APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?

My Sweetheart is Nerd?

Shenia Ereshva, putri konglomerat, diam-diam terlibat dalam geng motor yang menentang shadow economy. Ia jatuh hati pada Rafka, pemuda genius korban perundungan, dan bertekad memenangkan hatinya. Namun, Rafka ternyata menyimpan rahasia serupa sebagai anggota geng motor. Keduanya pun dipertemukan kembali dalam misi besar untuk menjatuhkan organisasi R Black yang sangat kuat. Di tengah tumpukan rahasia ini, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengancam misi?
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah pertemuannya dengan sosok pemuda dengan senyum manis itu, Shenia menjadi gagal fokus!

Senyum pemuda itu terngiang-ngiang di ingatannya, tak sadar seulas senyum terbit di wajahnya yang cantik. Dua sahabat Shenia pun saling pandang, tak mengerti apa yang terjadi pada gadis paling populer di sekolah mereka.

"Eh gue mau tanya sama kalian" Shenia tiba-tiba berubah jadi serius, dan jujur saja raut wajahnya yang seperti itu sangat menakutkan!

"Apa?" Seema dan Tantri kompak. Mereka cukup gentar dengan tatapan mata Shenia yang tajam dan raut wajah seriusnya.

"Kalian tau Rafka anak cupu kelas 12 IPA 1?" Shenia bertanya dengan nada yang sama seriusnya.

"Si nerd itu?" Tantri memastikan.

"Iya yang itu!" Shenia membulatkan matanya, serasa mendapatkan harta Karun.

"Gue cuma tahu namanya. Dia Rafka Saabiq. A untuk nama belakangnya gue nggak ngerti. Dia kan anak 12 IPA 1 yang langganan menang olimpiade matematika," jawab Tantri dengan memainkan ponselnya, acuh.

"Seriusan Rafka yang itu, Lo nanyain dia?" Seema terpekik tidak percaya. Dia juga sedikit memajukan tubuhnya.

"Iya, yang tadi kita tolong Seema!" Shenia beralih menatap Seema, dia juga tampak bersemangat.

"Ooo itu...Kenapa emangnya, Lo suka?" Tanya Seema curiga.

"Lo gila apa Seema? Shenia si most wanted girl sekolah kita suka sama nerd ya nggak mungkin!" Tantri tidak setuju, dia juga sudah membuat tanda silang dengan kedua tangannya. Seolah-olah apa yang dia pikirkan tentang Shenia adalah benar.

Tapi, ekspresi Shenia tampak mengatakan hal lain. "Emang kalo suka kenapa?" Shenia malah bertanya balik.

"Lo becanda apa katarak sih? apanya yang Lo suka dari cowok itu? Masih mending kalau cowoknya keren kaya bang Shaquille, lah ini nggak!" Seema tidak habis pikir, dia memijit pelipisnya perlahan.

"Ya nggak tahu. Tapi gue rasa kalo gue udah falling love sama dia," ucap Shenia sambil senyum-senyum sendiri. Wajahnya juga berbinar-binar, penuh kegembiraan.

"Bocah satu emang udah nggak waras deh ma, gue khawatir. Sana bilangin abangnya gih!" Tantri mengintruksi Seema yang memang terkenal tergila-gila dengan kakak Shenia itu.

"Gue sehat, dan kalian nggak perlu bilang sama abang gue. Ngomong aja kalo mau modus ke dia," cibir Shenia.

"Ish tau aja sih, calon adek ipar." Seema cengar-cengir.

"Nggak sudi gue punya kakak ipar kaya Lo!" Shenia membayangkannya ngeri.

Tantri hanya tertawa puas, dia sudah tahu kalau Seema pasti akan mau menuruti permintaannya untuk dekat dekat dengan Shaquille, kakak kandung Shenia apapun alasannya. Dan Shenia sudah pasti menolak mentah-mentah.

Bagi Shenia sahabatnya itu tidak cocok dengan kakaknya, ia tidak mau keduanya akan terluka nanti. Shenia menyayangi keduanya, dan jika Seema dekat dengan Shaquille lalu hasilnya tidak sesuai harapan. Dia pastikan hubungan mereka akan buruk. Shenia tidak mau kalau harus memilih akan berpihak pada siapa antara sahabat dan kakaknya sendiri.

"Ya udah ah, gue mau cari abang tamvan gue" Shenia mengatakannya dengan nada alay, khas banci. Lalu dia lekas berdiri dan membayar makanannya.

Tantri dan Seema mengerutkan kening, siapa pula yang disebut abang tampan oleh Shenia?

"Mau kemana sih?" Tantri berteriak.

"Ada deh, kepo!" Shenia berjalan menjauh sambil tersenyum lebar.

Sampai di depan kelas 12 IPA 1 Shenia berhenti, ia bertanya pada salah satu cowok yang sedang nongkrong di sana.

"Rafka ada nggak?" Tanya Shenia ramah.

"Lagi di perpus, Lo ada perlu?" Cowok itu penasaran.

"Nggak, ya udah thanks." Shenia kemudian berlalu, ia menunju perpustakaan untuk mencari Rafka. Cowok culun yang sudah membuat ia salah fokus sejak pagi.

Di perpustakaan Shenia langsung mengedarkan pandangannya, lalu berhenti pada meja pojok ruangan. Di sana ada Rafka yang sedang serius membaca buku tebal didepannya, kalau itu Shenia ia pasti sudah molor tidak tahan membaca lama-lama.

"Hai," sapa Shenia ramah.

"Ha-hai juga." Rafka mendongak sebentar lalu menunduk lagi.

"Boleh duduk nggak?" Tanya Shenia lembut.

"Boleh kok, silahkan" Rafka tidak berani menatap Shenia.

Shenia hanya menatap wajah Rafka sambil tersenyum, dia tidak tahu tapi wajah Rafka jika diperhatikan sangat tampan menurutnya.  Ditambah dengan sikapnya yang sopan membuat Shenia makin jatuh hati.

Lalu apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?

Rafka merasa ditatap sedekat itu pun merasa tidak nyaman. Dia takut atau lebih tepatnya malu?

Belum ada yang pernah begitu dengannya. "Jangan gitu Shenia," ucap Rafka lirih.

"Kenapa, gue ngapain emang?" Tanya Shenia tidak berdosa.

"Ya itu. Jangan natap lama-lama" Rafka berkata malu-malu.

"Emang nggak boleh, natap calon pacar?" Shenia mengedipkan sebelah matanya. Dia juga memberikan penekanan pada kalimatnya.

Rafka hanya diam, dia tidak tahu seorang most wanted girl SMA Manggala se-absurd itu dengannya. Dan apa katanya tadi, MENATAP CALON PACAR?

Rafka tak salah dengar?

Shenia terkikik melihat perubahan ekspresi Rafka, sangat lucu menurutnya. Kalau bukan Rafka ia tidak akan sudi genit begitu.

"Lo suka sama gue nggak?" Tanya Shenia lagi, kali ini dia malah menopang dagu dengan kedua tangannya.

"Maksudnya?" Rafka masih tidak percaya. Dia juga mulai tak fokus dengan bacaannya.

"Ya suka, Lo suka nggak sama gue?" Shenia memaksa.

"Su-suka kok, kamu kan cantik dan baik." Rafka malu-malu, bahkan dia sudah menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang merah merona.

"Gitu ya. Lo suka gue sebagai apa?" Shenia menggoda Rafka.

"Suka sebagai teman Shenia." Rafka menjawab cepat. Rasanya dia ingin menghilang saja sekarang, berdekatan dengan si most wanted girl SMA Manggala ternyata se-absurd ini.

"Temen aja nih, nggak lebih?" Shenia makin mempersempit jarak diantara mereka, dia bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Rafka yang kini berhadapan dengannya.

"I-iya... aku suka kamu sebagai teman Shenia." Rafka gugup, di jarak sedekat itu Shenia terus menatapnya.

Untung saja perpustakaan sedang sepi, bahkan tidak ada orang petugas perpustakaan juga sedang keluar. Jadi Rafka masih terbilang aman, kalau tidak sudah pasti ia akan makin di bully karena dekat-dekat dengan Shenia.

"Tapi gue suka sama Lo lebih dari temen, gimana dong?" Shenia masih setia dengan posisi nya, bahkan ia sedikit menyingkirkan buku yang menghalangi mereka.

"Jangan Shen, aku nggak pantes buat kamu." Rafka masih menunduk.

"Gue tahu Lo pasti bakal bilang itu" Shenia menyingkir sebentar, lalu memilih duduk di samping Rafka.

Rafka juga memperhatikan gerak-gerik Shenia bingung.

"Tapi gue bakal terus berusaha buat deket sama Lo, apapun alasannya. Lo mau suka atau nggak. Gue nggak peduli," sambung Shenia tulus kemudian berlalu dari pandangan Rafka secepat kilat.

Rafka memegang dadanya, jantungnya berdetak kencang seperti akan melesat dari tempatnya. Dia tidak yakin Shenia akan serius dengan ucapannya tapi tingkah Shenia tadi cukup membuatnya tak karuan.

Kini waktu menunjukkan pukul 16.00 sudah saatnya siswa-siswi SMA Manggala pulang ke rumah masing-masing. Setelah menyelesaikan les atau ekstrakurikuler lain di SMA elit tersebut.

Shaquille Birousk Putra Airlangga, kakak satu-satunya yang Shenia punya itu sedang menunggu adiknya dengan malas. Dia tidak suka ditatap oleh adik kelasnya atau para siswi lain dengan tatapan mengerikan. Mereka tidak segan menatap Shaquille dengan tatapan menggoda, dan itu membuat Shaquille jengah.

"Udah lama bang?" Shenia mengejutkan kakaknya, dengan berdiri di sampingnya secara tiba-tiba.

"Lama banget, bosen gue disini sampe berjamur juga!" Shaquille kesal, lalu berjalan menuju parkiran.

"Yaudah sih santai aja, makanya jangan mau bareng sama gue. Lama kan?" Shenia melangkah mendahului sang kakak.

"Lo kalo nggak dijagain pasti kabur." Shaquille mengekor dibelakang Shenia.

"Dih Sok suci, Lo juga suka kabur kan?" Shenia mendelik.

"Tapi nggak sering," elak Shaquille.

"Tapi pernah?" Shenia tak mau kalah

"Iya-iya bawel." Shaquille mengalah, dia sudah kehabisan energi untuk berdebat dengan Shenia.

Diam, setelah cekcok kecil itu dua bersaudara yang bak Tom and Jerry memilih fokus pada perjalanan ketika kedua sudah berada dalam satu mobil. Tiba-tiba Shaquille teringat sesuatu.

"Lo tadi ngapain ke kelas 12 IPA 1 dek?" Shaquille masih fokus pada kemudi.

"Nyari cowok," jawab Shenia enteng, sesekali dia menjentikkan jarinya. Seolah-olah yang dia lakukan adalah hal wajar.

"Cowok? Tumben, udah nggak jadi most wanted girl lagi ya," ejek Shaquille. Sembari tersenyum sekilas.

Tapi tak ada jawaban dari sang adik, hal itu membuat Shaquille makin gemas dan ingin menggodanya lagi.

"Cowok mana sih yang bisa bikin adek gue sampe segitunya?" Shaquille memandang adiknya sekilas.

"Rafka." Jawab Shenia singkat.

"What?" Shaquille terkejut bukan main, ia sampai menghentikan mobilnya mendadak.

Cittt!

"Buset. Pelan bang!" Shenia kesal, hampir saja jantungnya copot karena ulah kakaknya.

"Barusan Lo ngomong apa? Rafka, Lo cari dia?" Shaquille tidak percaya.

"Iya, kenapa? Lo Nggak suka" Shenia polos.

Shaquille memandang sang adik penuh tanda tanya. Memangnya siapa yang suka jika adiknya yang terkenal cantik jelita dan menjadi incaran para pemuda, malah jatuh hati dan memilih si cowok cupu?

"Memangnya cowok cupu bisa melindungi Shenia?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Fatal
9.2
Esther terjebak dalam lingkaran penyesalan setelah insiden maut di masa lalunya merenggut nyawa seseorang. Kini, ia harus menanggung konsekuensi berat dengan menjalani pernikahan yang penuh penderitaan. Felix, kakak dari wanita yang tewas akibat kesalahannya, bertekad membalas dendam melalui ikatan tersebut. Esther pun terpaksa menerima peran sebagai istri yang disiksa demi menebus dosa besar yang pernah ia perbuat di bawah bayang-bayang amarah Felix.
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Dalam dunia ini, kemampuan kultivasi hanyalah milik mereka yang terlahir dengan ikatan spiritual yang kuat. Sebaliknya, setiap individu dengan akar kefanaan telah ditakdirkan untuk menjalani hidup biasa tanpa kekuatan. Mo Wuji mendapati dirinya terjebak dalam kasta terendah tersebut karena hanya memiliki akar makhluk fana. Namun, apakah takdir benar-benar sudah mutlak baginya? Ikuti perjuangan Mo Wuji dalam menantang batas demi melampaui garis kemiskinan bakatnya.
Sampul Novel Menjadi Tahanan Mafia
9.3
Terjebak dalam salah paham antar geng mafia, Demora Salvatrucha bertekad membalas kematian ayahnya. Ia menyamar menjadi Erica, wanita lemah yang masuk ke sarang pemimpin Salvador demi misi balas dendam. Namun, sandiwara ini justru menjebak Demora dalam dilema identitas dan perasaan cinta yang tak terduga. Di tengah gejolak emosi dan konflik berdarah, mampukah ia menuntaskan misinya, atau justru identitas Erica akan selamanya menelan jati diri aslinya?
Sampul Novel Pejuang Restu
8.5
Basti berusaha keras melindungi ibunya dari ancaman Aldri, pria yang tega menyudutkan Helen demi harta kekuasaan. Meski Aldri bersikeras mengungkit rencana masa lalu mereka untuk menguras kekayaan Jonas, Helen kini justru menunjukkan sikap yang berbeda. Di tengah tekanan fisik dan intimidasi mental, Helen tetap bungkam seraya terus meronta. Aldri yang terbakar amarah dan nafsu mencoba memaksa Helen kembali ke sisinya demi ambisi pribadi yang licik.
Sampul Novel Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum
9.0
Hidup Liana hancur saat Revan, suaminya, menjualnya demi utang judi kepada Dominic Valente, bos mafia Eropa yang kejam. Meski dikenal dingin, Dominic justru terpikat oleh ketulusan Liana hingga mereka menghabiskan malam bersama yang membuahkan janin. Sebelum Dominic sempat menyelamatkannya, Revan menyeret Liana kembali untuk disiksa sebagai budak. Saat Dominic membakar dunia mencarinya, Liana harus bertahan di tengah penderitaan demi darah daging sang mafia.
Sampul Novel Penyihir Terakhir
8.3
Zephyr menjadi penyihir tunggal yang tersisa setelah pembantaian kaumnya seabad silam. Berkat sihir teleportasi sepupunya, ia lolos dari maut dan mengasingkan diri di reruntuhan Kadipaten Elzir. Namun, kedamaiannya terusik saat pasukan Kerajaan Elde memburunya sebagai ancaman besar. Kini, Zephyr harus menentukan nasibnya: menghancurkan umat manusia demi dendam masa lalu atau mencari jalan perdamaian. Keputusannya akan mengubah sejarah hubungan manusia dan sihir selamanya.