APKDock Logo
Sampul Novel Misi 27 Hari Yura

Misi 27 Hari Yura

9.8 / 10.0
Yura Anindita menolak keras perjodohan dari orang tuanya. Ia pun memulai misi nekat untuk mencari calon suami pilihannya sendiri dalam waktu 27 hari, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Di tengah tekanan waktu, dua pria berbeda hadir dalam hidupnya: sosok dari masa lalu dan pria baru yang memikat hatinya. Akankah Yura berhasil menemukan pendamping hidup yang tepat untuk membatalkan perjodohan tersebut, atau justru misinya akan berakhir dengan kegagalan?

Misi 27 Hari Yura Bab 1

Akan selalu ada perpisahan dari setiap pertemuan. Dua hal yang saling bertautan namun terkadang dilupakan. Dan aku ... mungkin jadi salah satu orang yang lupa tadi.

--------------

Derap langkah kakinya menuruni anak tangga masih terdengar sayup-sayup di telingaku. Aku masih berdiri mematung di rooftop gedung kantor salah satu stasiun TV swasta tempatku bekerja. Tanpa ada usaha menyusulnya apalagi mengejarnya.

Kejadian yang terjadi beberapa menit sebelum Ia beranjak dari tempat ini layaknya paku ukuran 4 inci yang di tancapkan pada kedua kakiku.

Jangankan untuk melangkah, untuk bergeser beberapa milimeterpun rasanya berat.

Dan ... sakit. Sungguh!!

"Kita udahan ya."

Katanya saat itu hingga membuat keindahan langit malam ini kehilangan poinnya di mataku. Darahku berdesir kencang. Desirnya bahkan sama dengan angin yang berhembus membelai wajahku malam ini.

"Udahan? Tapi kenapa? Bukannya selama setahun ini hubungan kita baik-baik aja."

Cairan hangat dan sebening embun itu mulai menggenangi pelupuk mataku. Ada sesuatu yang retak bahkan nyaris hancur terjadi pada hatiku saat ini.

Arghhh ... kenapa aku harus secengeng ini?

"Iya. Kita memang baik-baik aja. Tapi nggak tahu kenapa, aku ngerasa jenuh. Aku bosan ngejalanin ini sama kamu."

"Bosan? Cuman karena itu kamu mau mengakhiri semuanya?" tanyaku masih dengan rasa tak percaya.

Apa sebegitu kekanak-kanakkannyakah pria yang aku kenal selama ini? Menurutku, rasa bosan adalah alasan paling konyol untuk mengakhiri sebuah hubungan.

"Aku minta maaf. Tapi ini keputusannya. Kita selesai."

Tanpa banyak basa basi lagi Ia beranjak pergi meninggalkanku dan tak mau peduli betapa hancurnya perasaanku sekarang.

Sayangnya, aku tak bisa menemukan penyesalan sedikitpun karena sudah mencintai orang seperti itu. Ah ... akunya yang terlalu lugu atau memang semua orang seperti itu saat jatuh cinta?

Di tempat yang sama, di hari dan bahkan di tanggal yang sama, dia mencoba masuk dalam kehidupanku satu tahun lalu.

Tapi sekarang, dia juga yang memutuskan untuk pergi. Perih dan luka, hanya itu yang Ia tinggalkan untukku sebagai souvenir dari acara perpisahan kami. Rooftop kantor tempatku dan Ia bekerja seolah menjadi saksi bisu atas setiap moment yang terjadi dalam hubungan kami.

Aku ingat, saat pertama kali Ia menemukan keindahan malam dihiasi lampu-lampu perkotaan yang hanya bisa di lihat dari puncak gedung 14 lantai ini. Ia terlihat begitu tak sabar memperlihatkannya padaku. Bahkan Ia rela menungguku, yang pada saat itu sedang lembur di kantor hanya untuk menyuguhkan keindahan itu.

Aku juga ingat, hamparan bintang di langit yang kami lihat pertama kali di rooftop ini. Tentu saja terlihat sangat indah, makin berkilau, dan makin terasa mudah di gapai jika kami di sini.

Dan ya, aku meyakini setelah ini semuanya akan berubah.

