APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel OLD VIRGIN (WHEN I LOVED YOU)

OLD VIRGIN (WHEN I LOVED YOU)

Shereen Edwarida adalah wanita karier sukses yang memendam luka mendalam. Trauma ditinggalkan kekasih demi wanita lain sesaat sebelum menikah membuatnya menutup hati rapat-rapat. Meski mendapat dukungan penuh dari orang tua dan sahabat, Shereen tetap memilih sendiri hingga dijuluki perawan tua oleh lingkungannya. Namun, keteguhannya goyah saat mantan kekasihnya muncul kembali untuk menebus kesalahan. Akankah Shereen memberi kesempatan kedua di tengah pahitnya kenangan masa lalu?
Bab
Bagikan

Bab 2

''Ada apa, Mah?" tanyaku heran.

"Boy ada di depan, kamu temuin gih," Mama menyuruhku untuk menemui sahabatku itu. Tapi, aku sangat malas sekali bertemu dia. Padahal baru saja kita bertemu di taman.

"Aku malas bertemu Boy. Mama usir saja dia, aku tidak mau keluar menemuinya," aku hendak menutup pintu. Mama langsung menahan.

"Jangan seperti itu, Shereen. Kamu harus temui Boy. Sepertinya ia akan berbicara sesuatu yang sangat penting," sahut Mama. Dengan terpaksa aku meng-iyakan dan langsung melangkah keluar menemui Boy yang berada di ruang tamu.

Terlihat Boy duduk dengan gelisah, aku melangkah mendekatinya menghampirinya dan duduk saling berhadapan.

"Ada apa kamu datang ke rumahku?" tanyaku sambil melipatkan kedua tangan.

''Tadi sewaktu di taman, kenapa kamu malah lari? Aku padahal ingin mengatakan sesuatu,'' cecarnya.

''Memangnya kamu mau bicara apa?''

''Hmm ... aku kesini ingin memberitahukan padamu jika besok aku harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan bisnis Papa,'' ujar Boy menatapku serius.

Aku kaget mendengar ucapannya, kenapa Boy malah tega akan pergi ke luar negeri. Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Tapi 'kan untung apa juga aku melarang, sebab bukankah dia hanya ingin melanjutkan usaha bisnis kedua orang tuanya.

"Apa kamu tidak bersedih aku akan pergi ke Amerika?" ucapnya tajam, sedangkan aku tanpa ekspresi menatapnya.

"Kalau kamu ingin melanjutkan bisnis Papamu, boleh saja. Aku tidak akan melarangmu, lagi pula kamu di sana hanya melakukan tugas yang diperintahkan kedua orang tuamu 'kan?'' aku sama sekali tidak akan melarangnya, lagi pula kami sama sekali tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas sahabat. Tapi Boy malah meminta izin padaku.

"Aku akan melanjutkan bisnis Papaku di luar negeri, selama dua tahun akan menetap di Amerika dan aku kesini ingin berbicara hal lain yang lebih penting dari itu," ucapnya serius, aku mengernyitkan dahi dan heran. Tatapan Boy sangat sulit sekali di artikan, kenapa dia tidak langsung saja berucap.

"Apa itu, Boy?"

"Aku sudah beberapa kali menyatakan cinta padamu, untuk terakhir kalinya aku ingin mengungkapkan hal ini padamu. Apakah kamu bersedia menjadi istriku?"

Boy menyatakan cinta, seketika dia langsung mengeluarkan kalung permata mutiara berwarna merah yang tersimpan di dalam kotak emas berlian, aku menutup mulut tanpa mengucapkan beberapa kata, aku sangat bingung mau menjawab apa dan sama sekali tidak ingin menyakiti hatinya.

"Jawab, Shereen!" pekik Boy.

"Hmm ...."

"Kenapa? Apa kamu mau menolakku kembali?" tanya Boy berkaca-kaca

"Bukan begitu maksudnya, Boy. Tapi--"

"Tapi, apa? Apa kamu mau menjadi perawan tua karena diusia yang sekarang kamu akan menginjak kepala tiga. Aku berharap kamu menerima cintaku, Shereen."

"Aku belum bisa memilih, aku masih--"

"Mengingat lelaki brengsek itu? Dia sudah mengkhianatimu dan malah meninggalkanmu. Lalu sekarang kamu masih berharap balikan lagi dengannya?" tanya Boy terlihat marah.

"Aku tidak mengharapkan dia kembali, Boy. Tidak! Aku masih ingin sendiri saja." sahutku. Boy seketika berdiri.

"Sampai kapan kamu mau sendiri? Kamu harus melihat ke depan, kamu seorang wanita cantik, masa mau sendiri terus." kata Boy mengusap wajahnya dengan kesal.

"Aku tidak tahu, Boy. Maafkan aku!"

"Ya sudah, kalau begitu. Aku pergi sekarang! Terima kasih kamu pernah ada di dalam lubuk hatiku. Lebih baik aku pergi dari pada harus menunggumu dalam ketidak kepastian.

Boy pergi meninggalkan rumahku dengan perasaan luka yang menggores karena aku telah menolaknya. Seketika Mama datang menghampiriku. Ternyata sedari tadi Mama menguping pembicaraan kami.

"Shereen, mama mau bicara denganmu. Kenapa kamu masih menolak cinta Boy, padahal dia itu orangnya baik tidak seperti mantan kekasihmu. Mama tahu kamu masih trauma dan terluka karena ulah Revan. Tapi, kamu pun harus menata masa depan dengan menikah dengan pria pilihanmu sendiri." ujar Mama berucap dan memberi saran.

Jujur, rasanya aku ingin mati saja mengingat keadaanku yang seperti ini, memang betul aku masih belum bisa melupakan Revan. Entah kenapa perasaan cinta itu masih ada, padahal sudah jelas-jelas Revan telah mengkhianatiku.

Tapi melihat Boy yang terus-terusan berucap seperti itu, aku jadi merasa tersentuh. Boy lelaki yang selalu bersamaku dikala aku susah, dia mengulurkan tangan supaya aku tidak merasa kesepian karena sudah ditinggal pergi oleh kekasih yang sangat aku cintai. Mama benar, aku harus menata masa depan dengan menikah bersama pria yang aku cintai dan pria itu tak lain adalah Boy sahabatku sendiri.

"Iya, Mah. Setelah aku pikir-pikir aku merasa tersentuh karena dilamar oleh Boy. Lalu bagaimana Mah, dia sudah pergi dengan luka yang sudah aku gores di hatinya. Apa dia mau menerimaku?" tanyaku pada Mama bersedih dan menyesali.

"Temui Boy sekarang, bukankah dia bilang akan pergi ke Amerika besok. Masih ada kesempatan satu hari lagi untuk kamu bisa menyatakan kalau benar kamu sangat mencintai Boy." ujar Mama

"Tapi, sejujurnya aku belum mencintai Boy!"

Aku memandang kebawah, memang aku belum mencintai Boy, sepertinya aku hanya merasa kasihan.

"Shereen, urusan cinta itu belakangan, kalau kamu dekat terus dengan Boy pasti kamu akan merasa nyaman dan langsung mencintai Boy. Mama sangat setuju jika kamu bersama Boy."

Aku menganggukkan kepala mengerti dengan apa yang mama ucapkan padaku.

"Ya sudah, Mah. Sekarang aku akan pergi ke rumahnya untuk bilang masalah ini. Doakan aku semoga Boy bahagia aku menerima lamarannya." ucapku pada Mama.

"Amin, doa Mama selalu menyertaimu!"

Setelah mendengar ucapan dari mulut Mama, aku segera berlari keluar rumah dan menatap sekeliling, Boy sepertinya sudah pergi. Aku harus bergerak cepat supaya aku bisa segera sampai rumahnya.

Kini aku sudah sampai di rumah Boy, kebetulan rumah kami tidak terlalu jauh hanya beda beberapa meter saja. Aku segera menekan tombol berulang kali, seketika satpam di rumahnya keluar dan menatapku.

"Ada apa, Non? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam padaku.

"Saya ke sini ingin bertemu dengan Boy, Pak, apa Boy ada di rumah?"

"Sekitar satu jam lalu, tuan Boy keluar dari rumah sampai sekarang beliau belum pulang." sahutnya, aku menatap tak percaya pada satpam.

"Ah, masa sih, Pak?" aku setengah tak mempercayai ucapannya.

"Betul non, saya tidak berbohong!" ujarnya menampakan wajah serius.

"Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu. Tolong sampaikan pada Boy jika saya Shereen ingin bertemu dengannya mau membicarakan masalah penting!" ucapku, dengan perasaan gundah. Aku kira Boy sudah pulang sewaktu dia ke rumahku.

"Baik, Non, setelah Tuan Boy pulang, akan saya sampaikan." sahutnya. Aku pun langsung bergegas pergi.

Hatiku sangat kesal, kenapa sewaktu Boy datang ke rumah, aku tidak bicara ya saja. Sekarang aku yang harus mencari Boy, aku tidak mau sampai Boy berfikir macam-macam tentangku. Lebih baik aku telepon saja ke nomer ponselnya semoga saja Boy mengangkat telepon dariku.

Aku mencari kontak Boy dan setelah menemukannya aku segera menekan tombol yang berwarna hijau

Drrrrttt ... Drrrtt ... Drrrttt

Boy tidak mengangkat panggilan telepon dariku. Lalu aku segera meneleponnya kembali.

'Panggilan yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi.'

Ponsel Boy tiba-tiba mati, padahal barusan terhubung.

'Boy, Boy. Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan telepon dariku? Biasanya kamu selalu mengangkatnya, apa kamu marah atas apa yang tadi aku ucapkan?' aku berteriak di dalam hati.

BERSAMBUNG...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby CEO: Kehamilan yang Tak Diinginkan
8.4
Evalia terjebak dalam kehamilan tak terduga setelah menolak cinta Hanson Dirgantara. Meski Hans bersikeras ingin bertanggung jawab demi calon bayinya, Eva yang membenci kelicikan pria itu tetap menolak menikah. Di tengah ambisi Hans yang menggunakan kekayaan keluarganya untuk menaklukkan Eva, gadis yatim piatu ini justru berusaha menggugurkan kandungannya. Mampukah Eva lepas dari obsesi Hans dan meraih mimpinya menjadi dokter, atau ia akan selamanya terkendali?
Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA
8.6
Rania hancur saat suaminya sendiri memintanya berpura-pura menjadi janda demi uang. Di balik kerudung pastelnya, ia memendam luka mendalam sekaligus berjuang melawan kanker ganas yang menggerogoti raga. Meski tubuhnya kian melemah, Rania bertahan demi kedua buah hatinya. Ini adalah kisah perjuangan seorang ibu yang bangkit dari pengkhianatan dan rasa sakit, mengumpulkan sisa kekuatan demi tetap hidup untuk anak-anak yang mencintainya.
Sampul Novel Cinta Rahasia Berakhir Api Dendam
8.3
Hidupku hancur setelah menyadari bahwa Raja, CEO yang kucintai, hanya memanfaatkanku sebagai pion balas dendam. Pria dingin itu menjebakku ke penjara, merekam momen intim kami, dan membiarkan kekasihnya merusak warisan ayahku. Setelah menderita siksaan kejam di balik jeruji besi atas perintahnya, aku kini telah bebas. Aku kembali ke hadapannya bukan untuk mengemis cinta, melainkan membawa amarah membara demi menghancurkan hidup sang iblis yang telah memusnahkan segalanya.
Sampul Novel Dikhianati Sejak Hari Pertama
8.4
Katrina terpaksa menerima perjodohan mendadak demi ayahnya yang sakit. Ia pun resmi menikah dengan Gavin Ardian secara sederhana. Namun, pengkhianatan langsung menyambutnya saat Katrina tahu Gavin masih menjalin asmara dengan kekasih lamanya. Di tengah luka itu, Katrina justru diberi misi khusus oleh ayah mertuanya untuk merebut hati Gavin sepenuhnya. Kini, ia harus berjuang memenangkan cinta sang suami atau justru tenggelam dalam drama rumah tangga yang pelik.
Sampul Novel Eleanor
8.0
Elena, seorang desainer busana, mendapatkan peluang besar dalam karier serta asmaranya secara bersamaan. Ia setuju menempati apartemen milik bosnya, Alva, karena mengira sang pemilik tidak akan ada di sana. Namun, tanpa Elena sadari, Alva terus mengawasi gerak-geriknya dari jauh. Ketentraman Elena terusik saat Alva tiba-tiba memutuskan pulang dan tinggal bersamanya. Kini, Elena harus menghadapi kehadiran sang bos dalam ruang pribadinya yang sangat intim.
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila
9.4
Kepulanganku yang tak terduga dari Taiwan ke kampung halaman justru disambut oleh kenyataan pahit yang menghancurkan jiwa. Aku menemukan istri tercintaku telah kehilangan kewarasannya, sementara buah hati kami dikabarkan sudah tiada. Di balik duka ini, muncul kecurigaan mendalam terhadap kebenaran yang ada. Benarkah semua kesaksian dari pihak keluargaku bisa dipercaya? Aku harus mengungkap misteri kelam di balik tragedi yang menimpa keluargaku.