APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PANGERAN MALAYSIA MENIKAHI JANDA BIG SIZE ANAK 14

PANGERAN MALAYSIA MENIKAHI JANDA BIG SIZE ANAK 14

Zunara berjuang membesarkan 14 anaknya meski penuh lelah. Hidupnya berubah saat Tengku Salman, pangeran Malaysia, menyelamatkan putranya, Zafran, dari maut. Meski hanya ingin kebahagiaan anak-anaknya, Zunara mulai terpikat oleh tatapan sang pangeran. Di sisi lain, Salman yang terbiasa hidup formal merasa tersentuh oleh ketangguhan Zunara. Kini, sang bangsawan bimbang apakah ia harus mengejar cinta wanita itu dan melampaui sekat status sosial mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana rumah siang itu jauh lebih ramai dari biasanya.

Aleena membantu Zunara di dapur, sementara tawa anak-anak terdengar dari ruang tengah.

"Uncle Salman, lihat nih! Boneka Arhaan bisa ngomong!" Noor berteriak kegirangan.

Salman duduk bersila di lantai, dikelilingi anak-anak. Arhaan duduk di sampingnya, tertawa kecil sambil menekan tombol boneka.

Untuk anak yang biasanya canggung dengan orang baru, ini kemajuan besar.

"Pandai sekali Arhaan..." Salman menatap anak itu dengan senyum hangat.

"Kalau awak rajin main sama Uncle, nanti Uncle belikan boneka lain yang boleh nyanyi juga."

Arhaan menoleh pada Zunara dengan mata berbinar. Zunara yang sedang mengiris sayur ikut tersenyum.

"Uncle Salman baik banget..." bisik Yahya, memeluk lengan Salman erat.

Salman mengusap kepala bocah itu lembut.

"Bukan baik, Yahya... Uncle cuma mahu kalian bahagia. Itu saja."

Zoya duduk di samping Salman, menatapnya serius.

"Uncle... kalau Mama nikah sama Uncle, kita nanti ikut ke istana ya?"

Zunara langsung menoleh cepat.

"Zoya... itu bukan pertanyaan yang pantas sekarang..."

Tapi Salman hanya tertawa kecil.

"Tak apa, puan. Anak-anak jujur saja."

Dia menatap Zoya, nadanya lembut.

"Kalau Mama kalian mahu, saya tak keberatan kalian ikut ke mana saja Mama pergi. Tapi semua itu keputusan Mama kalian, bukan Uncle."

Zunara terdiam, dadanya sesak.

Senyum Salman... entah kenapa membuat hatinya panas-dingin.

Rayyan berdiri di ambang pintu, mengawasi diam-diam.

Wajahnya masih datar, tapi sorot matanya sedikit berbeda.

Dia melihat ibunya... tersenyum.

Senyum yang jarang sekali muncul beberapa tahun terakhir.

Anak-anak akhirnya tidur setelah seharian heboh dengan Salman.

Rumah kembali sunyi.

Zunara duduk di teras, menatap langit malam. Pikirannya penuh. Salman duduk di sampingnya, menjaga jarak sopan.

"Maaf kalau anak-anak terlalu berisik hari ini," ucap Zunara pelan.

"Tak apa... saya suka suasana bising begini. Rumah saya di Malaysia terlalu sunyi."

Salman menatapnya, sorot matanya teduh.

"Bising anak-anak tanda mereka bahagia, kan?"

Zunara tersenyum tipis, tapi cepat-cepat mengalihkan pandangan.

"Tapi mereka terlalu senang sama Tengku... Saya takut... kalau nanti mereka kecewa."

Salman terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bersuara.

"Puan... saya janji, saya takkan buat anak-anak kecewa."

Dia menatap lurus, nadanya tegas.

"Tapi ada satu hal... yang saya belum berani cakap. Esok... saya akan jujur pada puan. Tentang saya."

Zunara menoleh, jantungnya berdegup kencang.

"Kenapa... kenapa harus besok?"

"Kerana saya mahu puan fikir keputusan ini bukan sebab simpati."

Salman menarik napas panjang, matanya menatap Zunara dalam.

"Puan berhak tahu siapa saya sebenar sebelum buat keputusan apa pun."

Malam itu, Zunara kembali ke kamarnya dengan hati yang tak tenang.

