APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Obat Posesif Untuk Ratu Es

Obat Posesif Untuk Ratu Es

Dikenal sebagai Ratu Es, aku menyembunyikan rahasia kelainan PGAD yang menyiksa. Saat gathering di Puncak, aku terjebak di kamar sempit bersama bosku yang kaku, Dhimas Pakpahan, tanpa obat penekan hormon. Saat gairahku tak terkendali, Dhimas turun tangan memberikan sentuhan intim. Ia bahkan menghajar rekan mesum yang mencoba melecehkanku. Kini, ketakutan baruku muncul saat Dhimas mengklaim secara posesif bahwa hanya dia satu-satunya obat bagi tubuhku.
Bab
Bagikan

Bab 2

Gisela Soegiharto POV:

Tubuhku terasa seperti medan perang. Setiap saraf di intiku berteriak, meronta, dan berdenyut dengan intensitas yang mengerikan. Aku mencoba bernapas pelan, memaksakan diriku untuk tetap tenang di hadapan Dhimas. Aku tidak bisa membiarkan dia melihat apa yang sedang terjadi padaku.

"Baik, Pak Dhimas," kataku, berusaha agar suaraku tidak pecah. Rasanya seperti ada duri di tenggorokanku. Aku memaksakan senyum tipis, yang pasti terlihat lebih seperti seringai kesakitan.

Dia hanya mengangguk lagi, lalu berbalik dan berjalan menuju salah satu bilik vila. Bilik yang sama denganku. Aku mengikutinya, setiap langkah adalah siksaan. Sensasi di antara kakiku semakin kuat, seperti terbakar dan gatal secara bersamaan, mendesak, menuntut kelegaan. Aku bisa merasakan detak jantungku di seluruh tubuhku, terutama di area sensitif itu.

Vila kami sederhana, dengan dinding kayu tipis yang tampaknya tidak akan banyak menyaring suara dari luar. Ini hanya akan memperburuk keadaan. Aku sudah bisa mendengar tawa-tawa rekan kerja dari kamar sebelah, diselingi dengan musik pop yang samar. Malam baru saja dimulai.

Aku masuk ke dalam bilik, Dhimas sudah meletakkan tasnya di sudut. Ruangan itu kecil, hanya ada dua tempat tidur single yang dipisahkan oleh sebuah nakas kecil dan lampu tidur. Tidak ada privasi. Sama sekali tidak ada privasi.

Aku meletakkan tasku di tempat tidur yang paling jauh darinya, berharap bisa memberikan sedikit ruang bernapas. Tapi ruang ini terlalu sempit. Kehadirannya saja sudah menyesakkan. Aroma maskulinnya, sentuhan aftershave yang samar, semuanya menembus pertahananku. Tubuhku bereaksi.

Aku menyilangkan kakiku rapat-rapat, mencoba menekan sensasi yang semakin ganas. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Ini seperti meditasi yang sia-sia di tengah badai.

"Kamu terlihat pucat, Gisela," suara Dhimas memecah keheningan. Dia sudah melepas jaketnya dan melipat lengan kemejanya. Otot bisepnya menonjol, dan sekali lagi, tubuhku bereaksi.

Aku menggelengkan kepala. "Tidak, Pak. Saya baik-baik saja." Aku berbohong. Aku tidak baik-baik saja. Aku sedang sekarat di dalam.

Aku takut. Aku takut jika ada orang yang tahu. Reputasiku sebagai "Ratu Es" akan hancur lebur. Aku akan dianggap wanita murahan, jalang. Karierku akan tamat. Semua yang kubangun, perlahan-lahan akan runtuh. Aku sudah bekerja keras untuk sampai di sini, untuk mendapatkan kepercayaan, untuk dihormati. Sekarang, itu semua terancam oleh tubuhku sendiri yang tak tahu diri.

Dari kamar sebelah, aku mendengar suara-suara yang lebih spesifik. Tawa yang lebih genit, bisikan-bisikan, dan kemudian... suara desahan samar. Sialan. Mereka sedang bermesraan. Suara-suara itu seperti bensin yang disiramkan ke api di dalam diriku. Gairahku melonjak gila-gilaan.

Aku menggigit bibir bawahku begitu keras hingga aku bisa merasakan rasa asin darah di lidahku. Ini satu-satunya caraku untuk sedikit mengalihkan perhatian dari penderitaan di bawah sana. Rasa sakit fisik untuk menekan rasa sakit yang lebih dalam.

"Gisela, kamu tidak apa-apa?" Dhimas mendekat.

Aku tersentak. Tidak. Jangan mendekat. "Saya... saya hanya sedikit kedinginan, Pak," kataku, suaraku bergetar tak terkontrol.

Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku. Sentuhannya seperti sengatan listrik. Panas. Dingin. Segala-galanya.

"Kamu tidak demam. Tapi kamu gemetar," katanya, nadanya datar tapi ada nada observasi di dalamnya.

Sentuhan itu. Sentuhan tangannya di dahiku. Itu sudah cukup. Sebuah letupan kecil terjadi di dalamku. Organ intimku berkontraksi dengan kejam. Napasku tercekat. Aku harus mengeluarkan suara, tapi aku tidak bisa. Aku tidak boleh.

Tubuhku menegang. Aku bisa merasakan sesuatu mengalir di dalamku, seperti gelombang panas yang membanjiri, memaksaku untuk melengkungkan punggung. Aku memejamkan mata, berusaha keras mengunci suara yang ingin keluar dari tenggorokanku.

Tidak. Tidak sekarang. Jangan di sini. Jangan di depannya.

Tapi tubuhku tidak mendengarkan. Kontraksi itu semakin kuat, datang bertubi-tubi. Ini adalah pengalaman yang mengerikan, orgasme yang datang tanpa rangsangan yang sebenarnya, tanpa kelegaan, hanya rasa sakit yang menguras tenaga.

Aku bisa merasakan pahaku bergetar tak terkendali. Aku merasakan lembap yang memalukan di antara kakiku, tanda yang tak terbantahkan. Sebuah orgasme. Orgasme sakit pertamaku malam ini, dan itu terjadi hanya karena sentuhan di dahiku.

Aku membuka mata, napas terengah-engah. Dhimas masih menatapku, alisnya sedikit mengernyit. Aku tahu, aku tahu dia pasti melihat sesuatu. Pipiku pasti memerah, dan mataku berkaca-kaca karena rasa malu yang membakar.

Dia menarik tangannya, tapi tatapannya tidak lepas dariku. Itu adalah tatapan yang terlalu tajam, terlalu observatif. Aku merasa telanjang di bawah tatapannya.

"Kamu yakin hanya kedinginan?" tanyanya lagi, suaranya kini lebih rendah, lebih seperti bisikan.

Aku hanya bisa mengangguk, terlalu malu untuk berbicara. Aku ingin menghilang. Aku ingin lari. Tapi tubuhku terasa lemas, kakiku gemetar.

Lalu, dia melangkah lagi, mendekatiku. Sedikit. Terlalu dekat.

"Kalau begitu, ini," katanya, dan sebelum aku bisa bereaksi, dia meraih selimut tebal dari tempat tidurnya, dan membentangkannya ke pundakku, seolah ingin menyelimutiku.

Sentuhan selimut di kulitku, yang seharusnya menenangkan, justru terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk. Kehadirannya begitu dekat. Aroma maskulinnya, yang kini semakin kental, menyerbu hidungku. Aku bisa melihat otot-otot di lengannya yang terbuka. Mendengar detak jantungnya yang stabil di tengah kekacauan di dalam diriku.

Tubuhku memberontak lagi. Sensasi yang baru saja sedikit mereda, kini meledak kembali dengan kekuatan dua kali lipat. Orgasme kedua datang, lebih kuat, lebih menyakitkan. Aku menggigit bibir, mengunci rahangku, mencoba menahan erangan yang ingin keluar.

Aku bisa merasakan tubuhku melengkung lagi, tanpa sadar. Sensasi yang tak terkendali itu menguasai diriku. Aku harus keluar dari sini. Aku harus menjauh darinya.

"Saya... saya perlu udara segar, Pak," kataku, suaraku nyaris tak terdengar. Aku mendorong selimut itu dari pundakku, meskipun aku tahu itu adalah alasan yang buruk.

Aku segera berbalik, ingin lari ke pintu. Aku tidak peduli ke mana, asalkan jauh darinya, jauh dari ruangan kecil ini, jauh dari sentuhannya, jauh dari kehadirannya yang entah bagaimana, membuatku gila.

Tapi saat aku berbalik, kakiku yang gemetar justru tersandung karpet. Tubuhku yang lemas kehilangan keseimbangan. Aku terjatuh.

Bruk!

Aku merasakan lututku menghantam lantai kayu yang dingin. Rasa sakit itu, untuk sesaat, mengalihkan perhatian dari badai gairah. Tapi itu hanya sesaat.

Dhimas langsung meraih lenganku, mencoba membantuku berdiri. "Gisela!" serunya, nadanya kini mengandung keprihatinan yang jelas.

Sentuhannya. Lagi. Sekarang dia memegang erat lenganku, menarikku ke atas. Tubuhku yang lemas bersandar padanya, tak berdaya. Aroma tubuhnya, kehangatannya, kekuatan ototnya yang terasa di lenganku. Itu semua terlalu banyak.

Aku bisa merasakan tubuhku bergetar hebat. Rasa pening membanjiri kepalaku. Aku tidak bisa mengendalikan apa pun lagi. Bahkan pikiranku pun terasa kabur. Orgasme ketiga datang, dan kali ini, erangan pelan lolos dari bibirku, tidak bisa kutahan lagi.

Dhimas membeku. Aku bisa merasakannya. Dia pasti mendengarnya. Dia pasti merasakannya. Dia pasti tahu.

Aku merasa sangat malu, sangat telanjang. Aku ingin sekali bumi menelanku hidup-hidup. Air mata mulai mengalir di pipiku, bukan karena lututku yang sakit, tapi karena rasa malu yang tak tertahankan.

"Gisela, apa yang terjadi padamu?" tanyanya, suaranya kini lebih dingin, lebih serius. Dia menahan bahuku, membuatku tetap berdiri di depannya. Matanya yang tajam menatap langsung ke mataku, menuntut jawaban.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, air mata membasahi pipiku. Aku merasa seperti mangsa yang tertangkap basah, dan dia adalah predator yang baru saja menemukan mangsanya terlalu lemah untuk lari. Aku tidak punya jalan keluar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dan Dosa
9.5
Bisma, putra CEO kaya, terperosok dalam gaya hidup kelam dan gemar mempermainkan wanita. Namun, hidupnya berubah saat ia terobsesi pada Melati, kekasih sahabatnya sendiri. Tindakan Bisma justru membawa penderitaan bagi gadis yang ia harap mampu mengubahnya menjadi pria lebih baik. Kini, ia dihantui peringatan masa lalu bahwa kebahagiaan takkan pernah ia raih. Apakah ini kutukan atas segala dosanya? Bisma harus memilih antara melepaskan atau terus mengejar cinta.
Sampul Novel Dosen Killerku Ternyata CEO
7.9
Demi masa depan putrinya, Surya Dinata menjodohkan Alzena dengan Emilio Cullen, dosen berdarah campuran yang terpaut usia lima belas tahun lebih tua. Alzena terjebak dilema karena ia telah memiliki kekasih bernama Jody. Di balik sosoknya yang tegas, Emilio ternyata seorang CEO pewaris takhta kekayaan yang menyembunyikan identitas aslinya. Akankah Alzena memilih cinta sejatinya, atau justru terjerat dalam rahasia besar suaminya yang tak pernah jujur?
Sampul Novel Jangan Pernah Menyentuh Anakku
9.5
Demi masa depan putranya, Aurora Elenna terpaksa menerima pernikahan kontrak dari Kaelan Dirgantara, CEO dingin yang dulu menghancurkan hidupnya. Namun, Kaelan tak menyadari bahwa Ravi adalah darah dagingnya. Kini, Aurora yang cerdas kembali dengan identitas baru demi menghadapi ancaman Selina Pramudya. Di tengah intrik perebutan harta dan rahasia besar, Aurora harus memilih antara membalas dendam atau jujur saat Kaelan mulai mencurigai identitas asli istri kontraknya itu.
Sampul Novel Mantan Kekasihku CEO Psikopat
8.9
Alya Rahayu pindah ke Jakarta demi karier impian, namun nasib malang membuatnya kehilangan segalanya. Di titik terendah, ia bertemu Dira Pratama, mantan kekasih yang kini menjadi CEO dingin penuh rahasia gelap. Lima tahun berlalu, Dira bukan lagi pria lembut yang ia kenal, melainkan sosok obsesif yang menyimpan dendam masa lalu. Terjebak sebagai bawahan Dira, Alya harus menghadapi trauma dan kenyataan pahit di balik alasan pria itu meninggalkannya dahulu.
Sampul Novel Perangkap Cinta Tuan CEO
8.8
Rafael Valentino menyimpan dendam pada Edgar Marvelo yang telah menggelapkan dana perusahaan. Saat Edgar kabur, Rafael mengalihkan kemarahannya kepada Aurora, putri Edgar yang baru pulang dari Paris. Aurora yang tidak tahu apa-apa dipaksa membayar utang ayahnya dengan menyerahkan kebebasannya. Kini ia terjebak dalam kendali sang CEO yang dingin. Akankah hubungan yang berawal dari kebencian dan tekanan ini berubah menjadi cinta di tengah luka masa lalu?
Sampul Novel Rahasia Dibalik Sempurna
8.8
Vincent dan Audrey Dawson dikenal sebagai pasangan pebisnis paling sempurna di Negara X. Sejak menikah empat tahun lalu, citra harmonis mereka selalu memukau publik tanpa ada isu miring. Namun, di balik kemewahan itu tersimpan rahasia besar. Pernikahan mereka hanyalah kontrak bisnis demi keuntungan pribadi masing-masing. Seluruh kemesraan yang selama ini mereka tunjukkan ke dunia hanyalah akting belaka demi menjaga nama baik dan ambisi finansial mereka.