APKDock Logo
Sampul Novel Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang

Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang

8.8 / 10.0
Astri heran mengapa mertuanya sangat membenci Ruslan meski wajah mereka identik. Di balik sikap sabar menghadapi diskriminasi keluarga, ternyata pasangan ini diam-diam telah mengumpulkan kekayaan tanpa diketahui siapa pun. Selama ini mereka dianggap miskin, namun sebuah insiden melampaui batas kesabaran Astri. Dengan restu sang suami, Astri pun bersiap memberikan kejutan bagi mertuanya yang pilih kasih. Mampukah mereka membalikkan keadaan dengan rahasia besar tersebut?

Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang Bab 1

"Nanti pas acara makan-makan, kalian bagian makan paru sama ampela aja ya. Jangan makan daging yang disajikan di atas meja!" ucap Ibu mertuaku ketika aku dan Mas Ruslan sedang sibuk memasak di dapur.

"Kenapa, Bu?" tanyaku memberanikan diri.

"Takutnya nanti keluarga Dina sama Dimas tidak kebagian!" sahut ibu mertuaku.

"Lalu Danis?" tanyaku lagi. Merujuk pada putraku yang baru berusia 4 tahun.

Ibu mertuaku itu langsung melemparkan delikan masam. "Dia makan sesuai dengan apa yang kamu makanlah, Tri. Begitu aja mesti banget ditanya!" seru mertuaku kesal.

"Sama satu lagi, kalian juga jangan ikut bergabung di meja makan bersama keluarga suami dan istrinya Dina dan Dimas. Jangan malu-maluin. Kalian makan aja di dapur!" perintah ibu mertua.

Selesai mengucapkan kalimat tidak menyenangkan itu, ibu mertua langsung berbalik pergi meninggalkan dapur. Menyisakan aku dan Mas Ruslan yang hanya bisa berdiri bengong.

"Mas, kok ibu bisa tega banget gini sama kita?" Aku bertanya retoris pada Mas Ruslan, suamiku.

Faktanya aku tahu dengan sangat jelas alasan dari sikap ibu mertua yang seperti ini. Tidak lain karena di mata ibu mertua, kami hanya orang miskin. Tidak seperti Mbak Dina yang menikah dengan anak pejabat. Atau seperti Dimas yang bisa menikahi anak pengusaha kaya raya.

"Udahlah, Tri. Kita ngalah aja sama ibu. Kita makan enaknya besok aja ya," hibur Mas Ruslan seraya mengelus bahuku pelan.

"Hm," Aku berguman pelan. "Tapi kamu baik-baik aja, Mas?" tanyaku lagi sambil terus melanjutkan mengaduk gulai sapi di atas kompor.

Mas Ruslan yang bertugas mencuci peralatan masak yang segunung itu menyunggingkan senyum simpul padaku. "Hal seperti ini sudah terjadi seumur hidupku, Tri. Hatiku sudah lama mati rasa," jawab Mas Ruslan acuh tak acuh.

" ... "

Aku otomatis terdiam mendengar jawaban dari Mas Ruslan ini. Tapi memang seperti inilah kehidupan Mas Ruslan di keluarga ini. Selalu diperlakukan dengan berbeda. Jerih payah Mas Ruslan tidak pernah dihargai.

Entah apa yang membuat perlakuan bapak dan ibu mertua begitu berbeda terhadap Mas Ruslan. Aku sampai sering sekali meragukan kalau Mas Ruslan adalah anak kandung dari keluarga ini. Akan tetapi, wajah Mas Ruslan yang terlalu mirip dengan seluruh anggota keluarga ini menghentikanku dari pikiran liar.

"Mas, kamu tahu 'kan kalau aku tuh nggak suka makan paru sama ampela. Nanti aku makan pakai lauk apa dong? Kuah gulai?" tanyaku pada Mas Ruslan dengan nada merajuk. Bibirku mencebik maju satu sentimeter.

Hanya dengan membayangkan makanan itu menyentuh ujung lidahku saja sudah membuat bulu romaku meremang. Aku memang paling anti memakan organ dalam hewan seperti itu.

"Gimana kalau kita sembunyikan aja ayam gorengnya tiga biji?" bisikku dengan suara lirih hingga hanya aku dan Mas Ruslan yang bisa mendengar.

Mas Ruslan terkekeh pelan. "Nanti ketahuan ibu loh," timpal suamiku itu.

"Kita pilihnya yang paling kecil," bisikku lagi. Tidak mau menyerah.

Mas Ruslan menggeleng. "Jangan! Ibu pasti tahu kalau lauknya kurang," ucap Mas Ruslan.

Mataku seketika membola kaget mendengar penuturan Mas Ruslan ini. "Nggak mungkinlah ibu sampai segitunya," ujarku sanksi.

Mas Ruslan lantas mengangguk pelan. "Percaya deh sama, Mas. Kita cukup bersabar untuk hari ini aja. Besok Mas bawa kamu sama Danis ke tempat makan dimanapun kamu mau," bisik Mas Ruslan berusaha untuk menghiburku.

"Besok ya besok, Mas. Sekarang beda lagi. Ya kali semua biaya perjamuan ini kamu yang keluar duit, tapi cuma kebagian paru sama ampela doang!" dumelku tidak senang.

Kalian salah jika memiliki pemikiran yang sama seperti mertuaku, bahwa aku dan Mas Ruslan adalah orang miskin. Faktanya, baik aku dan Mas Ruslan itu sangat berkecukup dari segi finansial.

Di luar pekerjaan Mas Ruslan sebagai pedagang sapi, dia juga diam-diam menjadi makelar tanah. Semenjak disuruh berhenti sekolah saat kelas 2 SMA, Mas Ruslan telah berkelana dari satu desa ke desa lain untuk bekerja serabutan. Entah itu menjadi buruh panggul di pasar, menjadi kenek angkot, menjadi pelayan cafe, menjadi kasir mini market dan lain sebagainya.

Kerja keras dan ketekunan Mas Ruslan sejak dirinya masih remaja membuat Mas Ruslan dikenal oleh banyak orang di desa-desa sekitar. Banyak pula dari mereka yang menaruh simpati pada Mas Ruslan, karena di usia yang masih begitu muda, dia sudah kerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Karena kerja keras Mas Ruslan itu, dia seringkali diminta oleh para tetua kenalannya yang ingin menjual tanah untuk mencarikan mereka pembeli. Bonus pertama yang didapatkan setelah itulah yang membuat Mas Ruslan kemudian memiliki pemikiran menyimpang.

Dia yang juga sering kali didesak untuk membantu biaya pendidikan kakak dan adiknya, mulai berpikir untuk diam-diam menyimpan uang untuk dirinya sendiri. Rupiah demi rupiah yang terkumpul kemudian diam-diam diputar dengan membuka toko grosir di kabupaten lain.

Belasan tahun kini telah berlalu sejak saat itu. Uang di dalam rekening Mas Ruslan juga semakin banyak. Sayang sekali, kami tidak bisa menggunakan uang itu dengan terang-terangan karena takut digerogoti oleh ibu dan saudara-saudaranya.

Apa Mas Ruslan pelit? Apa Mas Ruslan tidak berbakti?

Tidak juga!

Karena selain membantu biaya pendidikan kakak dan adiknya dari usaha jualan sapi yang diwariskan oleh bapak mertua, Mas Ruslan juga membantu mencukupi biaya harian di rumah ini. Bahkan rumah berlantai dua yang baru saja dibangun ini adalah hasil dari kontribusi Mas Ruslan.

"Terus maunya bagaimana, Astriku sayang?" tanya Mas Ruslan membuyarkan lamunanku. Ada binar jenaka di matanya tatkala sedang menatap wajah cantikku.

"Ya gimana kek? Nggak tahu!" Aku berseru tak berdaya.

"Gimana kalau besok Mas ajak kamu shopping?" bisik Mas Ruslan tepat di samping telingaku. "Atau bagaimana kalau kita buat adik untuk Danis?" sambung Mas Ruslan tanpa jeda.

Dengan telinga yang terasa panas karena hembusan nafasnya, aku mendorong rusuk Mas Ruslan agar memberi jarak pada tubuhku.

"Kan! Kan! Kita lagi ngomongin apa, larinya kemana!" dumelku.

Mas Ruslan hanya terkekeh pelan. Aku tahu dia berkata begitu karena ingin menceriakan suasana muram di antara kami.

"Kamu jangan khawatir, Astriku sayang. Mas udah siapin lauk istimewa buat kamu." Mas Ruslan kembali berbisik di samping telingaku.

Mataku membola lebar mendengar ucapannya. "Beneran? Apa? Dimana?" tanyaku dengan sedikit nada antusias.

"Ada di kamar. Tadi Mas diam-diam goreng udang sama nugget kesukaan kamu dan Danis!" ungkap Mas Ruslan.

"Mas! Kamu memang suami yang paling pengertian. Aku cinta kamu!" seruku sembari memberi kecupan ringan di pipi tirus Mas Ruslan.

"Dasar kamu!" Mas Ruslan menjawil hidungku dengan gemas. "Mas juga cinta sama kamu!" ucapnya.

"Ekhm!"