Dia memeluk Zafran yang tidur di sampingnya, mendengarkan napas kecil anaknya.

Besok... besok Salman akan bicara.

Apa yang akan dia katakan?

Dan... kenapa hatinya merasa takut sekaligus menunggu?

---

Pagi itu rumah terasa tegang.

Zunara gelisah sejak subuh. Tangannya sibuk menyiapkan sarapan, tapi pikirannya melayang-layang.

"Ma, tenang aja..." Aleena menatap ibunya.

"Uncle Salman pasti orang baik. Nggak usah takut."

Rayyan diam saja, tapi dari tatapannya terlihat dia juga gelisah.

Sementara Zoya duduk di lantai, memeluk lututnya.

"Ma... hari ini Uncle Salman bilang mau ngomong penting sama Mama ya? Tentang apa?"

Zunara mengusap kepala putrinya pelan.

"Nggak tahu, Nak... Mama juga belum tahu."

Tok! Tok! Tok!

Pintu diketuk. Semua anak langsung menoleh.

Yahya berlari kegirangan.

"Uncle Salman datang! Uncle Salman datang!"

Zunara membuka pintu perlahan.

Di sana Tengku Salman Fawwaz berdiri dengan kemeja putih bersih, wajahnya serius.

Kali ini tak ada senyum hangat seperti biasanya.

"Assalamualaikum, puan."

"Waalaikumsalam..." suara Zunara nyaris berbisik.

Salman melangkah masuk, menatap anak-anak satu per satu.

"Hai, anak-anak. Uncle datang sebentar saja. Uncle mahu bercakap sama Mama kalian."

"Boleh kami dengar juga, Uncle?" tanya Zoya polos.

Salman tersenyum tipis, menggeleng.

"Nanti ya, sayang. Ini hal orang dewasa dulu."

Anak-anak akhirnya duduk di ruang tengah, tapi mata mereka mengikuti langkah Salman dan Zunara yang menuju teras.

Di teras, suasana sunyi.

Hanya suara burung yang terdengar di kejauhan.

Salman berdiri sebentar, lalu duduk, menatap Zunara dengan sorot mata yang lebih dalam dari biasanya.

"Puan... saya janji saya akan jujur. Tapi saya harap... puan dengar sampai habis sebelum putuskan apa pun."

Zunara mengangguk pelan, jantungnya berdegup cepat.

Salman menarik napas panjang.

"Saya... bukan lelaki sempurna seperti yang orang lihat di luar sana."

Dia menatap Zunara, sorot matanya sedikit meredup.

"Beberapa tahun lalu... saya mengalami kemalangan. Parah sekali. Dan akibatnya..."

Salman berhenti, menunduk.

Zunara terdiam. Matanya membesar, napasnya tercekat.

Salman melanjutkan, suaranya lebih pelan.

"Itulah sebabnya saya... saya senang bila bertemu puan. Saya lihat anak-anak puan... dan saya fikir, mungkin Allah beri saya kesempatan."

Zunara menatapnya lama, air matanya menetes tanpa ia sadari.

"Tapi... Tengku..." suaranya bergetar, "kenapa bilang ini pada saya?"

"Kerana saya tak mahu puan fikir saya pilih puan sebab simpati. Saya... benar-benar mahu bahagiakan kalian."

Sunyi. Hanya terdengar suara napas mereka.

Zunara mengusap wajahnya, dadanya sesak.

"Tapi... ini keputusan besar, Tengku..."

"Saya tahu. Sebab itu saya beri masa. Esok... esok jawapan puan akan mengubah segalanya. Lepas itu, saya takkan tanya lagi."

Tanpa mereka sadari, di balik pintu, beberapa anak sudah mengintip.

Zoya menahan tangis di pelukan Aleena.

"Berarti... Uncle Salman?" bisiknya.

Yahya menatapnya polos.

"Berarti kalau Mama sama Uncle Salman, kita... kita jadi anak-anaknya?"

Rayyan berdiri di samping mereka, wajahnya tegang.

Dia menggertakkan gigi, lalu berbalik masuk ke kamarnya.

Aleena memeluk Zoya erat.

"Jangan nangis dulu... Mama belum jawab..."

Malam itu, Zunara duduk di tepi ranjang, menatap anak-anaknya yang sudah tertidur.

Air matanya menetes di pipi.

Esok... aku harus jawab. Tapi... jawaban apa yang harus aku beri?

---

Rumah itu sunyi pagi itu, hanya terdengar suara anak-anak berceloteh kecil di ruang tengah.

Zunara duduk di kursi dapur, menatap cangkir teh yang sudah dingin. Tiga hari sudah lewat, dan ia belum juga memberi jawaban.

Tok! Tok! Tok!

Pintu diketuk pelan. Zunara berdiri, menahan napas.

Dan di sana, Tengku Salman Fawwaz berdiri, mengenakan kemeja biru muda.

Senyumnya tipis, matanya serius.

"Assalamualaikum, puan."

"Waalaikumsalam... silakan masuk."

Di ruang tamu, anak-anak duduk di lantai, sebagian malu-malu, sebagian antusias. Zoya berbisik pada Yahya.

"Uncle Salman datang lagi... mungkin Mama jawab hari ini..."

Yahya memeluk lututnya, matanya berbinar.

"Aku mau Uncle jadi Papa..."

Rayyan hanya mendengus pelan di sudut, tangannya bersedekap.

Salman duduk di hadapan Zunara, menatapnya lama.

"Puan... saya datang hari ni bukan untuk paksa. Cuma... tiga hari sudah habis. Saya nak tahu jawapan puan, walaupun jawapan tu bukan yang saya harap."

Zunara menarik napas panjang. Matanya menatap Salman penuh keraguan dan lelah.

"Tengku... maafkan saya," suaranya lirih tapi tegas.

"Saya... saya belum bisa. Saya nggak bisa memutuskan sesuatu sebesar ini secepat itu. Saya... sendirian selama ini. Hidup saya cuma anak-anak. Ada begitu banyak hal yang harus saya pikirkan... terlalu banyak."

Salman diam, matanya menatapnya dalam.

"Tapi saya tetap berterima kasih... untuk semua bantuan, hadiah, dan kebaikan Tengku pada anak-anak saya."

Zoya langsung berdiri, matanya berkaca-kaca.

"Ma... jadi Mama nolak Uncle Salman?"

Zunara mengusap kepala putrinya.

"Sayang, Mama nggak nolak. Mama cuma... belum bisa sekarang."

Rayyan menghela napas lega, meski matanya tetap bimbang.

"Keputusan yang tepat, Ma..."

Salman tersenyum kecil, meski senyumnya tampak menahan sesuatu.

"Saya faham, puan. Saya tak mahu puan buat keputusan kerana rasa kasihan... atau kerana tekanan. Puan patut pilih bila puan betul-betul yakin."

Zunara menunduk, air matanya jatuh diam-diam.

"Terima kasih... karena mengerti."

Salman berdiri, menatap anak-anak satu per satu.

"Uncle Salman nak pulang ke Malaysia hari ni. Tapi saya janji... saya tetap kirim bantuan untuk kalian, bukan kerana saya mahu puan setuju... tapi kerana saya sayang anak-anak ni."

Zoya langsung berlari memeluknya.

"Uncle jangan lama-lama ya ke Malaysia..."

Yahya ikut memeluk kakinya erat-erat.

"Uncle janji datang lagi ya..."

Salman mengusap kepala keduanya, matanya memerah sesaat.

"Insya Allah... Uncle datang lagi."

Beberapa Hari Kemudian

Zunara kembali pada kehidupannya yang biasa.

Pagi-pagi sekali, ia sudah bangun, menyiapkan sarapan untuk 14 anaknya.

Aleena membantu memasak, Rayyan mengantar adik-adik ke sekolah dengan sepeda tua mereka.

Zunara bekerja di sebuah kedai roti kecil, membantu membuat kue dan mengantar pesanan.

Terkadang, ia juga menerima pesanan menjahit sederhana dari tetangga.

Siang hari, ia menjemput Zafran ke klinik untuk kontrol asma, sementara sore hari ia menemani Arhaan terapi wicara di puskesmas.

Hidupnya tetap sama: sibuk, lelah, tapi penuh senyum untuk anak-anak.

Namun... setiap malam, saat anak-anak sudah tidur, Zunara duduk di dapur, menatap kosong cangkir tehnya.

Dan wajah Tengku Salman Fawwaz selalu muncul di pikirannya.

"Kenapa... aku nggak bisa berhenti mikirin dia..." bisiknya pelan, matanya berkaca-kaca.

---

Di Malaysia

Tengku Salman berdiri di balkon istananya, memandangi langit senja.

Ponselnya ada di tangannya, terbuka pada satu foto: Zunara dan anak-anaknya yang tersenyum saat membuka hadiah.

Dia menarik napas panjang, matanya sendu.

"Kenapa saya rasa... saya tinggalkan sebahagian hati saya di sana..." gumamnya.

Seorang pembantunya datang.

"Tengku, ada mesyuarat bisnes lepas ni."

Salman hanya mengangguk. Tapi tatapannya tetap ke layar ponsel.

Dan dalam hatinya, ia berbisik,

"Puan Zunara... saya janji akan datang lagi."

---

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO My Husband
8.6
Hidup Tasya berubah menjadi penuh tekanan sejak kehadiran Revan, bos barunya yang sangat menyebalkan. Sebagai CEO muda yang baru saja mengambil alih takhta perusahaan milik ayahnya, Revan terus-menerus mengusik ketenangan hidup Tasya tanpa henti. Setiap hari, Tasya harus menghadapi gangguan dari sang atasan yang membuat hari-harinya tidak pernah damai. Kisah ini mengikuti dinamika antara karyawan yang kewalahan dan bos miliarder yang dominan.
Sampul Novel Cinta pertama dan terakhirku
8.7
Intan Arselina, seorang perawat, terkejut saat bertemu kembali dengan Abian Dirgantara di rumah sakit. Setelah empat tahun terpisah akibat fitnah ibunda Dirga, luka lama Intan kembali terbuka. Dirga yang baru saja mengalami kecelakaan berusaha keras memenangkan hati Intan lagi. Namun, perjuangannya tidak mudah karena kebencian keluarga Intan dan kehadiran Zidan sebagai penghalang. Dirga bertekad menebus kesalahan masa lalu demi cinta sejatinya.
Sampul Novel Direktur Iblis Takut Kehilangan
8.4
Hidup Lia Adelia hancur seketika saat ia kehilangan suami dan diusir dari rumahnya sendiri. Sebagai janda dengan dua anak, ia berjuang mencari kerja meski terus diremehkan karena status dan fisiknya. Takdir mempertemukannya dengan Bagas Samudra, direktur bank yang dingin dan menyebalkan. Meski Lia bersumpah tidak akan menikah lagi demi mendiang suaminya, sikap Bagas perlahan berubah menjadi penuh perhatian. Apa sebenarnya rencana sang direktur terhadap Lia?
Sampul Novel Istri Dadakan Presdir
9.0
Salsabila Ayu Hanifa mengadu nasib ke Jakarta demi mengubur masa lalu kelam. Namun, takdir menyeret gadis desa ini ke dalam pernikahan tanpa cinta dengan Raditya Wijaya. Sebagai pengusaha dingin dan acuh, Radit justru memperlakukan istrinya sendiri layaknya seorang pembantu. Di tengah tekanan batin, mampukah Salsa melunakkan hati suaminya dan diakui sebagai istri seutuhnya, ataukah mahligai rumah tangga mereka akan berakhir dengan kegagalan total?
Sampul Novel Jay and her Odd Daddy
8.9
Jayashri alias Chai terjepit di antara himpitan ekonomi dan prinsip ibunya untuk tidak menjual harga diri. Di titik terendah saat ingin mengakhiri hidup, seorang pria asing menyelamatkannya dan menawarkan posisi sugar baby. Meski awalnya menolak keras, takdir mempertemukan mereka kembali. Sang pria menawarkan kontrak kerja sama tanpa pelecehan yang saling menguntungkan. Kini Chai bimbang, haruskah ia berpegang pada prinsip atau menyerah pada realita?
Sampul Novel KEKASIH HALALKU
9.3
Seorang wanita muda yang terbiasa hidup manja sebagai putri pengusaha kaya harus menghadapi garis takdir yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia terpaksa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya untuk menjadi seorang istri muda. Menikah dengan pria yang memiliki perbedaan usia sangat jauh membuat dunianya berubah drastis. Kini, ia harus berjuang menjalani peran barunya dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia harapkan terjadi di hidupnya.