APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mr. Right

Mr. Right

Pertemuan Angelina Bale dengan Dean Carter membawa dilema besar yang mengancam hubungan baiknya bersama Raquel Scott. Meski menyadari risiko kehancuran persahabatan mereka, Angie tidak mampu mengendalikan ke mana hatinya berlabuh. Kini ia terjebak dalam pilihan sulit antara kesetiaan pada sahabat atau mengejar cinta sejatinya. Keputusan apa pun yang diambil Angie dipastikan akan menyisakan luka mendalam bagi semua pihak, termasuk dirinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dean Carter membaca contoh surat perjanjian di tangannya dan merasa puas.

“Bagaimana? Ada yang perlu kutambahkan lagi?”

“Tidak perlu. Ini sudah bagus.” Dean menutup map berkas itu dan menyerahkannya kembali pada Liam Joey, bawahan sekaligus teman yang duduk di seberang meja.

Getaran pelan dari ponsel berwarna hitam di atas meja menarik perhatian keduanya. Dean mengangkatnya sedikit untuk melihat layarnya. Ternyata sebuah pesan pengingat.

《 Makan pizza bersama Raquel Scott. 12:00 pm 》

“Ada masalah? Keningmu berkerut.”

Dean mendongak, tanpa sadar telah mengerutkan dahi. “Tidak. Bukan apa-apa,” katanya mengubah ekspresi wajahnya agar kembali rileks.

“Jangan mencoba menipuku. Wajahmu sama sekali tidak menyiratkan pernyataan bukan apa-apa.”

“Hanya janji kecil, tak perlu kau pikirkan.” Dean meletakkan ponselnya kembali. “Aku ingin kau mengawasi segala persiapan, Liam. Aku ingin acara kita berjalan sempurna”

“Siap, Bos.”

“Hari ini aku ada jadwal di luar?”

“Meeting dengan pasangan McKenzie pukul dua siang di Restoran Hanabi.”

“Kau pergi denganku.”

“Baik.”

“Omong-omong,” kata Dean menambahkan. “Sebentar lagi jam makan siang, kau mau ikut makan pizza denganku?”

Liam menaikkan salah satu alisnya. “Pizza? Itu bukan jenis makanan yang biasa kau pilih untuk makan siang. Ada angin apa tiba-tiba kau mengubah menu?”

“Hanya perubahan suasana hati.” Dean mengangkat bahu tak acuh. “Jadi bagaimana? Kau ikut denganku?”

Liam menaikkan alisnya. “Ke?”

“Makan pizza.”

“Maaf, Bos. Kali ini aku tidak bisa. Aku sudah ada janji makan dengan Caroline.”

Meskipun sudah menebaknya, sejujurnya Dean tidak mengharapkan Liam akan mengatakannya. “Kau benar-benar serius jalan dengannya?”

“Ya.”

Dean bersiul. “Aku tak percaya kau benar-benar bertobat.”

Meskipun tidak ingin menjalani hubungan serius, Dean sesekali berkencan untuk menghabiskan akhir pekan. Begitu juga dengan Liam. Dan bahkan dia lebih playboy dari Dean. Setiap hari dia berganti wanita untuk diajak menghabiskan malam bersama. Lalu tiba-tiba saja dia berhenti berburu wanita setelah mengenal Caroline Norton, mantan pekerja paruh waktu di Caramel yang kini menjadi seorang pengacara.

“Kau juga akan seperti aku suatu hari nanti.”

“Sebelum itu terjadi, kau harus ikut makan pizza denganku.”

“Aku sudah bilang aku tidak bisa. Aku sudah jan—”

“Pilihannya hanya itu atau kau kupecat.”

“Maaf, Bos. Pilihanku tetap sama. Jika itu yang kau inginkan, aku akan menulis surat pengunduran diri setelah acara Hotel White berakhir.”

Kedua mata Dean melebar mendengar jawaban tenang Liam. “Kau sungguh-sungguh?”

“Ya.”

“Kau rela melepaskan pekerjaan hanya demi seorang Caroline Norton?” tanya Dean merasa tecengang.

“Dia bukan hanya seorang, Dean. Caroline Norton adalah segalanya. Duniaku.”

Dean menggeleng tak percaya. “Terserah apa katamu.”

“Mengenai surat pengunduran diri, haruskah aku memberikannya padamu hari ini juga?”

“Diamlah. Kau tahu aku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku tadi.”

Salah satu sudut bibir Liam tertarik ke atas.