Di tengah kebahagiaan sederhana ini, suara deheman seseorang menginterupsi kami. Aku dan Mas Ruslan langsung memisahkan diri.

"Mesra banget pengantin lama!" sindir Mbak Dina yang entah sejak kapan memasuki dapur.

"Eh, Mbak Dina. Ada apa, Mbak?" tanyaku grogi setelah dipergoki sedang bermesraan dengan Mas Ruslan.

"Orang-orang udah dateng tuh. Pantes aja ditunggu-tunggu makanannya belum disiapin. Lagi bermesraan toh!" sindir Mbak Dina. Matanya menatap miring pada kami berdua.

"Oh ya, Mbak!" ucapku sembari diam-diam memutar mata.

"Nanti kamu jangan malu-maluin ya!" seru Mbak Dina kemudian berjalan pergi meninggalkan kami berdua, sama seperti yang dilakukan ibu mertua tadi.

"Huuu! Sok bossy!" cibirku.

Mas Ruslan menggelengkan kepala samar melihat sikap kekanakanku. "Ayo, cepat siapkan makanannya. Nanti kamu diomelin ibu lagi," ujar Mas Ruslan memperingatkan.

Kami pun bergegas menyiapkan makanan untuk para tamu. Tidak seperti Mbak Dina dan Dimas beserta ibu mertua yang telah berdandan rapi, penampilanku sendiri masih seperti pembantu dengan daster lusuh melekat di tubuh.

Aku dan Mas Ruslan sedang sibuk hilir mudik menyiapkan makanan ketika Danis bergegas menghampiri kami dengan air mata membanjir di pipinya. Anak manis itu masuk ke dapur melalui pintu belakang.

"Ibu!" panggil Danis dengan suara lirihnya yang menyedihkan.

Aku segera menghentikan pekerjaanku dan duduk berjongkok mensejajarkan tubuhku dengan putra kecilku ini.

"Danis, sayang. Kenapa nangis, Nak?" tanyaku lembut seraya menghapus air mata di pipinya yang kemerahan.

"Ibu! Kak Aldi usir Danis. Kak Aldi bilang kalau Danis pengemis!" ujar Danis melapor dari balik suara sengguk-sengguk kecilnya.

Mendengar keluhan putraku ini membuat amarah yang tak tahu darimana datangnya perlahan bergejolak di dalam hati.

"Kak Aldi bilang Danis pengemis?" Aku bertanya ulang untuk memastikan aku tidak salah dengar.

"Iya. Tadi Danis mau masuk lewat pintu depan. Tapi diusir. Katanya Danis pengemis!" seru Danis sambil menangis kian kencang.

Mas Ruslan yang berdiri di sampingku segera menyambar Danis ke dalam gendongannya.

"Nggak bener ini, Mas. Aku nggak tahan lagi. Aku harus kasih tahu Mbak Dina. Mereka bisa berlaku tidak baik sama kita. Tapi mereka tidak bisa semena-mena pada Danis!" Aku menggeram kesal. Rasa ingin melabrak Mbak Dina berkobar di dalam diriku.

"Tri~" tegur Mas Ruslan dengan nada panjang. Sorot matanya memancarkan peringatan.

"Mas!" seruku.

"Setidaknya tidak sekarang. Di luar lagi banyak orang," ujar Mas Ruslan dengan lembut.

Aku meneguk ludah dengan susah payah. Nafasku memburu naik turun masih tidak ikhlas. Namun, aku juga mengerti apa maksud Mas Ruslan. Jangan sampai kami mempermalukan diri sendiri di hadapan orang banyak.

"Cup! Cup! Anak pinter udahan nangisnya ya," hibur Mas Ruslan sembari menepuk punggung Danis dengan lembut.

Danis pun perlahan berhenti menangis, tapi suara sesenggukannya masih terdengar sesekali. Hatiku sakit mendengarnya.

"Mas, aku nggak mau begini terus. Aku nggak mau diremehkan sama keluarga kamu, lagi dan lagi," ucapku lirih.

"Apa yang mau kamu lakukan, Tri?" tanya Mas Ruslan.

"Mau berontak! Kamu ini anaknya, dan aku ini menantunya bapak dan ibu juga. Kita bukan pembantu, Mas!" seruku dengan suara menggebu-gebu.

Mas Ruslan mengangguk. "Lalu lakukan apa yang menurut kamu benar, Tri. Asal jangan sampai ibu sama bapak masuk rumah sakit aja," ujar Mas Ruslan mengingatkan.

"Jangan khawatir, Mas. Aku cuma mau kasih syok terapi sedikit aja!" pungkasku dengan senyum licik di wajah.

* * *

Lanjut Membaca

Daftar Isi Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan