APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak

Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak

Tepat di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim undangan pernikahan dan rekaman suara yang menghinaku karena trauma masa lalu. Terungkap pula bahwa dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain. Dia bermimpi membangun dinasti baru yang megah, namun aku akan datang ke pesta pernikahannya bukan untuk memberi restu, melainkan menghancurkan segalanya hingga menjadi abu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sudut Pandang Aira Larasati:

Kata itu menggantung di udara yang membeku, sebuah perintah sekaligus hukuman mati. Anak buahku bergerak serempak, unit kesetiaan dan kekerasan yang mulus yang telah kubina selama bertahun-tahun. Tubuh Bramantyo menegang, tangannya secara naluriah bergerak ke pinggang belakang tempat dia selalu menyimpan senjatanya.

"Aira, jangan," dia memperingatkan, suaranya geraman rendah. Ahli strategi yang tenang itu telah pergi, digantikan oleh hewan yang terpojok yang kukenal dari masa muda kami.

Tapi aku sudah tidak mau lagi mendengarkan peringatan. Kepercayaan padanya telah menjadi gunung, kokoh dan tak tergoyahkan selama dua dekade. Dalam satu sore, dia telah meratakannya menjadi debu.

Dia mencoba melangkah ke arahku, tangannya terulur. "Kita bicara baik-baik."

Aku tersentak mundur seolah sentuhannya akan membakarku. "Jangan berani-berani kau menyentuhku," desisku. "Tidak setelah tanganmu menyentuh seluruh tubuhnya."

Gadis itu, Kayla, merintih di belakangnya, mata cokelatnya yang besar berkaca-kaca. Dia tampak ketakutan, seekor anak rusa yang terperangkap dalam bidikan. Itu akting yang bagus.

"Kita selesai, Bramantyo," kataku, kata-kata itu terasa seperti asam. "Ini, kita, kerajaan ini—semuanya berakhir. Aku mau cerai."

Dia benar-benar berani terlihat terkejut. "Cerai? Aira, berpikirlah yang masuk akal."

"Masuk akal?" Tawa pahit keluar dari bibirku. "Kau mau yang masuk akal?" Aku menarik senjataku sendiri dari sarung yang tersembunyi di dalam mantelku. Logam dingin itu adalah kenyamanan yang akrab di tanganku. Aku tidak mengarahkannya padanya. Aku mengarahkannya pada wanita itu. "Yang masuk akal adalah aku menembakkan peluru ke jalang kecilmu karena tidak menghormati kenangan keluargaku."

Udara berderak karena ketegangan. Anak buahku telah menarik senjata mereka, sebuah kebuntuan di gerbang tempat suci kami yang hancur. Kayla mengeluarkan isak tangis kecil yang tertahan.

"Minggir, Bramantyo," perintahku.

Dia tidak bergerak. Dia menjadi dinding otot dan amarah, melindunginya sepenuhnya. "Kau harus melewatiku dulu."

"Jangan menggodaku."

Aku menekan pelatuknya.

Suara tembakan itu memekakkan telinga di tengah keheningan musim dingin. Peluru itu tidak mengenainya. Aku tidak berniat mengenainya. Peluru itu menghantam kusen pintu kayu hanya beberapa senti dari kepalanya, membuat serpihan kayu beterbangan.

Kayla menjerit, suara melengking yang mentah yang membuat gigiku ngilu. Dia ambruk ke pelukan Bramantyo, tubuhnya gemetar tak terkendali.

Dan pada saat itu, dia bergerak. Lebih cepat dari yang pernah kulihat dia bergerak selama bertahun-tahun. Dia melintasi jarak di antara kami dalam dua langkah panjang, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku, memaksa lenganku turun. Kekuatan dalam cengkeramannya sangat besar, tanpa ampun. Rasa sakit menjalar di lenganku, tajam dan seperti sengatan listrik.

"Cukup," geramnya, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Matanya, mata gelap yang sama yang dulu menatapku dengan pemujaan, sekarang menjadi kepingan obsidian yang dingin dan keras.

Tekanan di pergelangan tanganku menghancurkan, tulang-tulang serasa saling bergesekan. Aku melihat bekas luka di punggungnya dalam benakku, yang dia dapatkan untukku. Tangan ini, yang sekarang menyebabkan begitu banyak rasa sakit, adalah tangan yang sama yang telah menarikku dari puing-puing kehidupan lama kami, berkali-kali.

Setetes air mata panas lolos dari mataku dan menelusuri pipiku yang dingin. Aku tidak menangis karena rasa sakit di lenganku, tetapi karena penderitaan yang tak tertahankan di dadaku. Melihat air mata itu, sesuatu dalam dirinya goyah. Cengkeramannya mengendur sepersekian detik.

Itu adalah satu-satunya celah yang kubutuhkan.

Aku bukan lagi gadis yang perlu dia lindungi. Aku adalah seorang ratu. Aku memutar tubuhku, menggunakan momentumnya sendiri untuk melawannya, dan mengangkat lututku keras-keras ke perutnya. Dia mengerang, terhuyung mundur, tangannya terlepas dari pergelangan tanganku.

Lenganku tergantung pada sudut yang tidak berguna, pergelangan tanganku menjerit protes, tetapi tatapanku terkunci padanya. Dia menegakkan tubuh, napasnya terengah-engah, tetapi dia tidak terlihat marah. Dia terlihat... khawatir.

"Pergelangan tanganmu," katanya, melangkah ke arahku. "Biar kulihat."