“Hentikan cengiranmu. Lebih baik kau carikan teman untuk kuajak makan pizza,” perintah Dean. “Secepatnya.”

“Siap bos!” jawab Liam sebelum bangkit dari kursi.

Dean menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan tiga puluh menit kemudian merasa menyesal telah memberikan tugas itu pada Liam.

“Hei Bos, apa benar kita akan bertemu wanita cantik?” Sekali lagi pertanyaan itu terlontar dari teman semejanya.

Sejujurnya, dari sedikit pria lajang di kantor, Dean akan memilih orang lain, siapa saja asal bukan Samuel Grownfield, untuk diajaknya ke tempat ini—restoran pizza yang secara umum bisa ditemukan dalam jarak lima mil. Tidak seharusnya dia memberikan tugas sepele itu pada Liam Joey. Dia sangat kompeten mengenai pekerjaan, namun untuk yang satu ini jelas dia gagal total. Dan sialnya, pria itu tidak membalas pesan singkat yang dikirim Dean untuknya.

“Bos?”

Suara Sam membawa Dean kembali dari lamunan singkatnya. “Kau yakin wanita cantiknya akan datang?”

“Uh, ye—”

“Halo.”

Seseorang menyela Dean menjawab. Rupanya Raquel sudah berdiri di samping meja.

“Kau sudah menunggu lama?” lanjutnya ditujukan pada Dean.

“Tidak. Kami baru saja tiba,” Dean menjawab lalu menunjuk pria di seberang meja. “Kenalkan, ini Sam Grownfield, manajer humas di kantor kami.”

Sam membulatkan mata sejenak. Dari ekspresinya, Dean tahu pria itu merasa puas dengan pemandangan di depannya. Tangannya terulur ke arah tamu mereka.

“Raquel Scott.” Raquel menjabat tangan Sam dengan singkat dan kemudian menarik lengan seseorang agar berdiri di sampingnya. “Dan teman terbaikku, Angelina Bale.”

Dean mengawasi saat Angelina Bale bersalaman dengan Sam. Dia tidak menduga teman yang diajak ternyata tidak seglamor Raquel Scott. Penampilannya sangat biasa. Dia hanya memakai celana jins dan wajahnya polos tidak dipoles riasan.

“Dan kau harus berkenalan dengan Dean Carter.”

Suara Raquel yang meninggi menghentikan Dean dari kegiatan mengamati. Sudah menjadi kebiasaan bagi seorang pria normal seperti dirinya untuk menilai penampilan wanita yang baru pertama kali ditemui. Lalu, dalam benaknya, dia akan membaginya dalam tiga kategori; aku harus mendapatkannya, akan kutemui sesekali, atau jauhi dia. Seharusnya dia menempatkan Angelina Bale pada kategori terakhir, namun untuk saat ini dia belum memutuskannya.

Dean mengulurkan tangan untuk menjabat tangan wanita itu. “Dean Carter.”

Raquel Scott berdehem, membuat temannya terkesiap kaget dengan kilasan ekspresi bersalah di wajahnya. Dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Dean yang selama beberapa saat telah dia abaikan.

“A-Angie,” katanya dan Dean bisa mendengar nada kikuk dalam suaranya.

Setelah perkenalan, baik Dean maupun Sam menggeser posisi duduk mereka, menyediakan tempat bagi para gadis. Raquel Scott—tentu saja—menempati sisi Dean, membuat Sam cemberut harus duduk bersebelahan di samping temannya.

“Bagaimana dengan EO-mu, Dean?” Raquel memulai.

“Baik. Pekerjaan berjalan lancar.”

“Kami sedang mengerjakan proyek baru,” kata Sam menambahkan jawaban singkat Dean. “Sebuah proyek besar.”

“Benarkah? Itu bagus.”

Raquel meliriknya sekilas sebelum perhatiannya kembali pada Dean. Pria itu bisa melihat Sam mengerutkan bibir dengan kecewa. Dia terus berusaha mengajak bicara Raquel, namun wanita itu hanya menjawabnya sambil lalu karena dia lebih senang membuka obrolan dengan Dean yang menanggapinya dengan jawaban singkat. Ya, Dean tahu Raquel Scott sedang berusaha menarik perhatiannya, terlihat cantik dan sangat wangi.

Namun, Dean justru lebih tertarik pada temannya. Lebih tepatnya, merasa penasaran. Angelina Bale tidak banyak bicara. Sesekali mereka bertemu mata, namun wanita itu segera berpaling setelah mengulas senyum kaku. Sebagai pria yang memiliki kesombongan dan harga diri tinggi, Dean merasa terhina. Untuk kali pertama ada wanita besikap jengah di dekatnya. Dia sudah sering menanggapi wanita seperti Raquel Scott, namun tidak dengan Angelina Bale.

“Terima kasih sudah menunggu.” Seorang pelayan meletakkan seloyang pizza dan empat gelas cola pesanan mereka di atas meja.

Tiba-tiba ekspresi bosan wanita itu berubah antusias. Angelina segera mengambil sepotong dan memakannya tanpa berusaha menjaga imej.

Dahi Dean mengerut, bergelut dengan isi kepalanya sendiri. Apakah dia datang kemari untuk makan pizza? Hanya makan?

Well, mungkin saja. Namun, keberadaannya di sini tidak seharusnya diabaikan. Oleh siapapun. Dia adalah pria yang diinginkan banyak wanita, jadi dia tidak mungkin bisa dikalahkan oleh makanan. Namun, melihat cara Angelina makan, dia merasa dirinya sudah kalah.

Benak Dean membantah anggapan itu. Dia hanya perlu melakukan sedikit dan Angelina akan tertarik padanya.

“Apa pekerjaanmu, Angelina?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Dean.

Wanita itu tersedak. Tampaknya dia kaget karen diberi pertanyaan secara mendadak. Dia meneguk cola banyak-banyak untuk meredakan batuknya. Dan Dean tidak luput melihat gerakan kecil Angelina melirik Raquel Scott, yang juga sedang mengunyah pizza, namun entah bagaimana berhasil menjawab, “Dia seorang penulis majalah.” dengan sikap anggun.

Kilasan panik seketika muncul di wajah Angelina. “Aku membantu pekerjaan kakakku di sebuah kedai kopi,” katanya cepat. “Dan panggil Angie saja.”

Penulis majalah dan kedai kopi. Dua hal itu tidak saling berkaitan, menurut Dean. Atau, mungkin saja itu sebuah majalah kuliner?

Pria itu membuka mulut lagi, namun apapun yang ingin diucapkannya kalah cepat dari suara Raquel, “Omong-omong, bagaimana kabar Jessica?”

“Dia baik.” Dean mengangguk dengan tak acuh dan enggan. Sejujurnya dia tidak suka membicarakan gadis kecilnya pada orang yang tidak dia kenal dengan baik. Jika saja hari itu Raquel tidak mendengar pembicaraannya dengan Jessica di telepon, Dean tidak akan pernah menyebut-nyebut tentang Jessica di depannya.

“Di mana kedai kopi kakakmu?” Dean cepat-cepat bersuara ketika Raquel hendak membuka mulut lagi. “Angie?”

Lagi-lagi Angie melirik teman yang datang bersamanya. Dia kemudian menelan ludah sebelum menjawab, “Jalan Willow. Namanya CofeCafe.”

Alis Dean sedikit naik.

“Bukan tempat yang besar ataupun terlihat,” kata Angie menambahkan. Sepertinya wanita itu salah mengartikan tatapan bertanya yang dilakukannya. “Kau tidak akan bisa menemukannya jika hanya memandang dari dalam kaca jendela mobil atau bus. Tetapi kau bisa mendapatkan petanya di internet. Kakakku membuat situs CofeCafe.com sebagai salah satu cara pengiklanan. Dan kupastikan kau tidak akan menyesal datang ke sana setelah merasakan espresso racikan kakakku.”

Meskipun awalnya tidak menduga, entah mengapa Dean merasa tertarik dengan informasi yang didengarnya. “Aku rasa aku akan datang mencicipinya kapan-kapan,”

katanya menampilkan senyum miring.

“Kami akan menantikannya.” Angie melengkungkan bibirnya ke atas.

Menurut Dean, dia memiliki senyum yang manis. Namun, penampilan manis itu hanya bertahan sebentar. Setelah sudut matanya melirik Raquel, wajah Angie menunjukkan ekspresi bersalah dan kemudian menundukkan kepala.

“Sayang sekali waktu makan siang berlangsung singkat. Karena besok libur, bagaimana jika kita malam nanti kita pergi nonton?” Sam mengusulkan.

“Ide bagus!” Raquel terlihat bersemangat.

Sedangkan Angie menggeleng pelan. “Maaf, aku tidak ikut. Kakakku membutuhkan bantuanku di kedai malam ini.”

