APKDock Logo
Sampul Novel My Moonlight

My Moonlight

9.8 / 10.0
Cassiopeia Arsy dikenal sebagai Devil Girl karena gaya Baratnya yang angkuh dan provokatif. Di sekolah baru, ia justru terpikat pada Zein Damar Priyambada, ketua OSIS dingin yang ditakuti semua orang meski pertemuan awal mereka sangat buruk. Di balik ketegangan itu, keduanya ternyata menyimpan trauma masa lalu yang kelam. Melalui perjalanan panjang penuh emosi, mampukah mereka saling menyembuhkan luka lama dan menghadapi rahasia yang mulai terungkap?

My Moonlight Bab 1

Sebuah sedan hitam mengkilat berhenti tepat di depan gerbang sebuah sekolah. Para siswa tampak ramai menyerbu. Seorang cewek dengan seragam serupa masih melipat kedua tangannya di dada, wajahnya cemberut dan dingin, iris matanya melirik para siswa yang baru berdatangan. Dia jelas enggan.

“Ayo turun,” ujar seorang perempuan cantik yang mengenakan busana layaknya nyonya muda dengan mengapit tas di lengannya.

Dia melirik cewek itu yang masih duduk di jok belakang mobilnya.

Seorang pria yang menjadi supirnya hanya mampu diam, dia jelas tahu apa penyebab si cewek bersikap seperti itu.

“Kamu bisa terlambat, Cassie. Kita harus bertemu guru dulu,” bujuk sang perempuan itu.

Tanpa kata, tangannya bergerak membuka pintu mobil lantas keluar dan menutupkan pintu dengan sekali hentakan membuat dua orang di dalam sana berjengit. Terlebih perempuan itu yang seketika memasang raut wajah yang sedih. Bagaimana putrinya berubah menjadi seperti itu? Lantas embusan napas terbuang dari hidungnya.

Tangan kekar yang terbalut kemeja biru navy itu terangkat dan mengusap lengan sang perempuan untuk menguatkannya.

“Pergilah, dia menunggumu sebelum kembali lagi ke mobil. Aku akan menunggu di sini,” katanya lembut.

Perempuan itu menatapnya lamat lalu mengangguk setelah kembali mengembuskan napasnya.

“Nggak apa-apa. Suatu saat nanti, dia pasti akan paham apa yang kamu alami, Siska,” ujarnya membesarkan hati sang perempuan yang bernama Siska itu.

Tatapannya tertuju pada wajah sang pria, mencari ketenangan dari lekuk senyum yang diciptakannya. Selalu, dia merasa begitu damai. Siska mengangguk kemudian turun dari mobil setelah berkata pada sang pria agar menunggunya sebentar. Arghana, pria itu mengangguk.

Sorot tajam yang merendahkan itu memindai halaman sekolah yang terbilang elit dan luas tampak terlihat jelas dari depan gerbang. Sesungguhnya ini hanyalah satu hal dari sekiannya yang dia benci. Pindaian matanya juga tak melewatkan para siswa yang baru datang. Seragamnya sama seperti yang tengah dia kenakan. Melihat pada siswa yang menatapnya lantas berbisik membuat dia menggerakan bibirnya entah menggumamkan apa.

Siska berdiri di sampingnya bermaksud untuk mengajaknya masuk ke sekolah itu. Namun, cewek itu justru hendak kembali ke mobil tapi Siska sigap menghentikannya.

“Hentikan, Cassie!” tegasnya. “Sampai kapan kamu akan di rumah? Ayo masuk dan selesaikan sekolahmu,” katanya.

Tatapan tajam kembali terarah pada Siska. Sorot yang penuh kebencian itu tampak sekali dari cewek yang namanya disebut Cassie itu. Dengan kesal Cassie kembali membalik badannya lantas melangkahkan kaki menuju halaman sekolah tanpa menyapa penjaga yang sejak tadi berdiri di gerbang.

Sekali lagi Siska menghela napas, mencoba menebalkan lagi dinding kesabarannya. Menghadapi Cassie bukanlah perkara yang mudah. Putrinya itu telah melalui banyak hal yang tak menyenangkan saat usianya masih belia.

Langkah Siska mengikuti Cassie. Sebelum melewati gerbang sesaat dia menyapa penjaga dengan anggukan kepalanya yang dibalas hal serupa oleh pria berseragam itu lantas melewati pintu besi yang cukup tinggi.

Maman, penjaga itu menggeleng melihat tingkah Cassie, bahkan Arghana yang memperhatikan dari dalam mobil ikut mengembuskan napasnya, mencoba untuk sabar. Dia tahu, hadirnya bukanlah siapa-siapa bagi Cassiopeia Arsy, putri dari Siska Maharani itu. Namun, Argha telah bertekad untuk membuktikan pada Cassie siapa yang sebenarnya salah.

Para siswa masih ramai memenuhi koridor-koridor kelas ketika Cassie melangkahkan kakinya ke sana. Matanya memindai dengan tatapan benci, dinginnya menusuk siapapun yang tak sengaja menatap langsung sorot itu. Mereka yang berpapasan di tengah jalan segera melipir, memberi jalan pada Cassie. Namun, pada akhirnya mereka menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki, tatapan mereka seolah baru pertama kali melihat sosok sepertinya.

“Permisi. Maaf, ruang guru di mana, ya?” Siska bertanya pada seorang siswa yang berada di belakang Cassie.

Mendengar suara ibunya bertanya Cassie mendengkus kesal.

“Anda lurus saja, lalu belok kiri, di sana adalah ruang khusus guru. Bila belok kanan, itu lapangan,” jelas siswa itu.

“Oh. Terima kasih,” ucap Siska.

Siswa itu mengangguk.

Cassie masih berjalan dengan angkuh. Dagunya terangkat, matanya melirik sana sini dengan dingin dan tajam lagi-lagi aura kebencian dia keluarkan.

“Sini, Cassie.” Siska meraih lengan Cassie dan menariknya belok ke arah kiri sesuai instruksi siswa tadi.

Tapi lagi, Cassie mendengus kesal lantas melepaskan pegangan tangan Siska dengan kasar. Beruntungnya tidak banyak siswa di area itu. Siska sendiri memilih sibuk mencari ruang yang dimaksud meski dalam hatinya dia terluka tapi tak berdarah. Sebuah definisi yang dialaminya. Dia mencoba untuk sabar dan tabah menghadapi putri semata wayangnya yang baru kembali dari asuhan sang ayah.

Berulang kali Cassie membuang napas kasar melihat sosok Siska yang berjalan di depannya. Lagi-lagi kebencian hadir dari sorot matanya untuk perempuan yang sesungguhnya telah melahirkan dirinya ke dunia. Mengingat akan hal itu dan apa yang telah dilaluinya, membuat Cassie semakin mengatupkan rahang. Dia marah, teramat sangat marah bila mengingat akan hal itu. Sebuah kenangan yang membentuk dirinya kini.

“Ayo masuk, Cassie,” tegur Siska ketika melihat putrinya hanya diam saja.

Cassie menurut. Kakinya menghentak lantai tapi tak digubris Siska yang terlanjur masuk ke ruang guru. Cassie mengikuti.

Mereka kini ada di ruangan khusus pertemuan. Seorang guru pria seusiaan Siska di pertengahan empat puluh tahun itu duduk berhadapan dengan anak dan ibu.

“Baik. Saya sudah melihat data yang diberikan kesiswaan. Berhubung Beliau akan masuk siang karena ada urusan, jadi saya akan membantu,” tutur guru itu.

Sesaat kembali melihat data lalu menatap keduanya bergantian.

“Kamu bisa masuk hari ini, Cassie, dan saya adalah wali kelas dari kelas barumu,” jelasnya.

Cassie hanya menatap tak peduli membuat Siska tersenyum canggung pada pria itu.

Chandra Murfi, pria yang memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas baru di kelas Cassie itu tersenyum maklum pada Siska.

Bel masuk telah berbunyi lima menit lalu sehingga suasana terasa sepi. Ketiganya sesaat terdiam.

“Baiklah. Sepertinya waktumu sudah tiba, Cassie. Saya akan mengantarmu ke kelas baru agar bisa mengikuti jam pelajaran pertama,” jelas Pak Chandra.

“Baik, Pak. Tolong bantu Cassie,” ucap Siska.

“Baik Bu, tenang saja. Sudah menjadi kewajiban saya membantu anak-anak jadi jangan khawatir.”

Siska mengangguk dan tersenyum. Dia mempercayakannya pada Chandra begitu berhadapan langsung dengan pria itu. Beberapa saat lalu Siska sesungguhnya cukup khawatir tapi melihat Chandra, dia bisa menitipkan Cassie dengan leluasa. Sungguh, sikap Cassie berbeda dari kebanyakan remaja Indonesia.

“Baik kalau begitu Pak, saya mohon pamit,” ujar Siska kemudian.

Mendengar sang ibu mengatakan itu, Cassie lantas menatapnya. Entah kenapa, kali ini dia menurut saja, padahal sebelumnya dia bisa berontak membuat seorang guru yang ditemuinya tidak tahan.

Setelah beberapa kali berpesan pada guru baru Cassie, Siska segera pamit yang kemudian diikuti Cassie. Niatnya ikut sang ibu dengan cara menyelinap, bahkan menegakan kepalanya melewati Chandra begitu saja serta beberapa guru lain.

“Kenapa kamu ikut keluar, Cassie? Kamu harus ke kelas sekarang dan mulai belajar,” tegur Siska ketika menyadari Cassie membuntutinya.

Tapi Cassie mana peduli, dia melenggang begitu saja melewati Siska.

Melihat tingkah Cassie yang begitu, mau tak mau Siska harus tegas kali ini. Dia meraih tangan Cassie, mencengkramnya kuat agar cewek itu diam sesaat.

“Sekali ini saja, Cassie! Tolong, kali ini saja turuti,” pinta Siska dengan nada suara yang melas.

Sungguh, demi apapun, dia tidak bisa bersabar tetapi melihat Cassie begitu dia harus.

Iris hitam kelam yang dimiliki Cassie mengarah padanya. Siska tak gentar kali ini. Dia lelah dengan tingkah semena putrinya kepada siapapun.

Cassie menepis kasar cekalan Siska pada pergelangan tangannya hingga terlepas. Dengan raut wajah penuh amarah, Cassie menatap Siska tajam.

“Lantas apa? Itu keputusanmu untuk membawaku kembali setelah sekian tahun. Aku bilang tidak mau, kenapa masih berusaha keras untuk memperjuangkanku, hah?” katanya.

Siska terdiam. Dia jelas tahu apa maksud Cassie.

“Cassie ….”

“Hentikan! Aku tidak mau mendengar alasan basimu lagi, dan urus saja urusanmu dengan pria itu!” katanya lagi dengan penuh penekanan.

“Hati-hati kalau bicara, Cassie. Argha bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Terus saja bela dia!” sentak Cassie dengan suara yang sedikit meninggi membuat Siska tersentak. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimanya! And, I won’t accept you as my mother anymore! So, urus saja urusanmu, maka aku akan mengurus urusanku, Nyonya!” katanya.

Siska terdiam. Hatinya kembali tersayat dengan perkataan Cassie yang melemparkannya pada masa lalu tentang keputusannya dahulu.

Usai mengatakan itu dengan penuh penekanan, Cassie berbalik hendak pergi tetapi langkahnya terhenti kala didapatinya sosok siswa di depan, hanya berjarak sekitar lima meter tapi itu cukuplah membuat Cassie terpaku akan hadirnya sosok itu.

Apakah dia mendengarnya? Pikir Cassie. Namun, siswa itu berjalan mendekat dengan wajah datarnya seolah tak peduli dengan kehadiran Cassie. Cukuplah itu membuat Cassie merekam wajah dan sosoknya. Dalam hatinya Cassie berjanji tidak akan membiarkan siapapun mengetahui kisahnya termasuk siswa itu.

Lanjut Membaca

Daftar Isi My Moonlight

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.
Sampul Novel Menyusui Bayi Mafia
9.7
El Zibrano Elemanus memberikan tawaran gila kepada Lea untuk menyusui putranya dengan imbalan kekayaan yang tak terbatas. Lea yang masih berstatus pelajar menolak keras karena merasa permintaan itu tidak masuk akal bagi gadis seusianya. Namun, El tidak menerima penolakan dan bersikeras bahwa ia bisa mewujudkannya melalui caranya sendiri. Di bawah tekanan sang bos mafia, Lea terjebak dalam situasi intim yang mengancam masa depan dan harga dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan