APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Oh Dania

Oh Dania

Dania adalah sosok ibu muda yang memiliki ambisi besar untuk selalu tampil unggul dan menjadi pusat perhatian di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, kehidupan tenangnya terusik saat ia menyadari bahwa Khamila tinggal di kompleks yang sama. Khamila merupakan wanita dari masa lalu yang pernah mengkhianatinya dengan merebut calon suaminya. Kini, Dania harus menghadapi kembali luka lama dan persaingan sengit dalam drama kehidupan bertetangga yang penuh ketegangan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Itulah status yang aku kirim di akun Papa sambil kuberi gambar saat kami berlibur di Puncak.

.

.

Pagi hari ….

Semua berkumpul di meja makan untuk sarapan. Sebelum suamiku berangkat kerja, aku menunjukkan chat yang ada di ponsel Papa.

“Pa, ini chat dari siapa?” tanyaku pada Papa sembari menunjukkan chat antara dia dan Khamila. Sebenarnya aku tahu bahwa itu chat dari Khamila, tetapi aku pura -pura bertanya.

“Oh, itu chat dari istrinya Si Burhan,” balas Papa.

“Kenapa diladenin sih, Pa,” ucapu sambil menyodorkan nasi goreng untuk sarapan.

“Apa-apaan sih, Ma, itukan chat lama,” elak Papa sambil mengunyah nasi goreng yang aku sodorkan.

“Iya, tapi ngapain Papa ngeladenin dia, diakan udah bersuami,” jawabku sewot.

“Papa tahu, tapi apa salahnya kalau ayah membantu.”

“Kok setiap hari sih, Pa,” cecarku penasaran karena memang hampir setiap hari nebeng.

“Iya memang setiap hari karena arahnya sama dengan arah tempat kerja Papa. Suaminya tahu, kok.”

Oalah, lha kenapa dia posting di facebooknya seperti itu? Apakah suaminya tidak membaca? Wah, dasar wanita gatel.

“Lha itu pas dia minta bareng sama pulangnya, itu pas dari mana, Pa?”

Aku masih penasaran, akan kucecar terus Papa hingga aku tahu masalahnya. Sejauh ini aku percaya dengan Papa.

“Owh, itu,” jawab lelaki tampan yang kini menjadi pendamping hidupku, lalu menyesap kopi susu di hadapannya seusai makan.

“Dia itu habis dari rumah saudaranya, kebetulan rumahnya dekat dengan kantor Papa, lalu dia nebeng,” lanjutnya.

“Lha itu nebeng sama Papa tiap hari ke mana?” cecarku. Kukorek keterangan dari Papa. Awas kamu Khamila, bikin status hoax.

“Ya itu yang tadi Papa jelaskan. Tiap hari dia ke tempat saudaranya karena saudaranya itu habis lahiran. Saudaranya itu sendiri di rumah, suaminya kerja di luar negeri,” ungkap Papa.

Setelah itu dia berdiri dan mengambil tas yang telah aku sediakan serta bersiap ke kantor.

“Tunggu, Pa, kenapa dia tidak bareng sama suaminya? Lalu apakah Papa pernah beli bakso dengannya?”

Aku kembali bertanya pada Papa. Aku bertanya pada Papa sesuai dengan status di facebooknya Khamila.

“Nanya apaan sih, Ma, kayak gitu aja di tanyain.”

“Pa, ini terkait dengan statusnya Mama Azzah—Si Khamila itu. Setiap apapun, dia itu selalu update status termasuk ketika bareng sama Papa, termasuk ketika beli bakso,” jawabku kesal dan sedikit marah. Kulihat Papa kurang suka dengan pertanyaanku.

“Memang dia bikin status apa?”

“Dia bilang makasih atas traktirannya sembari mengupload foto bakso rudal,” ucapku ngegas.

Papa menggelengkan kepalanya, “Ya Allah, kayak gitu aja marah,” ucapnya.

“Ya iyalah, Pa, enak aja, makan bakso sama suami orang,” ujarku menahan emosi.

“Sini, deh, Papa jelasin. Memang iya Papa yang bayarin. Pas waktu itu dia nebeng Papa pulang dari rumah saudaranya, kebetulan di jalan, Si Azzah—anaknya itu minta dibelikan bakso. Dia bilang uangnya ketinggalan, ya sudah Papa bayarin.

Kenapa dia selalu nebeng sama Papa, karena arah tempat kerja Pak Burhan—suaminya Khamila itu berlawanan dengan rumah sudaranya, jelas?”

Wah, berarti memang Si Khamila-nya saja yang kegatelan. Kurang ajar sekali dia, sudah bikin status tidak jelas. Awas kamu, akan kubalas.

“Udah, ya, Papa berangkat,” pamit Papa buru-buru.

“Eh, Pa, tunggu!” cegahku.

“Ada apa lagi, sudah jelas, kan? Udah, ah, nanti Papa telat.”

“Itu, Pa, chat terkhir dari Khamila, katanya ia bilang terimakasih atas uangnya.”

“Ooo, itu? Itu Papa ngasih ke yayasan anak yatim. Katanya dia panitianya, dia ngajuin proposal,” ujar Papa sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar wanita, mulutnya gak bisa dijaga. Sudah! Papa mau berangkat. Uh,” ujar Papa sedikit kesal. Mungkin karena kuinterogasi juga karena ulah Khamila yang setiap hari upload status di facebook. Akupun tersenyum lega mendengar pejelasan Papa. Jadi, Khamila hanya mengada-ada dan cari sensasi. Aku di blokir agar tidak melihat statusnya yang mengada-ada itu, ha ha ha.

“Iya, Pa, hati-hati di jalan, ya.”

Aku menyalaminya dengan ta’zim, kucium punggung tangannya dan ia mencium keningku mesra.

Setelah Papa ke kantor dan Adit—putraku berangkat sekolah, kubereskan semua piring kotor dan sisa sayur serta nasi yang ada di meja makan. Kucuci piring dan gelas bekas makan serta semua perkakas untuk memasak.

Hari ini rencanaya ada rapat emak-emak komplek sekaligus arisan RT. Acanya habis Dhuhur, jadi aku harus menyelesaikan semua pekerjaan rumahku. Aku orang yang tidak suka berantakan--ketika rumah aku tinggalkan, semua harus dalam keadaan rapi.

‘Ok, sebelum melakukan pekerjaan rutin, bikin status dulu, ah.

“Hoaks, jangan suka bikin hoaks, ya! Nanti kena akibatnya!.”

Bodo amat Si Khamila lihat statusku apa enggak, yang penting aku sudah lega.

Waktunya beberes.

Kali ini aku menyapu kemudian mengepel lantai dari lantai bawah sampai lantai atas. Rumahku memang besar dan lebar, tetapi aku kerjakan sendiri itung-itung olah raga. Sembari menyapu dan mengepel, aku mencuci pakaian dengan mesin cuci. Jadi dua pekerjaan dapat diselesaikan sekaligus.

Setelah beres mengepel lantai, aku lanjutkan mencuci pakaian yang tadi sudah aku masukkan ke mesin cuci. Mencuci dengan mesin cuci memang praktis, tinggal giling--langsung selesai dan sekaligus dikeringkan.

Setelah ku jemur, aku langsung mandi. Hari ini aku tidak masak karena nanti ada arisan emak-emak. Biasanya dapat nasi kotak.

Sembari menunggu dhuhur, aku rebahan di ruang tengah sembari membuka chat whatsapp.

Rupanya banyak chat masuk, aku tidak sempat membukanya karena tadi sibuk urusan rumah tangga.

[Mama Adit, jangan lupa nanti ada arisan RT sekaligus meeting emak-emak komplek, datang, ya ….] Begitu isi chat Mama Ais—tetangga depan rumah.

[Ok] balasku.

Tak lupa aku membuka chat di WA grup emak-emak komplek yang chatnya sudah ratusan. ‘Waduh, manjatnya capek, nih,' batinku. Karena memang banyak sekali obrolan.

Aku scroll ke atas, rupanya ada chat dari Khamila—Mama Azzah.

[Emak-emak, jangan lupa nanti habis Duhur arisan serta meeting di tempat saya, ya]

‘Oalah, rupanya di tempat Khamila, to, bukankah kemarin katanya di rumah Mama Kinan? Tapi Kebetulan, aku pingin lihat kayak apa rumahnya, karena selama ini sombong sekali.’

[Ok] balas Mama Ais.

[Sediakan yang enak-enak ya, Ma,] balas Mama Kinan serta beberapa ibu-ibu yang lain.

Aku cukup nyimak saja.

Setelah itu, aku melihat-lihat story WA.

“Emak-emak cantik bin modis, nanti arisan di rumahku, ya.”

Itu status Khamila. ‘Rupanya nomerku sudah di buka blokirannya,' batinku.

“Sudah kinclong.”

Status selanjutnya sembari mengupload suasana di dalam rumahnya. Sepertinya di ruang tamu. Kulihat di gambar telah di gelar karpet bermotif batik membentang di ruangan yang kira-kira luasnya tiga kali lima. Jajanan kering telah tersaji di tengah karpet.

“Masih lebar rumahku,” ucapku lirih.

Aku teringat penjelasan Papa tadi, ternyata apa yang di posting Khamila itu hanya hoak. Mungkin ia hanya ingin mendapat pengakuan dari followernya, kasihan sekali, sampai segitunya ia membuat berita hoak.

“Bikin status, ah,” gumamku lirih.

Ku foto lantai ruang tamu yang tadi ku pel.

“Alhamdulillah, semua bersih dan rapi meski ruangannya lebar dan berlantai dua. Istri yang baik adalah yang selalu memperhatikan kebersihan rumahnya agar suami betah.”

Ku uplaod foto ruang tamu yang bersih dan kinclong dengan tatanan sofa manis berwarna krem berjajar rapi dan lemari hias yang di dalamnya terdapat hiasan-hiasan cantik serta koleksi piring serta gelas hias.

Hmmm.

Tak lama ada notifikasi masuk dengan balasan chat atas statusku di story WA.

[Mantul] Dari Mama Ais.

[Wauw] Dari Mama Kinan.

[Tidak ada yang mampu menandingi Mama Adit] Balas Mama Rena.

Aku tersenyum sendiri membaca balasan mereka lalu ku balas satu per satu.

[Terimakasih, say]

Sudah jam setengah satu, aku harus bersiap.

Sebelum aku melangkah ke kamar untuk berganti pakaian, aku lihat kembali story WA.

Hehe, sudah ada dua puluh lima orang yang melihat statusku termasuk Mama Azzah.

Eh, dia bikin status baru.

“Sombong dan suka pamer itu nggak baik, ya.”

Begitu statusnya Khamila, akupun tertawa terbahak-bahak.

‘Hoy, itu, kan kamu!’ batinku.

Udah, ah, ngeladeni dia tidak ada habisnya, tetapi aku ingin membalas setiap statusnya karena memang dia itu menyebalkan. Apalagi kemarin bikin status yang melibatkan suamiku. Bikin gara-gara saja sama aku. Awas!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Milik Hot CEO
8.8
Kehidupan Amber sebagai putri konglomerat runtuh seketika hingga ia terpuruk. Di tengah keputusasaan, sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia mabuk dan tak sengaja masuk ke kamar hotel Julian Kingston, pria berkuasa yang dikenal sangat kejam. Empat tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Amber kini memiliki anak kembar yang merupakan darah daging Julian. Terjebak dalam situasi rumit, mampukah Amber menghadapi tuntutan sang CEO dingin tersebut?
Sampul Novel Ayo Cerai!
8.5
Yutaka dan Arabella terikat perjodohan dengan perjanjian cerai setelah enam bulan. Meski Yuta kerap memprovokasi dengan isu selingkuhan, kebersamaan mereka justru menumbuhkan perasaan tulus. Namun, saat Arabella siap jujur, masa lalu Yuta muncul dan mengacaukan segalanya. Di tengah kontrak yang hampir berakhir, keduanya terjebak antara gengsi dan cinta yang tak terduga. Akankah perpisahan tetap menjadi jalan akhir bagi pasangan yang mulai saling mencintai ini?
Sampul Novel Bayaran Cinta Yang Terluka
9.4
Clarisse Nayara geram saat suaminya, Dario Mahendra, menyewa Keiran sebagai pengawalnya demi menghindari waktu bersama. Kebenaran pahit terungkap bahwa Dario telah menduakan Clarisse selama dua tahun. Merasa dikhianati, Clarisse membalas dengan menjadikan Keiran kekasih gelapnya untuk menghancurkan Dario. Namun, ia tidak menyadari bahwa Keiran menyimpan rahasia kelam yang berbahaya, mengubah aksi balas dendam ini menjadi permainan yang mengancam dirinya.
Sampul Novel Cacat Sebagai Penebus Jasa
8.5
Bagi sang anak, dilahirkan ke dunia dianggap sebagai beban utang yang harus dibayar kepada ibunya. Demi menebus segala jasa tersebut, ia rela mengorbankan raga hingga mengalami kecacatan fisik yang permanen. Pengorbanan tragis ini dilakukan hanya demi satu tujuan, yaitu menyentuh nurani sang ibu agar mau memberikan pengampunan tulus. Sebuah kisah pengabdian menyakitkan yang menguji batas antara bakti dan penderitaan dalam hubungan keluarga.
Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Pasca koma panjang, Zeesya Aleena Lawrence tersadar bahwa kekasihnya hanyalah seorang pengkhianat. Di tengah keterpurukan, ia menemukan cinta baru pada sosok pria misterius yang sangat memujanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat rahasia kelam terungkap. Pria tersebut ternyata dalang di balik tragedi berdarah keluarganya di masa lalu. Kini, Zeesya terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan perasaan atau membalas dendam atas takdir yang tertukar.
Sampul Novel Dia Pikir Aku Akan Menderita dalam Diam
7.8
Lima tahun menikah, aku menemukan rahasia kelam suamiku lewat sebuah USB. Isinya membuktikan bahwa aku hanyalah pengganti cinta pertamanya. Puncaknya, dia memberikan proyek impianku kepada wanita itu dan mempermalukanku di depan umum saat gala perusahaan. Dia mengira aku akan menerima pengkhianatan ini dengan diam dan hancur dalam kesedihan. Namun, dia salah besar. Di hadapan semua kolega, aku menyiramkan sampanye ke kepalanya sebagai tanda perlawananku.