APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahinya Mudah, Kehilangannya Adalah Neraka

Menikahinya Mudah, Kehilangannya Adalah Neraka

Stella hancur saat Marc berkhianat tepat di depan matanya. Setelah membalas dengan tamparan keras, ia memilih lenyap untuk misi rahasia dan memalsukan kematiannya. Di hari kepergian Stella, kerajaan bisnis Marc runtuh seketika. Penyesalan menghantui Marc hingga mereka bertemu kembali di sebuah gala mewah. Marc memohon kesempatan kedua, namun Stella yang kini bersinar di samping pria sukses hanya tersenyum sinis dan menegaskan bahwa Marc tak lagi pantas untuknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mengira Stella sama sekali tidak mengerti bahasa Achure, Marc tidak repot-repot menutupi layar ponselnya saat dia mengetik, "Aku sedang menuju ke sana sekarang", sebelum buru-buru mengunci ponselnya.

"Stella, aku ada urusan mendadak. Kalau kamu tidak bisa membantu, setidaknya jangan menghalangiku. Jadilah wanita yang penurut, oke?" ucapnya dengan lembut sambil mengelus rambut Stella seolah-olah wanita itu anak kecil.

Setelah itu, Marc berbalik dan pergi begitu saja, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Stella hanya duduk termangu, membiarkan suaminya pergi.

Sesuatu di dalam dirinya terasa hancur berkeping-keping, meninggalkan rasa sakit yang begitu menusuk sampai dia mati rasa.

Setelah menyerahkan materi konferensi ke bagian arsip, dia pulang dalam kebisuan.

Marc tidak pulang selama 3 hari dan dia juga sama sekali tidak menghubungi pria itu.

Tidak sekali pun. Memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka.

Sambil menunggu persetujuan akhir, Stella menyibukkan diri dengan membereskan barang-barang mereka, sekadar untuk menjaga kewarasannya.

Gudang mereka sudah seperti museum kecil yang menyimpan kenangan kebersamaan mereka, dari surat cinta pertama, tembikar penyok yang mereka buat bersama saat kencan pertama, batu kecil berbentuk hati dari malam yang mereka habiskan di pegunungan, dan deretan bingkai foto yang dikelompokkan berdasarkan tahun. Bahkan sejumlah kamera polaroid milik mereka tersusun rapi dari model tertua sampai yang terbaru.

Stella memang selalu sentimentil. Dia menyimpan semua benda itu dengan harapan suatu hari nanti ketika mereka berdua sudah tua, mereka bisa menertawakan kenangan masa lalu bersama.

Namun kini, semua ini terasa seperti sebuah ironi yang menyakitkan. Tanpa ragu, dia melemparkan semua benda kenangan itu ke dalam perapian dan menyaksikan semuanya hangus menjadi abu.

Untuk hadiah-hadiah mahal seperti berlian, jam tangan mewah, kalung-kalung cantik, bahkan cincin pernikahan mereka, dia menatanya dengan rapi sebelum memotretnya dan mengirimkan foto-foto itu ke sebuah butik barang mewah untuk dijual.

Saat menatap kotak perhiasan yang sekarang sudah kosong, barulah dia menyadari bahwa cinta, seindah apa pun, menjadi tidak berharga begitu dinodai dengan pengkhianatan.

Dua hari kemudian, Stella menerima kabar bahwa pengajuannya untuk bergabung dengan proyek penelitian tertutup telah disetujui.

Dia memiliki masa tenang 10 hari sebelum proyek dimulai.

Berniat membeli beberapa kebutuhan, dia berganti pakaian dan pergi ke mal. Namun, pada saat turun dari eskalator dengan beberapa kantong belanjaan di tangan, matanya terpaku pada sebuah pemandangan yang membuatnya berhenti melangkah.

Di sana, berdiri Jazlyn Payne, ibu mertuanya yang selalu sinis. Wanita itu menggandeng lengan Haley dengan wajah berseri-seri layaknya teman akrab. Kehangatan di wajah Jazlyn terasa begitu menohok bagi Stella.

Di samping mereka, berdiri Marc, suaminya yang telah menghilang berhari-hari. Pria itu dengan telaten memasangkan gelang berlian ke pergelangan tangan Haley dengan kelembutan yang dulu hanya ditujukan untuknya.

Mereka tampak begitu sempurna seperti keluarga yang ideal. Sebuah keluarga di mana tidak tersedia tempat untuknya.

Saat Haley mengangguk gembira, Jazlyn memuji selera wanita itu dengan mata berbinar, lalu dengan santai menyerahkan sebuah kartu hitam untuk membayar gelang tersebut.

Namun bagi Stella, momen itu terasa sangat ironis.

Kartu hitam itu miliknya. Uang yang dipakai untuk membayar belanjaan itu adalah uangnya.

Berkat persahabatannya dengan direktur merek tersebut, dia mendapatkan hak istimewa, dari diskon besar sampai kesempatan awal untuk memiliki koleksi baru.

Usahanya yang tulus untuk mengambil hati Jazlyn, sekarang malah digunakan untuk memanjakan selingkuhan Marc.

Tanpa basa-basi, Stella melangkah ke depan kasir, lalu merebut kartu itu dari tangan kasir yang kebingungan, dan berkata dengan tenang, "Maaf, kartu ini sudah tidak berlaku."

Kasir itu mengedipkan mata dengan bingung dan berkata, "Nyonya, ini adalah kartu level tertinggi. Kartu ini tidak memiliki tanggal kedaluwarsa dan tidak bisa dibatalkan ...."

"Oh, begitu?" Stella mematahkan kartu itu menjadi dua di depan mata mereka, lalu melemparkannya ke tempat sampah terdekat tanpa mengedipkan mata sedikit pun. "Sekarang sudah tidak berlaku lagi."

Amarah Jazlyn meledak. Dia menampar pipi Stella dengan kencang dan membentak, "Apa kamu sudah gila! Apa kamu tidak punya sopan santun?"

Keluarga Walsh memiliki reputasi yang sempurna, dan Marc selalu dipuji sebagai seorang jenius di dunia keuangan.

Sejak awal Stella berpacaran dengan Marc, Jazlyn sudah bersikap dingin padanya. Setelah mereka menikah, sikap dingin itu justru semakin menjadi-jadi. Tidak peduli seberapa keras dia berusaha mengambil hati Jazlyn, dia tidak pernah mendapatkan senyuman hangat seperti yang diberikan wanita itu pada Haley.

Tidak ingin membuat Marc berada di posisi yang sulit, Stella memutuskan untuk menelan rasa sakit hati itu.

Namun, kesabaran yang dibangun di atas fondasi cinta itu akhirnya runtuh juga.

Dia tidak memiliki alasan lagi untuk menahan diri.

Tiba-tiba, dua tamparan keras mendarat telak di wajah Marc.

Suara tamparan itu membungkam semua orang di sekitar mereka.

Marc, pria yang dipuja-puja di dunia keuangan, kini dia berdiri di sana dengan pipi memerah karena ditampar di depan umum pada siang bolong.

"Stella!" teriak Jazlyn dengan murka. Dia menyingsingkan lengan bajunya seolah-olah siap maju untuk membalas Stella.

Namun, Stella berdiri tegak dengan dagu terangkat menantang sambil berkata, "Kalau kamu berani memukuliku, aku akan menamparnya dua kali lebih kencang. Mau coba?"

"Kamu! Kamu ...." Saking marahnya, Jazlyn sampai harus memegangi dadanya agar bisa bernapas. "Marc! Lihat kelakuannya! Kenapa kamu membiarkannya bertingkah seperti wanita murahan?!" bentaknya.

Stella menatap Marc dan tersenyum dingin padanya sambil berkata, "Katakan, Marc, bukankah aku punya alasan untuk menamparmu?"

Raut wajah Marc menjadi suram dan rahangnya menegang. Dia melangkah maju, lalu mencengkeram pergelangan tangan Stella sambil bergumam pelan, "Stella, cukup. Tenangkan dirimu. Jangan membuat keributan lagi."

Tiba-tiba, Haley berlari ke dalam pelukan Marc, lalu menarik tangan pria itu ke pinggangnya sambil merengek dalam bahasa Achure, mengeluhkan betapa keterlaluannya sikap Stella.

Dia menempel pada Marc seperti tanaman rambat, sambil memanggilnya 'sayang' berulang kali, seolah ingin menyatu dengan tubuh pria itu.

Berusaha menghibur Haley, Marc membisikkan kata-kata yang menenangkan dalam bahasa Achure ke telinganya.

Melihat betapa mesranya mereka, Stella tertawa tak percaya.

Kemudian, di luar dugaan, Stella angkat bicara, kali ini dalam bahasa Achure yang fasih dengan nada setajam silet.

"Kalau berani menjadi selingkuhan, setidaknya kamu punya sedikit rasa malu dan jangan berpura-pura bersikap seolah-olah dirimu korban. Kamu sudah tidur dengan suami orang, tapi masih berani menyangkal? Kalau bahasa Achure tidak cukup, kita bisa membicarakannya dengan bahasa lain. Aku menguasai 16 bahasa. Pilih saja ingin menggunakan bahasa mana, aku akan meladenimu. Jika argumenku lemah, aku akan mengaku kalah."

Wajah Haley langsung memerah.

Dia tidak pernah menyangka Stella bisa berbahasa Achure dengan begitu lancar. Bukankah Marc bilang istrinya hanyalah seorang pegawai kantoran biasa?

Raut wajah Marc berubah suram, nada bicaranya menjadi kaku saat dia bertanya, "Stella, sejak kapan kamu belajar bahasa Achure?"

Momen itu terasa seperti pisau yang diputar di dalam lukanya yang menganga.

Bibir Stella melengkung membentuk senyum pahit.

Kemudian, dia berkata dengan nada sinis, "Marc, kamu benar-benar sangat 'mencintaiku'. Silakan, lanjutkan acara belanja kalian. Aku tidak akan mengganggu lagi."

Setelah itu, dia berbalik dan melangkah pergi.

Marc langsung bergerak untuk mengejar Stella, tapi Jazlyn dan Haley masing-masing menahan satu lengannya untuk menghentikannya.

"Marc, ceraikan saja wanita tidak tahu malu itu! Berani-beraninya dia menamparmu!" bentak Jazlyn.

Jazlyn sudah sering mengucapkan kata-kata itu sebelumnya, tapi Marc selalu mengabaikannya. Namun entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Kata-kata itu terasa sangat menyakitkan baginya.

"Ini urusanku dengan Stella," gumam Marc sebelum menepis cengkeraman mereka dan bergegas menyusul Stella.

Untungnya, dia masih sempat bertemu dengan Stella tepat pada saat wanita itu hendak masuk ke dalam mobil. "Stella."

Begitu jemari Marc menyentuh pergelangan tangannya, rasa mual seketika menjalari Stella. Dia langsung menepis tangan pria itu dengan jijik dan berkata dengan sinis, "Ada apa, Pak Marc? Sudah selesai bermain rumah-rumahan dengan simpananmu?"

Wajah Marc menegang karena frustrasi saat dia menjelaskan, "Haley itu hanya teman. Kenapa kamu harus secemburu ini? Tidak bisakah kamu bersikap lebih dewasa? Apa kamu harus mempermalukan kami di depan umum seperti ini?"

Stella tertawa dengan hambar dan tidak percaya.

Benar saja, pada akhirnya, semua selalu menjadi kesalahannya. Benar-benar luar biasa.

Dia berkata dengan tajam, "Biar kuperjelas. Bahkan meski aku memergokimu tidur dengan selingkuhanmu, aku harus tersenyum, menutup gorden untuk kalian, dan berjaga di luar pintu demi menjaga nama baik keluarga, apa begitu?"

Cengkeraman Marc di pergelangan tangan Stella semakin erat saat matanya berkobar penuh amarah. "Sudah berapa kali harus kukatakan? Dia itu hanya teman!"

"Teman?" tanya Stella dengan nada sinis sambil menatap Marc dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Kemudian, tatapannya berubah menggoda, tapi dengan sesuatu yang lebih tajam di baliknya, campuran antara rayuan dan dendam.

"Baiklah, kalau begitu aku juga akan mencari 'teman'. Aku akan memastikan kami melakukan semua yang kamu dan Haley lakukan, semuanya, tanpa terkecuali." Dia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke Marc, bisikannya terdengar begitu berbisa saat dia melanjutkan, "Suamiku tersayang, jangan cemburu, oke? Ini baru adil, kan?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Kakak Pembunuh
8.6
Malam pernikahan berubah maut saat Carlos Fowler membiarkan aku tewas di tangan penculik demi wanita lain. Di saat terakhir, kakak laki-lakinya yang lumpuh, Vincent, datang membalaskan dendamku. Kini aku terlahir kembali untuk memperbaiki takdir. Di depan altar, kubatalkan pernikahan dengan Carlos secara mengejutkan. Aku justru melamar Vincent yang terabaikan di kursi rodanya. Carlos mengira ini hanya gertakan, namun ia akan segera kehilangan segalanya.
Sampul Novel Cinta Dalam Skandal
9.3
Bitna, aktris berbakat asal Korea Selatan, terjerat skandal besar setelah menghadiri pesta di Indonesia. Reputasinya terancam hancur akibat insiden dengan Kenzo, bos besar penyelenggara acara tersebut. Demi menyelamatkan karier, Bitna sepakat melakukan klarifikasi publik. Namun, Kenzo justru mengejutkan dunia dengan mengumumkan pertunangan palsu tanpa persetujuannya. Mengapa Kenzo nekat berbohong? Akankah sandiwara ini menyelamatkan atau justru menghancurkan hidup Bitna?
Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder
9.7
Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Hidup Danny Laksana hancur setelah dikhianati kekasih dan kehilangan orang tuanya dalam tragedi memilukan. Di tengah luka mendalam, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa dirinya adalah ahli waris konglomerat terkaya. Demi menuntaskan dendam pada sang mantan dan mengungkap misteri kematian orang tuanya, Danny memutuskan untuk menikah. Namun, ia tidak menyadari bahwa dalang kriminal yang ia cari selama ini berada sangat dekat di lingkup sekitarnya.
Sampul Novel Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta
9.7
Baskara Aditama adalah suami miliarder yang sempurna hingga masa lalunya kembali membawa seorang putra yang sakit. Saat anak itu kritis, Baskara mengabaikan luka parahku demi menyelamatkannya. Aku kehilangan calon bayi kami dalam kesendirian tanpa kehadirannya. Saat ia kembali memohon agar aku menyetujui pernikahan palsunya dengan sang mantan demi keinginan terakhir putranya, aku melihat tanda cinta wanita lain di lehernya. Di tengah duka, aku pun menyetujuinya.
Sampul Novel Meninggalkan Pengkhianatan Maut, Merangkul Kehidupan Baru
7.9
Sepuluh tahun pengabdian pupus saat Bramanta memilih menikahi Hana di altar yang kurancang. Demi selingkuhannya, ia tega memaksaku donor darah, membiarkan kucingku mati, hingga nyaris menenggelamkanku. Puncaknya, ia membiarkanku sekarat akibat syok anafilaksis demi menolong drama Hana. Sadar nyawaku terancam oleh pengkhianatannya, aku menerima tawaran ayah untuk menjalani pernikahan kontrak dengan CEO Arga Hadinata. Di titik nadir ini, aku memilih bangkit bersama pria baru.