APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Obsession In Love

Obsession In Love

Arinika adalah seorang mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya, namun ia terus terjebak dalam masalah dengan dosen pembimbingnya sendiri. Samuel Xalvandor, sang dosen yang dikenal sangat kejam, secara mengejutkan memaksa Arin untuk menjalin ikatan pernikahan. Meski sempat mencoba menolak, Arin tidak berdaya melawan kuasa sang dosen hingga pernikahan mereka akhirnya terwujud. Ikuti kisah rumit mereka dalam drama romansa modern ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Semua orang yang ada di sana nampak tidak berani menatap Samuel. Arin tertegun dengan itu, Samuel melangkah mendekat membuat Arin gelisah. Dia kembali berusaha menutup belahan dadanya yang menonjol.

"Maaf, Tuan Samuel. Anak ini masih baru, jadi tidak dijual," ucap Mami Iren dengan hati-hati.

"Kamu berani melarang saya!" ucap Samuel dengan suara beratnya berkata dingin.

"Tidak Tuan," jawab Mami Iren yang menunduk.

"Tulis harga yang kamu inginkan!" Setelah mengatakan itu Samuel langsung menarik Arin untuk pergi dari tempat itu.

Arin merasakan aura kemarahan dari Samuel hingga keringat dingin membasahi dahinya. Arin mengumpati dirinya karena terjebak dalam situasi yang rumit ini. Samuel yang tinggi membuat langkahnya panjang dan Arin pun harus berlari untuk mengimbangi langkau Samuel.

Setelah membuka mobil Samuel mendorong Arin hingga terlentang di jok belakang. Samuel berdiri di hadapan Arin dengan kaki yang naik ke atas jok. Berusaha mendekati Arin.

"Sebegitunya menolak pernikahan dengan saya, tapi nyatanya justru menjual diri?"

Mendengar itu Arin tersentak dan segera menjawab, "Tidak! Saya sama sekali tidak--"

Suara ponsel Samuel memutuskan perkataan Arin. "Awalnya hutangmu hanya seratus juga sekarang menjadi 2,6 Milyar!"

Arin kembali tersentak kaget ketika mendengar perkataan Samuel. Kepalanya begitu sakit mendengar itu, seratus juta saja sudah membuatnya pusing. Sekarang hutangnya bertambah karena kecerobohannya lagi.

Semua ini berawal juga karena kecerobohannya yang tak sengaja membuat lecet mobil milik Samuel. Mobil Ferrari F8 Spider mobil mewah Samuel dan salah satu mobil kesayangan Samuel.

"Sa-saya akan membayar semuanya," ucap Arin dengan terbatas.

"Dengan apa? Menjual tubuhmu lagi? Kenapa tidak kau jual kepada saya?"

"Jaga bicara Anda Pak!" ucap Arin yang geram karena Samuel terus menyinggung tentang jual diri. "Saya akan menyicilnya dan pasti saya akan melunasinya."

"Cih!" decak Samuel. "Kamu menyicilnya sebulan sepuluh juta pun butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa melunasinya," cibir Samuel membuat Arin terdiam. "Kamu itu miskin jadi turunkan egomu itu."

Cibiran Samuel tak mampu Arin balas karena semua itu adalah fakta. Melihat Arin yang diam maka Samuel pun segera masuk ke dalam mobil. Mobil melaju menuju ke kediaman Samuel, Arin nampak tidak mengatakan apapun lagi karena kepalanya terasa pusing.

Lima belas menit kemudian mobil itu memasuki area rumah mewah. Arin masih larut dalam lamunannya hingga dia tidak menyadari jika mobil telah berhenti. Samuel membuka pintu mobil dan menariknya untuk keluar.

"Sakit," ucap Arin karena Samuel mencengkramnya cukup kuat.

Samuel tidak mendengarkan keluhan Arin dia menyeret Arin menuju ke lantai dua. Membawanya ke sebuah kamar yang ada di lantai itu, Samuel mendorong tubuh Arin masuk ke dalam kamar dengan nuansa putih.

"Kamu milik saya sekarang!" tegas Samuel sebelum dia meninggalkan Arin.

Samuel menutup pintu dengan keras hingga meninggalkan suara nyaring yang memekik telinga Arin. "Pak Sam saya yakin bisa membayarnya," teriak Arin dari dalam kamar dengan menggedor pintu itu karena telah di kunci oleh Samuel. "Pak! Pak Samuel!" teriak Arin yang tidak ada jawaban apapun.

Arin pun menyerah dia memilih duduk di tepi tempat tidur dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Arin merasa frustasi karena akhirnya dia terjebak di rumah itu.

***

Saat Arin membuka matanya terlihat jam telah menunjukkan pukul enam pagi, kamar yang begitu besar itu terasa dingin. Suara rintik hujan terdengar di telinga Arin, begitu bising karena dia tidak menyukai hujan. Arin masih mengenakan gaun yang semalam karena ia semalam ketiduran.

Suara ketukan membuat Arin menoleh, pintu pun dibuka terlihat pria paruh baya masuk ke dalam kamar. Arin menarik selimut untuk menutup bagian tubuhnya.

"Selamat Pagi Nona, perkenalkan saya Alfred kepala maid di rumah ini," ucap Alfred dengan sopan. "Saya kesini ingin mengantarkan pakaian untuk Nona atas perintah dari Tuan," sambung Alfred yang menyerahkan sebuah paper bag kepada Arin.

Arin pun menerima paper bag itu, "Terimakasih Pak," ucap Arin dengan tersenyum.

"Sama-sama Nona kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," pamit Alfred yang langsung keluar dari kamar itu meninggalkan Arin sendiri. Pintu kamar itu kembali di kunci, Arin bisa mendengarnya membuat dia menghela nafasnya.

Arin memilih berjalan ke arah kamar mandi, wajahnya tampak tidak memiliki semangat hidup. Dia berhenti menatap dirinya dari pantulan cermin di depan wastafel. Kedua pipinya terlihat masih memerah akibat tamparan semalam.

Sekelebat kejadian semalam terlintas di benak Arin membuat Arin langsung mengusap wajahnya dengan air. Arin menghela nafasnya dengan kasar untuk mengatur perasaan hatinya, dia lalu memilih mandi agar pikirannya lebih fresh.

Selesai mandi Arin mengenakan dress pink yang tadi di berikan oleh Alfred. Dia pun keluar dari kamar mandi menuju balkon, dari sana Arin bisa melihat area rumah Samuel. Tepat di bawah sana ada sebuah kolam renang yang sangat luas.

Suara pintu dibuka membuat Arin menoleh ternyata Alfred yang masuk ke dalam kamarnya dengan membawa sebuah nampan. "Selamat pagi Nona, saya membawa sarapan untuk Anda," ucap Alfred yang meletakan makanan itu di atas meja.

Arin hanya sekilas menatap makanan itu tanpa berniat menyentuhnya sedikitpun. Meskipun perutnya lapar karena sejak semalam belum makan tetapi gadis itu tidak mau menyentuh makanan dari Samuel. Arin tetap kekeh dalam pendiriannya untuk tidak menikah dengan Samuel.

Arin tetap berada di balkon saat Samuel masuk ke kamar itu. Tatapan mata Samuel sangat tajam saat melihat piring Arin yang belum tersentuh.

"Alfred!" teriak Samuel membuat Arin terkejut.

Alfred berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar Arin. "Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Alfred dengan menunduk kepalanya.

Samuel berjalan ke arah makanan Arin dia lalu melempar piring itu ke lantai hingga makanan berceceran disana. "Makan itu!? " titah Samuel menatap Alfred.

Arin langsung melangkah mendekat, "Apa yang Anda lakukan?" tanya Arin ketika Alfred berlutut hendak melakukan perintah Samuel.

"Anda gila ya!" seru Arin menatap berani Samuel.

"Kamu yang membuat dia berakhir seperti ini," ucap Samuel dengan suara berat.

"Apa maksudnya?"

"Kamu tidak menyentuh makananmu jadi dia harus menghabiskannya."

"Dengan cara seperti ini? Apa Anda tidak bisa bersikap manusiawi?"

Arin terlihat begitu marah hingga dia berani menatap tajam ke arah Samuel. Arin berdiri berhadapan dengan Samuel tanpa rasa takut. Dia tidak terima melihat Alfred diperlakukan seperti itu oleh Samuel.

"Berani kamu dengan saya!" murka Samuel.

"Kenapa harus takut dengan iblis seperti Anda!" seru Arin membuat Alfred yang ada disana pun terkejut. Dia tidak menyangka ada yang berani melawan Tuannya itu. Tatapan Arin tak kalah tajam dari Samuel.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BIDADARI
8.1
Aida Tazkia merasa rendah diri karena kondisi fisiknya sebagai penyintas kanker. Reiko Byakta Adiwijaya, pria dari keluarga konglomerat, justru tetap menikahinya meski melontarkan hinaan tajam. Di balik pernikahan tanpa cinta ini, tersimpan rahasia besar yang disembunyikan Reiko. Aida kini terjebak dalam belenggu keluarga Adiwijaya yang penuh tekanan. Mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati dan cinta tulus di tengah keraguan akan kesempurnaannya sebagai wanita?
Sampul Novel  Birahi Janda Binal
9.3
Widya Ayu Ningrum harus menghadapi kenyataan pahit sebagai janda di usia yang sangat muda, yakni 24 tahun. Sejak suaminya, Harjo, meninggal dunia akibat kecelakaan tragis saat pulang merantau tiga tahun lalu, Widya berjuang menjalani perannya sebagai orang tua tunggal. Kini, ia mendedikasikan hidupnya demi membesarkan putra semata wayangnya, Evan Dwi Harjono. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup Widya dalam melewati lika-liku sebagai ibu rumah tangga tanpa pendamping.
Sampul Novel Istri Dadakan
9.5
Skandal cinta satu malam yang terungkap oleh sang ayah memaksa Dave untuk menikahi Rachel secara mendadak. Dave yang merasa kebebasannya dirampas seketika menaruh kebencian mendalam pada istri barunya tersebut. Padahal, Rachel sendiri sebenarnya sudah memiliki kekasih hati sebelum perjodohan paksa ini terjadi. Di tengah rasa benci dan keterpaksaan, akankah pernikahan tanpa dasar cinta antara Dave dan Rachel ini mampu bertahan menghadapi konflik yang ada?
Sampul Novel Kekasih itu Bosku
9.1
Hubungan asmara antara Rina dan Arman terus berkembang di tengah berbagai rintangan yang menguji kesetiaan mereka. Keduanya berjuang keras menjaga harmoni antara tuntutan profesional dengan perasaan pribadi. Bagi Rina, bekerja di PT Jaya Abadi kini terasa jauh lebih istimewa. Di sana, ia tidak hanya berhasil meraih ambisi kariernya, namun juga menemukan cinta sejati yang tak pernah ia duga sebelumnya dalam sosok bosnya yang penuh karisma.
Sampul Novel Pria yang Meninggalkan Cintanya
9.3
Sepuluh tahun mengabdi pada Baskara Aditama, hidupku hancur saat tanganku rusak di salon mantan kekasihnya, Karinina. Bukannya membela, Bas justru membuangku di hutan terpencil dalam kondisi hamil tanpa sinyal ponsel. Saat berhasil kembali, aku mendapati dia menghinaku sebagai pengganti sementara di depan teman-temannya. Tanpa dukungan keluarga dan karier yang sirna, aku bertekad memutus semua ikatan dengannya demi merebut kembali hidupku.
Sampul Novel Rumah Tanpa Buah Hati
9.3
Alice kerap menatap sendu anak-anak tetangga yang bermain di depan rumahnya. Baginya, keriuhan itu adalah pelipur lara di tengah kerinduan akan hadirnya buah hati. Namun, kebahagiaan sederhana itu sering terusik oleh bayang-bayang sindiran tajam ibu mertuanya. Konflik terus memanas karena sang mertua kerap menolak bertemu jika Alice belum menimang anak. Di tengah kucuran air mata, Alice harus menghadapi tekanan batin akibat tuntutan keluarga yang kian menghimpit.