuat Santi terisak.  Syifa adiknya, memeluk ibunya erat.

Kedua tangan Bryan mengepal, ia harus mempertahankan Sheila.

"Jangan ambil Sheila dari saya!" seru Bryan.

Alih-alih terpancing, Bara justru memandang remeh. "Mudah saja, kau harus melunasi hutang itu sekarang," balas Bara telak.

"Saya tidak memberi batas waktu dalam perjanjian kita. Jadi, terserah saya mau menagihnya kapan saja," lanjut Bara santai.

Bryan menggeram emosi. "Anda keterlaluan Bara, bahkan saya rasa uang itu tidak ada harganya bagi anda," balas Bryan sengit.

"Karena tujuan saya adalah memiliki dia! Saya mencintainya dan saya ingin Sheila menjadi istri saya!" tegas Bara menunjuk Sheila sementara Sheila ketakutan dan mundur beberapa langkah.

"Saya tidak akan membiarkan Sheila jatuh ke tanganmu!" tolak Bryan keras.

"Kau menantangku?!" Bara mulai tersulut emosi, tangannya mengepal.

Tanpa aba-aba Bara langsung meninju rahang kiri Bryan kuat. Bryan yang tidak siap langsung terhuyung ke samping.

Semuanya berteriak, belum sempat Bryan membalas, Bara menendang keras tepat di ulu hati Bryan.

"Akh!" erang Bryan, rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Jangan ada yang mendekat atau membantu dia! Atau kalian berurusan dengan saya!" ancam Bara ketika beberapa orang ingin melawannya.

"Sebenarnya siapa Bara? Kenapa dia sangat berkuasa?" tanya Sheila pada Kayla.

"Dia itu ...." Kayla menggantung kalimatnya.

"Anak pemilik perusahaan RodriguezCorp yang bergerak di bidang konstruksi. Memiliki beberapa cabang di luar negeri. Bara, pemimpin galak dan terkenal perfeksionis," jelas Kayla membuat Sheila tercengang.

"Shei, kau tidak sadar?" tanya Kayla menoleh pada Sheila.

Sheila menggeleng, Bara di foto dan dunia nyata berbeda. Jika dilihat langsung Bara lebih tampan daripada hanya melaui jepretan kamera.

Bryan menyeka cairan kental di sudut bibirnya. Ia melangkah maju dengan tekad bulat melawan Bara. Namun, nihil tak ada satu pukulan yang berhasil mengenai Bara. Kokohnya pertahanan Bara tidak mampu Bryan runtuhkan. Bara melayangkan tendangan kuat pada wajah Bryan, sontak membuat Bryan terpelanting ke lantai.

Bara menginjak bagian atas tubuh Bryan. "Mengaku kalah dan berikan Sheila pada saya!" seru Bara seraya mengangkat dagu.

Bryan bersikukuh menggeleng membuat Bara menginjaknya kuat.

"Cukup! Berhenti!" Sheila akhirnya bersuara setelah lama bungkam akibat ketakutannya. Melihat Bryan teraniaya membuat Sheila menderita.

Bara tertarik menatap Sheila. "Shei, aku memiliki pilihan untukmu. Menikah dengan saya, maka Bryan aman dan hutangnya lunas. Atau ... menolakku dan Bryan akan dalam bahaya!"

Sheila berfikir keras. Ia tidak mau Bryan terluka lebih, tapi di sisi lain, Sheila tidak ingin menikah dengan sosok pemaksa seperti Bara.

"Jawab Shei! Waktumu tidak banyak!" gertak Bara memukul Bryan brutal dan beringas.

Bryan terbatuk kencang. Dadanya nyeri dan luka lebamnya berdenyut sakit.

Sekali lagi, iris gelap Bara menatap Sheila tajam, seakan memperingatkan sebuah kalimat, jangan pernah menentang perintahku.

"Sudah cukup! Jangan sakiti Bryan, a-aku bersedia," kata Sheila parau.

"Bersedia apa?!" kelakar Bara menuntut kejelasan.

"Menjadi istrimu!" pekik Sheila walau hatinya menjerit menolak keras ucapan itu.

"Pilihan yang bagus, Shei," puji Bara memindahkan kakinya dari tubuh Bryan. Lalu Bara tersenyum tanpa dosa pada Bryan.