Langit yang kami lihat mungkin masih sama, gemerlap bintangnya juga, tapi momennya akan terasa jadi berbeda. Tak akan ada lagi kita berdua yang duduk di sini, menghabiskan waktu hanya untuk menatap langit penuh bintang seperti malam ini.

Yang ada hanya aku. Aku serta langit yang tetap setia menyuguhkan keindahannya. Berbeda sekali dengan Langit yang aku kenal setahun belakangan itu. Dia hanya manis di awal, lantas sekarang dia memilih meninggalkan seolah perasaanku bukan apa-apa baginya.

Huft ... apa kebanyakan laki-laki seperti itu?

"Benarkan dugaanku, kamu pasti ada di sini."

Sebuah suara membuyarkan lamunanku perihal momen perpisahan dengan Langit satu minggu lalu. Yang setiap detailnya masih terekam dengan sangat jelas di memori otakku. Dan ya, aku masih saja suka menangis setiap mengingat hal itu.

"Indy," ucapku saat menyadari kedatangan sahabatku sembari menyeka air mata yang sempat jatuh membasahi pipiku.

Gadis manis berambut ikal ini berjalan mendekat ke arahku sambil geleng-geleng kepala. Dari bahasa tubuhnya, aku meyakini kalau Ia tahu betul apa yang sedang aku lakukan di rooftop saat waktu sudah selarut ini.

"Kamu tahu darimana aku ada di sini?"tanyaku pura-pura bego'.

Indy menghela nafas sejenak, "Pasca kamu sama Langit nggak bareng lagi, emang di mana lagi tongkrongan kamu selain di sini?"

Kata-kata Indy membuatku diam sejenak. Aku tak bisa menyangkal ucapannya.

Memang benar setelah kejadian hari itu, setiap jam kantor selesai atau setelah lembur, aku tak langsung pulang. Aku selalu ke rooftop untuk menenangkan diri, atau lebih tepatnya mengingat kembali kenanganku bersama Langit. Terlihat bodoh memang, tapi untuk saat ini hanya itu yang ingin aku lakukan. Setidaknya, sampai aku ikhlas menerima semuanya.

"Mikirin Langit lagi?" tanya Indy lagi berusaha menerka apa yang sedang aku pikirkan lantaran aku tak kunjung merespon ucapannya.

Alih-alih menjawab, aku justru mengarahkan pandangan lurus ke langit malam ini. Indy pun terlihat melakukan hal yang sama. Suasana kembali hening, hanya ada suara desiran angin yang mengisi rongga telingaku. Waktu yang sudah memasuki pukul 10 malam membuat hawa di sini terasa semakin dingin.

"Udah satu minggu loh kamu sama Langit bubar. Dan udah satu minggu juga kamu sama Langit kayak orang yang nggak saling kenal. Dan ... udah satu minggu juga kamu nggak bisa move on dari dia. Atau seenggaknya jangan lagi datang ke sini dan jangan lagi mengenang semuanya, Yura."

Yups...sekali lagi Indy benar.

Setelah semuanya berakhir, aku dan Langit memang seperti dua orang yang sedang bermusuhan. Sekalipun bertemu, kami tak pernah saling bertegur sapa. Dan sekalipun terlibat obrolan itu pun hanya sebatas urusan kerja. Menurutku itu wajar, apalagi semua berakhir cukup tiba-tiba.

Tapi kalau soal move on aku tak bisa membenarkannya. Aku bukan tidak bisa, hanya ... belum bisa. Aku sudah berusaha keras untuk hal itu, hanya saja belum menemui hasil. Waktu satu minggu, tak mungkin cukup untuk melupakan hubungan yang telah berjalan selama satu tahun. Terlalu banyak kenangan tercipta di sana.

"Kamu benar Ndy. Dan aku rasa itu nggak akan berubah selama aku masih di sini."

"Maksud kamu?" tanya Indy terlihat agak bingung.

Aku menunda memberikan jawaban. Aku berjalan ke ujung rooftop dan memilih duduk di sana. Kubiarkan kedua kakiku menggantung di puncak gedung. Rambut panjangku seolah menari tertiup angin yang dengan lembut membelainya.

"Aku akan keluar dari kantor."

"Keluar? Kamu nggak salah?"

Indy berjalan mendekatiku lalu memilih duduk tepat di sampingku. Ia terus menatap wajahku dengan mata belonya.

Aku tahu, dia pasti kaget dengan keputusanku yang terkesan dadakan baginya. Walau sebenarnya, aku sudah memikirkan hal ini dari jauh-jauh hari. Hanya saja aku menunggu waktu yang tepat untuk memulainya. Dan aku rasa, ini adalah waktunya.

"Yura, ayolah. Jangan kayak anak kecil gini. Mana sosok Yura Anindita yang selalu profesional dalam pekerjaannya? Masa' cuman gara-gara Langit kamu memilih keluar dari kantor?"

"Langit bukan satu-satunya alasan, Ndy," sahutku masih betah memandangi langit sambail tersenyum hambar.

"Lalu apa? Apa alasan kamu? Dan sejak kapan kamu punya pikiran untuk mengambil keputusan keluar dari kantor?" Indy terlihat masih shock mendengar keputusan yang aku ambil.

Yah, Langit bukan satu-satunya alasan hingga aku mengambil keputusan besar seperti ini. Tapi tak bisa aku pungkiri juga, keputusan Langit justru kian menguatkan keputusanku juga.

Patah hati memang sakit, lukanya juga nggak main-main, tapi bukan berarti aku ingin melarikan diri demi melupakan Langit. Hidup selalu punya prioritas, dan Langit bukan lagi prioritas itu.

"Sudah waktunya, Yura yang naif ini berubah menjadi sedikit lebih egois demi kebaikannya sendiri."

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi Misi 27 Hari Yura

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Terlahir dengan keterbatasan fisik, Jasmine Bintang tumbuh di bawah bayang-bayang kekecewaan ibunya. Ia berharap menemukan kebahagiaan saat menikahi Ardan Mahendra yang sukses. Namun, keluarga Ardan justru menghina keterbatasannya. Luka Jasmine kian dalam saat Anindya, mantan kekasih Ardan, kembali dan mengungkap kebohongan cinta mereka. Meski Jasmine mantap meminta cerai demi martabatnya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya begitu saja.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Pengantin Pengganti, Hati Pendendam
8.8
Upacara janji nikah yang seharusnya menjadi ajang kampanye Baskara berubah jadi pengkhianatan. Aku dibius dan melihatnya menikahi selingkuhannya di depan para elite. Setelah tujuh tahun pengorbananku membangun kariernya, dia justru menyebutku tidak berguna. Namun saat perceraian tiba, Baskara berpura-pura amnesia akibat kecelakaan dan memohon agar aku tidak pergi. Dia ingin bermain sandiwara, maka aku akan memastikan dialah yang hancur dalam permainan ini.
Sampul Novel Sentuhan Ayah Tiri
8.2
Kehidupan seorang gadis berubah drastis saat Hunter Oragle memergokinya tengah mengintip kemesraan intim pria itu bersama sang ibu. Bukannya marah, ayah tirinya justru memberikan tawaran provokatif untuk mengajarinya secara langsung. Hubungan yang seharusnya murni kini terjebak dalam pusaran gairah terlarang yang berbahaya. Segalanya menjadi kian rumit dan penuh tekanan ketika fakta-fakta masa lalu mulai terungkap ke permukaan, mengancam batas moral mereka.
Sampul Novel SEPENGGAL KISAH TANPA JUDUL
8.9
Jeany, gadis Minang yang pendiam, terjebak dalam pusaran luka mendalam. Setelah diselingkuhi kekasihnya, ia harus menyaksikan kehancuran keluarganya. Sang papa pergi demi wanita lain, bahkan selingkuhannya tega mengirimkan video asusila yang membuat mama Jeany depresi berat. Trauma pernikahan kini menghantui Jeany. Bersama Jeje, saudara perempuannya, ia berjuang menghadapi teror pelakor dan cobaan hidup yang seolah tak kunjung usai. Sanggupkah Jeany bertahan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan