APKDock Logo
Sampul Novel Mertua Awal Pembawa Petaka

Mertua Awal Pembawa Petaka

9.3 / 10.0
Kanaya terbiasa hidup mandiri setelah kepergian orang tuanya yang dulu menikah tanpa restu. Meski sukses menjadi asisten CEO dan memiliki suami tampan bernama Lukman, duka menyelimuti tahun keempat pernikahan mereka karena belum hadirnya buah hati. Kepercayaan Kanaya hancur saat mengetahui Lukman ternyata telah berpoligami. Kepedihan kian mendalam karena ibu mertuanya justru merestui pengkhianatan tersebut. Mampukah Kanaya bertahan di tengah badai ini?

Mertua Awal Pembawa Petaka Bab 1

Bab 1

Dahiku mengernyit saat melihat pesan masuk dari Risma–teman kuliahku–soalnya tidak biasanya ia mengirimkan pesan, Risma selalu menelpon atau langsung video call jika ada sesuatu.

[Selamat, ya, atas kehamilan lo. Nanti lah, balik dari Malaysia gue baru ke rumah lo.]

Tidak mengerti dengan maksud perkataan Risma, atau mungkin ia salah mengirimkan pesan? Aku masih menunggu unduhan foto yang dikirim oleh Risma. Mata ini seketika membelalak melihat tangkapan layar dari status WhatsApp ibu mertua yang dikirimkan Risma.

Di foto itu terlihat jelas wajah Mas Lukman–suamiku–yang menempelkan telinganya di perut buncit seorang wanita. Wajah lelaki yang sudah empat tahun menjadi suamiku itu terlihat bahagia dengan senyum yang merekah.

[Alhamdulillah acara tujuh bulanan lancar. Minta doanya dari semua agar persalinan menantuku di lancarkan.]

Mata ini langsung memanas setelah membaca bubuhan caption di bawah foto.

Menantu?

Ibu mertua hanya memiliki dua anak, Mas Lukman dan adik perempuannya yang masih kuliah. Tidak ingin menduga-duga aku langsung mengirimkan pesan balasan pada Risma, menanyakan perihal ini padanya.

[Lo, dapet dari mana foto ini, Ris?] Terkirim.

[Ibu Mertua lo ‘kan temen arisannya Nyokap gue. Masa lo lupa!] Pesan balasan dari Risma.

Saat mencari di pembaruan status, tidak ada kutemukan status ibu mertua. Bahkan tidak pernah sekalipun aku melihat status WhatsApp ibu mertua.

Apa ibu mertua sengaja menyembunyikan statusnya dari kontak milikku?

Mencoba langsung menghubungi Mas Lukman tapi tidak diangkat, menghubungi ibu mertua juga tidak bisa. Tidak habis akal, aku mencari kontak satpam komplek yang kukenal.

Telepon itu langsung tersambung.

“Pak, ini saya Kanaya. Apa benar di rumah Ibu mertua saya ada acara?” tanyaku to the point.

“Loh … bukannya itu acaranya Ibu Kanaya, ya? acara tujuh bulanan,” jawabnya dari seberang telepon.

Rasanya dunia ini runtuh seketika, lututku lemas tidak bisa menopang bobot tubuhku sendiri.

'Apa benar suamiku telah menikah lagi dengan wanita lain? Apa Mas Lukman melakukan ini karena aku tidak kunjung hamil? Sedangkal itukah rasa cinta dan sayangmu padaku, Mas?'

Jika saja jarak dari Kalimantan ke Surabaya bisa kutempuh beberapa menit, sudah pasti aku langsung mendatangi rumah ibu mertua untuk memastikannya sendiri. Sayang, pekerjaan menahanku di tempat ini. Hampir satu bulan aku jauh dari suami dan keluargaku.

'Ya Allah … cobaan apalagi ini? Tidak cukupkah Engkau mengambil kedua orangtuaku?'

***

Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, mencoba untuk tenang meskipun sebenarnya hati ini luluh lantak.

'Keep calm, Kanaya!'

Menenangkan diri sendiri, hanya itu yang bisa dilakukan saat ini. Menyeret langkah untuk masuk ke dalam ruangan, tempat dimana atasanku berada.

Memberikan semua berkas yang harus ditandatangani, bekerja sebagai seorang asisten pribadi tidaklah mudah, apalagi asisten seorang CEO. Harus mengikuti kemanapun beliau pergi.

"Kalau kamu masih pasang wajah asem itu, jangan salahkan saya kalau gaji kamu bulan ini dipotong!" ujarnya dengan tegas.

"Jangan dong, Bu Margaretha yang baik hati. Cicilan mobil saya gimana nanti." Aku memelas di hadapan wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda di usianya yang menginjak kepala lima.

Saat diluar kantor mungkin orang tidak akan mengira jika aku dan Bu Margaretha adalah bawahan dan atasan. Kami sangat dekat, Bu Margaretha sebenarnya tidak seperti yang orang bilang. Mereka mengatakan jika Bu Margaretha sangat tegas dan kejam. Tapi nyatanya tidak seperti itu, mungkin iya kalau dilihat sekilas dari wajah.

Sepuluh tahun aku mengabdi menjadi asisten pribadinya, mengikuti kemanapun beliau pergi. Bahkan ke luar negeri sekalipun. Itu kenapa aku jarang berada di rumah.

"Apa jadwal saya selanjutnya?" Bu Margaretha bertanya kembali, jemarinya dengan lincah menandatangani satu per satu berkas di atas meja.

"Tidak ada, Bu. Besok jam 9 pagi baru ada meeting dengan investor," jawabku.

Mencoba menetralkan perasaan dan bekerja secara profesional. Tidak ingin membuat beliau kecewa karena aku melibatkan personal di waktu kerja.

Jam 8 malam aku kembali ke hotel tempatku menginap. Menahan diri untuk tidak menghubungi Mas Lukman, biarkan saja mereka menghabiskan sisa waktu mereka sebelum kepulanganku. Raca cinta, tulus dan kasih sayang yang kuberikan. Apa pantas aku mendapatkan pengkhianatan sebagai balasannya?

Pepatah memang benar, lelaki diuji saat ia memiliki segalanya. Baru saja Mas Lukman berada di puncak kesuksesannya. Ia tidak tahu jika apa yang ia perbuat padaku akan berdampak pada karirnya.

Lusa baru aku bisa pulang, itupun kalau Bu Margaretha tidak memintaku untuk menemaninya berlibur ke kampung halamannya di Sumatera.

Tidak terasa cairan bening itu mengalir membasahi pipi, hati ini seperti diremas kuat saat kilasan itu melintas di benak.

***

Menatap nanar rumah gaya Eropa yang terlihat sepi, dalam rumah besar ini hanya dihuni aku dan Mas Lukman. Bukan hanya Mas Lukman, aku saja sangat menginginkan kehadiran buah hati. Tapi apa daya, aku hanya manusia. Tidak semua yang kuinginkan bisa kudapatkan.

Menyeret koper yang baru saja diturunkan oleh supir dari dalam bagasi. Melangkah dengan berat ke arah pintu. Merogoh kunci yang tersimpan di dalam tas, baru saja tanganku memegang kunci. Pintu sudah terbuka menampakkan Mas Lukman. Wajahnya terlihat kaget.

"Loh … Sayang, kok pulang gak bilang-bilang sih? Mas 'kan bisa jemput di bandara," serunya.

"Aku mau kasih kejutan buat kamu, Mas," jawabku semanis mungkin.

Mencium tangannya dengan takzim lalu masuk ke dalam rumah. Netra ini menyapu seluruh sudut, tapi tidak melihat kejanggalan. Apa Mas Lukman hanya sendiri di rumah? Kemana istrinya yang sedang hamil itu?

"Mas, Ibu gak kesini? Biasanya kalau hari libur Ibu suka main kesini." Menatap Mas Lukman yang menyimpan koper di dekat lemari.

"Mungkin lagi jalan-jalan sama Lana."

Dahiku mengernyit.

"Lana udah libur kuliah 'kah? Minggu kemarin dia telpon aku, bilang katanya libur kuliah gak bisa pulang."

Mas Lukman menjadi salah tingkah mendengar penuturanku. Lana–adik iparku, kuliah di Jakarta. Pulang ke Surabaya saat ada libur panjang saja. Kemarin ia memang sempat menghubungiku, mengatakan tidak bisa pulang.

Tidak ingin mendengar dusta dari mulutnya, aku memilih untuk ke kamar mandi. Membersihkan diri sembari menunggu makanan yang tadi kupesan datang.

***

Menjatuhkan bobot tubuh di sebelah Mas Lukman yang terlihat fokus dengan laptop di depannya.

"Mas, coba lihat ini deh!" seruku membuat lelaki berlesung pipi itu langsung menoleh.

"Lihat apa?" tanyanya.

Ia mengubah posisi duduknya menghadap ke arahku.

Netra sendunya menatap pas ke dalam netraku. Senyum tipis tercetak di wajah manisnya, yang biasa sukses membuatku terpana. Tapi sekarang tidak! Aku malah merasa jijik melihatnya.

"Apa ini?!" tanyaku. Memperlihatkan layar ponsel dengan foto tangkapan layar yang dikirimkan Risma waktu itu.

Matanya terbelalak, ia kembali menatap ke arahku.

"Sayang … i–ini …."

Aku masih terdiam, menunggu ia menyelesaikan perkataannya yang kini terhenti. Aku ingin tahu, apakah ia akan mengakuinya atau tidak.

"Maafkan aku … aku melakukan itu karena ingin punya anak. Aku akan berpisah dengannya setelah melahirkan anakku, kita akan merawatnya sama-sama nanti."

Tersenyum miring mendengar semua pengakuannya, gampang sekali ia bicara seperti itu. Aku tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulutnya.

"Kamu pikir aku tidak ingin punya anak, Mas?! Aku juga ingin! Wanita mana yang tidak ingin punya anak?! Kamu menjadi saksi, bagaimana aku menjalankan semua prosedur dari dokter untuk program hamil. Bahkan … sampai rela meminum ramuan yang sangat pahit itu setiap hari. Rutin olahraga di sela kesibukanku. Semua cara sudah dilakukan, medis maupun non medis. Kamu anggap apa perjuanganku itu?Jika memang kamu mau punya anak, kita bisa bicara baik-baik, Mas. Kita bisa melakukan program bayi tabung, itu pilihan terakhir. Kenapa kamu malah mencari wanita lain untuk mengandung darah dagingmu?!" balasku dengan sengit, menatap tajam ke arahnya.

Dada ini naik turun setelah mengeluarkan semua amarah yang sempat terpendam. Mas Lukman menunduk, tidak berani menatap ke arahku.

"Mas akui, Mas memang salah. Maafkan Mas, Sayang!Lagi pula, kalau program program bayi tabung. Mas gak punya biaya un–" Tangan itu langsung kutepis sebelum menyentuh pundakku.

"Biaya? Mas, uang tabungan kita kalau disatukan itu cukup untuk program bayi tabung. Ah … sudahlah! Percuma ngomong sama kamu, selalu merasa benar, gak ada gunanya!" ujarku memotong perkataannya.

"Bawa wanita itu ke hadapanku, besok!" Melirik Mas Lukman yang masih bungkam. Melangkah menuju kamar meninggalkannya.

Bersambung ….

Lanjut Membaca

Daftar Isi Mertua Awal Pembawa Petaka

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Dunia Ratih Apsari runtuh usai memergoki pengkhianatan suaminya. Di tengah kesedihan pasca perceraian, sebuah kesalahan fatal membawanya masuk ke mobil Derryl Dariawan hingga mereka menghabiskan malam bersama. Ternyata, Derryl adalah CEO baru di kantornya. Meski sempat menuduh Derryl menjebaknya, kedekatan mereka justru menumbuhkan rasa cinta. Ratih bimbang karena perbedaan status dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Akankah ia membuka hati atau kembali pada sang mantan?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya mengira pernikahannya dengan Adnan akan membawa kebahagiaan abadi, namun realitanya justru menjadi neraka penuh kekerasan. Adnan melampiaskan dendamnya terhadap mertua dengan menyiksa istrinya secara keji setiap hari. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang mendalam, sosok dari masa lalu Saschya tiba-tiba muncul kembali. Akankah kehadiran mereka membantu Saschya lepas dari belenggu Adnan, atau justru menambah konflik baru dalam hidupnya yang hancur?
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Hijrah Cinta Sang Casanova
8.0
Bobby jatuh hati pada Claudia sejak pertemuan pertama, namun reputasinya sebagai casanova membuat Claudia enggan membuka hati. Meski Claudia bersikap baik karena Bobby pernah menolong menantunya, ia tetap merasa risi akan kehadiran pria itu. Sultan, mertua Claudia, justru mendukung Bobby demi mengakhiri masa janda menantunya yang sudah lama. Saat Claudia akhirnya luluh dan menerima lamaran, kejutan masa lalu serta sosok misterius muncul menguji pernikahan mereka.
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan asmara Raka kini berada di ambang kehancuran akibat kehadiran Nadia. Sebagai kekasih, Raka merasa diabaikan karena Cherry selalu memprioritaskan sahabatnya yang berkacamata tebal itu. Amarahnya meledak saat ia menyadari posisinya hanya menjadi yang kedua bagi Cherry. Namun, kecemburuan buta ini justru membawa Raka menuju sebuah titik balik yang tak terduga dalam hidupnya. Akankah perasaan mereka bertahan saat prioritas Cherry terbagi?
Sampul Novel SRTJC
7.9
Selamat datang dalam kumpulan kisah unik yang merangkum dinamika kehidupan remaja masa kini. Di sini, logika seolah dikesampingkan demi aksi-aksi spontan yang tak terduga dan penuh kejutan. Setiap bab menyajikan potret autentik tentang perilaku absurd serta kelakuan nyeleneh anak muda di era modern. Ikuti perjalanan seru mereka yang penuh tawa dan kegilaan dalam menghadapi keseharian. Temukan bagaimana momen-momen paling mustahil menjadi nyata di cerita ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan