APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Home

My Home

Bagi Cein, pernikahan dengan Orlyn adalah kebanggaan, namun bagi Orlyn, ikatan ini tak lebih dari penjara tanpa cinta. Meski Cein bertekad memenangkan hati istrinya, masa lalu yang kelam terus membayangi hubungan mereka. Di tengah dinginnya sikap Orlyn, Cein juga harus berjuang melawan penyakit jantung yang menggerogoti fisiknya. Sanggupkah Cein mempertahankan rumah tangganya saat pengorbanan dan rasa sakit datang silih berganti menghantamnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Lagi dimana?" tanya Cein di seberang sana.

"Lagi di cafe baru punya temen, Kak. Maaf, tadi gak ijin dulu soalnya buru-buru," jawab Orlyn yang kemudian melihat ke arah Sania dan memberikan kode kalau Cein yang meneleponnya.

"Masih lama?" terdengar pertanyaan lagi dari Cein.

"Kayaknya si iya, soalnya baru dimulai juga acaranya. Kenapa, Kak?"

"Gak apa-apa cuma tanya aja, nanti share lok ya. Aku, jemput kamu sekarang."

"Lho, Kak, 'kan aku udah bilang acaranya masih lama."

"Iya, tapi aku sekarang butuh kamu."

Ucapan terakhir Cein juga menjadi penutup telepon antara mereka berdua. Orlyn menghela napas kesal dengan sikap Cein. Lagi-lagi suaminya itu seenaknya aja mau jemput.

Orlyn lalu membuka aplikasi chatting yang biasa dia gunakan.

"Aku, gak mau share lok. Acaranya baru mulai, aku gak enak sama anak-anak kalau langsung cabut sekarang. Aku, pasti pulang."

Orlyn mengirim pesan singkat itu pada Cein, lalu dengan sengaja Orlyn mematikan ponselnya. Dia paham betul Cein itu cerdas, banyak cara bagi Cein untuk menemukan Orlyn kalau ponsel Orlyn masih menyala.

***

Orlyn memang pulang, tapi tidak sesuai pikiran Cein. Orlyn masuk rumah sudah hampir jam 10 malam. Orlyn melihat Cein sudah mengenakan jaket tebal hitam miliknya, sepertinya Cein mau keluar.

"Mau kemana, Kak?" tanya Orlyn tanpa rasa bersalah.

Melihat Orlyn sudah pulang Cein menghela napas lega dan kembali membuka jaketnya. Cein tidak menjawab pertanyaan Orlyn lalu kemudian pergi begitu saja menuju kamarnya. Orlyn menautkan alisnya bingung, gak biasanya Cein secuek itu? Sejurus kemudian bukannya peka dengan situasi, Orlyn justru mengedikkan bahunya dan berjalan menuju dapur. Dia haus dan harus minum sekarang.

Sebelum masuk ke kamarnya dan Cein, Orlyn memilih masak mie instan dia sedikit lapar. Di cafe temannya tadi dia memang makan, tapi sepertinya perjalanan yang tidak dekat membuatnya kembali lapar. Orlyn baru sadar kalau Cein tidak keluar-keluar kamar lagi.

"Apa iya udah tidur?" tanya Orlyn sembari melihat ke arah pintu kamarnya.

Orlyn kembali mengedikkan bahunya masa bodoh. Setelah selesai makan mie instan, Orlyn pergi mandi dan kemudian masuk ke dalam kamar. Dugaan Orlyn salah, Cein belum tidur dan sedang sibuk dengan laptopnya sekarang.

"Kak, udah malam lho. Gak tidur?" tanya Orlyn yang kemudian berjalan menghampiri Cein.

"Sudah tahu kalau ini sudah malam," jawab Cein tanpa sedikitpun melihat ke arah Orlyn.

Orlyn mengerutkan keningnya lalu kemudian memilih duduk bersila di karpet yang sengaja di gelar di bawah sofa. Cein mengalihkan pandanganya dari laptop dan melihat sekilas ke arah Orlyn.

"Tidur! Kamu pasti capek habis main seharian," ujar Cein yang kembali sibuk dengan laptopnya.

"Kakak sendiri kenapa gak tidur? Nanti kakak sakit lagi," ujar Orlyn menanggapi.

Cein tidak segera menjawab, tangannya masih sibuk mengetik sesuatu lalu kemudian terdengar helaan napas berat dari Cein. Laki-laki yang tidak pernah bisa menyembunyikan perasaan ataupun ekspresinya itu melihat ke arah Orlyn. Sedangkan Orlyn sendiri justru berkedip-kedip random ditatap oleh Cein sedemikian rupa.

"Aku lagi marah sama kamu, kayaknya malam ini aku tidur di kamar tamu aja."

Setelah bicara seperti itu Cein beranjak dan berjalan keluar kamar dengan membawa laptopnya juga. Orlyn tertegun dan hanya bisa memandangi Cein yang keluar dari kamar mereka.

***

Suara hujan begitu deras terdengar di luar. Orlyn yang memang takut hujan dimalam hari meringkuk di dalam selimut. Orlyn menutupi telinganya dengan headset supaya tidak bisa mendengar suara hujan deras yang bercampur dengan angin kencang juga.

"Kak Cein jahat banget sih sama aku. Kenapa gak pindah ke kamar kita lagi, padahal, 'kan dia tahu aku takut sama hujan di malam hari," ucap Orlyn yang masih terus berusaha untuk tidak takut.

Orlyn mulai menangis karena tidak bisa menahan rasa ketakutannya. Tidak lama menangis, Orlyn merasakan seseorang naik ke atas ranjangnya. Orlyn membuka selimut yang menutupi semua tubuhnya cepat. Orlyn lalu melihat ke belakang dimana Cein sudah berbaring dan sedang sibuk membetulkan letak selimutnya.

"Kak," lirih Orlyn dengan suara parau karena menangis.

Cein melihat ke arah Orlyn dan dalam remang-remang dia bisa melihat wajah sang istri basah karena menangis.

"Kamu nangis?" tanya Cein mengurungkan niat untuk membetulkan selimutnya dan menatap Orlyn sekarang.

"Iya. Kakak, 'kan tahu aku takut hujan malam-malam begini."

Orlyn mengiyakan pertanyaan Cein.

Cein menghela napas frustasi lalu merengkuh Orlyn cepat.

"Sama hujan aja takut, sok sokan pulang malam karena sibuk main," ujar Cein.

Orlyn menyadari kesalahannya, Cein marah pasti karena dirinya yang pulang terlambat. Orlyn lalu melepaskan dirinya dari pelukan Cein. Orlyn mendongak dan menatap Cein.

"Kak," panggilnya.

"Apa?" jawan Cein singkat.

"Aku salah ya? Kakak masih marah?" tanya Orlyn lagi.

Cein yang tadinya memejamkan matanya sekarang kembali membuka matanya dan melihat ke arah Orlyn.

"Em, kamu salah dan aku masih marah sekarang."

Cein membenarkan pertanyaan Orlyn.

"Maaf, aku salah. Ya udah kalau marah gak usah peluk-peluk! Aku, bisa tidur sendiri tanpa di peluk kamu," ujar Orlyn yang kemudian melepas pelukan Cein paksa.

Cein berdecak lalu kemudian kembali menarik Orlyn dalam pelukannya.

"Suka-suka aku! Mau, kamu aku tidurin pun itu sah buat aku."

Cein mendekap erat Orlyn yang kembali menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Cein. Orlyn tersenyum tipis dan melingkarkan tangannya ke badan Cein.

"Selamat malam, Kak," ucap Orlyn.

"Iya, selamat malam," sahut Cein yang kemudian memejamkan matanya lagi dan pergi tidur bersamaan dengan Orlyn yang membuat dirinya senyaman mungkin di pelukan Cein.

***

Pagi harinya Orlyn bangun dan mendapati Cein sudah lebih dulu bangun.

"Lagi-lagi aku kesiangan," ucap Orlyn lalu mengucek matanya dan mengumpulkan semua nyawanya.

Beberapa menit berlalu Orlyn lalu turun dari ranjang dan langsung berjalan keluar kamar. Orlyn mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tapi tidak menemukan Cein dimanapun.

"Kak," panggil Orlyn yang sedikit takut karena sepagi ini pun diluar masih hujan dan beberapa kali terdengar petir menyambar.

"Kak Cein," panggil Orlyn lagi semakin takut karena sadar saat ini sendirian di rumah.

"Kemana sih perginya pagi-pagi gini? Kenapa gak bangunin aku dulu?"

Orlyn duduk berjongkok dan menangis lagi. Entah kenapa Orlyn itu memang cengeng banget. Belum lama menangis Orlyn mendengar suara pintu rumah terbuka dari luar. Orlyn cepat berdiri dan berlari keluar, sesampainya di ruang tamu Orlyn melihat Cein melepas tudung hoodie nya dan membawa kantong plastik berwarna hitam di tangannya.

"Dari mana?" tanya Orlyn dengan suaranya yang putus-putus karena masih menangis.

Cein melihat ke arah Orlyn lalu kemudian menautkan alisnya bingung.

"Kok nangis? Ini masih pagi, Orlyn."

"Kakak sih ninggalin aku pagi-pagi sendirian, hujan lagi di luar," rengek Orlyn.

Cein membulatkan matanya tidak percaya, kenapa juga Orlyn jadi sepenakut ini. Cein menghela napasnya dalam lalu kemudian berjalan mendekat pada Orlyn.

"Udah diem! Mandi sana, aku udah beli sarapan."

Cein menuntun Orlyn untuk masuk ke dalam lagi. Orlyn menurut saja sampai keduanya sama-sama berhenti karena bel rumah mereka berbunyi. Orlyn melihat ke arah Cein, begitu pula dengan Cein.

"Siapa ya, Kak?" tanya Orlyn yang kemudian sibuk menghapus air matanya karena malu kalau ada yang lihat selain Cein.

"Entah, kamu masuk dulu aja ya! Aku, lihat sebentar siapa yang datang pagi-pagi begini," pamit Cein.

"Em."

Orlyn menganggukkan kepalanya patuh, Cein sendiri lalu melepas tangannya dari tangan Orlyn dan kembali menuju pintu rumah.

Cein membuka pintu rumah dan kemudian melebarkan matanya tidak percaya dengan siapa yang dia lihat di hadapannya sekarang.

"Sahla?" lirih Cein.

"Cein, akhirnya rumah kamu ketemu."

Tanpa ba bi bu perempuan yang Cein panggil Sahla itu berhambur memeluk Cein tanpa permisi.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Itu Ayah Dari Anakku!
8.6
Risa, gadis desa yang mencari orang tuanya di kota, justru dikhianati teman dan dijual hingga berakhir menghabiskan malam bersama CEO muda, Arjuna. Hubungan singkat itu menghasilkan kehamilan yang mengancam reputasi sempurna Arjuna. Di tengah perbedaan kasta sosial dan intrik keluarga yang rumit, Arjuna terjebak antara menjaga citra atau melindungi Risa. Akankah cinta tumbuh di balik skandal besar ini, ataukah status sosial menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu
9.5
Sakti nekat menikahi Anjani, gadis yatim piatu, meski ditentang keluarganya. Namun, ia terpaksa menjalani pernikahan kedua dengan Mala demi mendapatkan donor jantung bagi kakeknya. Di bawah ancaman sang ayah yang mengincar keselamatan Anjani, Sakti terjebak dalam poligami rahasia. Setahun berselang, kebohongan ini terungkap oleh Anjani. Kini, Sakti harus menghadapi kehancuran rumah tangganya di tengah konflik status sosial dan pengkhianatan yang menyakitkan.
Sampul Novel Kuhempaskan Suami Benalu dan Keluarganya
8.6
Dunia Shanum runtuh saat Arya membawa Anara pulang sebagai istri barunya. Tak hanya dikhianati, Shanum juga dihina mandul dan dianggap benalu oleh sang mertua yang angkuh. Namun, Shanum menolak untuk menyerah pada rasa sakit. Ia memilih bersikap tenang sambil merencanakan pembalasan elegan. Kini, saatnya membuktikan siapa yang sebenarnya parasit dalam keluarga ini. Shanum bertekad menghempaskan suami dan mertua tak tahu malu itu dari hidupnya selamanya.
Sampul Novel Lelaki Itu Membeliku Bukan Mencintaiku
8.7
Vania, mahasiswi yang terhimpit utang keluarga, terpaksa terjun ke dunia malam demi masa depan adiknya. Takdir mempertemukannya dengan Reza, pria kaya penuh trauma yang awalnya hanya menganggap Vania sebagai objek transaksi. Namun, hubungan dingin itu berubah menjadi keterikatan emosional yang rumit. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan tekanan sosial, mereka terjebak antara benci dan candu. Mampukah cinta tumbuh di atas luka dan pengorbanan yang menghancurkan harga diri?
Sampul Novel Menaklukan CEO tampan
9.6
Clara harus berjuang membiayai ibu dan kakaknya dengan bekerja sebagai admin sambil kuliah pasca ayahnya tiada. Tekanan pekerjaan dari CEO yang arogan serta patah hati karena dicampakkan kekasih playboy membuat hidupnya kian pelik. Demi mengubah nasib, Clara iseng mengikuti ajang biro jodoh demi mencari pasangan mapan. Tak disangka, ia justru dipertemukan dengan bosnya sendiri. Kini, Clara bertekad menaklukkan hati CEO tampan itu. Berhasilkah ia?
Sampul Novel REVEAL
9.6
Rasen memasuki perguruan tinggi demi mencari sahabat masa kecilnya. Namun, ia justru bertemu Eleena, gadis unik yang gigih mendekatinya hingga mereka menjadi sahabat tak terpisahkan. Kedekatan mereka terusik saat sesosok hantu wanita muncul dan mengaku sebagai sahabat yang Rasen cari. Sikap Rasen pada Eleena pun mulai berubah drastis. Akankah Eleena mampu mengembalikan Rasen, atau sang hantu akan menjauhkan mereka demi mengungkap sebuah rahasia masa lalu?