APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Sunshine

My Sunshine

Catherine dan Figo terkejut saat mengetahui bahwa mendiang orang tua mereka telah menyiapkan wasiat perjodohan sejak mereka masih SMP. Masalahnya, Figo diam-diam sudah menikahi Hakaci yang kini sedang mengandung buah hati mereka. Di sisi lain, Catherine juga telah bertunangan secara rahasia dengan Prima demi kejutan ulang tahun ibunya. Kini, kedua sepupu ini harus berjuang keras menolak wasiat tersebut demi mempertahankan cinta sejati mereka masing-masing.
Bab
Bagikan

Bab 2

Figo?

Bagaimana bisa, Papa menjodohkan aku dengannya? Apa masih kurang jelas, kalau dia itu tipe laki-laki yang sok tahu, sok tampan, usil dan sukanya tebar pesona? Kalau tebar pesona saja tapi tidak suka berdandan sih, tidak apa-apa. Lah ini, sebentar-sebentar memakai hand & body lotion, face cream, hair lotion … Menyisir, bercermin dan selfie, seolah-olah dirinya adalah artist terkenal di seluruh penjuru dunia. Oh God, benarkah Papa tidak tahu akan hal itu?

"Catherine?" Mama melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku, "Kamu kenapa, nggak apa-apa, kan?" Mama bertanya seolah-olah berita tentang perjodohan yang baru saja disampaikannya itu tadi hanyalah isapan jempol belaka. selevel berita seperti ini, "Catherine, weekend ini nanti kita sama Mommy plus Figo mau berlibur ke Bali, lho. Kamu ikut, kan?"

OK!

Kalau beritanya seperti itu sih, aku santai. Super duper tenang. Tapi kalau yang ini, soal perjodohan crazy ini, mana mungkin bisa tenang? Sumpah! Seumur-umur, belum pernah aku seemosional ini di depan Mama. Jangankan emosional, mungkin aku malah sudah mati rasa setiap berhadapan dengan Mama yang misterius plus full surprise, sungguh. Sekali lagi kukatakan, ini masalah perjodohan, lho. Bukan hanya menyangkut masa depan tapi juga hidup dan mati. Lahir batin, dunia dan akhiratku.

"Figo, Figo …?" gumamku setengah menceracau, "Figo anak Mommy-Daddy, saudara sepupu aku, Ma?"

Fiyuuuhhh, leganyaaa!

Akhirnya bisa juga membuka suara, berusaha menyanggah yang notabene menolak. Menolak dengan keras, sekeras-kerasnya, "Tapi kan Ma, mana mungkin kami menikah?"

Sekarang tubuhku sudah terlanjur oleh keringat dingin. Gemetar, nyaris menggigil. Lupakanlah soal bagaimana Figo membawa diri karena itu tidak penting sama sekali. Bagiku, yang terpenting adalah bagaimana caranya memberikan pemahaman pada Mama kalau perjodohan itu tidak mungkin terjadi. Siapa pun yang telah menulis surat wasiat untuk kami, bahkan kalau itu Oma, Opa atau semua leluhurku sekali pun. Karena apa? Ya ampuuun! Bagaimana dengan Prima nanti dan bagaimana diriku sendiri? Bagaimana masa depan ikatan cinta dan janji suci kami?

Sumpah, andai tiba-tiba langit runtuh pun aku tetap tidak mau menerima perjodohan itu. Tidak akan pernah. Karena bagiku itu terlalu crazy! Atas dasar apa coba, Papa memilih Figo untuk menjadi pasangan hidupku? Kepiawaiannya untuk tebar pesona?

"Kamu jangan gitu, Catherine!" Mama tersenyum, berujar lembut, "Figo kan, anaknya baik. Sebentar lagi, lagi sudah jadi dosen akuntansi. Coba, apa nggak prestise, i---"

"Nggak mungkin, Ma!" aku menjerit putus asa, "Nggak mung---"

Bib, bib!

(Suara klakson mobil Mommy)

"Nah, itu Mommy sama Figo sudah datang!" Mama berseru dengan wajah berbinar-binar, seolah-olah aku tidak sedang meradang dan kritis.

Ugh, Papa!

Mommy turun dari mobil dengan wajah sumringah, berlipat-lipat dari biasanya---Mommy tipikal orang yang murah senyum dan suka bercanda---memaksa Figo turun lalu menyapa Mama, kakak kembarnya. Disapa seramah itu oleh adik kembarnya, Mama langsung bangkit dari posisi duduk selonjor bersandar ke dinding, berdiri menyambut. Sumpah, seberbinar apa pun wajah Mama kali ini, sama sekali tidak bisa menghadirkan rasa haru dalam hatiku. Jangankan terharu, bersyukur pun tidak sama sekali. Sorry, kalau terkesan anak durhaka tapi kekecewaan di hati tidak bisa dibawa tenang dan baik-baik saja.

Bukan hanya kecewa sebenarnya tapi juga marah, walaupun tidak tahu, harus marah pada siapa. Papa, tidak mungkin lagi. Mama? Jujur, aku ragu karena dalam hal Mama tidak sendiri. Ada Mommy yang akan berjuang bersamanya. Wuaaahhh, bisa gawat urusannya. Gawat kuadrat. Mommy memang murah senyum dan suka bercanda tapi sekalinya mengambil sikap tegas dan keras, jangan tanyakan lagi bagaimana akibatnya!

"Figooo, ayo sini?" Mommy berseru memanggil Figo yang masih duduk bersedekap di belakang setir, "Ini, sudah ditunggu Mama ini, lho! Mumpung ada Catherine juga di rumah. Buruan gih, Figo?"

Tahukah kalian, apa yang terjadi?

Figo malah memutar balik mobilnya dan pergi entah ke mana. Ahaaa, yes!

Setidaknya, sampai di titik ini aku jadi tahu kalau Figo juga menolak perjodohan ini. Jadi, aku tidak sendirian, pastinya. Bisa saja kan, kami bekerja sama? Walaupun tidak nyaman dengan segala tingkah lakunya, tapi demi batalnya perjodohan ini, mengapa tidak?

Why not?

***

Bali, 16 Juni 2016

Kepada Puteriku tercinta

Catherine Alexandra

Puteriku, ini wasiat dari Papa untuk kamu. Jangan sekali-kali kamu langgar wasiat ini ya, Puteriku tercinta tiada tara? Kalau kamu sudah dewasa nanti dan sudah sampai saatnya berumah tangga, menikahlah kamu dengan Figo. Karena Papa dan Daddy sudah menjodohkan kalian, Catherine Alexandra dan Figo Galaxy.

Salam cinta dan kasih sayang,

Papa Alexandre Moeja

Menyetujui: Daddy Vicko Galaxy

Jika tidak mengingat Mama, mungkin aku sudah merobek-robek surat wasiat Papa, sungguh. Tidak terima dan tidak rela. Itu yang kurasakan saat ini. Terlebih setelah membacanya berulang-ulang dan ternyata tidak ada yang berubah sedikit pun yang berarti itu nyata. Bukan mimpi dan bukan pula rekayasa. Terlebih, Papa membubuhkan tanda tangan di atas materai. Begitu juga dengan Daddy.

"Gimana, kamu sudah yakin, sekarang?" Mama bertanya sambil memindai dusta di dalam diriku, "Mama nggak pernah main-main, Catherine. Begitu juga dengan Mommy. Jangan khawatir!"

Ya, aku tahu, mereka tidak pernah main-main. Apalagi untuk hal yang sepenting dan segenting ini, sedangkan untuk hal-hal yang levelnya di bawah ini saja sudah luar biasa. Pernah dulu, mereka mengamuk gara-gara aku dan Figo pulang kemalaman waktu jalan-jalan di pantai Depok. Bukan mengamuk marah-marah, tapi menangis meraung-raung, khawatir kalau kami tergulung ombak. Padahal sebelumnya sudah meminta izin dan konfirmasi kalau pulang malam karena kami berombongan dengan teman-teman sekelas. Tidak mungkin pulang lebih awal, kan? Wuaaahhh, mereka heboh kuadrat. Bayangkan, betapa gawatnya psikis Mama dan Mommy!

"Tapi Catherine nggak mau, Mama!"

"Harus!"

"Nggak!"

"Catherine?"

"Mama?"

***

Pling, pling, pling!

[Lex, asal kamu tahu aja ya?]

[Aku gak mau dijodohin sama kamu!]

[Jangan gede rasa kamu!]

Figo mengamuk di chat room tapi aku bersikap seolah-olah tidak peduli. Biar saja dia mengamuk, yang penting aku tidak seperti yang dia pikirkan. Lagi pula, apa untungnya melayani orang yang sedang mengamuk? Tidak ada, kan? Nah, dari pada terlibat lebih lanjut dalam amukan Figo yang seperti petir menyambar tumpukan jerami lebih baik menemui Prima.

Tadi aku sudah chat, katanya kami bisa bertemu di Titik 0 KM. Jadi, tunggu apa lagi? Lebih baik segera mandi, ganti baju dan dandan yang cantik. Namanya juga mau bertemu dengan kekasih hati, harus tampil maksimal, dong?

By the way tentang perjodohan crazy itu sebenarnya aku pun ingin mengamuk sama seperti Figo. Bedanya, aku masih bisa waras sedangkan dia, tidak. Lihatlah, bagaimana caranya mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan! Childish sekali, bukan? Hahahaha, seperti itu Mama bangga sekali padanya karena sudah mau selesai menyusun skripsi, terus sebentar lagi wisuda. Bisa membayangkan tidak sih, akan menjadi seperti apa mahasiswanya kalau si Dosen childish? Ummm, ckckckck, bisa-bisa bahaya. Lucunya, tebar pesona dan hobi dandannya itu lho, tidak matching sama sekali dengan profesi yang menjadi cita-citanya. Ah! Kenapa dulu tidak memilih jurusan modelling, fashion designer atau apa begitu yang pas dengan hobi dandan dan tebar pesonanya?

Pling, pling, pling!

[Reply!]

[Reply!]

[Reply!]

Haha. Kadang-kadang Figo memang seperti itu. Egois, emosional. Lah, EGP! Emang Gue Pikirin? Intinya sih begini, aku tidak mau punya suami seperti dia. Titik.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Ipar Penggoda
8.0
Kehidupan Maura Anabella berubah drastis dalam semalam akibat sebuah tragedi yang tak terduga. Kesuciannya terenggut secara paksa karena tindakan ceroboh kakak iparnya sendiri yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol. Kejadian kelam tersebut meninggalkan luka mendalam bagi Maura, menciptakan konflik batin dan drama keluarga yang rumit. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit di tengah situasi yang mengancam kehormatan dan masa depannya sendiri.
Sampul Novel Ditalak Lewat Surat
8.9
Kehidupan rumah tanggaku hancur seketika saat Mas Ibram menghilang tanpa jejak. Ia pergi secara misterius dan hanya meninggalkan secarik surat yang berisi pernyataan talak. Hatiku hancur karena diceraikan secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Namun, aku menolak menyerah begitu saja pada keadaan. Aku bertekad untuk melacak keberadaan suamiku ke mana pun ia pergi demi menuntut penjelasan jujur atas keputusan kejam yang telah ia ambil ini.
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Sejak yatim piatu, Luna menderita di bawah asuhan bibinya yang kejam hingga ia dijual ke pasar gelap. Di pelelangan itu, hidupnya berubah saat dibeli oleh Draco Riordan, pria misterius dengan masa lalu kelam. Pertemuan ini menyatukan Luna yang lugu dengan Draco yang penuh dendam dan rahasia besar. Di tengah perbedaan latar belakang yang kontras, akankah kehangatan Luna mampu melunuhkan hati Draco, ataukah takdir justru membuat hubungan mereka mustahil untuk bersatu?
Sampul Novel Istri Kedua Ustadz
8.2
Dina, perempuan sederhana yang penuh kasih, menghadapi babak baru dalam hidupnya setelah dipersunting oleh Ustadz Ahmad. Sebagai ulama yang sangat disegani, Ahmad telah memiliki istri bernama Siti. Namun, karena kondisi Siti yang tidak mampu memberikan keturunan, ia dengan tulus meminta suaminya untuk menikah lagi. Keputusan besar ini diambil Siti demi mewujudkan impian mereka memiliki anak, yang akhirnya membawa Dina masuk ke dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Perselingkuhan Liar Istriku
8.0
Bayu sedang memacu gairah Dokter Mirza dengan keahliannya. Setelah berhasil melepas pakaian bawah sang dokter, Bayu mulai menelusuri sensitivitas tubuh wanita itu menggunakan lidah dan jarinya. Meski sempat kesulitan karena posisi yang membuatnya sesak napas, Bayu tetap berusaha memberikan kenikmatan maksimal. Dokter Mirza terus mengerang hebat hingga tak mampu lagi menahan gejolak hasratnya. Bayu pun mempercepat gerakannya demi mengejar puncak kepuasan sang dokter.
Sampul Novel PESONA RAMAH YANG MENGINSPIRASI
9.5
Safira, perempuan berusia 25 tahun yang menetap di kota kecil Springville, memiliki kecantikan alami dengan sepasang mata cokelat yang menawan serta senyuman hangat. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia sangat disegani dan dikenal luas sebagai sosok yang luar biasa ringan tangan. Safira selalu tulus memberikan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun, menjadikannya figur yang sangat menginspirasi banyak orang.