Dia meraihku lagi, kebiasaan lama yang mendarah daging untuk ingin menyembuhkan lukaku. Cara yang sama dia membersihkan dan membalut lukaku ketika kami masih anak-anak, sentuhannya begitu hati-hati, begitu lembut.

"Menjauh dariku," geramku, mundur.

Dia berhenti, tangannya melayang di udara di antara kami. "Aira, kau terluka."

"Kau yang menyakitiku," balas ku. "Ini," aku menunjuk dengan tangan sehatku ke pergelangan tanganku yang berdenyut, "bukan apa-apa. Ini bisa diperbaiki. Apa yang kau lakukan di dalam sana," aku mengangguk ke arah vila, "itu tidak akan pernah bisa diperbaiki."

Kekuatan dalam suaraku sepertinya memukulnya. Kekhawatiran di matanya digantikan oleh kepasrahan yang akrab dan lelah. Dia mengenalku. Dia tahu kapan aku telah menarik garis yang tidak akan pernah bisa dihapus.

Aku melihat melewatinya, pada gadis yang sekarang menangis tersedu-sedu di teras. Lalu aku melihat kembali padanya, pada pria yang merupakan seluruh duniaku.

"Sudah berakhir, Bramantyo," bisikku, kata-kata itu terasa seperti dicabut dari jiwaku. Aku memunggunginya, memunggungi vila, memunggungi dua puluh tahun yang telah kami bangun bersama. Aku berjalan menuju mobilku, setiap langkahku adalah tindakan kemauan murni.

Tangan kananku, Leo, membukakan pintu untukku. Wajahnya muram.

"Bos?" tanyanya, suaranya rendah.

"Bawa aku pulang," kataku, suaraku pecah di kata terakhir.

Saat mobil menjauh, aku melihat ke kaca spion. Bramantyo masih berdiri di sana, mengawasiku pergi. Dia tidak bergerak untuk menghentikanku. Dia membiarkanku pergi. Dan dalam pelukannya, dia memeluk gadis yang menangis itu, menenangkannya.

Dia telah membuat pilihannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADA DARAH DI DALAM AIR
8.8
Seorang pemuda bertekad menuntut balas atas kematian tragis ibunya yang dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri. Namun, targetnya bukanlah orang biasa, melainkan pemimpin MBR, organisasi mafia paling kuat dan ditakuti di seluruh Asia. Di tengah bayang-bayang kekuasaan besar sang ayah, mampukah ia menuntaskan dendam membara tersebut? Ataukah perlawanan nekat ini justru akan berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan hidupnya selamanya?
Sampul Novel Kembalinya Sang Penguasa
9.0
Ledakan rumah yang menewaskan sepasang suami istri memicu kepanikan besar di kalangan polisi dan tentara. Hilangnya putri mereka menandai kembalinya sosok legendaris, Red Everlasting Dragon. Sang penguasa yang ditakuti dunia ini turun gunung demi membalas dendam atas kematian orang tuanya dan penculikan adiknya. Tanpa ampun, ia bersumpah akan menghancurkan siapa pun pelakunya. Amarah sang naga kini membara, siap mengguncang tatanan dunia dari timur hingga ke barat.
Sampul Novel Nona Hujan, Cobalah Diriku!
8.4
Akibat dosa masa lalu, Kerajaan Meng didera kekeringan hebat selama puluhan tahun. Di tengah penderitaan rakyat, Putra Mahkota Li Yun Zhu mencari cara menyelamatkan negerinya. Harapan muncul pada sosok Su Yu Er dari Suku Chang'o yang konon mampu mendatangkan hujan. Namun, Yun Zhu terjebak dilema besar. Ia harus memohon bantuan kepada keturunan bangsa yang pernah dibantai keluarganya sendiri. Akankah dendam lama menghalangi keselamatan seluruh kerajaan?
Sampul Novel Perundungan Dibayar Kontan
8.6
Serangkaian serangan misterius mengguncang kota selama berbulan-bulan. Polisi awalnya menganggap insiden ini acak, namun pola identik mulai terungkap. Penyelidikan intensif pun mengarah pada satu sosok tak terduga, Eve. Dia adalah psikiater sekaligus kekasih seorang penyidik yang ternyata menjadi benang merah bagi seluruh tersangka. Apakah wanita ini dalang di balik kekerasan tersebut, atau justru ia terjebak dalam skenario licik yang dirancang orang lain?
Sampul Novel Prajurit Raja Perkasa
9.6
Peter Wang, mantan personel pasukan khusus, kini menjadi pengawal Bella Song di perusahaan elite Golden City. Meski awalnya meremehkan tugas ini, ia terjebak dalam pusaran konflik melawan geng kejam dan tokoh-tokoh berbahaya. Di balik aksi laga yang menegangkan, Peter juga memikat hati banyak wanita, termasuk Amelia, Elaine, Shelly, hingga Lisa. Mampukah sang prajurit perkasa menaklukkan segala rintangan di kota ini? Ikuti kisah lengkap perjuangannya sekarang.
Sampul Novel Rahasia Pria Tanpa Nama
8.5
Amanda menolak keras perjodohan dengan pria seumuran ayahnya. Di tengah pelariannya ke pantai untuk mencari ketenangan, ia justru menemukan seorang pria misterius yang terapung dalam kondisi penuh luka. Saat Amanda mencoba menolong, pria tak dikenal itu mendadak sadar dan membisikkan sesuatu yang krusial ke telinganya. Akankah Amanda memilih menyelamatkan sosok asing ini di tengah kemelut hidupnya? Ikuti kisah penuh aksi dan romansa yang mendebarkan ini.