APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Obsesi dan Cinta

Obsesi dan Cinta

Lifah Putri Sanjaya, putri konglomerat yang sempat merahasiakan jati dirinya, kini menjalani hubungan harmonis dengan tunangannya, Bara Wicaksono. Namun, ketenangan hidup Lifah terusik saat ia mulai bekerja di perusahaan baru. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anggara Prampayoga, sosok masa lalu yang pernah ia coba lupakan selamanya. Terjebak dalam satu tim kerja, Lifah kini bimbang antara kenangan lama atau kesetiaan pada cinta barunya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Senang karena ada kamu yang selalu mengerti aku dan menerima aku apa adanya.”

“Emmm, terharu. Tapi, sumpah aku senang banget. Lihat kamu bahagia begini tu, bikin adem banget! Jadi rasanya pengen cepat-cepat aku nikahin kamu," spontan Bara dengan menatap penuh cinta.

Blushing

“Apaan sih Bar,” salting Lifah.

“Lha kenapa? Apa aku salah, kalau aku ingin segera menikah dengan tunangan aku sendiri,” sambil terkekeh kecil.

“Ih, tapi kamu kan tahu, kalau kita tidak akan bisa nikah tahun ini,” cemberut Lifah.

“Iya, iya. Aku ngerti kok,” sambil memberantakkan rambut Lifah.

“Iiissh! Berantakan tahu!” pura-pura sebal Lifah.

“Aku kan hanya menyampaikan perasaanku, karena aku tidak mau kehilangan kamu. Aku benar-banar mencintai kamu.”

Blushing!

Mungkin saat ini wajah Lifah sudah merah merona kayak kepiting rebus saja. Dan hanya tertunduk malu mendengar pernyataan Bara.

“Udah deh Bar. Oh iya, gimana kabar tante Mila? Lama juga ya aku tidak bertemu dengan beliau,” alihkan pembicaraan Lifah.

Bara tahu Lifah merasa tak nyaman dengan pembicaraannya dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan.

“Baik. Nyokap juga kangen banget sama kamu. Pengen ketemu sama kamu,  dan bisa masak bareng lagi sama kamu lagi.”

“Emmm, boleh juga itu. Mungkin weekend kali ya. Itupun belum bisa janji. Karena aku  juga belum tahu dan melihat bagaimana dengan sistem kerja di perusahaan tempat aku kerja. Semoga saja lancar dan bisa menjalani hari-harinya seperti di perusahaan lainnya.”

“Kamu, sih, coba saja mau jadi sekertaris pribadi aku aja. Udah pasti akan aku bebasin kerjaan kamu dan bisa kapan aja bertemu dengan nyokap.”

“Iya, enggak gitu juga konsepnya dong Bar, kamu kan tahu tujuan aku kerja itu apa? Jelaslah kalau aku kerja di perusahaan kamu sama halnya aku kerja di perusahaan mama aku sendiri. Aku enggak mau dimanja. Aku mau merasakan___ emmmm sorry Bar, maksud aku,” Lifah merasa tak enak ketika melihat perubahan raut wajah Bara. Terlihat Lifah sangat egois.

Melihat Lifah yang terdiam dan menundukkan kepalanya. Seketika Bara merubah ekspresi wajahnya.

“Sayang, tidak masalah," sembari menatap penuh cinta pada Lifah, "Kamu tenang aja. Aku paham, jika kamu mencari pengalaman dan merasakan menjadi seorang karyawan yang sesungguhnya kan? Iya, It's Ok!” kata Bara diakhiri dengan senyum manisnya.

“Makasih ya Bar, sudah mengerti aku. Enggak kerasa ya. Sudah sampai di rumah. Mau mampir?” tawar Lifah, walau sebenarnya ia ingin Bara langsung pulang saja. Karena badannya terasa sangat lelah.

“Mungkin lain kali aja ya. Kali ini aku langsungan saja. Salam buat Tante Linda dan om Damar.” Bara mengetahui jika tunangannya itu pasti capek, dan ingin segara istirahat.

“Okay. Oh iya, besok aku mau bawa mobil sendiri saja ya Bar, makasih banget sudah mau antar jemput aku hari ini,” kata Lifah.

“Kenapa? Apakah aku membuat kamu tidak nyaman?”

“Enggak sama sekali Bar. Aku hanya tidak ingin selalu bergantung sama kamu. Oh iya mungkin mulai besok aku juga akan tinggal di apartemen lagi.”

“Baiklah kalau itu kemauan kamu. Tapi, yang jelas ketika ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku ya. Dan ingat, selalu jaga kesehatan kamu ya Fah. Jangan bikin aku cemas. Selalu kasih kabar apapun itu," protek Bara

Lifah hanya menganggukkan kepalanya dan segera turun dari mobil. Menunggu sampai mobil Bara meninggalkan pekarangan rumahnya dan tak terlihat lagi oleh mata memandang, barulah ia melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.

Begitu Lifah masuk ke dalam, mama sudah menunggunya di ruang keluarga.

“Sudah pulang nak? Bara tidak di ajak mampir?” tanya Linda.

“Masih ada keperluan yang lainnya ma,” jawab Lifah.

“Gimana dengan pekerjaan baru kamu?”

“So far so good!”

“Betah di sana?”

“Ya, masih satu hari kerja sih ma, teman-teman juga asik orangnya. Tapi, entahlah. Terlalu dini untuk menyimpulkan semuanya bukan? Oh iya ma, besok Lifah akan kembali ke apartemen. Bukan apa ma, ini demi kemandirian yang ingin Lifah terapkan pada diri sendiri sebelum nanti saatnya Lifah akan selalu bergantung pada pasangan. Mama tahu maksud Lifah kan?”

“Baiklah nak jika memang itu yang kamu mau.”

“Terima kasih ya ma, sudah selalu mendukung apapun keputusan aku,” sambil memeluk tubuh mamanya. Linda mengagukkan kepalanya dengan senyum manisnya.

Lifah memang terbentuk dengan sistem hidup yang mandiri. Walau terlahir di keluarga yang berada dan semua berfasilitas, dia tak ingin menikmati semuanya tanpa adanya kerja kerasnya sendiri.

Bahkan, mobil pun ia beli sendiri dengan hasil menjadi penulis novel online selama hampir satu tahun belakangan ini, untuk mengisi kekosongan waktu sebelum diterima di perusahaan tempat dia bekerja sekarang.

Linda benar-benar bangga memiliki anak Lifah. Walau pun seorang perempuan, tapi tekat dan kemandiriannya tak kalah dari seorang anak laki - laki. Kuat dan tegar dalam menjalani kerasnya hidup.

-

Malam ini, Lifah menyiapkan pakaian dan barang seperlunya untuk dibawa ke apartemennya. Rencananya, ia akan langsung menetap di Apartemen sepulang kerja esok hari. 

Selesai sarapan pagi bersama keluarga besar, Lifah pun izin kepada semua orang untuk niatannya pindah sementara di apartemen.

“Ya, aku akan kehilangan partner gosip deh,” canda Nissa, dengan wajah melas dan sedih.

“Tenang, masih ada kak Sam. Asik juga kok cerita sama dia,” celetuk Lifah sambil terkekeh.

“Benar banget!" sahut Samudera menimpali jawaban Adiknya. Jika sudah begitu, Nissa lebih baik diam dan pasrah saja.

***

Hari - hari telah di jalani dengan semangat oleh Lifah. Pekerjaan baru, teman kerja baru, dan lingkungan yang baru. Dia begitu cepat beradaptasi dan sangat menyenangi pekerjaan dirinya sampai dengan saat ini. Walaupun, pekerjaan yang diberikan padanya selalu banyak, tapi ia terima dan mengerjakan sesuai dengan waktunya. Atasan sungguh dibuat senang dengan kinerjanya.

Sampai tak terasa, sudah dua minggu ini Lifah bekerja di perusahaan itu. Semuanya berjalan sangat lancar.

“Fah, Lo dipanggil sama pak Menejer tuh, langsung saja keruangannya,” kata Tia yang baru saja dari ruangan beliau.

“Pak Nugraha? Ada apa?” tanya Lifah heran, sambil mengingat apakah ia ada salah dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh beliau.

Tia menggidikkan kedua bahunya, “Mending elo segera masuk gih! Biar enggak penasaran lagi, cuz!”

Lifah pun menyiapkan diri dan mengguk mantap.

Tap

Tap

Tap!

Langkah kaki itu berjalan menuju ruangan manager sekaligus orang yang menjadi wakil atau kepercayaan CEO di kantor cabang itu.

Dengan penuh tanda tanya besar, Lifah melangkah, dan mau tak mau harus menghadapi apapun yang ada di depannya. Sesampainya di depan pintu ruangannya, Lifah mengatur nafasnya dan menyiapkan dirinya.

Tok

Tok

Tok!

Diketuklah pintu ruangan beliau sebelum akhirnya di buka olehnya.

Krrreeeeeek!

Decit suara pintu ruangan terbuka. Lifah langsung memberikan senyum manis dan tatapan hormat pada atasannya itu. Lalu, melangkah masuk kedalam ruanganya.

“Maaf pak, bapak memanggil saya?”

“Iya. Duduk!”

Tanpa menunggu instruksi dua kali, dengan memberikan rasa hormat dan sopan Lifah duduk dihadapan pak Nugraha. Hanya ada sekat meja diantara keduanya.

“Langsung saja, saya memanggil kamu ke mari adalah ingin mengatakan bahwa pekerjaan yang kamu kerjakan akhir-akhir ini memang sangat memuaskan. Dan kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu.

Maka dari itu, besok, di perusahaan ini akan kedatangan seorang anak magang. Dan saya juga manajemen telah memutuskan untuk membekerikan kepercayaan kepadamu, untuk menjadikan anak magang tersebut asisten kamu. Kamu bisa mengajarinya dengan baik bidangnya, yang memang sama dengan kamu, lalu mengajari tentang manajemen waktu dan apapun itu, agar dia bisa menjadi sosok seperti kamu, disiplin, jujur, tepat waktu, dan juga cekatan.

Untuk itu, kami sangat berharap kamu bisa mendidiknya seperti potensi dalam diri kamu, yang kerja cepat, cerdas dan cermat.”

“Tapi, apakah tidak terlalu dini untuk saya bisa mengemban amanat ini pak?”

“Kami rasa kamu bisa menjalankan amanat ini Lifah,” yakinkan Pak Nugraha.

Entah harus bagaimana, tak tahu akan senang atau sebaliknya.  Padahal ia juga baru dua minggu kerja di perusahaan itu. Tapi mau bagaimana mama lagi, tak ada pilihan. Ini tugas dan perintah.

Lifah keluar dengan wajah yang tak terbaca. Menghembuskan nafas beratnya. 

“Semangat Lifah!” menyemangati diri sendiri dan berjalan kembali ke ruang kerjanya.

Tia dan Agus juga sudah sangat penasaran apa yang tengah terjadi pada Lifah. Karena selepas dari ruangan pak Nugraha, ekspresi Lifah benar-benar tidak terbaca oleh Tia.

“Kenapa? Ada apa? Elo enggak dipindah 'kan ke kantor pusat? Lo masih kerja di sini kan?” brondong Tia dengan berbagi pertanyaan.

Lifah mencoba mengambil nafas dan mengeluarkannya dengan perlahan. Lalu memandang satu persatu wajah serius orang yang akhir -akhir ini dekat dengan dirinya.

Lalu menceritakan semuanya kepada mereka berdua.

“What!! Lo hebat sih Fah! Dua minggu kerja langsung dapat asisiten! Keren! Gua aja yang sudah beberapa bulan di sini boro boro Fah. Tapi, melihat kinerja kamu. Memang patut sih di berikan apresiasi, seperti --- asisiten.”

“Setuju banget! Elo terlalu wonder women Fah. Jadi, harus sih dikasih asisten. Lihatlah, kerjaan kamu setiap hari segunung. Entah apa yang dikerjakan tapi melihat kinerja lo, dan menyelesaikan seorang sendiri, dengan memaksimalkan waktu dan seakan tak memiliki waktu untuk istirahat yang singkat itu. Gue setuju oelo diberikan Asisiten,” timpal Pak Agus.

“Yang gue takutkan sebenarnya setelah masa magan usai.. Tentang konsistensi. Statusnya 'kan hanya magang. Bagaimana jika, nanti gue jadi ketergantungan dengannya, dan ketika ditinggalkan olehnya gue jadi merubah kembali kebiasaan yang sudah berjalan,” ungkap Lifah terlalu khawatir.

“Itu adalah tugas lo Fah, meyakinkan atasan agar asisten lo betah di sini dan berasa nyaman dengan elo. Serta meyakinkan atasan agar anak magang itu, bisa menjadi karyawan tetap di perusahaan ini, sehingga elo enggak akan kehilangan sosoknya, gimana?” saran dan masukan  Tia.

“Nah, gue setuju tuh!” sahut Pak Agus.

Lifah pun akhirnya memutuskan untuk mempertimbangkan saran dan masukan teman-teman.

-

Begitu keesokan harinya, Lifah sudah datang seperti biasanya. Dia berjalan dengan gontai  dan menyapa dengan ramah setiap berpapasan dengan beberapa karyawan yang lainnya.

Baru saja, Lifah masuki dan mendudukki ruangannya. Pak Nugraha sudah datang menghampirinya, dengan seorang pria di sampingnya.

“Pagi Lifah!” sapa pak Nugraha.

“Pagi pak,” balas Lifah dengan mendongak ke arah di mana suara yang sangat dikenalnya itu, sedang berdiri di depan meja ruangannya. Kemudian, Lifah terhentak. Membeku, mematung dari posisinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?
8.4
Amanda, sosialita kaya raya yang sombong, terjebak dalam masalah besar setelah menyetujui syarat ayahnya. Ia terbangun di pulau terpencil bersama Senja, pria dingin yang tak ia kenal. Keduanya terpaksa tinggal serumah demi misi reality show televisi dengan tujuan berbeda. Amanda yang manja membuat Senja kewalahan, sementara ketus pelayan itu membuat Amanda frustrasi. Di tengah konflik kepribadian yang kontras, mampukah mereka bertahan di lingkungan yang asing?
Sampul Novel Gadis Jaminan Tuan Max
7.8
Hera mengira penderitaannya sudah mencapai batas, namun kemalangan lebih besar justru datang menghampiri. Ibunya terjerat utang pada Max, seorang lintah darat kejam, dan kini Hera yang harus menanggung konsekuensinya. Ia dijadikan tawanan sebagai jaminan hingga utang tersebut lunas sesuai tenggat waktu. Jika sang ibu gagal membayar, Hera harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dalam hidupnya. Akankah ia mampu bertahan di bawah kendali penuh Max?
Sampul Novel Gairah Isteri Kedua
8.4
Ellea terpaksa mengambil keputusan besar dalam hidupnya dengan menjadi istri kedua bagi Anderson. Sebagai seorang CEO muda yang berkuasa, Anderson membawa Ellea masuk ke dalam kehidupan pernikahan yang penuh dengan teka-teki. Apa sebenarnya alasan kuat yang memaksa Ellea bersedia menerima posisi tersebut? Ikuti kisah romansa penuh konflik ini saat ia harus menghadapi kenyataan pahit di balik statusnya sebagai wanita kedua dalam hidup sang konglomerat.
Sampul Novel KECELAKAAN SEMPURNA
8.9
Demi biaya pengobatan kanker ibunya, Qarletta Averly yang berusia 21 tahun mencoba peruntungan di Heston Corporation. Ia berharap posisi fotografer di perusahaan raksasa itu menjadi solusi finansialnya. Namun, impian indahnya hancur saat bertemu sang CEO, Carl Heston. Alih-alih karier cemerlang, sebuah kesalahan fatal justru menjerat Arlett dalam skandal besar yang dirancang Carl. Kini, Arlett terjebak dalam situasi rumit dengan pria berkuasa yang mengubah hidupnya.
Sampul Novel Menikahinya Mudah, Kehilangannya Adalah Neraka
8.8
Stella hancur saat Marc berkhianat tepat di depan matanya. Setelah membalas dengan tamparan keras, ia memilih lenyap untuk misi rahasia dan memalsukan kematiannya. Di hari kepergian Stella, kerajaan bisnis Marc runtuh seketika. Penyesalan menghantui Marc hingga mereka bertemu kembali di sebuah gala mewah. Marc memohon kesempatan kedua, namun Stella yang kini bersinar di samping pria sukses hanya tersenyum sinis dan menegaskan bahwa Marc tak lagi pantas untuknya.
Sampul Novel Misi Rahasia sang Pewaris
9.3
Zara, ahli waris kaya raya, memilih menyamar jadi staf biasa demi memantau kondisi internal perusahaannya. Di sana, ia berurusan dengan Arman, manajer dingin yang sangat ambisius. Namun, situasi menjadi rumit saat Zara menemukan ancaman internal yang membahayakan bisnis keluarga. Kini ia terjepit dalam dilema besar: mengungkap jati dirinya demi menyelamatkan aset perusahaan atau tetap bersembunyi di balik topengnya. Rahasia gelap industri pun mulai terkuak perlahan.