"Sheila!" panggil Herman dengan pandangan putus asa. Sheila menoleh pedih.

"Maafkan ayahmu yang tidak bisa membantumu, nak," sesal Herman, ia merasa gagal melindungi putrinya. Mengingat orang seperti Bara sulit untuk dilawan. Mereka punya kuasa sekaligus berbahaya.

"Sheila, apa kau yakin?" tanya Laras menangkup pipi Sheila. Air mata Sheila turun deras.

Bara, tidak peduli. Mau tidaknya Sheila, yang terpenting adalah Sheila berada dalam cengkeramannya.

"Kalian, bawa barang-barang di mobil kemari," titah Bara pada ketujuh bodyguardnya yang memakai setelan jas hitam.

Sheila menggeleng tidak percaya melihat seserahan yang dipersiapkan Bara, ini artinya Bara telah merencanakannya matang-matang.

Tak lama Bara telah kembali dengan mengenakan jas putih.

"Shei, kemarilah," pinta Bara meraih tangan Sheila. Dengan cepat Sheila mundur menghindari sentuhan itu lalu duduk di kursi seperti semula.

Bryan memandang sedih, tatapan kecewanya begitu kentara. Dadanya sesak, sakit sekali, lebih menyakitkan ketimbang pukulan dan tendangan yang Bara berikan.

Harusnya dirinya yang di sana. Hubungan yang terjalin selama tiga tahun bersama Sheila terpaksa kandas. Bryan bangkit dengan luka yang menganga di hatinya. Tidak sanggup menyaksikan pujaan hatinya bersanding dengan pria lain.

Suatu saat nanti saya akan membalas perbuatanmu, Bara. Dasar iblis! batin Bryan, dadanya bergemuruh.

"Bryan," gumam Sheila tidak rela ketika Bryan perlahan menghilang dari penglihatannya.

Bara melirik sinis Sheila lewat ekor matanya membuat Sheila menunduk takut.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Membencimu
8.5
Demi melunasi utang ibunya, Ayyara Faderica terpaksa menikahi CEO Kieran Bimantara. Meski Kieran memperlakukannya bak ratu karena rasa cinta yang lama terpendam, Ayyara justru sulit membuka hati dan diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Walau dikhianati, Kieran tetap gigih berjuang demi mendapatkan cinta sang istri. Akankah Ayyara akhirnya menyadari ketulusan Kieran, ataukah masa lalu akan menghancurkan pernikahan mereka?
Sampul Novel Baby CEO: Kehamilan yang Tak Diinginkan
8.4
Evalia terjebak dalam kehamilan tak terduga setelah menolak cinta Hanson Dirgantara. Meski Hans bersikeras ingin bertanggung jawab demi calon bayinya, Eva yang membenci kelicikan pria itu tetap menolak menikah. Di tengah ambisi Hans yang menggunakan kekayaan keluarganya untuk menaklukkan Eva, gadis yatim piatu ini justru berusaha menggugurkan kandungannya. Mampukah Eva lepas dari obsesi Hans dan meraih mimpinya menjadi dokter, atau ia akan selamanya terkendali?
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Istri Bayaran Untuk Bos Galak
8.9
Keinginan Devan untuk memiliki Cecil kembali berujung pada ancaman yang sangat ekstrem. Meski masa kontrak mereka telah berakhir, Devan menolak melepaskan wanita itu begitu saja. Dalam suasana penuh tekanan, sang bos yang angkuh bersumpah akan menghamili Cecil agar ia tak bisa pergi lagi. Cecil yang ketakutan mencoba memohon, namun Devan justru semakin terobsesi untuk mengikatnya melalui kehadiran seorang anak demi mempertahankan hubungan mereka.
Sampul Novel Lepas dari Cintaku yang Pahit
8.3
Pasca kecelakaan tragis, Clara harus menelan kenyataan pahit saat suaminya, Daniel, justru lebih memilih menemani wanita lain di rumah sakit. Setelah tiga tahun pengabdian yang sia-sia, Clara justru diancam akan dipenjara oleh pria yang dicintainya itu. Tak sudi lagi bertahan, Clara menuntut cerai dan menggunakan uang kompensasi satu triliun rupiah miliknya untuk membalas penghinaan Daniel. Ia bertekad mengakhiri pernikahan beracun ini selamanya.