“Aku juga tidak. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” kata Dean. Dia memang harus mengerjakan sesuatu, meskipun tidak mendesak. Alasan lainnya, dia tidak ingin pergi ke bioskop, baik dengan Sam maupun Raquel. Apalagi dengan mereka berdua sekaligus.

Di sisi lain, Sam terlihat senang. “Kita bisa pergi berdua saja Ms. Scott,” katanya penuh harap. Dia merasa memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan Raquel, menurut pengamatan Dean.

Raquel mengerjap seakan-akan baru tersadar di mana keberadaannya. “Ah, maaf. Aku baru ingat aku sudah ada janji dengan ibuku.”

Senyum di bibirnya sama sekali tidak mencapai matanya. Siapapun yang melihat pasti menyadari ucapannya barusan merupakan suatu kebohongan.

“Kurasa lebih baik acara nonton film dijadwalkan lain waktu saja. Saat kita berempat ada waktu luang lagi,” kata Angie untuk mengenyahkan suasana canggung yang mendadak muncul.

Raquel dan Sam menggumamkan persetujuan, namun Dean melihat ekspresi kecewa mereka berdua sama sekali tidak disembunyikan, entah disengaja atau tidak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akhirnya KAU Mencintaiku
8.0
Tiga belas tahun lamanya Rea mencintai Jeno, termasuk dua tahun pernikahan paksa yang penuh pengorbanan. Meski telah mengabdi sepenuhnya, Jeno tetap berpaling pada mantan kekasihnya. Lelah karena cintanya tak pernah dihargai dan terus diperlakukan kasar, Rea akhirnya memilih menyerah dan meminta cerai. Namun, saat Rea berubah menjadi dingin, Jeno justru mulai merasa kehilangan. Ia baru menyadari betapa berharganya Rea tepat di saat wanita itu ingin pergi.
Sampul Novel Aku Tak Membencimu
8.5
Demi melunasi utang ibunya, Ayyara Faderica terpaksa menikahi CEO Kieran Bimantara. Meski Kieran memperlakukannya bak ratu karena rasa cinta yang lama terpendam, Ayyara justru sulit membuka hati dan diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Walau dikhianati, Kieran tetap gigih berjuang demi mendapatkan cinta sang istri. Akankah Ayyara akhirnya menyadari ketulusan Kieran, ataukah masa lalu akan menghancurkan pernikahan mereka?
Sampul Novel CEO Bucin
9.2
Amanda, gadis panti asuhan yang sederhana, tak menyangka akan terikat pernikahan dengan CEO tampan bernama Antonio. Bukannya bahagia, Amanda justru menderita karena sikap dingin sang suami dalam rumah tangga tanpa cinta itu. Saat Amanda hampir menyerah akibat luka hati yang mendalam, Antonio justru menyadari bahwa kehadiran istrinya telah mengubahnya menjadi pria yang lebih baik. Ia pun berbalik mengejar cinta Amanda. Akankah Amanda memberi kesempatan kedua?
Sampul Novel Di Jodohkan Dengan Om Galak
8.2
Nessa, mahasiswi cantik berkepribadian bebas, terpaksa menerima perjodohan dengan Arga, CEO dingin yang pernah ia temui dalam situasi buruk. Meski Arga masih dibayangi masa lalu, keduanya sepakat menjalani pernikahan kontrak selama setahun tanpa sepengetahuan orang tua. Namun, dinamika di antara mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu. Akankah cinta tumbuh di tengah rahasia ini, ataukah kembalinya masa lalu Arga akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar
8.1
Hidupku hancur setelah calon kakak iparku sendiri menodai kesucianku tepat sebelum hari pernikahan. Alih-alih dibela, aku justru difitnah sebagai penggoda dan diusir dari keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjual diri kepada pria kaya raya. Bertahun-tahun berlalu, tak disangka pria brengsek itu muncul kembali sebagai pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama sebulan penuh. Apa sebenarnya rencana licik yang ia siapkan kali ini?
Sampul Novel Godaan Ranjang Sang CEO-tamat
8.0
Demi menyelamatkan ayahnya dari kanker paru-paru, Gwen Florine terpaksa menerima tawaran Nicholas Kennedy, mantan kekasih yang meninggalkannya sepuluh tahun silam. Nich bersedia menanggung biaya operasi sebesar lima puluh ribu dolar asalkan Gwen bersedia menikahinya. Gwen setuju, namun dengan syarat pernikahan mereka hanyalah kontrak belaka. Di tengah luka lama yang belum sembuh, mampukah Gwen menjaga hatinya agar tidak kembali terjerat pesona sang CEO?